Agus Satrio:
Ini memang lucu. Saya juga pernah dengar kabar seperti ini. Mengutip Gus
Gur, Untuk sementara ini
memang kata 'federal' memang jadi dirty word. Makanya diselubungi dengan
kata 'otonomi luas'
(lihat wawancara GD dengan harian Daily Yomiuri). Perkara disintegrasi
bangsa ini saya ingin garis
bawahi. Sebenarnya berapa besar sih ancaman itu? Saya enggak yakin bangsa
ini akan pecah dengan
begitu mudahnya kayak Yugoslavia. Ancaman disintegrasi ini banyak
didengung-dengungkan oleh orang
Jakarta yang merasa tahu banyak isi perut orang-orang daerah. Ambil contoh
kasus Aceh, selain GAM,
apa Aceh betul-betul pingin merdeka, atau cuma ingin bilang 'biar kami
ngurusi diri sendiri saja,
tanpa perlu pisah dari Indonesia'. Kemudian Irian yang sudah ganti jadi
Papua, yang kemarin
rame-rame Konggres Papua itu apa bukan orang-orang yang kena kompor orang
semacam Yorries? Kupikir
kita kadang terlalu gampang dibelok-belokan oleh opini-opini koran. Contoh
nyata bahwa masyarakat
kita punya kesadaran yang tinggi untuk berbangsa dan bernegara, adalah
partisipasi masyarakat
dalam pemilu 1999 kemarin. Semua orang berusaha agar pemilu yang diadakan
berlangsung jujur dan
adil.
> Mashuri:
Benar bung, memang tak seberapa masalahnya. Tetapi perlu di ingat. Bila anda
membaca buku Shaping Globalisation (dapat dicari di toko-toko buku besar).
Disana diyatakan betapa pengaruhnya (uang/kapital dan teknologi terhadap
kejatuhan Uni soviet). Maksud saya memang yang bikin rusuh itu segelitir
orang. Tetapi jika itu didukung oleh modal yang kuat dan kampanye yang baik
lewat produk-produk teknologi macam Media masa apalagi di tambahkan dengan
teror (bom) apa lama-kelamaan ngak kacau itu.
Terlepas dari ketakutan yang sifatnya subyektif. Saya percaya rakyat kita
(terutama kelas menegah kita) sudah bisa berfikir realistis. Tidak seperti
ketakutan saya pada jaman Orde baru dulu. Apalagi masih banyak orang seperti
anda, saya lebih yakin bahwa ketakutan itu memang tidak ada.
Tetapi yang masih menganjal, dari beban sejarah dan budaya kita itu. Bahwa
negara ini masih meninggalkan konflik interes ditubuh TNI. Saya pikir ada
dan beberapa teman. Mengharapkan dalam situasi seperti ini TNI tetap netral.
Pada setiap peledakan atau kasus kerusuhan, kenapa yang menonjol hanya
Marinir? Dimana angkatan darat. Walaupun pemerintahan Gus dur
berulang-ulang kali berpendapat hal ini hanya masalah polisionil semata.
Tetapi dari bukti-bukti diatas kok saya masih sedikit sangsi, ya. Peledakan
Bursa efek kemarin kan, yang turun hanya Marinir, toh.
Walaupun suharto dari angkatan Darat, dan AD masih dilikupi troma. Tidak
seperti itu seharusnya. Memang sekarang ini yang harus di kedepankan adalah
sipil dan Polisi bagian dari itu. Tetapi dukungan TNI, terutama BIA
seharusnya dapat dikombinasikan. Para pialang sudah mengerti, siapa
sebenarnya biang rusuh tersebut. Bila terjadi sesuatu terhadap orang nomor
satu pasti ada masalah dalam negeri. Oleh sebab itu banyak kalangan segera
menuntut agar segeralah dituntaskan agenda reformasi. Artinya orang-orang
orba inikan walaupun tidak kuat, mereka masih berpengarus dan memiliki
komunikasi yang baik dan modal yang solid.
Jika tidak seperti posting saya sebelumnya, korban akan terus berjatuhan,
walaupun tidak akan mempengaruhi singasana Gus dur, juga. Seperti Ambon,
Aceh kan jatuh korban juga. Jika masalah papua, sih itu bisa dibilang bagian
dari aktivitas demokrasi sah-sah saja selama tidak ada perang saudara.
Agus Satrio:
Ah masak, khan baru dijalankan. Apa Pak Mashuri punya data? Yang saya lihat
bukan masuknya para
intelektual. Tapi partai-partai yang saling ambil kesempatan agar bisa
berperan dalam badan-badan
itu. Kukira ini cukup baik selama orang desa bisa menerimanya. Selain untuk
pendidikan kesadaran
berpolitik, juga untuk mengurangi dominasi golkar. Namun ada juga
kekawatiran barangkali sebentar
lagi politik aliran akan sampai juga ke desa-desa, setelah mereka
dikambangkan selama orde baru.
Mashuri:
Saya pernah menulis tentang sejarah organisi intelektual di sebuah majalah
anlisa berita. Apa mereka seperti CSIS dan ICMI/CIDES tidak partisan coba
anda jawab deh.
Pada jaman penjajahan, kelompok semacam ini (kelopok diskusi dlsbnya) khan
banyak, setelah ada sedikit ruang demokrasi berubah jadi partai (Partai
Indonesia). Demokrasi mengajarkan hal yang baik. Kalau Gus dur itu partainya
dua, satu PKB satunya LSM, ha...ha...
Oh, ya saya tadi mengikuti acara di TPI antara Eros jarot dan orang dari DPR
(walaupun tidak lama). Saya mengambil kesimpulan dari diskusi itu. Apa sih
yang di maksud dengan Partai dan apa yang dimaksud dengan rakyat. Jadi saya
sebenarnya ingin mencari esensinya dulu.
Benar pemilu berjalan dengan baik. Tetapi apakah pemilu kemarin adalah
benar-benar aspirasi dari keinginan rakyat. Nah anda bisa menjawab sendiri.
Lalu apa fungsi partai (jangan kita bicara intelektual dulu). Partai kan
alat yang ditujuk untuk membawahi pemikiran dan keinginan pemilihnya.
Lalu apa itu intelektual. Intelektual yang seharusnya masuk dan menghidupi
partai, jadi kesimpulannya Partai itu sekolah yang menghasilkan
intelektual-intelektual di dalamnya dari tingkat ranting hingga ke pusat.
Nah, dari dasar tersebut sudah demikian tidak? belum. Karena apa? ada
penyimpangan yang di buat (oleh sistem orde baru sendiri) bahwa Partai dan
intelktual (kaum terdidik/praktisi) itu berada pada tempat yang berlawanan.
Ia kah.
Lalu, jika anda bilang pemilu sekarang ini ada partisipasi rakyat, Benar
kesalahnya lagi partai yang ada masih memakai cara-cara tradisional
(simbolisasi) bukan partai yang modern. Nah, sulit memang merubah kebiasaan
ini. karena sudah berakar dan membentuk budaya. Misalnya contoh sederhana
penokohan mahasiswa sebagai agen perubahan dlsbmnya.
Nah mengenai aliran, inilah yang seharusnya dikembangkan. Sehingga rakyat
bukan memilih figur atau tokoh atau patron atau lain sebagainya. Tetapi
milih program yang lahir dari Ide-ide/faham yang diyakininya. Kesalahan orde
baru khan salah satunya adalah masalah ajas tungal, ya tidak. Padahal
Pancasila itu falsafat berbangsa, bukan fasafat berpolitik atau berpartai
khan. Jadi menurut saya biarkan dan malah harus dihidupkan kembali mau
marhein kek terserah.
Nah, jika tidak dari sekarang itu dibicarkan. Kita akan seperti Amerika yang
katanya negara paling demokratis itu. Kata siapa demokratis, peminat pemilu
disana tidak sampai 50 persen. Karena yang mewakili mereka uang dan orang
keduanya toh sama saja. Apakah Indonesia mau seperti itu.
Maksud saya tergerak untuk menjaili wisnu kemarin adalah itu. Kita tidak
usah takut dengan banyaknya aliran. Dengan banyaknya aliran tandanya
Indonesia demokratis. Oleh sebab itu, beberapa pakar politik mengatakan kita
bukan mengikuti demokrasi ala Amerika tetapi ala India. Disana partai apa
saja ada, yang kiri saja ada bermacam-macam, tengah juga begitu, kanannya
(ynag sering menteror) juga di kasih tempat. Jadi seperti itulah seharusnya.
Lalu mulai kembangkan budaya oposisi. Jika tidak target para politisi ini
adalah karir untuk kepentingan ekonomi semata. Konsep dewan adalah konsep
berbedaan, perbedaan adanya dipartai. Nah yang dikedepankan seharusnya
perbedaan pendapat. Bukan kekuasaan dan uang. Nah, yang anda amati selama
ini hampir semua partai yang ada targetnya mencari lahan itu. Mending untuk
kepentingan pendukungnya, ini untuk kepentingan sendiri. Hal ini sebenarnya
sama dengan LSM, atau lembaga sosial. Gus dur nantinya akan yakin, banyak
juga uang yang ditilep oleh kelompok-kelopok tersebut. Sudah seharusnya jika
transisi demokrasi ini bisa kita lewatkan, saya sepakat dengan beberapa
analis bahwa LSM itu sudah selayaknya dibubarkan juga. Karena memang tidak
ada lagi kerjanya.
Sekarang saja rakyat sudah pada kecewa kok dengan wakil rakyat yang ada di
dpr. Yang ada dalam demokrasi kemarin itukhan cuma fanatisme, bukan program
atau ide. Karena itu kenapa gus dur, sambil berseloroh dalam muktamar PKB
kalau tidak salah. "PKB itu kan milik NU, PAN itu milik Muhamadiyah sudah
jelas itu" sudah jelas membuktikan partai itu partai agama, yang satu
mewakili abangan, satunya mewakili kelas menegah. Amien rais kemarin dalam
pertemuan di jawa barat juga mengatakan, tanpa ragu-ragu bahwa PAN partai
kelas menegah islam.
Nah yang membodohkan rakyat akhirnya partai-partai bentukan orde baru, macam
PDI'P dan Golkar. Sekarang apa yang harus dijelaskan sehingga rakyat yang
muncul bukan fanatisme, figur semata (jika Mega mati kelabakan mereka semua
pasti). Tetapi ide dan program yang yang harus mereka jual. Jadi harus absur
memang yang harus diyakini. Jika tidak akan terus terjadi bentrokan. Inikan
sembenarnya budaya preman (budaya dari kelas menegah). "Gua jango A, elu
jagonya siapa. Awas lo gangu jago gua".
Belajar dari sejarah:
Ketika pemilu multi partai yang dijalankan pada masa Soekarno. Kampanye PKI
dan Masyumi hanya bersebrangan kelurahan. Tidak pernah bentrok (walaupun
dalam pemikiran ia saling bermusuhan) tetapi masa mereka masa yang idiologis
(terdidik) walaupun pendidikan formal masih rendah. Tidak ada bukti
demokrasi jaman sukarno ada darah yang tumpah, kecuali peristiwa profokasi
G30S peristiwa diluar pesta demokrasi.
Tetapi jika anda masih mempertahankan pemikiran posmo ya silahkan saja. Saya
menyarankan anda membaca tulisan Arif Budiman tentang kudeta berdarah Chile.
Nah untuk sekarang ini, kemarin ketika eki sahrudin diundang sebagai
pembicara disalah satu stasiun Televisi. Sudah berani mengatakan bahwa
partai mereka partai ekonomi. Nah jelaskhan sekarang ide yang mereka jual.
Tinggal rakyat yang terus mengkritisi ekonomi apa. Kalau saya tidak takut,
katakan saja "saya kapitalis", ya kan. Seperti Margaret techer dan (siapa
presiden amerika yang artis itu?).
Nah sebagai penutup, dalam millis kuli tinta kalau ini memang tempat
mangkalnya para jurnalis. Disanalah tugas kita untuk mendidik masyarakat
(terutama mengawasi partai) untuk lebih peka dan serius dalam menjalankan
amanat rakyat dan pendukungnya dari sana rakyat sendirilah yang akhirnya
akan menyimpulkan.
Sudah ya. lain kali diskusi ini kita sambung lagi.
Senang saya berdiskusi dengan anda.
M. Mashuri Alif
segini dulu.
agusssssss
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!