Untuk Mas Bambang R. Sutrisno (Mohon maaf saya terlambat manjawab, selain
LAN kami down juga riweuh di hutan).
>Pak Tonny..
>Saya mempunyai kesan bahwa Anda ingin menunjukkan bahwa kepentingan
kawan-kawan yang bekerja keras berkampanye menyelamatkan wildlife di tanah
air tidak terlepas dari kepentingan luar yang mungkin 'romantis' atau apapun
namanya, yang menurut Anda tanpa tengok kiri kanan.
Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak anti animal right (ar) tetapi juga
saya bukan penggemar ar. Saya lebih cenderung penyelamatan habitat dan
ekosistem. Kalau saya banyak memberi contoh bukan untuk beromantisme tetapi
sekadar menggambarkan bahwa soal ar tidak hanya di Ind. dengan pameran
gajahnya tetapi juga terjadi negara lain. Di Thailand mahluk ini
diperkerjakan di hutan, di India dan Srilanka di gunakan sebagai kendaran
seremonial. Di UK orang mempermasalahkan ar terhadap anjing piaraan dan
anjing penjinak bom. Bahkan di US negara embahnya ar, pelecehan thd binatang
masih berlangsung..dan herannya mereka masih getol mengexportnya ke negara
lain...lihatlah film-film komedi holywood yang menggunakan orang
utan..(tolong juga lihat videoklip cueless di SCTV) dan film holywood laga
yang memamerkan reptil pliharaan spt iguana.
Kalau ada orang Ind. yang suka piara binatang alias pet.sperti gibon.. ya
salah satunya karena niru dari mereka yang ada di film film
itulah...tengoklah dulu endak ada orang kita yang suka pelihara
reptil..tetapi setelah ada contoh...dari orang putih di film holywood .ya
iguana pun jadi barang dagangan yang laku...celakanya setelah bosan
...dilepas di alam....PPA lagi yang kena.
Kalau ada seorang Shirley yang konsern dan sepakat dengan kita untuk
menyelamatkan gibon-gibon yang dipenjarakan orang, itu kan artinya bahwa
kita sepakat untuk bekerja sama demi penyelamatan lingkungan kita.
Kerjasama itu baik apalagi untuk tujuan baik tetapi kadang kita perlu
lihat-lihat what's behind the initiative. Kalau saya kasih contoh Bu Sherly
karena dia adalah kawan saya yang paling getol mengatakan bahwa Indonesian
cruel thd binatang liar..kerjanya hanya jualin primata dsb. tapi Bu Sherly
tidak pernah konsisten dengan pendirian dan kritikannya... ...tolong lihat
para breeder primata (M. fascicularis dll) di US yang jumlahnya
bererot..mereka asyik producing and trading..dengan harga yang tentu
commercial (monyet kita dijual US$,3000 per ekor) dan para breeder burung
tropika termasuk Ind. (C. galerita, C. molucensis dll yang dijualin dengan
harga di atas $US 10,000) yang nyaman berjualan di US karena dilindungi oleh
Undang2 anti import burung tropika yang ditetapkan US tahun 1994 (setelah
mereka punya semua...)... Bagaimana soal ar di kita? tidak hanya pameran
gajah..kalau mau konsisten lihat saja di beberapa KB satwa berdesak desakan
termasuk Gajah..bahkan yang ini dipertontonkan kepada halayak tiap
hari...demikian juga di sirkus.
Sangat jelas saya membaca tulisan Anda bahwa kegiatan-kegiatan kita dalam
menyelamatkan wildlife erat kaitannya dengan kebutuhan dana yang mengalir.
Saya pikir justeru itulah persoalannya. Saya percaya betul bahwa isu
penyelamatan wildlife di Indonesia tidak terlepas dengan hiruk-pikuk dari
kasak-kusuk "ada dana apa, untuk apa, dari mana, dan bagaimana meraihnya".
Tentu itu tidak benar. Tidak semua orang PPA (PHPA atau PKA) jahat dan kasak
kusuk cari dana. Sebagian dari kami dari jaman dulu sampai sekarang
ya..pas-pasan. Banyak para kepala unit PPA di daerah yang dipindah ke Jkt
harus terseok seok cari kontrakan karena tidak mampu beli rumah. Bahkan buat
para petugas PPA dilapangan sebungkus supermee saja sudah barang
mewah..pakaiannya pun lusuh-lusuh karena seragamnya hanya dibagi dua setiap
tahun dan itu harus dipakai tiap hari dan bertugas...Jujur saja dibanding
dengan para petugas LSM International mungkin juga national dari sisi materi
petugas PPA jauh di bawah...tetapi tugas dan tanggung jawabnya berjibun.
Celakanya pegawai PPA ini pegawai negeri ... kehutanan lagi ..yang kata
orang koruptor....sehingga masyarakat menganggap kami koruptor juga...tolong
jangan menyamaratakan.
Di tingkat international kami juga tidak pernah kasak kusuk ...saya pribadi
memang pernah menyusun beberapa proposal untuk study dan Management Plan.
Yang melaksanakan study-study tsb juga bukan kami tetapi LSM dan para pakar
di Universitas...kami hanya pengguna saja..walaupun seringkali hasilnya
sulit dilaksanakan i.e., Betuang Karimun Transborder Park (sekarang Betun
Karihun) ..itu proposalnya saya disusun di Sintang (May 1993) kemudian kami
kirim ke ITTO...silahkan cek Ke Dr. Frazillah (Saat itu DG ITTO)...setelah
ok dan dananya ngucur (1,3 Juta $US) WWF yang kerjakan...Russel Bets sempat
bilang terima kasih kepada saya di Florida (Oct 1994). Salahkah saya dan
kami di PPA melakukan kegiatan sperti itu ? Kasak kusuk kah itu ? saya
tidak tahu anda menilai sendiri..tetapi apa hasil yang dilakukan WWF dengan
Betung karihun ? anda menilainya.
>Demi pembangunan, ketika kerakusan ORBA merajalelah mengkonversi hutan
untuk kepentingan meraih sumber dana luar masuk sebesar-besarnya dan imbalan
mengeruk sumber daya alam serakus-rakusnya, maka saat itu bermunculan
kreatifitas kita untuk bermanufer memanfaatkan momentum. Sampai-sampai kita
menyalahkan diri sendiri ketika kegiatan-kegiatan yang kita lakukan dengan
didanai melalui kerjasama internasional ternyata tidak berbekas apa-apa dan
malah menciptakan bom waktu yang saat ini mulai meledak dimana-mana seperti
halnya PLG, Taman Nasional, dsb..Yang saya kuatirkan justeru karena ada
momentum ketersediaan dana maka kita buat kegiatan, lalu dibangunlah opini
publik untuk tujuan agar penyandang dana terkesan dan bahwa pembuat opini
itulah yang mendapat otoritas menggunakan dana yang tersedia.
Saya mungkin bagian dari ORDE BARU karena saya sekolah dari SD sampai S3
juga saat Orde baru. Tetapi belum tentu setiap orang yang lahir pada saat
itu berahlak buruk. Sebagian besar kawasan konservasi if not all lahir pada
saat orde baru. J. Blower dan J. Mac Kinnon dari FAO/WWF serta kawan kawan
lainnya di PPA yang mencetuskan NCP (National Conservation Plan) Vol 1-5
tahun 1980.
Sayang Mas Bambang saat itu belum lahir sebagai ahli lingkungan ...LSM
konservasi pun di Indonesia saat itu hampir dikatakan tidak ada.
Kalau ada kawasan konservasi yang lahir pada zaman Londo itu juga kami kira
karena ada hal-hal lain (ini belum tentu benar). Saya melihat hampir setiap
kawasan konservasi yang ditetapkan Londo ada tambang di bawahnya..e.g.
Kutai, Halimun, Papandayan, Boganiwatabone dsb.. Kalau tiba-tiba sekarang
diributkan bahwa process penetapannya tidak berkonsultasi dengan
masyarakat...mungkin memang benar..tetapi jangan hanya kami di PPA yang
selalu dipersalahkan. Mari lihat NCP disitu tertera alasan dan analisa
kuantitative untuk masing-masing kawasan konservasi di Ind. Mari kita uji
lagi benar apa enggak hitungan dan analisanya....lantas tanya kemasyarakat
sekitarnya..
>Saya tidak yakin bahwa apakah kita lupa bertanya, 'demi apa semua itu kita
lakukan?' Kawan-kawan PANTAU saya kira sangat menyadari, bahwa wildlife -
korban kerakusan kita saat ini perlu diselamatkan - dan solidaritas
internasional yang kita harapkan adalah jangan menularkan tradisi-tradisi
kerakusan yang jelas berakibat fatal bagi lingkungan kita. Itu bisa saja
terjadi kalau seandainya ada Kebun Binatang di suatu negara sepakat
bekerjasama dengan lembaga konservasi eksitu di sini untuk kepentingan 'demi
sesuatu" itu.
Saya masih percaya bahwa sebagian proyek orang putih itu hanya cari nama.
Saya pernah pusing melayani NRM di Bukit Baka (1992-93). Sebagian besar dana
yang katanya untuk Bukit Baka ternyata hanya untuk wara-wiri orang ahli dari
US ke Bukit Baka sampai-sampai AMDAL, tropikal taxonomies, tenaga air
bersih, penyusun rencana dan field manager harus orang putih..untung saja
supirnya masih orang iban.
>Saya yakin masyarakat kita sadar bahwa gajah perlu diselamatkan dan
dilindungi. Boleh saja kita berbeda pendapat kalau saya katakan bahwa saya
tidak yakin kalau usaha memperkenalkan wildlife di muka umum dengan tujuan
" yang penting kenalkan dulu gajah ini ke masyarakat, setelah kenal dan
cinta baru kita ajak sama sama untuk menyelamatkannya". Gajah adalah korban
kebijakan yang rakus.
Saya sangat yakin ketika PLG didirikan saat itu adalah solusi untuk
menampung perilaku kerakusan ORBA karena proyek-proyek konversi hutan di
Sumatera sangat besar. Para pengambil keputusan di negeri ini saat itu
sangat tahu ada rasa bersalah dari para pelaku yang bersedia menyediakan
dana, dan kalau dana pembiayaannya dihitung untuk pembiayaan perkepala gajah
maka semakin banyak gajah akan semakin besar dananya. Bahkan untuk memberi
makan gajah saja proyek itu.
>perlu mentenderkan ke perusahaan.
Ketika PLG lahir di pertengahan 80'an saya baru saja selesai dari pegawai
harian PPA sehingga saya tidak tahu what was happening those days. Tetapi
ketika ribut-ribut masalah gajah ngamuk ke areal transmigrasi Feb 1994, saya
ingat para ahli gajah seluruh Ind. mengadakan pertemuan di TSI. Pertemuan
dipimpin oleh Pak E. Sumardja dan dihadiri Pak Widodo, wakil dari Men LH,
Fahutan IPB, UGM, WWF (Ron Liley), Pak Charles serta beberapa orang yang
saya tidak ingat lagi. Saya (sekalipun bukan ahli gajah) beruntung bisa ikut
hadir dalam pertemuan tersebut.
Hasilnya apa? ya..itu lagi (1) tangkap gajah ngamuk (2) Perkuat PLG (3) Bina
habitat (4) daya gunakan gajah hasil PLG (5) teliti gen gajah Sumatra.
Tepatkah itu? Saya bukan ahli gajah yang ada bingung...silahkan Mas Bambang
menilainya..
Tetapi God knows saya menghentikan dana reguler penangkapan gajah dan
mengalihkannya ke on call (hanya tersedia apabila terpaksa) karena saya
kawatir gajah di PLG membengkak.
>Pak Tonny pada saat pemerintah ORBA berkuasa, siapa yang berani
menentangnya????
Tentu tidak benar...karena banyak orang PPA dan kehutanan yang mau
mengeritik para petinggi kehutanan saat itu. Diantara mereka ada yang memang
di parkir tetapi ada juga yang kariernya tetap naik baik di lingkup
kehutanan maupun diluar kehutanan. Pada zaman Pak Muslimin pun ada orang
yang diparkir atau dipensiun karena menentang bentuk HPHH 100 ha dan
pengelolaan hutan oleh koperasi. Kalau tidak berani ya takut namanya.
>Saya punya kesan bahwa para pencinta gajah yang berkampanye waktu itu
memang berpikir dan mengajak "ayo kita manfaatkan gajah" saya tidak
mengatakan itu salah, tetapi kalau kelanjutannya "mari kita manfaatkan semua
gajah lalu habitatnya kita buat kebun lalu kayunya kan bisa dijual demi
kesejahteraan kita" ya terserah kita-kita kalau nanti banyak masalah yang
meledak. Di luar negeri (karena baca Jakarta Post) kampanye itu mungkin bisa
jadi promosi "mari beli gajah Indonesia, pinter-pinter dan lucu.... terus
ada tambahan harga diobral... cocok untuk atraksi di bonbin". Lumayan juga
untuk likuidasi PLG dari pada jadi beban.
>
Hehe ..please jangan terlalu berprsangka buruk. Bagi saya daripada
ribut-ribut soal pameran gajah, saya kira lebih baik kita sama sama
bertukar pikiran bagaimana kita mengembalikan fungsi sebagian hutan Sumatra
ini untuk habitat gajah yang di PLG. Karena katanya pemerintah bangkrut,
kami juga ingin agar ada tukar pikiran untuk menyelamatkan mahluk ini yang
ada di PLG. Time is not in our site mereka perlu makan dan hidup.
>Saya pikir masih banyak kerja yang panjang soal gajah. Kawan saya di WWF
Riau saat ini sepertinya mencoba membuat pemetaan baru tentang habitat dan
konflik antara gajah dan masyarakat. Hasilnya mungkin akan menjadi data yang
lebih akurat dan komprehensif untuk mengambil kebijakan yang berkaitan
dengan penataan ruang dan perlakuan kita terhadap wildlife.
>
Di penghunjung tahun 80 kami orang orang kecil diPPA sering berbicara dgn
Russel Bet dan Pak Alikodra berkaitan dengan gajah di Riau dan Aceh. Kami
ingin agar universitas dan WWF membuat sedikit pressure kepada petinggi
kehutanan untuk berhati hati mengkonversi hutan dataran rendah di Riau dan
Aceh. Kenapa? karena model PVA (vortexnya) Ully Seal (spelling?)
menggambarkan beberapa kelompok terbesar (40-80 ekor) ada di hutan dataran r
endah di Riau dan di Aceh. Di Riau berada di kwasan favorit untuk konversi
sedang di Aceh ada di hutan produksi yang lagi dilogging. Sayang teman-teman
di WWF saat itu kurang agresif.
Kalau model itu benar wajar saja masalah gajah di Riau tidak henti-hentinya.
>Yang saya harapkan justeru, tolong lah kawan-kawan yang waktu itu
berkampanye soal gajah, dan saya kira mereka memiliki kedekatan dengan para
pelaku maupun pengambil kebijakan dalam pelestarian lingkungan, agar mereka
tidak mudah goyah dengan kepentingan-kepentingan keserakahan yang akan
menggerogoti lingkungan kita. Dan jernihkan isi kepalanya agar menyadari dan
memahami akar permasalahan yang mereka hadapi agar tidak salah jalan dan
menjadi panik karena mengalami jalan buntu.
>
Saya yakin apabila teman-teman di PPA tidak dihujat terus menerus dan
mendapat bantuan dari para ahli seperti Mas Bambang akan mampu bekerja baik.
Di PPA memang jumlah specialist hanya sedikit, kami menyebutnya tukang
kelontong. Hanya saja ketika kami berusaha menjadi specialist, tukang
cendol, tukang lemper dan tukang las saya melihat di luar PPA banyak yang
jadi kutu loncat dari tukang lemper menjadi tukang cendol. Ini sedikit
memprihatinkan.
I have been living with elephant all my life. It seems that I know
everything about elephant. No Sir..., do not ever ask me about your Asian
Elephant...I do not know. But It is obvious and vital only expert ...I mean
...a real elephant expert who should take care your elephants....they all
like human being ..like us and like you.....kata seorang teman berkulit
hitam yang kerja di Nairobi Park. Mungkin benar ucapannya kita perlu ahli
gajah yang benar benar ahli dan mau berkorban.
Saya ingin menyampaikan bahwa saya tidak alergi kritikan. Kalau saya
menjawab Mas Hapsoro karena saya ingin menjelaskan complicatednya soal ar.
Saya juga tidak anti LSM e.g. pada pertemuan ASEAN expert on CITES di Bogor
Maret 00, semua delegasi ASEAN ingin agar sidang dilakukan tertutup (closed
session), Mas Hapsoro hadir disitu...saya yang menentang dan itu diterima
sehingga LSM dapat hadir dan berkontribusi (Mudah-mudahan beliau ingat).
Pada akhirnya sekali lagi saya tidak ingin ribut-ribut soal ini marilah kita
cari jalan keluar yang baik soal penyelamatan gajah kita. Saya mohon maaf
sebesar besarnya jika tulisan ini kurang berkenan kepada Mas Bambang.
Wassalam,
Tonny Soehartono
>Wassalam,
>Bambang Ryadi Soetrisno
>
>
>Tonny Soehartono wrote:
>
>> Untuk Mas Hapsoro dan rekan rekan
>>
>> Saya sangat menghargai pendapat Mas Hapsoro, tetapi after saying that
what we gonna have to do with gajah? Saya ingin mengajak Mas Hapsoro dan
rekan-rekan untuk membaca tulisan ini dan apabila tidak berminat silahkan
dihapus (Dengan kerendahan hati saya mohon maaf apabila dalam tulisan ini
menyangkut diri pribadi saya, tidak ada maksud sama sekali untuk
menyombongkan diri)
>>
>> Atas nama PANTAU (jaringan LSM untuk pemantauan perdagangan hidupan liar
Indonesia) saya menyatakan protes keras pada Taman Safari dan harian The
Jakarta Post yang telah melansir sebuah tontonan dan atraksi "eksploitatif".
>>
>> Dalam perjalanan ke sebuah Taman Nasional di Kenya bulan April lalu,
Sherly Mc Grill (mudah-mudahan spellingnya benar, bos IPPL) berucap (dengan
jumawa) kepada saya " Tonny, I was shocking to see a picture of a couple
gibons in Denpasar in terrible condition so immediately I sent 12,000 $US to
one of NGO in East Java to rescue them...your people are so cruel to the
animals".
>>
>> Lantas saya jawab "woww.. I am surprise too, knowing that you sent so
much money for rescuing a couple of our gibons while many of us are
starving"
>>
>> Dengan nada tinggi beliau lantas menjawab balik " You should understand
that animals deserved to get help. I think Indonesian should start learning
the essence of animal right and start enacting animal right simultaneously
with the economic and political changes"
>>
>> " I don�t think so, we do know the priority better than you do" jawab
saya, tetapi seraya beliau berkata " You know�if I were your boss I would
certainly fire you and place you in department of people protection and
development�...You and your people do not have any right to kill, hurt,
trade and entertain animals�.etc"
>>
>> Tentu saya tetap ngotot dengan jawaban saya�tetapi saat makan siang saya
pergoki Sherly sedang lahap mengunyah daging sapi..lantas saya bilang" I
thought you do not have right to eat animals"
>>
>> Apa katanya"I do not and never eat wildlife�.I only eat domestic
animals�. that�s different "
>>
>> " Very well�but the feeling of domestic animals is the same with those of
wild one" kata saya. Muka Sherly merah dan bersungut sungut " I will never
be able to convince you"
>>
>> Apa hubungannya sepenggal pembicaran di atas dengan konservasi gajah?
>>
>> Mungkin Mas Hapsoro benar seperti juga pendapat bos IPPL bahwa kita
cruel..mungkin juga pemerintah salah dalam mengelola lingkungan dan
wildlife. Di luar sana ada orang seperti Sherly yang begitu kukuh
mempertahankan pendapatnya untuk mensejahterakan satwa tanpa melihat kiri
kanan. Tetapi sebagai orang yang bekerja di PKA selama lebih dari 15 tahun
saya sendiri tidak tahu pendapat itu benar atau tidak.
>>
>> Terlepas dari itu ketika Rubini Atmawidjaya (Dirjen PHPA/sekarang PKA) 15
tahun lalu meluncurkan gagasan Pusat Latihan Gajah (PLG) dengan tujuan
menyelamatkan gajah �.yang ujung-ujung diperuntukan untuk entertainment,
tidak ada yang benar benar protes even LSM besar termasuk LSM international.
"Mari kita belajar dari negara tetangga untuk melestarikan gajah" Kata Pak
Rubini�diajarilah gajah liar hasil tangkapan itu main bola, narik kayu ,
bajak sawah, menari-nari dll. Atraksi itu juga berulang ulang di tayangkan
TVRI. Saat itu semua kok ok ok saja.
>>
>> Bahkan tidak banyak yang ingin cawe-cawe mau dikemanakan gajah-gajah di
PLG ini ketika jumlah gajahnya mencapai � 500. Tentu satwa tsb harus diberi
makan dan minum setiap hari (tahun 1995 diperlukan � 1,5 milliar Rp untuk
memelihara mereka) serta dirawat agar tetap hidup. Apa pemerintah akan keep
feeding them? ��Sebagian orang mungkin berpendapat lebih baik dana tsb
dialokasikan untuk pendidikan dan perbaikan gizi anak sekolah�karena pasti
membengkak terus.
>>
>> Ketika mendengar penjelasan bahwa Zimbabwe, Namibia dan Botswana akan
melakukan cropping terhadap populasi gajahnya (atas nama pembinaan habitat),
seorang kulit putih di Kruger National Park, South Africa pernah berkata
kepada saya di tahun 1997" I would rather see the African Elephant extinct
than seeing them killed for ivory". Demikian juga saat melihat gajah-gajah
berjalan untuk menghibur turis asing di sepanjang waterfront tepi sungai
Mekong (Cambodia) Bill Clark seorang ahli gajah dari Israel pernah berucap
kepada saya " I hate to see them using the elephants to carry tourists along
this road�it sore" sambil menunjuk kakinya. " But what can I say�" kata dia
lagi sambil menerawang ke atas, mungkin pusing juga harus diapakan
gajah-gajah ini. Saya sendiri pusing kalau mikirin gimana menyelamatkan
gajah kita terutama yang nyangkut di PLG.
>>
>> Saat pemerintah (Dephut) sudah cekak untuk membayari PLG dalam pertemuan
CITES permanent committee tahun 1998 di Caracas saya katakan pada
rekan-rekan dari EU, US dan Africa bahwa kita bankrupt tidak ada dana lagi
untuk memelihara PLG. Ternyata sedikit sekali yang berminat
membantu�..tetapi ketika dalam pertemuan yang sama di Antananarivo,
Madagascar tahun 1999 saya katakan bahwa Indonesia mungkin mau memusnahkan
sebagian gajah-gajah di PLG karena endak ada duit lagi untuk memelihara PLG,
Ring-Ring Brother (perusahaan sirkus di US)�seraya berjanji mau membantu via
US Fish and Wildlife��sebatas obat-obatan dan pembelian makan untuk
gajah�.dan ternyata Directornya mengatakan di Kenya bulan lalu bahwa bantuan
telah disampaikan dan akan diumumkan dalam workshop gajah di Indonesia bulan
April 2000 (benar tidaknya walahualam�).
>>
>> Tetapi apa kita akan selalu menengadah minta bantuan ? Dalam lubuk hati
yang paling dalam saya berkeinginan agar gajah-gajah di PLG dikembalikan
lagi ke hutan, biarkan mereka hidup dalam alamnya. Tetapi dimana? Hutan
hutan Sumatra sudah diduduki orang, kebun dan industri dll. Kecuali kalau
pemerintah mau menarik kembali hutan-hutan yang sudah dikonsesikan ke HPH,
perkebunan, industri dll tentu dengan konsekwensi dana lagi.
>>
>> Jansen Manangsang dan Tony Sumampau (TSI) sering bicara dengan saya "
yang penting kenalkan dulu gajah ini ke masyarakat, setelah kenal dan cinta
baru kita ajak sama sama untuk menyelamatkannya" to some extent saya percaya
seperti juga Mas Hapsoro mereka berniat baik untuk menyelamatkan gajah.
Mungkin jalan pemikiran itu yang digunakan oleh TSI juga DJ PKA ketika
memamerkan gajah-gajahnya di Jakarta bersama the Jakarta Post(?).
>>
>> Above all tanpa mengecilkan arti animal welfare menurut saya daripada
kita berpolemik soal gajah di Jakarta (?) mungkin lebih baik kita bertukar
pendapat dalam cara menyelesaikan persoalan gajah yang lebih besar yaitu
menyelamatkan gajah yang masih tersisa di hutan Sumatra dan menyelamatkan �
500 gajah yang di PLG-PLG. Saya sendiri bukan ahli gajah tetapi saya percaya
di mailist ini banyak rekan-rekan yang berminat menyelamatkan gajah kita.
>>
>> Terima kasih,
>>
>> Salam dari Kutai
>
>--
><apologies for cross-postings>
>visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr
>
>
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/