Pak Tonny..
Saya mempunyai kesan bahwa Anda ingin menunjukkan bahwa kepentingan kawan-kawan yang
bekerja keras berkampanye menyelamatkan wildlife di tanah air tidak terlepas dari
kepentingan luar yang mungkin 'romantis' atau apapun namanya, yang menurut Anda tanpa
tengok kiri kanan. Sangat jelas saya membaca tulisan Anda bahwa kegiatan-kegiatan kita
dalam menyelamatkan wildlife erat kaitannya dengan kebutuhan dana yang mengalir. Saya
pikir justeru itulah persoalannya. Saya percaya betul bahwa isu penyelamatan wildlife
di Indonesia tidak terlepas dengan hiruk-pikuk dari kasak-kusuk "ada dana apa, untuk
apa, dari mana, dan bagaimana meraihnya".
Demi pembangunan, ketika kerakusan ORBA merajalelah mengkonversi hutan untuk
kepentingan meraih sumber dana luar masuk sebesar-besarnya dan imbalan mengeruk sumber
daya alam serakus-rakusnya, maka saat itu bermunculan kreatifitas kita untuk
bermanufer memanfaatkan momentum. Kerusakan hutan akan berakibat pada hilangnya
habitat wildlife dan membangkitkan emosi dan solidaritas internasional. Ada tuduhan
bahwa rasa bersalah dari masyarakat internasional kemudian diwujudkan melalui
penyediaan dana-dana dan berakibat membengkaklah proyek-proyek penyelamatan
lingkungan. Sampai-sampai kita menyalahkan diri sendiri ketika kegiatan-kegiatan yang
kita lakukan dengan didanai melalui kerjasama internasional ternyata tidak berbekas
apa-apa dan malah menciptakan bom waktu yang saat ini mulai meledak dimana-mana
seperti halnya PLG, Taman Nasional, dsb..
Saya tidak yakin bahwa apakah kita lupa bertanya, 'demi apa semua itu kita lakukan?'
Kawan-kawan PANTAU saya kira sangat menyadari, bahwa wildlife - korban kerakusan kita
saat ini perlu diselamatkan - dan solidaritas internasional yang kita harapkan adalah
jangan menularkan tradisi-tradisi kerakusan yang jelas berakibat fatal bagi lingkungan
kita. Kalau ada seorang Shirley yang konsern dan sepakat dengan kita untuk
menyelamatkan gibon-gibon yang dipenjarakan orang, itu kan artinya bahwa kita sepakat
untuk bekerja sama demi penyelamatan lingkungan kita. Itu bisa saja terjadi kalau
seandainya ada Kebun Binatang di suatu negara sepakat bekerjasama dengan lembaga
konservasi eksitu di sini untuk kepentingan 'demi sesuatu" itu.
Yang saya kuatirkan justeru karena ada momentum ketersediaan dana maka kita buat
kegiatan, lalu dibangunlah opini publik untuk tujuan agar penyandang dana terkesan dan
bahwa pembuat opini itulah yang mendapat otoritas menggunakan dana yang tersedia.
Saya yakin masyarakat kita sadar bahwa gajah perlu diselamatkan dan dilindungi. Boleh
saja kita berbeda pendapat kalau saya katakan bahwa saya tidak yakin kalau usaha
memperkenalkan wildlife di muka umum dengan tujuan " yang penting kenalkan dulu gajah
ini ke masyarakat, setelah kenal dan cinta baru kita ajak sama sama untuk
menyelamatkannya". Gajah adalah korban kebijakan yang rakus. Saya sangat yakin ketika
PLG didirikan saat itu adalah solusi untuk menampung perilaku kerakusan ORBA karena
proyek-proyek konversi hutan di Sumatera sangat besar. Para pengambil keputusan di
negeri ini saat itu sangat tahu ada rasa bersalah dari para pelaku yang bersedia
menyediakan dana, dan kalau dana pembiayaannya dihitung untuk pembiayaan perkepala
gajah maka semakin banyak gajah akan semakin besar dananya. Bahkan untuk memberi makan
gajah saja proyek itu
perlu mentenderkan ke perusahaan.
Pak Tonny pada saat pemerintah ORBA berkuasa, siapa yang berani menentangnya????
Pertanyaan yang mengusik orang ketika model kampanye gajah dilakukan seperti itu
adalah apakah gajah-gajah dihutan nanti akan dididik untuk tarik tambang, main bola,
menjadi sirkus, dsb..... Saya punya kesan bahwa para pencinta gajah yang berkampanye
waktu itu memang berpikir dan mengajak "ayo kita manfaatkan gajah" saya tidak
mengatakan itu salah, tetapi kalau kelanjutannya "mari kita manfaatkan semua gajah
lalu habitatnya kita buat kebun lalu kayunya kan bisa dijual demi kesejahteraan kita"
ya terserah kita-kita kalau nanti banyak masalah yang meledak. Di luar negeri (karena
baca Jakarta Post) kampanye itu mungkin bisa jadi promosi "mari beli gajah Indonesia,
pinter-pinter dan lucu.... terus ada tambahan harga diobral... cocok untuk atraksi di
bonbin". Lumayan juga untuk likuidasi PLG dari pada jadi beban.
Saya pikir masih banyak kerja yang panjang soal gajah. Kawan saya di WWF Riau saat ini
sepertinya mencoba membuat pemetaan baru tentang habitat dan konflik antara gajah dan
masyarakat. Hasilnya mungkin akan menjadi data yang lebih akurat dan komprehensif
untuk mengambil kebijakan yang berkaitan dengan penataan ruang dan perlakuan kita
terhadap wildlife.
Yang saya harapkan justeru, tolong lah kawan-kawan yang waktu itu berkampanye soal
gajah, dan saya kira mereka memiliki kedekatan dengan para pelaku maupun pengambil
kebijakan dalam pelestarian lingkungan, agar mereka tidak mudah goyah dengan
kepentingan-kepentingan keserakahan yang akan menggerogoti lingkungan kita. Dan
jernihkan isi kepalanya agar menyadari dan memahami akar permasalahan yang mereka
hadapi agar tidak salah jalan dan menjadi panik karena mengalami jalan buntu.
Wassalam,
Bambang Ryadi Soetrisno
Tonny Soehartono wrote:
> Untuk Mas Hapsoro dan rekan rekan
>
> Saya sangat menghargai pendapat Mas Hapsoro, tetapi after saying that what we gonna
>have to do with gajah? Saya ingin mengajak Mas Hapsoro dan rekan-rekan untuk membaca
>tulisan ini dan apabila tidak berminat silahkan dihapus (Dengan kerendahan hati saya
>mohon maaf apabila dalam tulisan ini menyangkut diri pribadi saya, tidak ada maksud
>sama sekali untuk menyombongkan diri)
>
> Atas nama PANTAU (jaringan LSM untuk pemantauan perdagangan hidupan liar Indonesia)
>saya menyatakan protes keras pada Taman Safari dan harian The Jakarta Post yang telah
>melansir sebuah tontonan dan atraksi "eksploitatif".
>
> Dalam perjalanan ke sebuah Taman Nasional di Kenya bulan April lalu, Sherly Mc Grill
>(mudah-mudahan spellingnya benar, bos IPPL) berucap (dengan jumawa) kepada saya "
>Tonny, I was shocking to see a picture of a couple gibons in Denpasar in terrible
>condition so immediately I sent 12,000 $US to one of NGO in East Java to rescue
>them...your people are so cruel to the animals".
>
> Lantas saya jawab "woww.. I am surprise too, knowing that you sent so much money for
>rescuing a couple of our gibons while many of us are starving"
>
> Dengan nada tinggi beliau lantas menjawab balik " You should understand that animals
>deserved to get help. I think Indonesian should start learning the essence of animal
>right and start enacting animal right simultaneously with the economic and political
>changes"
>
> " I don�t think so, we do know the priority better than you do" jawab saya, tetapi
>seraya beliau berkata " You know�if I were your boss I would certainly fire you and
>place you in department of people protection and development�...You and your people
>do not have any right to kill, hurt, trade and entertain animals�.etc"
>
> Tentu saya tetap ngotot dengan jawaban saya�tetapi saat makan siang saya pergoki
>Sherly sedang lahap mengunyah daging sapi..lantas saya bilang" I thought you do not
>have right to eat animals"
>
> Apa katanya"I do not and never eat wildlife�.I only eat domestic animals�. that�s
>different "
>
> " Very well�but the feeling of domestic animals is the same with those of wild one"
>kata saya. Muka Sherly merah dan bersungut sungut " I will never be able to convince
>you"
>
> Apa hubungannya sepenggal pembicaran di atas dengan konservasi gajah?
>
> Mungkin Mas Hapsoro benar seperti juga pendapat bos IPPL bahwa kita cruel..mungkin
>juga pemerintah salah dalam mengelola lingkungan dan wildlife. Di luar sana ada orang
>seperti Sherly yang begitu kukuh mempertahankan pendapatnya untuk mensejahterakan
>satwa tanpa melihat kiri kanan. Tetapi sebagai orang yang bekerja di PKA selama lebih
>dari 15 tahun saya sendiri tidak tahu pendapat itu benar atau tidak.
>
> Terlepas dari itu ketika Rubini Atmawidjaya (Dirjen PHPA/sekarang PKA) 15 tahun lalu
>meluncurkan gagasan Pusat Latihan Gajah (PLG) dengan tujuan menyelamatkan gajah
>�.yang ujung-ujung diperuntukan untuk entertainment, tidak ada yang benar benar
>protes even LSM besar termasuk LSM international. "Mari kita belajar dari negara
>tetangga untuk melestarikan gajah" Kata Pak Rubini�diajarilah gajah liar hasil
>tangkapan itu main bola, narik kayu , bajak sawah, menari-nari dll. Atraksi itu juga
>berulang ulang di tayangkan TVRI. Saat itu semua kok ok ok saja.
>
> Bahkan tidak banyak yang ingin cawe-cawe mau dikemanakan gajah-gajah di PLG ini
>ketika jumlah gajahnya mencapai � 500. Tentu satwa tsb harus diberi makan dan minum
>setiap hari (tahun 1995 diperlukan � 1,5 milliar Rp untuk memelihara mereka) serta
>dirawat agar tetap hidup. Apa pemerintah akan keep feeding them? ��Sebagian orang
>mungkin berpendapat lebih baik dana tsb dialokasikan untuk pendidikan dan perbaikan
>gizi anak sekolah�karena pasti membengkak terus.
>
> Ketika mendengar penjelasan bahwa Zimbabwe, Namibia dan Botswana akan melakukan
>cropping terhadap populasi gajahnya (atas nama pembinaan habitat), seorang kulit
>putih di Kruger National Park, South Africa pernah berkata kepada saya di tahun 1997"
>I would rather see the African Elephant extinct than seeing them killed for ivory".
>Demikian juga saat melihat gajah-gajah berjalan untuk menghibur turis asing di
>sepanjang waterfront tepi sungai Mekong (Cambodia) Bill Clark seorang ahli gajah dari
>Israel pernah berucap kepada saya " I hate to see them using the elephants to carry
>tourists along this road�it sore" sambil menunjuk kakinya. " But what can I say�"
>kata dia lagi sambil menerawang ke atas, mungkin pusing juga harus diapakan
>gajah-gajah ini. Saya sendiri pusing kalau mikirin gimana menyelamatkan gajah kita
>terutama yang nyangkut di PLG.
>
> Saat pemerintah (Dephut) sudah cekak untuk membayari PLG dalam pertemuan CITES
>permanent committee tahun 1998 di Caracas saya katakan pada rekan-rekan dari EU, US
>dan Africa bahwa kita bankrupt tidak ada dana lagi untuk memelihara PLG. Ternyata
>sedikit sekali yang berminat membantu�..tetapi ketika dalam pertemuan yang sama di
>Antananarivo, Madagascar tahun 1999 saya katakan bahwa Indonesia mungkin mau
>memusnahkan sebagian gajah-gajah di PLG karena endak ada duit lagi untuk memelihara
>PLG, Ring-Ring Brother (perusahaan sirkus di US)�seraya berjanji mau membantu via US
>Fish and Wildlife��sebatas obat-obatan dan pembelian makan untuk gajah�.dan ternyata
>Directornya mengatakan di Kenya bulan lalu bahwa bantuan telah disampaikan dan akan
>diumumkan dalam workshop gajah di Indonesia bulan April 2000 (benar tidaknya
>walahualam�).
>
> Tetapi apa kita akan selalu menengadah minta bantuan ? Dalam lubuk hati yang paling
>dalam saya berkeinginan agar gajah-gajah di PLG dikembalikan lagi ke hutan, biarkan
>mereka hidup dalam alamnya. Tetapi dimana? Hutan hutan Sumatra sudah diduduki orang,
>kebun dan industri dll. Kecuali kalau pemerintah mau menarik kembali hutan-hutan yang
>sudah dikonsesikan ke HPH, perkebunan, industri dll tentu dengan konsekwensi dana
>lagi.
>
> Jansen Manangsang dan Tony Sumampau (TSI) sering bicara dengan saya " yang penting
>kenalkan dulu gajah ini ke masyarakat, setelah kenal dan cinta baru kita ajak sama
>sama untuk menyelamatkannya" to some extent saya percaya seperti juga Mas Hapsoro
>mereka berniat baik untuk menyelamatkan gajah. Mungkin jalan pemikiran itu yang
>digunakan oleh TSI juga DJ PKA ketika memamerkan gajah-gajahnya di Jakarta bersama
>the Jakarta Post(?).
>
> Above all tanpa mengecilkan arti animal welfare menurut saya daripada kita
>berpolemik soal gajah di Jakarta (?) mungkin lebih baik kita bertukar pendapat dalam
>cara menyelesaikan persoalan gajah yang lebih besar yaitu menyelamatkan gajah yang
>masih tersisa di hutan Sumatra dan menyelamatkan � 500 gajah yang di PLG-PLG. Saya
>sendiri bukan ahli gajah tetapi saya percaya di mailist ini banyak rekan-rekan yang
>berminat menyelamatkan gajah kita.
>
> Terima kasih,
>
> Salam dari Kutai
--
<apologies for cross-postings>
visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/