Sudah diketahui luas bahwa yang mengantarkan GD kekursi Presiden berdasarkan
besarnya suara di MPR adalah Golkar, Poros Tengah, PKB, Utusan Daerah dan
TNI. Sisanya mendukung MW. Maka legitimasi duet GD-MW didukung hampir 100%
suara MPR. Yang abstain kan sedikit sekali.
Inisiatif mendukung GD datang dari PT, tetapi suaranya tidak dominan di MPR,
sehingga muncul kompromi politik dalam berbagi kekuasaan di kabinet.
Akibatnya tidak ada oposisi, karena semua ikut berkontribusi. Atau kalau
menurut istilahnya Faisal Basri: " karena semua ingin menikmati lezatnya
kekuasaan". Yang lebih seru lagi, kalau jaman dulu eksekutip mengobok obok
legislatip, sekarang justru legislatip maunya merangkap jadi eksekutip. Cuma
malu malu kucing.
Dilema bagi PT adalah, PT merasa sebagai inisiator, tetapi skenarionya nggak
bisa sepenuhnya jalan karena nyatanya mereka minoritas, sehingga setiap
keinginannya harus dikompromikan dulu dengan pemilik suara besar. Karena
kecapekan mengkompromikan melulu, akhirnya belakangan ini kerjanya sewot
melulu, tapi nggak bisa apa apa.
Mau keras nggak mampu, mau lunak malu. Nafsu besar tenaga kurang. Akhirnya
ya cuma ngomel ngomel diluaran.
Kans terbaik untuk mencapai tujuan PT adalah, jatuhkan GD dalam SI MPR, lalu
jatuhkan MW dalam SI berikutnya, lalu pasang orang yang paling diinginkan
jadi Presiden berikutnya. Nggak susah juga, selama masih bisa merangkul
Golkar. Mungkin duet AR-AT lebih memenuhi selera. Lalu jadilah PDIP dan PKB
partai oposisi. Mungkin skenario ini lebih membuat negara ini aman. Nggak
ribut melulu.
yap
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!