Waduh panjang banget, tapi terima kasih pak Mashuri. Tanggapannya saya potong-potong.

--- Rury <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Mashuri:
> Dalam menganalisa Cina kita harus punya pegangan Geografis Cina pada
> umumnya. Cina adalah masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar hampir
> 200 juta jiwa (bandingkan dengan Indonesia) jadi sebagai pelajaran "mungkin"
> baik kita belajar dari cina. 

Apa enggak salah ni pak Mashuri. Cina itu hampir 2 milyar. Yang 200 juta ini khan 
Indonesia.

> Tetapi anda salah (menurut saya) dalam menganalisa masyarakat Cina. Anda
> tahu pristiwa Tiananmen kan. Peristiwa itu terjadi setelah revolusi
> kebudayaan Cina. Dan dipelopori oleh kalangan Sosialis muda Cina modern. Hal
-------------dst dihapus karena panjang--------

Kita memang tidak tahu pasti apakah CIA ikut bermain dalam peristiwa Tiananmen atau 
tidak. Namun
fokus saya adalah suksesnya revolusi mereka dalam memerangi watak feodalisme dalam 
masyarakat. 

Saya juga bertanya kepada pak Mashuri yang dimaksud kolektif oleh pak Mashuri itu yang 
mana?
Karena masyarakat itu terdiri atas macam-macam, yakni:
perorangan(individu)---keluarga---group(suku,puak,agama)---masyarakat(society).

Nah kolektif yang pak Mashuri maksud itu dimana? Apakah society?

Kembali pada masalah Cina, bila dilihat dari sisi budaya, sebenarnya komunis itu tidak 
cocok
dengan masyarakat Cina, karena inti dari masyarakat Cina itu pada keluarga. Komunis 
yang
menekankan pada society mengakibatkan cairnya ikatan keluarga. Seperti balon, tekanan 
yang kuat
pada keluarga akan mendesak kesamping yakni ke individu dan society tentunya. 
Darisinilah watak
feodalis itu terkikis.

Sekarang bagaimana dengan Indonesia, dimana inti dari masyarakat Indonesia? Sulit 
diketahui karena
Indonesia sangat majemuk. Namun kelihatannya (menurut saya lho, jadi jangan 
disalahkan) intinya
pada keluarga-group (cirinya paternalistik, musyawarah mufakat, integralistik). Apakah
keluarga-group ini pernah mengalami tekanan? Saya kira belum, karena jaman periode 
kebangkitan
nasional yang dipentingkan adalah bagaimana kita bersatu melawan penjajah. Jadi faktor 
dari luar
lebih dominan. Sedang faktor dari dalam (feodalisme, suku, agama) agak diabaikan. 
Lihat saja
fenomena Budi Utomo serta Sarikat Islam (buku Jejak Langkah atau Sang Pemula, pat). 
Dan ternyata
unsur keluarga-grup ini seperti singa tidur. Setelah merdeka mereka bangkit dan 
menerkam kita
kembali. Oleh karena itu perlu revolusi kebudayaan atau transformasi dalam pemikiran, 
bukan cuma
sekedar reformasi (Mangunwijaya, di inside indonesia, dan beberapa essaynya). Tentu 
saja bukan
dengan cara model komunis seperti Cina. Namun dengan cara federalisme atau otonomi 
luas. Dalam
bayangan saya bila otonomi luas itu berhasil, maka masyarakat yang terbentuk itu 
ibarat buku yang
dibinding dengan ring, bukan pake lem atau pake stapler. Jadi tetap jadi satu tapi 
tiap lembar
masih bebas.
 
> Lagu Kebangsaan Indonesia juga bagus (bukan berarti kemudian saya dituduh
> pendukung nasionalis) penekanan Lagu Indonesia Raya pada Kata Merdeka, bukan
> pada kata Rayanya. jadi anda salah lagi. Orang Komunis, Sosialis, liberal,
> Demokrat, Agama, kaum feodal dll (kecuali bukan antek-anteknya kolonial),
> dapat menerima lagu itu, karena kepentingan mereka pada saat itu sama yaitu
> merdeka. Oleh sebab itu disebutkan Revolusi Kemerdekaan. Bukan revolusi
> Sosial seperti yang terjadi di Cina.

Memang pada awalnya lagu itu digunakan untuk mempersatukan bangsa-bangsa Hindia 
Belanda menjadi
bangsa Indonesia. Namun setelah kemerdekaan tercapai, apa yang ditekankan dalam 
penghayatan lagu
Indonesia raya itu, apakah di 'merdekanya' atau di 'Rayanya'. Menurut saya lagi, ya di 
'rayanya'.
Demi Indonesia Raya Soekarno mencoba mengikat Indonesia cuma jadi tiga elemen Nasakom. 
Jaman Orde
Baru lebih gila lagi, hantu SARA itu contohnya. Jadi penekanan pada 'merdekanya' 
hilang. Perkara
ini rasanya sudah pernah kutulis disini, waktu njawab postingnya Aswat mungkin.
 
> Mashuri:
> Maaf; saya melihat anda seperti pengikutnya Stiawan Judi, sedikit-sedikit
> bicara revolusi budaya, tanpa menganalisa apek sosial politik dan ekonomi.

Wuaah saya kok pengikut Setiawan Jodi. Mencermati sepak terjangnya saja enggak pernah, 
apalagi
baca tulisannya (kalau dia pernah menulis lho). 

> jangan bicara budaya jika masalah sosial belum selesai (menurut saya).

Aku kok jadi bingung. Menurut saya budaya dan sosial itu ibarat air dan ikan, bukan 
telor dan
ayam. Kalau airnya keruh ikannya ya megap-megap. Pernah baca tulisan Pram yang 
berjudul 'Negara
ini menyandang kesalahan historis', barangkali bisa dilihat sebagai hubungan antara 
air dan ikan.

> Steatmen anda absurt, saya kurang paham apa yang anda maksud dengan mental.

Kupikir anda sudah tahu masalahnya. Jadi saya main loncat saja. Yang saya maksud 
mental adalah
watak, cara berpikir. Cara berpikir masyarakat petani tentu berbeda dengan cara 
berpikir
masyarakat industri. Mau industri tapi cara berpikirnya masih agraris, jadi repot 
khan. Tulisan
Jusuf Ishak dalam kata pengantar novel Arus Balik, dengan bagus rasanya menguraikan 
hal ini.

Terima kasih

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke