Mashury:
Terimakasi terhadap ralatnya; benar pendunduk Cina hampir 2 milyar, saya
minta maaf, anda cermat juga.

Masalah kolektif, dalam makna tiori sosial cina dikenal dengan sebutan
kolektif (cara kerja sosial mereka diselesaikan secara kolektif), lebih
moderatnya mungkin untuk menjelaskan kata tadi seperti koperasi mungkin ya.
Tetapi bedanya yang diatur dalam komunitas kolektif itu bukan hanya bidang
ekonomi, tetapi sosial, politik dan Budaya. Sehingga kadang-kadang masalah
anakpun juga dibicarakan dalam kolektif/komunitas mereka.

Hal diatas hampir sama dengan disumtera barat mungkin ya. Bedanya mungkin
tidak ada faktor feodalnya saja. Dan pemilihannya berdasarkan demokratis.
Bedakan jika di sumatra barat ada keterlibatan "ninik mamak". Tetapi ini
baik atau jelek saya saya tidak bisa menjelaskan.

Nah itu kesalahan seorang sosdem dan mungkin saya, kekurangannya kita semua
pandai dikepala, tetapi melupakan realisasi politik dimasyarakat. Berapa
kali saya membuat ulasan tentang pemerintah Gus dur di salah satu majalah
yang di kelilinggi pemikir-pemikir Sosial demokrat atau PSI.

Saya yakin (semoga dalam hal ini  saya sudah dapat menangkap pemikiran anda)
tetapi dalam meninjau kontek budaya di Indonesia ini tidak segampang seperti
membalik telapak tangan. Tidak juga segampang dengan mencontohkan tiori
Federal atau otonomi yang lebih cocok. Hal ini, jika kita mau menganalisa
secara kebudayaan kita semua harus sepakat tentang esensi dari manusia
sosial. Oleh sebab itu esensi manusia bukan didasari pada dasar esensi
kepentingan ekonomi dan politik terbentuknya dua blok Timur dan Barat saja.
Di timur sendiri harus terjadi pemisahan struktural. Apa kita mampu?

Belajar dari cina. Cina jelas tidak memakai kontek federalisme ala barat,
tetapi kontek dewan yang terpusat. Belajar lagi dari tulisan pram, secara
antropologi jika mau dirunut Indonesia juga berasal dari Cina.  Kedua, di
Indonesia sendiri ada beberapa rumpun ada rumpun Melayu, Jawa dsbagainya.
Lalu kita baru bicara tentang Federasi, atau otonomi atau Kesatuan. Jika
tidak, bangsa ini bisa pecah (dan mungkin itu keinginan anda) memang secara
antropologi tidak ada kata Indonesia. Jadi apa yang baik untuk konsep
federasi jika di katagorikan dengan konseb budaya masyarakatnya tidak ada.

Jika kita memperdebatkan konteks masyarkat berdasarkan rumpun Melayu, Jawa,
dan Negroit atau aborijin saja di asia Tenggara saja. Bisa meliputi hampir
sebagian besar daratan Malaysia, Filipina dan Australia Besar bukan, dan
masalah pemisahan Timor-timur jangan salahkan kaum Nasionalis dia juga harus
direbut karena basisnya bukan persamaan dijajah dan merdeka tetapi
berdasarkan Rumpun tadi. Masalah kita melepas Timor-timur karena jelas bukan
rumpun tetapi kesamaan penindasan seperti bunyi pembukaan UUD 45.
Timor-timur di jajah Portugis dan Indonesia Belanda yang kemudian
menyerahkan kepada Jepang. Nah anda pilih yang mana?

Ada pemikiran yang juga dikemukakan oleh kalangan sosial demokrat dan
beberapa ahli sosial. Bahwa di ramalkan didunia akan terbentuk komunitas
berdasarkan RAS atau Budaya. Ada UNI-EROPA, UNI-ASIA yang dipelopori Cina
dan mungkin Jepang, Uni-Timur Tengah atau Afrika dll. Tetapi ada dua hal
yang akan dikorbankan dalam pemikiran ini, yaitu Australia dan Amerika.
Karena kedua daerah ini tidak ada indentitas dirinya. Amerika didiami bangsa
Indian dan Australia di diami bangsa Aborigin.

Nah dari saat inilah kita mulai berkaca, kita mau memilih mana. Jika tidak
mau belajar secara Historis dan kebudayan kita akan hilang indentitas dan
musnah. Banyak ektrim kanan yang lebih condong dengan negara timur tengah ya
monggo silahkan saja ke masyarakat tersebut jika cocok jangan paksakan di
masyarakat yang tidak cocok dong. Saya hanya melihat bahayanya kita
memperdebatkan masalah Otonomi dan Federasi tersebut, itu saja. Atau bubar
dan belajar dengan Ivan illih tentang pentingnya pendidikan tanpa bangku
kuliah.. atau konsep posmo tentang masyarakat sosial. Untuk mengetahui jati
diri itu memang tidak kuat, karena itu ditentukan orang-orang yang ahli
dalam bidang sejarah.

Nah oleh sebab itu saya sepakat untuk saat ini kita selesaikan dulu masalah
otonomi Luas ini. Yang terpenting bukan konsep dan tiorinya tetapi
prakteknya, kan. Jika kita bicara tiori hampir seluruh wakil rakyat yang
anda pilih semua itu salah. Tidak ada interpelasi dari DPR terhadap Presiden
hal itu hanya ada pada masyarakat yang menganut sistem parlementer seperti
di eropa, cina dan Rusia.
Maksud saya kita buktikan dan rakyat kontrol apakah pemerintahan daerah dan
pemisahan kekayaan daerah dan pusat sudah berjalan dengan baik. Daerah sudah
bisa mandiri dstnya. Karena dalam kontek Budaya yang dapat menyelesaikan
problem masyarakat kita ya Revolusi. Tetapi banyak orang yang tidak setuju,
akibatnya ya, akan memakan korban yang lebih banyak dan kesabaran yang
tinggi dong. Dari penjelasan diatas membuktikan bukan saya menutupi
pentingnya kita memperdebatkan budaya, tetapi kita harus jujur problem
mendesak kita adalah masalah sosial, budaya hanya  farian tersebut dari
masalah tersebut. Ok. Jadi anda jangan bingung saya sepakat pentingnya
memahami budaya, yang salahkan adalah pemahaman anda tentang kontek agraris
dalam kaca mata budaya (baca lagi posting saya sebuelum ini). Dari
bukti-bukti yang ada (baik secara budaya, ekonomi dan politik) masyarakat
agraris itu ditakdirkan akan mati. Jadi dalam memahami budaya tersebut dia
tidak bersifat statis. Tetapi diakhir posting anda (dalam menganalisa
mental) membenarkan bahwa budaya dan praktek feodalisme itu akan musnah.
Atau anda masih kurang puas atau mempertahankan feodalisme tersebut seperti
contoh seorang ibu dengan anaknya.Ha... Ha...

Oh ya anda belum menjawab pertanyaan mendasar saya, sederhan. Jika kita
pemerintah yang berkuasa untuk melakukan kegiatan alih teknologi terhadap
kegiatan agraris (pertanian) di pedesaan apa yang di dahulukan di jawa atau
diluar jawa?

Semoga kita sama-sama terpuaskan.

-----Original Message-----
From: Agus Satrio [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 13 September 2000 16:16
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] ada hubungan?


Waduh panjang banget, tapi terima kasih pak Mashuri. Tanggapannya saya
potong-potong.

--- Rury <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mashuri:
> Dalam menganalisa Cina kita harus punya pegangan Geografis Cina pada
> umumnya. Cina adalah masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar
hampir
> 200 juta jiwa (bandingkan dengan Indonesia) jadi sebagai pelajaran
"mungkin"
> baik kita belajar dari cina.

Apa enggak salah ni pak Mashuri. Cina itu hampir 2 milyar. Yang 200 juta ini
khan Indonesia.

> Tetapi anda salah (menurut saya) dalam menganalisa masyarakat Cina. Anda
> tahu pristiwa Tiananmen kan. Peristiwa itu terjadi setelah revolusi
> kebudayaan Cina. Dan dipelopori oleh kalangan Sosialis muda Cina modern.
Hal
-------------dst dihapus karena panjang--------

Kita memang tidak tahu pasti apakah CIA ikut bermain dalam peristiwa
Tiananmen atau tidak. Namun
fokus saya adalah suksesnya revolusi mereka dalam memerangi watak feodalisme
dalam masyarakat.

Saya juga bertanya kepada pak Mashuri yang dimaksud kolektif oleh pak
Mashuri itu yang mana?
Karena masyarakat itu terdiri atas macam-macam, yakni:
perorangan(individu)---keluarga---group(suku,puak,agama)---masyarakat(societ
y).

Nah kolektif yang pak Mashuri maksud itu dimana? Apakah society?

Kembali pada masalah Cina, bila dilihat dari sisi budaya, sebenarnya komunis
itu tidak cocok
dengan masyarakat Cina, karena inti dari masyarakat Cina itu pada keluarga.
Komunis yang
menekankan pada society mengakibatkan cairnya ikatan keluarga. Seperti
balon, tekanan yang kuat
pada keluarga akan mendesak kesamping yakni ke individu dan society
tentunya. Darisinilah watak
feodalis itu terkikis.

Sekarang bagaimana dengan Indonesia, dimana inti dari masyarakat Indonesia?
Sulit diketahui karena
Indonesia sangat majemuk. Namun kelihatannya (menurut saya lho, jadi jangan
disalahkan) intinya
pada keluarga-group (cirinya paternalistik, musyawarah mufakat,
integralistik). Apakah
keluarga-group ini pernah mengalami tekanan? Saya kira belum, karena jaman
periode kebangkitan
nasional yang dipentingkan adalah bagaimana kita bersatu melawan penjajah.
Jadi faktor dari luar
lebih dominan. Sedang faktor dari dalam (feodalisme, suku, agama) agak
diabaikan. Lihat saja
fenomena Budi Utomo serta Sarikat Islam (buku Jejak Langkah atau Sang
Pemula, pat). Dan ternyata
unsur keluarga-grup ini seperti singa tidur. Setelah merdeka mereka bangkit
dan menerkam kita
kembali. Oleh karena itu perlu revolusi kebudayaan atau transformasi dalam
pemikiran, bukan cuma
sekedar reformasi (Mangunwijaya, di inside indonesia, dan beberapa
essaynya). Tentu saja bukan
dengan cara model komunis seperti Cina. Namun dengan cara federalisme atau
otonomi luas. Dalam
bayangan saya bila otonomi luas itu berhasil, maka masyarakat yang terbentuk
itu ibarat buku yang
dibinding dengan ring, bukan pake lem atau pake stapler. Jadi tetap jadi
satu tapi tiap lembar
masih bebas.

> Lagu Kebangsaan Indonesia juga bagus (bukan berarti kemudian saya dituduh
> pendukung nasionalis) penekanan Lagu Indonesia Raya pada Kata Merdeka,
bukan
> pada kata Rayanya. jadi anda salah lagi. Orang Komunis, Sosialis, liberal,
> Demokrat, Agama, kaum feodal dll (kecuali bukan antek-anteknya kolonial),
> dapat menerima lagu itu, karena kepentingan mereka pada saat itu sama
yaitu
> merdeka. Oleh sebab itu disebutkan Revolusi Kemerdekaan. Bukan revolusi
> Sosial seperti yang terjadi di Cina.

Memang pada awalnya lagu itu digunakan untuk mempersatukan bangsa-bangsa
Hindia Belanda menjadi
bangsa Indonesia. Namun setelah kemerdekaan tercapai, apa yang ditekankan
dalam penghayatan lagu
Indonesia raya itu, apakah di 'merdekanya' atau di 'Rayanya'. Menurut saya
lagi, ya di 'rayanya'.
Demi Indonesia Raya Soekarno mencoba mengikat Indonesia cuma jadi tiga
elemen Nasakom. Jaman Orde
Baru lebih gila lagi, hantu SARA itu contohnya. Jadi penekanan pada
'merdekanya' hilang. Perkara
ini rasanya sudah pernah kutulis disini, waktu njawab postingnya Aswat
mungkin.

> Mashuri:
> Maaf; saya melihat anda seperti pengikutnya Stiawan Judi, sedikit-sedikit
> bicara revolusi budaya, tanpa menganalisa apek sosial politik dan ekonomi.

Wuaah saya kok pengikut Setiawan Jodi. Mencermati sepak terjangnya saja
enggak pernah, apalagi
baca tulisannya (kalau dia pernah menulis lho).

> jangan bicara budaya jika masalah sosial belum selesai (menurut saya).

Aku kok jadi bingung. Menurut saya budaya dan sosial itu ibarat air dan
ikan, bukan telor dan
ayam. Kalau airnya keruh ikannya ya megap-megap. Pernah baca tulisan Pram
yang berjudul 'Negara
ini menyandang kesalahan historis', barangkali bisa dilihat sebagai hubungan
antara air dan ikan.

> Steatmen anda absurt, saya kurang paham apa yang anda maksud dengan
mental.

Kupikir anda sudah tahu masalahnya. Jadi saya main loncat saja. Yang saya
maksud mental adalah
watak, cara berpikir. Cara berpikir masyarakat petani tentu berbeda dengan
cara berpikir
masyarakat industri. Mau industri tapi cara berpikirnya masih agraris, jadi
repot khan. Tulisan
Jusuf Ishak dalam kata pengantar novel Arus Balik, dengan bagus rasanya
menguraikan hal ini.

Terima kasih

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke