Untuk Mas Hapsoro dan rekan rekan
Saya sangat menghargai pendapat Mas Hapsoro, tetapi after saying that what we gonna
have to do with gajah? Saya ingin mengajak Mas Hapsoro dan rekan-rekan untuk membaca
tulisan ini dan apabila tidak berminat silahkan dihapus (Dengan kerendahan hati saya
mohon maaf apabila dalam tulisan ini menyangkut diri pribadi saya, tidak ada maksud
sama sekali untuk menyombongkan diri)
Atas nama PANTAU (jaringan LSM untuk pemantauan perdagangan hidupan liar Indonesia)
saya menyatakan protes keras pada Taman Safari dan harian The Jakarta Post yang telah
melansir sebuah tontonan dan atraksi "eksploitatif".
Dalam perjalanan ke sebuah Taman Nasional di Kenya bulan April lalu, Sherly Mc Grill
(mudah-mudahan spellingnya benar, bos IPPL) berucap (dengan jumawa) kepada saya "
Tonny, I was shocking to see a picture of a couple gibons in Denpasar in terrible
condition so immediately I sent 12,000 $US to one of NGO in East Java to rescue
them...your people are so cruel to the animals".
Lantas saya jawab "woww.. I am surprise too, knowing that you sent so much money for
rescuing a couple of our gibons while many of us are starving"
Dengan nada tinggi beliau lantas menjawab balik " You should understand that animals
deserved to get help. I think Indonesian should start learning the essence of animal
right and start enacting animal right simultaneously with the economic and political
changes"
" I don�t think so, we do know the priority better than you do" jawab saya, tetapi
seraya beliau berkata " You know�if I were your boss I would certainly fire you and
place you in department of people protection and development�...You and your people do
not have any right to kill, hurt, trade and entertain animals�.etc"
Tentu saya tetap ngotot dengan jawaban saya�tetapi saat makan siang saya pergoki
Sherly sedang lahap mengunyah daging sapi..lantas saya bilang" I thought you do not
have right to eat animals"
Apa katanya"I do not and never eat wildlife�.I only eat domestic animals�. that�s
different "
" Very well�but the feeling of domestic animals is the same with those of wild one"
kata saya. Muka Sherly merah dan bersungut sungut " I will never be able to convince
you"
Apa hubungannya sepenggal pembicaran di atas dengan konservasi gajah?
Mungkin Mas Hapsoro benar seperti juga pendapat bos IPPL bahwa kita cruel..mungkin
juga pemerintah salah dalam mengelola lingkungan dan wildlife. Di luar sana ada orang
seperti Sherly yang begitu kukuh mempertahankan pendapatnya untuk mensejahterakan
satwa tanpa melihat kiri kanan. Tetapi sebagai orang yang bekerja di PKA selama lebih
dari 15 tahun saya sendiri tidak tahu pendapat itu benar atau tidak.
Terlepas dari itu ketika Rubini Atmawidjaya (Dirjen PHPA/sekarang PKA) 15 tahun lalu
meluncurkan gagasan Pusat Latihan Gajah (PLG) dengan tujuan menyelamatkan gajah �.yang
ujung-ujung diperuntukan untuk entertainment, tidak ada yang benar benar protes even
LSM besar termasuk LSM international. "Mari kita belajar dari negara tetangga untuk
melestarikan gajah" Kata Pak Rubini�diajarilah gajah liar hasil tangkapan itu main
bola, narik kayu , bajak sawah, menari-nari dll. Atraksi itu juga berulang ulang di
tayangkan TVRI. Saat itu semua kok ok ok saja.
Bahkan tidak banyak yang ingin cawe-cawe mau dikemanakan gajah-gajah di PLG ini ketika
jumlah gajahnya mencapai � 500. Tentu satwa tsb harus diberi makan dan minum setiap
hari (tahun 1995 diperlukan � 1,5 milliar Rp untuk memelihara mereka) serta dirawat
agar tetap hidup. Apa pemerintah akan keep feeding them? ��Sebagian orang mungkin
berpendapat lebih baik dana tsb dialokasikan untuk pendidikan dan perbaikan gizi anak
sekolah�karena pasti membengkak terus.
Ketika mendengar penjelasan bahwa Zimbabwe, Namibia dan Botswana akan melakukan
cropping terhadap populasi gajahnya (atas nama pembinaan habitat), seorang kulit putih
di Kruger National Park, South Africa pernah berkata kepada saya di tahun 1997" I
would rather see the African Elephant extinct than seeing them killed for ivory".
Demikian juga saat melihat gajah-gajah berjalan untuk menghibur turis asing di
sepanjang waterfront tepi sungai Mekong (Cambodia) Bill Clark seorang ahli gajah dari
Israel pernah berucap kepada saya " I hate to see them using the elephants to carry
tourists along this road�it sore" sambil menunjuk kakinya. " But what can I say�" kata
dia lagi sambil menerawang ke atas, mungkin pusing juga harus diapakan gajah-gajah
ini. Saya sendiri pusing kalau mikirin gimana menyelamatkan gajah kita terutama yang
nyangkut di PLG.
Saat pemerintah (Dephut) sudah cekak untuk membayari PLG dalam pertemuan CITES
permanent committee tahun 1998 di Caracas saya katakan pada rekan-rekan dari EU, US
dan Africa bahwa kita bankrupt tidak ada dana lagi untuk memelihara PLG. Ternyata
sedikit sekali yang berminat membantu�..tetapi ketika dalam pertemuan yang sama di
Antananarivo, Madagascar tahun 1999 saya katakan bahwa Indonesia mungkin mau
memusnahkan sebagian gajah-gajah di PLG karena endak ada duit lagi untuk memelihara
PLG, Ring-Ring Brother (perusahaan sirkus di US)�seraya berjanji mau membantu via US
Fish and Wildlife��sebatas obat-obatan dan pembelian makan untuk gajah�.dan ternyata
Directornya mengatakan di Kenya bulan lalu bahwa bantuan telah disampaikan dan akan
diumumkan dalam workshop gajah di Indonesia bulan April 2000 (benar tidaknya
walahualam�).
Tetapi apa kita akan selalu menengadah minta bantuan ? Dalam lubuk hati yang paling
dalam saya berkeinginan agar gajah-gajah di PLG dikembalikan lagi ke hutan, biarkan
mereka hidup dalam alamnya. Tetapi dimana? Hutan hutan Sumatra sudah diduduki orang,
kebun dan industri dll. Kecuali kalau pemerintah mau menarik kembali hutan-hutan yang
sudah dikonsesikan ke HPH, perkebunan, industri dll tentu dengan konsekwensi dana
lagi.
Jansen Manangsang dan Tony Sumampau (TSI) sering bicara dengan saya " yang penting
kenalkan dulu gajah ini ke masyarakat, setelah kenal dan cinta baru kita ajak sama
sama untuk menyelamatkannya" to some extent saya percaya seperti juga Mas Hapsoro
mereka berniat baik untuk menyelamatkan gajah. Mungkin jalan pemikiran itu yang
digunakan oleh TSI juga DJ PKA ketika memamerkan gajah-gajahnya di Jakarta bersama the
Jakarta Post(?).
Above all tanpa mengecilkan arti animal welfare menurut saya daripada kita berpolemik
soal gajah di Jakarta (?) mungkin lebih baik kita bertukar pendapat dalam cara
menyelesaikan persoalan gajah yang lebih besar yaitu menyelamatkan gajah yang masih
tersisa di hutan Sumatra dan menyelamatkan � 500 gajah yang di PLG-PLG. Saya sendiri
bukan ahli gajah tetapi saya percaya di mailist ini banyak rekan-rekan yang berminat
menyelamatkan gajah kita.
Terima kasih,
Salam dari Kutai