>Agus Satrio: >Revolusi sosialisme dan budaya di Cina sering ditanggapi sebelah mata oleh banyak orang. Namun bagi yang mengerti dan merasakan bagaimana sekarang Indonesia dan juga dunia diserbu oleh barang-barang made in China, pasti tanpa ragu akan bilang betapa berhasilnya revolusi Cina dalam mengikis feodalisme yang telah berakar ribuan tahun. Revolusi itu telah menjadikan masyarakat yang egaliter dan setara. Bila disitu penghormatan pada kemanusiaan dan individu ditambahkan, maka masyarakat Cina sudah siap untuk menjadi masyarakat yang modern. > >Dari lagu kebangsaan Cina bisa dirasakan tekanan yang bagus yakni 'Bangunlah engkau semua yang tidak ingin jadi kuli...'. Bandingkan dengan lagu Indonesia Raya, dimanakah fokusnya, di 'bangunlah jiwanya-bangunlah badannya', atau di 'merdeka-merdeka', atau 'Indonesia Raya'? Saya merasakan di 'Indonesia Raya', yang rasanya identik dengan Jerman Raya, Asia Timur Raya, Serbia Raya. Pax Romana, Pax Americana. Bila mendengar kata 'Raya' yang teringat adalah tumpukan mayat, penderitaan, pembunuhan, dll. Kupikir Indonesia juga memerlukan revolusi budaya. Dan itu tidak bisa diserahkan pada 'budayawan' saja. Kemarin Prof. Soetandyo (guru besar unair) bilang bahwa korupsi sudah membudaya, dan dia bilang penyelewengan budaya harus juga ditumpas dengan cara-cara budaya. Enggak cukup lewat hukum atau badan-badan. Ini salah satu contoh saja. Revolusi kebudayaan akan membawa transformasi cara-cara berpikir, bukan hanya sekedar reformasi. Mashuri: Wah, statement anda bagus & opini anda ini cukup baik. Tetapi tanpa mengurangi makna penghormatan saya. Dalam menganalisa Cina kita harus punya pegangan Geografis Cina pada umumnya. Cina adalah masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar hampir 200 juta jiwa (bandingkan dengan Indonesia) jadi sebagai pelajaran "mungkin" baik kita belajar dari cina. Hampir seluruh masyarakat cina memiliki tanah untuk digarapnya bedakan dengan India? Tetapi anda salah (menurut saya) dalam menganalisa masyarakat Cina. Anda tahu pristiwa Tiananmen kan. Peristiwa itu terjadi setelah revolusi kebudayaan Cina. Dan dipelopori oleh kalangan Sosialis muda Cina modern. Hal ini juga ada baiknya diluruskan. Banyak dugaan pristiwa ini digerakan oleh pihak Amerika yang tidak menyukai pemerintahan Cina. Saya menjawab salah. Gerakan ini digerakan oleh kalangan terpelajar, yang ingin meluruskan makna dari cita-cita sosialis yang mulai disimpangkan oleh birokrat Cina, yang mulai sama dilakukan oleh pendahulu mereka di Uni Soviet dan mungkin Indonesia era orde baru. Yang menurut almarhum Romo mangun disebutkan menjadi Birokrat kapitalis. Pemerintahan Cina sekarang melakukan transpormasi dari kejadian tersebut diatas. Membuka salah-satu propinsi sebagai bukan hanya proyek percontohan Industri besar yang anda sebutkan berhasil melakukan expansi produknya sampai ke Indonesia. Tuntutan dari kejadian Tianament adalah, mulai terbukannya ruang penganguran terdidik di Cina. Oleh sebab itu orang tua mereka (petani) juga mendukung tuntutan anak-anak mereka melihat sudah saatnya tanah mereka yang ditinggalkan setelah revolusi Cina dapat menutupi kehidupan. Karena setiap tahun pendapatan petani kian menurun bukan meningkat (hukum ekonomi klasik), karena yang makanpun kian bertambah. Oleh sebab itu harus ada proses modernisasi. Dengan adanya Industrialisasi menurut konsep sosialis (kolektif) maka pekerjaan akan terbuka luas. Akibatnya Cina mulai terlibat dalam kegiatan pasar global. Artinya pemerintah Cina harus siap berjudi terhadap 200 juta penduduknya untuk bersaing dengan pasar dari negara-negara maju lainnya. Oleh sebab itu Cina juga menghadapi dapak krisis ekonomi walaupun tidak separah dengan yang terjadi di Indonesia. Anda salah lagi tentang menganalisa Cina dengan Indonesia. Cina walaupun awal revolusinya bertujuan sosialis, tetapi prakteknya nasionalis. Karena dalam literatur sosialisme tidak ada perkataan negara yang ada Dewan, bahasa rusianya Soviet. Jadi Uni Soviet berati banyak Dewan (bedakan dengan Uni-eropa). Lagu kebangsaan Cina jelas mengambarkan rasa "kebangsaan" yang tinggi (tanda petik untuk mencegah agar bung agung tidak terjebak dalam kata Nasionalisasi). Tetapi ia menjelaskan dalam lagu tersebut keterpihakannya, karena revolusi politik sudah mereka menangkan, kubu Komintang (kalau tidak salah apa Kocantang ya saya lupa) sudah melarikan diri dan mendirikan negara Ke Taiwan, sebagian lagi diambil oleh Imprialis Ingris yaitu Hong Kong (tahun 1997 sudah dikembalikan). Kesimpulannya sebagai Negara kerakyatan (republik rakyat Cina) bangsa Cina lewat lagu kebangsaannya menjelaskan keterpihakan mereka. Lagu Kebangsaan Indonesia juga bagus (bukan berarti kemudian saya dituduh pendukung nasionalis) penekanan Lagu Indonesia Raya pada Kata Merdeka, bukan pada kata Rayanya. jadi anda salah lagi. Orang Komunis, Sosialis, liberal, Demokrat, Agama, kaum feodal dll (kecuali bukan antek-anteknya kolonial), dapat menerima lagu itu, karena kepentingan mereka pada saat itu sama yaitu merdeka. Oleh sebab itu disebutkan Revolusi Kemerdekaan. Bukan revolusi Sosial seperti yang terjadi di Cina. Hal ini juga ada beberapa sebab, karena peta politik Indonesia terutama kalangan Komunis atau Sosialis di Indonesia masih memegang patron ke Uni Soviet yang melakukan strategi kompromi dengan negara-negara Kapitalis dalam menghadapi perang dunia Kedua. Amir sarifudin tidak mau menuntaskan revolusi kemerdekaan menjadi revolusi sosial karena itu. Berbeda dengan cina yang tidak berpatokan terhadap Uni soviet. Akibat masih patronnya saat ini tersebut kalangan kiri menuduh terjadi peristiwa Madiun. Hal ini terjadi karena profokasi Amerika dengan dukungannya terhadap proses Rasionalisasi di Jajaran Militer. Kita tahu pada saat itu rakyat bersenjata semua dari semua kepentingan politik, semua dilucuti dan diberikan kepada yang profesional menurut yang pro Amerika Yaitu Kenil dan Peta, oleh sebab itu tokoh-tokoh yang terkenal kemudian dalam sejarah Indonesia pasti dari kenil dan Peta Buatan Belanda dan Jepang. Macam Nasution dan Suharto. Kita kurang mengenal siapa tokoh laskar Hisbulah misalnya? Rasionalisasi militer ini sebenarnya tidak didukung panglimanya sendiri. karena Sudirman sendiri bukan dari kalangan Militer profesional. Tuduhan kaum kiri terhadap kasus Madiun ini pernah di sidangkan pada jaman Sukarno. Aidit pada saat itu menuduh Hatta yang menyebabkan terjadinya profokasi Madiun. Tetapi oleh sukarno pengadilan ini tidak diteruskan. Akibatnya beban tersebut di serahkan kepada anak cucunya kelak. Rasionalisasi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Dwi Fungsi ABRI. >Agus Satrio: >Kalau pak Mashuri bertanya apa selamanya bangsa ini akan menjadi bangsa agraris? Saya bisa jawab ya bisa saja. Bisa saja bidang garapannya adalah bidang agraris. Namun yang penting disini kan mentalnya. Kalau mentalnya tetap agraris ya ini yang celaka. Namun Yang diharapkan adalah meski masyarakat kita masyarakat agraris mentalnya harus diubah sesuai dengan perkembangan jaman. Jaman memang berganti dari agraris, ke industri, pasca industri, informasi, dan sebentar lagi bio teknologi, namun bukan berarti bila sudah berganti maka akan ditinggalkan. Masyarakat industri tidak menyingkirkan masyarakat agraris, masyarakat pascaindustri tidak meninggalkan masyarakat industri. Yang berbeda cuma mentalnya saja. > >Juga perlu diingat kembali bahwa pemikiran Marx dan derivatnya (sosdem, ataupun sos-sos lain) adalah pemikiran khas jaman industri. Apakah pemikiran itu cocok untuk masyarakat agraris, tentunya perlu dilakukan penyesuaian. > >Sebenarnya ada alternatif lain selain pemikiran materialisme dialektik, seperti pernah saya singgung saat menanggapi perkara globalisasi dan internasionalisme. Yakni pemikiran masyarakat konvivial, yang disumbangkan oleh Ivan Illich ataupun Lewis Mumford. Mashuri: Maaf; saya melihat anda seperti pengikutnya Stiawan Judi, sedikit-sedikit bicara revolusi budaya, tanpa menganalisa apek sosial politik dan ekonomi. jangan bicara budaya jika masalah sosial belum selesai (menurut saya). Mambaca tulisan anda seperti menjawab telur duluan atau ayam duluan yang lahir. Saya waktu kuliah terlibat aktif dalam kegiatan beberapa LSM baik yang bergerak dalam bidang pertanian di desa dan Industri dikota. Dari dampak sosial yang diakibatkan keduannya saya dapat menyimpulkan atas makna kemanusian. Saya salut anda juga mempelajari tiori-tiori sosial. Dan saya dukung terhadap si Ivan dan Lewis. Saya pernah baca beberapa tulisannya. Coba anda jelaskan lebih rinci tentang persamaan tiori kelasiknya Mark dengan mereka. Karena saya baru terlibat lagi dimilis ini setelah absen hampir setahun. Ketakutan saya anda seperti yang dikatakan bung Ac bahwa kita semua atau kalangan terdidik seperti memakai kacamata kuda, tanpa mau memperdebatkan referensi dari disiplin ilmu lainnya. Steatmen anda absurt, saya kurang paham apa yang anda maksud dengan mental. Anda harus jelaskan dulu apa itu pertanian dan Industri. Baru anda bicara tentang mental masyarakatnya (budaya). Menurut saya masyarakat pertanian itu hidupnya pada jaman feodal, jaman dimana adanya banyak Lord (tuan tanah), ada sebutan pengarap dan sebagainya. Pada masayarakat yang lebih moderen (masyarakat kapitalistik) seharusnya masyarakatnya sudah berubah menjadi Industri (total Industri macam Amerika Serikat). Kemudian yang kita kenal adalah masyarakat transisi macam Cina, Indonesia, india dll. Maaf jika saya mengutip marx lagi (semoga anda mau membaca buku marx) mengatakan; "Ibu kandung dari Sosialisme adalah Kapitalisme", Jadi Sosialisme tanpa melewati masyarakat Kapitalisme tidak mungkin. Oleh sebab itu saya katakan tadi bahwa Cina masih memerlukan beberapa tahapan revolusi untuk menuju kepada revolusi Sosialis. Sedangkan untuk Indonesia Sendiri kenapa pertanian (agraris) masih dipertahankan. Karena Tidak ada di Indonesia terjadi Revolusi Borjuis (menghancurkan kerajaan/tuan tanah) seperti di Prancis.Penjajah Belanda tidak menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada tetapi malah mempergunakan untuk memperalat rakyatnya (pelajari politik penjajah Belanda). Jadi Penjaja di Indonesia mempergunakan otaknya dalam meperalat kaum feodalis di Indonesia. Gelarpun yang memberikan orang Belanda kepada kaum keraton Jawa, begitu juga dengan pakaiannya. Kesimpulannya masyarakat Indonesia adalah masyarakan Kapitalis yang masih membawa sisa-sisa feodal. Walaupun sisa-sisa suharto dapat mempergunakan yang sisa itu untuk berkuasa selama 32 Tahun. Buktinya adalah menjilat keatas menginjak kebawah dll. Tidak mengenal protes dan demonstrasi dll. Dalam milis inipun masih banyak yang mempergunakan hal tersebut, tanpa disadari. Dampak dari masyarakat modern (Kapitalisasi) adalah emohnya andak-anak petani (seperti yang saya tulis sebelumnya) untuk mengarap lagi sawahnya. Permasalahnnya bukan berat atau ringannya. Bukan juga seperti yang digambarkan dalam TV bahwa akibat glamor kehidupan kota. Malah kehidupan buruh di perkotaan bisa dikatakan lebih buruk dari di desa. Masalahnya hasil produksinya yang lambat. Hasil produksi di kota lebih cepat dan penghasilannyapun cepat. Didesa pertaniannya lama dan hasilnyapun lama. Oleh sebab itu lama kelamaan masyarakatnya (dalam mengupas pandangan Sukarno dalam konteks Marhain) pertanian jika tidak di Industrialisasikan bisa mengalami kelaparan. Akibat dari dapak tersebut bangsa kita masih mengekport makanan dari negara-negara yang non agraris untuk persiapan bahan pangannya (bukan begitu). Jadi Indutri dalam pertanianpun sudah menjadi kewajiban, masalahnya bagaimana merealisasikan itulah tugas kita semua. Apakah secara kolektif, Koperasi atau lainnya. Jika tidak akibatnya jika perjanjian WTO direalisasikan pihak asing yang mempergunakan di Indonesia. dan sewaktu-waktu apabila terjadi krisis ia bisa pindah kenegara lain begitu juga dengan modal mereka. Dan berkali-kali kita belajar terhadap kekayaan alam misalnya Minyak, Emas di Irian dll. Agro industri, seperti PTP nantinya akan dikelola oleh swasta. Dahulu dikuasai birokrat. Dan untuk memperkaya diri (korupsi dan sebagainya) bekerjasama dengan BULOG. Yang swastanya yang saya tahu suharto dengan peternakan sapinya. Tetapi ada dua hal yang menarik untuk didiskusikan akan datang: Pertama: Partanian di Jawa dan di luar jawa. Pertanian di jawa akibat dampak feodalisme Indonesia yang bertingkat. Menyebabkan tuan-tuan tanah jawa memiliki tanah tidak seluas dengan tuan tanah (atau kelas menengah) di luar jawa. Sistem pertanian apa yang cocok untuk dua daerah tersebut Jawa dan luar jawa. Mana yang didahulukan untuk dijadikan tempat Agroindustri jawa atau luar jawa. >Agus Satrio. >Saya mau tanya ke pak Mashuri, kenapa sih kelas menengah kita ini memble begini? Mental apakah yang merasuk pada kelas menengah kita ini, apakah mental Dr. Faust ataukah mental priyayi atau tengku? Juga pendidikan kita ini (baik di sekolah maupun di lingkungan sosial) lebih menekankan pada pelatihan otak kiri (logika, perhitungan, rekayasa, teknis, matematika) ataukah pelatihan otak kanan (intuisi, imajinasi, perasaan, seni)? Mashuri: Karena faktor historis tadi bahwa watak feodal itu tidak dihancurkan sehingga dia tetap hidup dalam kehidupan kita. Mungkin ada suatu daerah di Indonesia yaitu kerajan Melayu deli serdang Sumatra Utara. Walaupun para budayaawan harus terus menyelidikinya. Tetapi dari diatas kita bisa melihat keterbukaannya dibandingkan orang-orang jawa. Maaf bukan kesukuan. Karena penindasan Raja di jawa lebih kejam di bandingkan di luar jawa. Dan kerajaan lebih luas dan bertingkat. Bedakan dengan raja atau tuan tanah di sumatra misalnya. Sehingga jangan aneh kejahatan di Indonesia bisa lebih kejam dari kejahatan-kejahatan di negara maju. Yah itulah beban yang kita alami. Baca buku-buku sejarah. atau prosanya Pramudya anantatour. Kapitalisme menimbulkan modernisasi dan Indutri, Industri produk dari teknologi. teknologi bermata dua baik dan buruk dan mahal. Semoga yang baik dan murah dapat lebih dikembangkan di Indonesia. Misalnya teknologi Internet media masa Koran majalah. Dan kegiatan yang lebih dititik beratkan pada tiori dan praktek. Sebagai penutup saya buat contoh masyarakat kita dengan masyarakat yang lebih maju. "Seorang ibu dengan anaknya memasuki pintu otomatis dalam sebuah pertokoaan. Sang anak rupanya memperhatikan pintu tersebut. Lalu tanpa sepengetahuan ibunya ia hampiri dan bermain keluar-masuk pintu tersebut. Ketika ibunya melihat kelakuan sang anak, sang ibu tersebut langsung memerahinya anaknya, sambil menakuti-nakuti, nanti begilah begitulah" Anak tersebut tetap tidak mendapatkan jawaban dan terekam dalam memorinya otaknya. Sang anak takut untuk mencari pencarian baru. (hal yang sama dalam proses, hantu komunis itu dalam sebuah Film G 30 S PKI, film tersebut sangat tidak mendidik) Contoh dan kejadian sama tetapi orangnya berbeda yaitu orang dari negara yang lebih maju (eropa); "Sang ibu menghampiri anaknya lalu, dijelakan secara sederhana (tanpa memarahi kelakuan anaknya yang pergi tanpa ijin) bahwa diatas kepala sang anak ada kamera dan infra merah, jika terlewati infra tersebut akan mengerakn listrik dan seterusnya dstrnya. Sang anak puas dan terus melakukan pencarian baru. >agusssssss: >Terima kasih pak Mashuri. M. Mashuri Alif: Sama-sama semoga tercerahkan. ha...ha...
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
