>Hehe ..please jangan terlalu berprsangka buruk. Bagi saya daripada
>ribut-ribut soal pameran gajah, saya kira lebih baik kita sama sama
>bertukar pikiran bagaimana kita mengembalikan fungsi sebagian hutan Sumatra
>ini untuk habitat gajah yang di PLG. Karena katanya pemerintah bangkrut,
>kami juga ingin agar ada tukar pikiran untuk menyelamatkan mahluk ini yang
>ada di PLG. Time is not in our site mereka perlu makan dan hidup.
Saya pikir bagaimana kalau saat ini diusahakan untuk mengkonversi lagi
kawasan-kawasan yang tadinya dikonversi sekarang dikembalikan menjadi
habitat gajah lagi??? nah sulit kan???? karena sudah menyangkut pertumbuhan
penduduk dan berkembangnya kawasan menjadi kawasan-kawasan lain. Para ahli
gajah mungkin bisa memberi input.
Pak Tony maaf lainnya saya hapus, soalnya kalau berdebat model menanggapi
baris perbaris kayaknya persis "debat kusir", anda bertanya kami menjawab
atau sebaliknya. Nggak habis-habis.
Saya sebetulnya sudah nggak "nyantol" lagi. Saya juga ingin mengucapkan
selamat pada TSI lewat pak Frans dapat kalpataru. Mungkin sebagian karena
andilnya mempolpulerkan gajah itu. Tapi saya kira kerja TSI juga banyak dan
tidak hanya soal gajah saja, jadi ya... baik dan wajar kalau dapat
kalpataru.
Saya salut pak Tony cukup sensitif, dan itu baik untuk menjadi kritis demi
perbaikan. Kita semua butuh perubahan. Ada orang bilang, "orang yang lagi
sulit cenderung sensitif" Seharusnya kita semua sensitif tidak hanya ketika
lagi sulit. Saya punya kesan karena instansi anda banyak mengalami kesulitan
jadi cenderung sensitif. Tapi jangan anti asing dong... nanti jadi rasist,
kan nggak baik juga karena di dunia internasional hukumnya haram.
Baris yang mengajak bertukar pikiran ini kayaknya baik kita teruskan,
mungkin ada ide-ide baru yang cemerlang dapat membuat pikiran kita terbuka.
Kalau soal menghujat, ya... tinggal bagaimana kita menempatkan dan
mengartikannya. Kita juga perlu belajar untuk menempatkan hujatan sebagai
kritik juga. Suasananya kan sudah terbuka... kalau kita tempatkan kritik
sebagai hujatan bisa saja akan menimbulkan susana "suka atau tidak suka".
Saya sendiri belum kenal banyak dengan anda, dan mungkin anda juga belum
kenal benar dengan saya. Terus terang saya tidak menemukan perbedaan pikiran
yang penting dari beberapa pernyataan anda, seperti misalnya: "Saya lebih
cenderung penyelamatan habitat dan ekosistem." atau "Kami ingin agar
universitas dan WWF membuat sedikit pressure kepada petinggi kehutanan untuk
berhati hati mengkonversi hutan dataran rendah di Riau dan Aceh" dan "Tetapi
God knows saya menghentikan dana reguler penangkapan gajah dan
mengalihkannya ke on call (hanya tersedia apabila terpaksa) karena saya
kawatir gajah di PLG membengkak."
Pak Tony, posisi kita memang terkotak-kotak, anda di PPA yang memeliki
otoritas menerapkan kebijakan. Saya di LSM yang fungsinya tukang teriak,
sebagai bagian dari sosial kontrol. Persoalan yang muncul kan ketika
semuanya "budeg", tidak peka dan kurang sensitif. Saya bersukur, sekarang
ini semuanya menjadi sensitif. Ada jarum jatuh saja suaranya sudah
kedengaran. Saya berpikir, yang kita perlukan saat ini adalah bagaimana
mengembangkan model-model resolusi. Semacam "konflik resolusi". Kita perlu
belajar banyak. Kita semua perlu belajar banyak soal merasionalkan tuntutan.
Kalau sudah di tereaki, pemerintah terus bagaimana?. Ya demi kebaikan
semuanya. Bukan demi pemerintah, demi PPA, demi LSM sendiri, atau demi
investor atau donor. Maaf saya bukannya mau ceramah....
Kalau diskusi kita difokuskan subyeknya dalam soal AR, menurut saya bagus
juga. Soal ini sepengetahuan saya baru berkembang di kita, karena
pertimbangan terbesar dalam penanganan wildlife di kita masih berat ke soal
ekonomi. Saya melihat ada pertimbangan: "alangka sayangnya harga seekor
fascicularis yang 1000 us kalau tidak dimanfaatkan". Pertimbangan itu
boleh-boleh saja, tetapi akibatnya kan minat ekploitatif itu menjadi
terpacu. Pada hal ada problem utama yang mengabaikan "keberlangsungan hidup
mereka" karena ada tuntutan "pertumbuhan" demi kehidupan kita yang lebih
baik yang mengakibatkan pada kehancuran habitat mereka. Bukan saja pada
wildlife tetapi juga pada masyarakat-masyarakat asli lainnya.
Kalau diskusi ini memang akhirnya bermuara pada soal AR, saya pikir kita
bisa buka topik baru yang mungkin membuka minat kawan-kawan lainnya di sini.
Salam,
Bambang Ryadi Soetrisno
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/