Kaneka Putra adalah seorang resi (guru) muda anak dari Hyang Kaneka,
seorang manusia yang diangkat menjadi dewa karena bersahabat dengam
Nur Cahya dan Nur Rasa, anak-anak Hyang Tunggal.
Ingin mengikuti sang ayah, Kaneka Putra menutuskan diri meninggalkan
professi sebagai guru dan bertapa di pantai "awu-awu langit", sebuah
tempat yang dipercaya sebagai pintu pertemuan "manusia" dan "dewa"
(dalam wayang khayalan mbah Soelojo kan boleh saja, ngawur!).
Pengaruh tapanya mengacaukan kahiyangan Mercu-Kunda-Manik, yang
dijaga oleh Bala Upata dan Cingkara Bala, manusia kalah kedaden yang
juga diangkat jadi hansip para dewa karena berhasil menyelamatkan
payung Tunggul Naga, pusaka Kahiyangan. Pintu gerbang gonjang-ganjing
mau tak mau mengganggu ketenteraman sang Raja Dewa, Batara Guru.
Akhirnya dia menemui Kaneka Putra, dan bersedia mengangkat Kaneka
menjadi dewa dengan syarat mampu mengalahkannya berlari di atas air
tanpa alat bantu.
Perlombaan berlangsung, dan Kaneka Putra kalah. Sementara itu dia
heran,
karena Dewa Guru ini lumpuh, kok bisa berlari. Dari belakang dia
perhatikan,
ternyata Dewa Guru beralaskan "daun beringin" yang diinjang pakai ibu
jari kaki-kirinya yang lumpuh. Berarti dewa Guru curang... maka
sedikit
dia ngebut, dan sesampainya di dekat Dewa Guru, dia "cipratkan" air
laut, sehingga basah. Akibatnya dewa Guru tenggelam dan menjadi kalah.
Singkat cerita, Kaneka Putra resmi menang dan Dewa Guru harus
mengangkatnya menjadi dewa. Bukan hanya itu, karena kekalahan Dewa
Guru adalah karena curang, maka Kedudukan Raja Dewa harus diserahkan
pula ke Kaneka Putera.
Apa lacur.. sebagai bekas guru, Kaneka Putra tidak sanggup. Dia merasa
kerdil, dan kembali menyerahkan jabatan raja yang belum diterimanya
kepada Dewa Guru yang sudah sadar. Sial pula, karena "kemlinthinya"
Kaneka Putera ini mendapat "kutukan". Selamanya dia menjadi bertubuh
pendek gempal dengan kepala selalu mendongak, sesuai dengan cita-cita
nya yang ingin menjadi DEWA itu. Juga dia mendapat nama baru NARADA.
oh, narada.... seandainya dulu kamu tetap menjadi guru yang semakin
bijak.... tentu lebih bermanfaat bagi kawula alit yang semakin bodoh,
pada jaman itu....
sampun, pareng... ceritanya terpaksa cuthel.. karena terlihat sekarang
ini antara narada dan dewa guru sedang "jewer-jeweran"...
salam,
soelojo
--------
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!