Pak Tony dan kawan2 pembaca milis ini,

Maaf jika saya dahulu lupa menyebutkan hal ini.  Saya sebenarnya tidak
berniat mengatakan bahwa kita harus jadi PGM (pecinta gajah mutlak), dimana
Gajah harus dicintai dan dilindungi secara mutlak, sedang manusia dan
habitatnya yang rusak tak perlu kita perhatikan.

Yang ingin saya tekankan adalah mbok yao kalau nasib Gajah itu sengsara
karena habitatnya sudah rusak oleh HPH, HTI, Perkebunan Kelapa Sawit, dan
Transmigrasi, kita jangan membuat nasibnya makin merana.  Coba saja
dibayangkan bila kita memanfaatkan atraksi Gajah secara terbuka di Senayan.
Apa itu tidak membuat manusia2 kota menjadi semakin tidak peduli dengan
biodiversity kita?  Wong dalam keseharian saja mereka cuma tahu bagaimana
harus bergelut mempertahankan hidup dan bersaing demi tingkat kesejahteraan
kota yang demikian tinggi.

Bagaimana mungkin mereka akan jadi peduli terhadap konservasi Gajah, bila
mereka justru "DIAJARI" untuk bertarik tambang dengan Gajah.  Kalau yang ada
di kepala para penyelenggara memang demikian, maka (maaf) saya katakan
mereka lah yang justru munafik, karena dengan topeng konservasi malah
mengajarkan bagaimana menyiksa Gajah.

Saya rasa saya belum tentu sama pikirannya dengan Shirley McGreal.   Soalnya
saya tidak kenal sama kawan itu.  Mungkin saja si bule itu memang benar,
atau mungkin saja dia itu termasuk PSM (pecinta satwaliar mutlak).  Kalau
dari kalimatnya sich (lihat yang Pak Tony sebutkan terdahulu), yang saya
tangkap adalah bahwa dia tidak setuju dengan penyiksaan satwaliar.
Selebihnya dia marah karena anda sebagai orang PKA justru mempermasalahkan
soal krisis ekonomi.  Pertanyaan selanjutnya adalah "Apakah dengan krisis
ekonomi yang kita alami ini justru kita menghalalkan cara2 eksploitatif
seperti itu?"  Seingat saya nenek moyang bangsa Indonesia BUKANLAH
EKSPLOITATOR terhadap alam, bahkan mereka hidup rukun dengan para penghuni
alam yang lain.

Saya pun bukannya tidak peduli terhadap masalah Gajah di habitat aslinya.
Tapi masalah penyiksaan dan mengajarkan penyiksaan adalah hal yang agak
berbeda.  Untuk permasalahan degradasi habitat sich saya lebih setuju dengan
cara mencabut ijin HPH/HTI/Perkebunan kelapa sawit serta kegiatan konversi
hutan tanpa pertimbangan ekologis lainnya.
Konflik antara manusia dengan Gajah itu sebenarnya 'kan cuman sebuah efek
dari konflik kepentingan para pemodal dan Pemerintah korup dengan Gajah.
Adanya konflik antara masyarakat lokal dengan Gajah itu akar permasalahannya
apa sich?  Saya yakin akarnya adalah karena banyak sekali areal yang dulunya
berhutan justru malah tidak lagi menyediakan space buat si Gajah.  Dan kata
"banyak" tersebut sebagian besarnya diperbuat oleh sang Pemilik Modal atas
ijin dari Pemerintah korup.

Maaf bila ulasan atau tanggapan saya bertele-tele.  Saya hanya mencoba untuk
mengatakan bahwa --- marilah kita tidak melakukan eksploitasi terhadap
sumberdaya alam hayati, dan ini tidak berarti kita tidak memanfaatkan
sumberdaya alam tersebut.  Yang terakhir jangan sampai kita terkecoh dengan
TOPENG-TOPENG KONSERVASI yang sebenarnya justru tidak melakukan apa2 kecuali
mengeruk keuntungan semata.

Salam,
Hapsoro

-----Original Message-----
From: Tonny Soehartono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, May 11, 2000 8:30 AM
Subject: [lingkungan] Gajah sumatra


Untuk Mas Hapsoro dan rekan rekan

Saya sangat menghargai pendapat Mas Hapsoro, tetapi after saying that what
we .............. (maaf dihapus!!!!)


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke