Mas Dwi . . .

Hampir sependapat dengan Bung Yossa,  hanya mungkin klasifikasi yang agak
beda, kalo saya berpikiran pengembangan SDM dibagi menjadi  :
1. Tingkat Periset, setuju dengan Bung Yos mungkin lebih diarahkan pada
untuk melihat kebutuhan pihak-pihak pemanfaat sumberdaya genetika dan
material biologi lainnya. Riset jalan terus apakah pure science atau
aplicative sciences, tapi kan dibutuhkan atau tidak itu masalahnya.
2. Tingkat Analyzer Need , Birokrat dan pihak Decision maker lain,  fokus
capacity buildingnya harus lebih mengarah pada mencermati kebutuhan para
pihak, mereka yang harus menganalisa dan meligitimasi apakah hasil riset
tersebut layak pakai atau tidak, dan mana-mana yang perlu diriset dan
menjadi kebutuhan utama.
3. Tingkat Assitence Analizer Need , mungkin peran kita-kita di sini,
memberi masukan pada Birokrat dan Decision maker tentang penggunaan hasil
riset.
4. Tingkat End User, Disini tentunya pemanfaat murni (subsisten) dan
pemanfaat komersial (swasta), kayaknya lebih diarahkan untuk peningkatan
pemahaman, dan ini mungkin lebih baik dianalisa dalam kerangka ekonomi cost
and demand, Padi ladang hanya panen sekali setahun, namun ketergantungan
teknologi dan biaya produksi rendah, padi "unggul" setahun bisa 3-4 kali,
tapi ketergantungan teknologi dan biaya produksi tinggi, belum lagi
kompensasi untuk pencemaran dan kerusakan lingkungan yang belum bisa kita
prediksi.
Hubungan hirarki dan paralel sinergisitas tentu menjadi suatu keharusan
diantara tingkatan tersebut, dan mungkin akan lebih baik jika dirumuskan
dalam suatu pola siklus/circular atau due traffic.

Sep'z

----- Original Message -----
From: Yossa Istiadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, August 15, 2000 9:44 PM
Subject: Re: [lingkungan] kerangka acuan lokakarya


> Mas Dwi,
> Pada dasarnya pembahasan tentang SDM, tentunya yang berkaitan dengan
> penanganan sumber daya genetik akan memberikan output pada optimalisasi
SDM
> pada beberapa level atau tingkatan.
> Pertama, tingkatan ahli/ilmuan yang sudah mengenyam pendidikan formal
> tentang rekayasa genetik, terutama pendidikan di luar negeri. Kedua,
Tingkat
> ahli/ilmuan yang telah mengalami pendidikan formal dan non-formal di dalam
> negeri. Ketiga, Tingkat pemula, yaitu calon-calon ilmuan.
> Keempat,  tingkat partisipan, yaitu personal yang mempunyai pengaruh dalam
> proses-proses legalisasi dan legitimasi terhadap bio-propeksi. Tentunya
dari
> kalangan Birokrat, LSM, Wartawan, penulis atau pihak-pihak lain seperti
> kalangan dari lembaga-lembaga profit yang sekarang ini banyak yang
> "terjebak" dalam permasalahan Bio-pirasi.
>
> Antar tingkatan SDM tersebut harus dirumuskan suatu pola ke-sinergis-an
yang
> paralel dan hirarkis untuk transfrer ilmu dan pengalaman. Peranan personal
> partisipan sangat penting dalam mengarahkan dan menjamin adanya pengakuan
> terhadap keberadaan SDM ilmuan tersebut, dan sebaliknya SDM ilmuan harus
> menunjukan kemampuan dan kemauan yang selaras dengan arah kebijakan
> pengembangan sumber daya genetik kita, tentunya bagi kebutuhan pasar yang
> mampu diserap oleh masyarakat kita sendiri sebagai prioritas.
>
> Seperti, Bioteknologi-LIPI sebenarnya tidak harus meneliti jenis Padi
> transgenik untuk dapat dikembangkan, selama kebutuhan padi masih terpenuhi
> oleh sumber daya yang ada di Indonesia. Lembaga Eijkman tidak perlu dulu
> memetakan genome manusia selama belum menjadi kebutuhan di masyarakat
kita.
> Tapi mulailah SDM ilmuan kita mengetahui kebutuhan masyarakat yang paling
> realitis, sehingga dapat menerapkan teknologi secara realistis juga.
>
> Tentang pola defensif yang akan dibahas dalam lokakarya itupun penting
> sebagai rambu-rambu dalam mencegah adanya bio-pirasi, dan juga memberikan
> pengakuan terhadap sumber daya genetik kita. Disinilah peran SDM
partisipan
> untuk mengarahkan rumusannya. Artinya arah rumusan harus menjuruskan
kepada
> Bagaimana kita bisa mengalokasikan seluruh sumber daya yang ada, termasuk
> anggaran dan SDM multi-sektoral  untuk mendukung pemanfaatan sumber daya
> genetik yang optimal. Tapi bukan untuk merumuskan secara rinci tentang
> pertahanan dari bio-pirasi, karena kita nanti akan kesulitan dan terjebak
> pada "Tools" yang bisa kita siapkan.
>
> Terima kasih
>
>
> Yossa
>
>
>
> - Original Message -----
> From: "Dwi R. Muhtaman" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, August 11, 2000 11:32 AM
> Subject: Re: [lingkungan] kerangka acuan lokakarya
>
>
> > Hallo Bung Yossa,
> >
> > 1.  Saya setuju dengan pentingnya pengembangan SDM ini.  Saya kira bisa
> > kita masukkan dalam tujuan lokakarya.  Bung Yossa bisa memperjelas lagi
> > dalam lokakarya nanti atau dama milis ini juga tentang bagaimana
> > pengembangan aspek yang satu ini.  Soalnya saya sendiri masih belum
> > terbayang  output lokakarya yang berkaitan dengan isu tersebut, lalu
> > followupnya bagaimana.  Ini memang penting dan kerjaan yang amat besar
> > tentang SDM ini.  Bisa dipikirkan sama-sama.  Kalau bentuk outputnya
daft
> > regulasi kan sedikit jelas/kongkrit dan ada team yang diharapkan membawa
> > draft itu keliling sehingga jadi produk perundang-undangan dst.
> >
> > 2.  Kalau menurut pendapat saya memang untuk kasus-kasus pemanfaatan
> > sumberdaya alam oleh pihak luar tindakan pertama yang harus dilakukan
> > adalah membuat aturan dulu.  Bisa defensif memang.  Jadi strategi adalah
> > melindungi dulu.  Setelah aspek melindungi ini jelas aturannya maka
> > dibuatlah aturan bagaimana memanfaatkannya. Biopirasi adalah kegiatan
yang
> > sangat gampang dilakukan oleh siapapun.  Dengan kecanggihan teknologi
yang
> > tersedia orang bisa mengambil apa saja materi hayati yang ada di bumi
dan
> > laut Indonesia.  Fungsi peraturan adalah untuk mengatur kalau ada pihak
> > yang berminat atau kalau ada pihak yang ketahuan mencuri.
> >
> > Terima kasih masukannya.
> >
> > Sekian saja.
> >
> > Salam,
> >
> > DRM.-
> >
> > At 12:20 AM 8/11/00 +0700, you wrote:
> > >Mas Dwi dan Mas Harry,
> > >Penyusunan kerangka acuan lokakarya ini sudah merupakan suatu "lemparan
> > >bola" yang bagus dan strategis, untuk mewujudkan lokakarya yang
> applicable.
> > >Tapi saya masih melihat kesan bahwa lokakarya yang akan diselenggarakan
> > >hanya akan merumuskan pola menanggulangi bio-piracy atau defense style
> > >analysis. Padahal semestinya yang harus kita hadapi dalam
bio-prospecting
> > >adalah mempersiapkan SDM yang mampu menyerap dan menterjemahkan
teknologi
> > >yang berkembang bagi pemanfaatan biodiversity. Artinya ketakutan kita
> > >terhadap pencurian sumber daya genetik harus dijawab oleh kesiapan SDM
> kita
> > >untuk memanfaatankan sumber daya alam kita sendiri.
> > >Sehingga saya mengusulkan tambahan objective-nya yaitu mempersiapkan
> > >strategi pengembangan SDM yang mampu menangkap bio-prospecting
tersebut.
> > >Hal ini menurut saya lebih strategis, mengingat sudah banyak tenaga
ahli
> > >kita yang belajar di luar negeri, tetapi selanjutnya hanya melakukan
> > >penelitian bagi kepentingan negara lain. Salah satu kendalanya adalah
> ilmu
> > >dan teknologi yang sudah dipelajari tidak dapat diterapkan dan
> diterjemahkan
> > >pada realitas dan kondisi di Indonesia. Sehingga, ilmuan-ilmuan menjadi
> > >bergantung kepada pemenuhan sarana dan prasarana yang mahal, dan
> beranggapan
> > >sempit, bahwa tanpa sarana dan parasarana tersebut penerapan di
Indonesia
> > >tidak bisa diterapkan.
> > >
> > >Demikian tambahan usulan saya,
> > >
> > >Salam,
> > >
> > >Yossa
> > >----- Original Message -----
> > >From: "Harry Surjadi" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Cc: "Dwi R. Muhtaman (E-mail)" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Sent: Thursday, August 10, 2000 3:50 PM
> > >Subject: [lingkungan] kerangka acuan lokakarya
> > >
> > >
> > >> Dwi mengirimkan draf kerangka acuan untuk lokakarya. Silahkan
> dievaluasi
> > >dan
> > >> komentar bisa dikirim ke dwi.
> > >>
> > >> Harry Surjadi
> > >>
> > >> Draft 1.0
> > >>
> > >>
> > >> KERANGKA ACUAN LOKAKARYA
> > >> AKSES KE SUMBERDAYAHAYATI (ASH) DI INDONESIA
> > >>
> > >> Latar Belakang
> > >>
> > >> Pemanfaatan keanekaragaman hayati non-kayu meningkat sangat pesat
> karena
> > >> dinilai memiliki prospek ekonomi yang tinggi. Pemanfaatan
bagian-bagian
> > >> tertentu dari tanaman telah banyak dilakukan untuk memerangi
penyakit,
> > >> mengontrol hama, pengembangan pangan dsb. Industri farmasi telah
> berhasil
> > >> mengembangkan berbagai obat-obatan dan juga barang-barang konsumsi
lain
> > >> dengan memanfaatkan materi biologi. Kemajuan industri seperti ini
> sangat
> > >> tergantung pada keanekaragaman hayati dunia yang merupakan  sumber
daya
> > >> ke-empat terpenting setelah udara, air dan tanah.
> > >>
> > >> Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang dikenal sebagai
pusat
> > >> keanekaragaman hayati dunia. Walaupun Indonesia hanya meliputi 1,32
> persen
> > >> dari dataran di permukaan planet ini, tetapi Indonesia memiliki
> > >> keanekaragaman hayati yang tinggi. Indonesia juga terkenal sebagai
> negara
> > >> yang terdiri dari berbagai suku bangsa (masyarakat adat), yang sudah
> > >> berinteraksi dengan keanekaragaman ini selama beratus-ratus tahun.
> Mereka
> > >> adalah buku pintar hidup yang menyimpan pengetahuan luar biasa
mengenai
> > >> pemanfaatan keanekaragaman ini.
> > >>
> > >> Ilmuwan dan peneliti sudah semenjak lama melakukan dokumentasi dan
> menimba
> > >> ilmu dari masyarakat adat berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya
> alam.
> > >> Dari kegiatan penelitian tersebut maka dapat diketahui
manfaat-manfaat
> > >serta
> > >> cara penggunaan berbagai sumberdaya alam, khususnya hayati, yang
> > >sebelumnya
> > >> tidak diketahui. Kegiatan ini akhirnya menjadi suatu ajang perlombaan
> bagi
> > >> perusahaan-perusahaan multinasional untuk mencari materi biologi
dengan
> > >> harapan penggunaanya memiliki nilai komersiil di masa yang akan
datang.
> > >> Aktivitas seperti ini secara umum disebut sebagai
> > >> bioprospeksi/bioprospecting.
> > >>
> > >> Bioprospeksi dilakukan dengan menggali manfaat hewan, tumbuhan atau
> jasad
> > >> renik yang hidup di gunung, hutan, sungai, tanah, rawa maupun lautan.
> > >Bahkan
> > >> manusia pun ikut diekplorasi melalui koleksi dan analisis darah dari
> > >> berbagai suku bangsa di seluruh dunia. Dari semua materi biologi yang
> > >> dikumpulkan, diharapkan dapat menemukan bahan-bahan yang dapat
> digunakan
> > >> sebagai obat atau bahan berguna lainnya. Ada beberapa cara yang
> digunakan
> > >> untuk menemukan sumber-sumber tersebut, yaitu :
> > >> 1. dengan mengumpulkan sebanyak mungkin jenis dan menguji manfaatnya
> satu
> > >> persatu. Misalnya untuk menemukan tanaman yang dapat menjadi obat
suatu
> > >> penyakit, sebanyak mungkin jenis tanaman dikumpulkan dan di
> laboratorium
> > >> diuji khasiatnya dalam mengobati penyakit tersebut.
> > >> 2. bertanya terlebih dahulu kepada para penduduk yang telah
menggunakan
> > >> hasil hutan secara tradisional mengenai obat-obatan yang digunakannya
> dan
> > >> sumber obat-obatan tersebut. Cara ini banyak digunakan karena dapat
> > >> meningkatkan kemungkinan ditemukannya suatu tanaman obat. Dengan cara
> > >> seperti ini kemungkinan ditemukannya tanaman yang bermanfaat menjadi
1
> > >untuk
> > >> 12 tanaman yang diteliti, dibandingkan 1 untuk 2000 tanaman yang
> diteliti
> > >> bila menggunakan cara biasa. Dengan cara seperti ini penemuan obat
> menjadi
> > >> lebih cepat dan lebih murah.
> > >>
> > >> Indonesia yang kaya keanekaragaman hayati dan pengetahuan
tradisional,
> > >> merupakan salah satu negara potensial untuk menjadi tempat
dilakukannya
> > >> aktivitas bioprospeksi ini.
> > >>
> > >> Pengembangan industri yang berbasiskan keanekaragaman hayati
> membutuhkan
> > >> investasi dana, sumber daya manusia dan teknologi. Investasi yang
> sangat
> > >> jarang   dimiliki oleh negara-negara yang memiliki keanekaragaman
> hayati
> > >> tinggi. Keadaan ini mengakibatkan negara-negara Utara, yang miskin
> > >> keanekaragaman hayati tetapi memiliki modal dan teknologi, dapat
> memegang
> > >> kontrol dari sumberdaya tersebut. Misalnya koleksi sumber daya
> benih-benih
> > >> yang umumnya berada di bawah kontrol negara-negara Utara. Sekitar 68
> > >persen
> > >> biji tanaman pangan, 85 persen populasi fetal hewan ternak untuk
> pemuliaan
> > >> dan 86 persen dari kultur mikroba disimpan pada bank-bank gen yang
ada
> > >> dibawah kontrol negara-negara Utara.
> > >>
> > >> Kontrol terhadap sumber daya hayati tersebut telah memberi peluang
bagi
> > >> negara-negara Utara untuk mengatur komersialisasinya termasuk
> pengembangan
> > >> obat-obatan berbahan alami. Pasar obat berbahan alami di Eropa,
Jepang,
> > >> Australia, Kanada dan Amerika Serikat pada tahun 1985 diperikarakan
> > >sebesar
> > >> $43 milyar.  Tahun 2000 diperkirakan akan mencapai $100 milyar per
> tahun.
> > >> Walaupun demikian masyarakat adat tidak mendapatkan keuntungan dari
> > >> pendapatan di atas, bahkan akibat eksploitasi sumberdaya hayati yang
> > >> berlebihan yang dilakukan oleh kegiatan tersebut, terjadi perusakan
> daya
> > >> regenerasi sumberdaya hayati di lingkungan masyarakat adat.
> > >>
> > >> Pihak yang tertarik pada kegiatan bioprospeksi biasanya akan
melakukan
> > >> kegiatannya di daerah yang banyak memiliki sumber daya alam dan
> > >pengetahuan
> > >> masyarakat adat seperti wilayah ekuatorial, khususnya di daerah hutan
> > >hujan
> > >> tropis atau negara-negara Selatan. Tidak adanya hukum yang jelas di
> negara
> > >> tempat bioprospeksi berlangsung umumnya berakhir dengan hilangnya
> > >kesempatan
> > >> mendapatkan bagian keuntungan yang merata dan adil dari pengembangan
> > >> spesimen tersebut. Dengan hukum yang ada sekarang pun, terdapat
banyak
> > >bukti
> > >> adanya aktivitas bioprospeksi secara "ilegal" di berbagai tempat.
> > >Masyarakat
> > >> adat yang seringkali merupakan objek dari aktivitas tersebut
> dieksploitasi
> > >> tanpa pembagian keuntungan yang seharusnya mereka dapatkan.
Pengambilan
> > >> sumber daya hayati beserta pengetahuan yang tidak melalui proses
> perijinan
> > >> baik dari negara maupun dari masyarakat setempat dan karenanya tidak
> > >diikuti
> > >> dengan pembagian keuntungan yang adil dapat disebut sebagai
pembajakan
> > >> biopirasi/biopiracy.
> > >>
> > >> Pola yang terjadi pada aktivitas bioprospeksi umumnya berupa
kerjasama
> > >> bilateral antara berbagai institusi pemerintah serta perusahaan
swasta
> > >> dengan institusi luar negeri. Hukum yang ada sangat terbatas
peranannya
> > >> dalam menjaga sumber daya alam Indonesia dari pencurian dan pembagian
> > >> keuntungan yang tidak seimbang. Hukum yang umumnya diikuti, yaitu
Surat
> > >> Keputusan Presiden No. 100/1990 dalam hal perijinan atau akses
peneliti
> > >luar
> > >> negeri untuk melakukan penelitian di Indonesia  Tetapi Kepres ini
> memiliki
> > >> kekurangan dalam hal pembagian keuntungan yang didapatkan dari
> penggunaan
> > >> penelitian yang dilakukan. Ketiadaan hukum yang jelas dan pengaturan
> yang
> > >> baik dalam aktivitas bioprospeksi menyebabkan terbukanya peluang
untuk
> > >> melakukan pencurian.
> > >>
> > >>
> > >> Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH) dan ASH
> > >>
> > >> KKH merupakan suatu konvensi bersejarah, suatu konvensi dengan hampir
> > >> seluruh perwakilan negara yang ada di dunia ini berkumpul dan
> menyatakan
> > >> perhatiannya untuk melakukan konservasi keanekaragaman hayati,
> penggunaan
> > >> serta pengembangan yang berkelanjutan dari sumberdaya hayati, dan
> > >pembagian
> > >> yang adil dan seimbang dari keuntungan yang didapatkan dari
penggunaan
> > >> sumberdaya tersebut. Dalam KKH muncul isu akses dan secara formal
> mengakui
> > >> prinsip utama bahwa setiap bangsa memiliki hak atas sumberdaya hayati
> yang
> > >> dimilikinya dan menyatakan bahwa keanekaragaman hayati tidak lagi
> > >> diperlakukan sebagai warisan umat manusia yang dapat digunakan secara
> > >bebas
> > >> oleh siapa saja.
> > >>
> > >> Beberapa pasal dari KKH yang membahas masalah akses dapat diringkas
> dalam
> > >> uraian sebagai berikut :
> > >> * semua negara-negara memiliki kedaulatan atas sumberdaya
> keanekaragaman
> > >> hayati yang terdapat di wilayahnya dan kewenangan menentukan akses
> kepada
> > >> sumberdaya keanekaragaman hayati sesuai dengan undang-undang
> nasionalnya
> > >> (pasal 15.1),
> > >> * setiap pihak wajib memfasilitasi akses kepada sumberdaya
> keanekaragaman
> > >> hayati untuk pemanfaatan yang berwawasan lingkungan oleh pihak lain
> (pasal
> > >> 15.2),
> > >> * akses harus didasarkan atas persetujuan bersama (mutually agreed
> terms)
> > >> dan tergantung pada persyaratan dalam pasal ini (15.4) dan
> diinformasikan
> > >> sebelumnya (prior informed consent) (pasal 15.5),
> > >> * setiap pihak yang mendapatkan akses dari pihak lain harus memberi
> > >> partisipasi penuh kepada pihak yang memberi akses dalam hal
penelitian
> > >> ilmiah (pasal 15.6, pasal 19.1), memberi kuntungan yang adil dan
> memadai
> > >> (pasal 15.7, pasal 19.2), dan memberi akses terhadap teknologi
> pemanfaatan
> > >> sumberdaya keanekaragaman hayati termasuk teknologi yang telah
> dilindungi
> > >> hak ciptanya dan Hak Milik Intelektual (Intellectual Property Rights)
> > >> lainnya (pasal 16.3).
> > >>
> > >> KKH memberikan mandat kepada masing-masing negara untuk mengatur
akses
> > >> kepada sumberdaya hayati yang berada di wilayahnya. Tetapi masih
banyak
> > >yang
> > >> harus dilaksanakan agar peraturan tersebut dapat ditegakkan dan
> terdapat
> > >> pengakuan adanya keuntungan dari inisiatif bioprospeksi bagi
> negara-negara
> > >> yang kaya akan keanekaragaman hayati. Hukum-hukum yang relevan harus
> > >> ditetapkan dan adanya delegasi kekuatan kepada institusi yang ada
untuk
> > >> mengimplementasikan dan menegakkan hukum serta peraturan yang
berlaku.
> > >>
> > >>
> > >> Tujuan
> > >>
> > >> Lokakarya ini dirancang dengan tujuan
> > >> * berbagi pengetahuan dan pengalaman semua pihak berkaitan dengan ASH
> > >> * merumuskan konsep regulasi yang relevan
> > >> * membangun komitmen-komitmen baru semua pihak untuk masukan
kebijakan
> > >pada
> > >> pemerintah
> > >>
> > >>
> > >>
> > >> Target
> > >> * konsep/draft regulasi ASH
> > >> * tim kerja untuk perumusan regulasi
> > >>
> > >> Metodologi
> > >> * Diskusi Panel satu sesi yang melibatkan beberapa orang nara sumber
> yang
> > >> kompeten
> > >> * Focused Group Discussions yang membicarakan sub-sub isu yang lebih
> > >> spesifik dan bertujuan untuk merumuskan isu-isu strategis ASH
> > >> * Pleno Perumusan Agenda Lokakarya
> > >> * Fasilitasi oleh tim fasilitator dari LATIN (untuk proses
lokakarya),
> > >> KONPHALINDO/Hira (untuk substansi), Bioforum (untuk persiapan
tehnis),
> > >siapa
> > >> lagi yang berminat untuk kontribusi
> > >>
> > >>
> > >> Usulan isu-isu strategis ASH
> > >>
> > >> * Konsep Prior Informed Consent (PIC), Ijin Terlebih Dahulu:
Bagaimana
> > >PIC
> > >> harus diberikan di level nasional sampai lokal; apa elemen-elemennya;
> > >apakah
> > >> ada persyaratan minimal untuk mendapat PIC; berapa besar cakupannya
> dsb.
> > >> * Prosedur ijin penelitian dan penyimpanan sampel: bagaimana
> prosedurnya,
> > >> lembaga mana yang bertanggungjawab; siapa yang berhak menyimpan
sampel
> > >dsb.;
> > >> bagaimana mekanisme administrasinya
> > >> * Kebijakan dalam bidang bioprospeksi (ada atau tidak, apakah cukup
> kuat)
> > >> * Apa yang perlu dilakukan agar penelitian tetap jalan demi
kepentingan
> > >> nasional dan masyarakat, dan bagaimana mengawasinya.
> > >> * Peran lembaga seperti LIPI, PKA, LSM dll. Apa, bagaimana peran ini
> > >> dilakukan
> > >> * Perlu juga didiskusikan apa yang dimaksud dengan ASH, apa batasan
> > >"materi
> > >> hayati" yang dimaksud; bagaimana dengan materi genetika dalam koleksi
> di
> > >> negara lain sebelum adanya KKH; apakah regulasi yang akan dibuat
> mencakup
> > >> materi tersebut; bagaimana mangaturnya; bagaimana dengan isu
> intellectual
> > >> property rights
> > >> * SILAKAN DITAMBAHIN LAGI
> > >>
> > >>
> > >> Tempat
> > >> Tempat lokakarya untuk sementara ini LIPI-Cibinong (ini perlu
> konfirmasi)
> > >> bersedia menjadi tuan rumah.
> > >>
> > >> Waktu
> > >> Penyelenggaraan lolakarya dijadwalkan pada sekitar 23-24 September
2000
> > >> (Sabtu- Minggu) atau 21-22 September (Kamis-Jum'at)
> > >>
> > >>
> > >> Anggaran
> > >> Pre-memory
> > >>
> > >> Jadwal
> > >> Pre-memory
> > >>
> > >> Peserta
> > >> (silakan mendaftar sendiri dengan menyebutkan: nama peserta, nama
> lembaga,
> > >> alamat, no telpon/fax, email, kontribusi)
> > >>
> > >>
> > >> --
> > >> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >
> > >
> > >--
> > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> > --
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke