Teman-teman,

Apakah ada yang mengerti makna dari artikel ini? HAndal kelihatannya adalah
LSM tetapi saya ingin tahu lebih lanjut LSM apa dan siapa ini? Adakah yang
punya info. Sayang saya harus pergi ke lapangan 10 hari ini sehingga akan
out of touch. Tapi bila ada teman-teman yang dapat memberikan saya arahan
dan pandangan tentang artikel ini, saya amat berterima kasih. 

Salam
hira 

----------
From: JKPP <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [lingkungan] Memperdebatkan Tanaman Transgenik [1/2]
Date: Tuesday, September 12, 2000 10:19 AM

Memperdebatkan Tanaman Transgenik
Media Indonesia - Opini (9/12/00)

Oleh Djuhendi Tadjudin 
Direktur LSM Handal 




PERDEBATAN tentang tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang
melibatkan publik, ada pada tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya
terlibat dua kubu yang berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili kubu
pro dan kontra. Karena miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab pada
soal pemihakan dengan meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya lebih
penting untuk didiskusikan. Kedua belah pihak cenderung memperkaya
argumentasinya sekadar untuk mendukung pemihakannya. Untuk tujuan itu,
mitos pun kerap dibaurkan dengan fakta. Hasil riset dikutip sepotong-potong
agar menguntungkan posisi pemihakannya. 

Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan pangan dan
keamanan lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom pemberitaan,
mengalahkan informasi tentang potensi manfaat nyata yang ditawarkan tanaman
transgenik. Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik menjadi lebih mirip
resensi film Jurasic Park atau Frankenstein ketimbang suatu intellectual
exercise. Sayangnya, lembaga resmi pemerintah tampak gagap, di mana mereka
harus berdiri? 

Substansi teknologi 

Tanaman transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, hal itu
bisa juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap teknologi
senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan kelembagaan. Ranah
teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja` yang melekat pada
teknologi yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang diperkuat dengan
sifat-sifat lain seperti tahan terhadap herbisida tertentu, tahan terhadap
serangan organisma pengganggu tanaman (OPT) tertentu, atau ekspresi
tertentu yang bersangkut-paut dengan spesifikasi mutu porduk. Sedangkan
ranah kelembagaan bersangkut paut dengan (1) interelasi dengan kepentingan
mundial, termasuk tekanan dari negara-negara surplus produksi; (2) akses
petani untuk memperoleh paket teknologi; (3) akses petani pada informasi,
modal, dan sumber daya alam; (4) aturan main yang mengatur perilaku setiap
stakeholder: pemerintah, swasta, petani, konsumen, dan lembaga penyangga
(buffer institution) lain. 

Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang logam. Setiap muka memberi
pemaknaan terhadap uang logam secara keseluruhan. Uang logam akan
kehilangan nilainya tatkala salah satu mukanya ditiadakan. Meski demikian,
posisi setiap muka itu tidak dapat saling dipertukarkan. 

Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan dengan `tujuan
program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan kesejahteraan
petani. Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja teknikal`
(tahan terhadap herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan produktivitas
fisikal yang tinggi) seperti yang dijanjikan dalam `jaminan teknikal
teknologi`. Selanjutnya, ranah kelembagaan bertugas untuk
mentransformasikan `kinerja teknikal` itu menjadi upaya nyata untuk
`mencapai tujuan program`. 

Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski kinerjanya dapat diukur
secara terpisah. Setiap ranah, secara sendiri-sendiri, merupakan `syarat
perlu tapi belum memenuhi syarat cukup` (necessary but not sufficient)
untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun, jika bekerja secara simultan,
kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu dan syarat cukup` (necessary
and sufficient) untuk mewujudkan `tujuan program`. 

Pembodohan masyarakat 

Persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan menyangkut
masalah substansial teknologi tanaman transgenik itu sendiri, melainkan
menyangkut proses pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh pihak yang
berdebat. Di antara sekian banyak proses pembodohan, lima hal berikut ini
diduga yang memiliki pengaruh paling besar. Pertama, adanya pemihakan yang
lugas dan mendominasi sikap kritikal terhadap masalah yang lebih
substansial. Pemihakan secara sempit telah menyebabkan kian lebarnya ruang
debat tanpa dialog. Semangat berlebihan untuk membangun argumentasi
penopang keberpihakannya, telah menghilangkan penghargaan atas
rasionalitas, sehingga tumbuh argumentasi yang berbasis pada bounded
rationality (rasionalitas terbelenggu). 

Contoh rasionalitas terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, ``bagaimana
mungkin tanaman yang mampu membunuh serangga itu bisa aman bagi manusia?``
Pernyataan tersebut hanya tampak seolah benar jika disandingkan dengan
kenyataan, bahwa orang bisa tewas jika minum racun serangga. Tapi hal itu
mengingkari tidak kurang dari dua kenyataan berikut. (1) Bahwa gen yang
disisipkan dalam tanaman transgenik itu hanya punya efek racun pada
serangga (OPT target) tertentu saja, dan tidak bersifat racun bagi
organisma lainnya. Dan (2) bahwa efek alergisitas dan toksisitas (dua
indikator penting keamanan pangan) bukan soal spesifik karena tanaman itu
adalah transgenik, melainkan suatu sifat yang bisa hadir dalam setiap
pangan dan tanaman yang asli alamiah sekalipun. 

Kedua, terjadinya pelintiran logika. Yang paling lazim didengungkan adalah
dua sandingan data bahwa pasokan pangan dunia sebenarnya separo lebih
banyak dari yang dibutuhkan dan bahwa pada saat yang sama masih terdapat
800 juta penduduk yang kelaparan. Dari dua data itu lantas diambil
kesimpulan, bahwa `masalah pangan bukan soal keberadaan pasokan, tapi
masalah distribusi yang tidak berkeadilan`. Lebih jauh logika kian
dipelintir bahwa bioteknologi dijadikan sebagai representasi teknologi
untuk memproduksi pangan berlimpah. Tetapi tatkala kelimpahan pangan itu
ternyata tidak menjawab fakta adanya jutaan penduduk yang masih juga
kelaparan, maka bioteknologi dihujat sebagai teknologi yang mengumbar
`janji palsu`. 

Dengan logika yang sehat sebenarnya dapat dikatakan bahwa ranah teknikal
suatu teknologi telah berhasil menjawab kewajibannya yaitu memproduksi
pangan yang cukup. Namun, ranah kelembagaan yang asimetrik telah gagal
mendistribusikannya secara adil. 

Kelemahan pelintiran logika itu akan tampak gambling dengan dua contoh
berikut. Pertama, asimetrisme kelembagaan itu tidak akan serta-merta
menjadi simetrik hanya gara-gara `bioteknologi ditolak`. Bukan cuma
bioteknologi, bahkan teknologi lainnya pun seperti pertanian organik dan
pertanian input eksternal rendah, juga akan gagal mendistribusikan pangan
secara adil jika aspek kelembagaannya impoten. Kedua, kelembagaan yang
berkeadilan pun akan gagal mendistribusikan pangan secara adil jika tidak
tersedia cukup pangan untuk didistribusikan. Ketiga, terjadi
ketidakimbangan informasi. Contoh yang paling baik adalah hasil penelitian
John Losey (1999) tentang kematian kupu-kupu raja yang diberi makan daun
milkweed yang ditaburi serbuk sari jagung Bt (jagung hasil rekayasa
genetika). Hasil penelitian ini kerap dikutip secara tidak utuh hanya untuk
menyerang bioteknologi. Kenyataan bahwa serbuk sari yang ditaburkan dalam
daun milkweed itu berkonsentrasi sangat tinggi (yang tidak mungkin dijumpai
di alam) dan makanan pokok kupu-kupu raja itu bukan serbuk sari jagung Bt,
tidak pernah diinformasikan secara jujur dan patut. Bahkan pengutip hasil
penelitian itu juga secara tidak adil mengabaikan pengakuan Losey sendiri:
``Penelitian kami dilakukan di dalam laboratorium dan menimbulkan isu
penting, tetapi akan kurang tepat kalau diambil suatu keputusan mengenai
populasi kupu-kupu raja di lapangan hanya berdasarkan hasil penelitian awal
studi kami.`` 

Menggunakan penggalan hasil penelitian Losey, selain melanggar prinsip
keimbangan informasi, juga merupakan permainan logika yang serampangan.
Jika tidak cukup jelas, kaji perumpamaan ini: ``seseorang diberi minum
sekali tenggak sebanyak satu drum air mineral, lantas orang itu mati karena
perutnya meletus. Apakah patut diambil kesimpulan bahwa air mineral itu
berbahaya bagi manusia?`` Jawaban Anda akan menunjukkan: apakah logika Anda
sehat atau tidak! Keempat, generalisasi yang serampangan. Dalam soal ini,
dua hasil penelitian berikut merupakan teladan yang paling banyak dikutip,
yaitu (1) kedelai berkandungan methionin tinggi sebagai rakitan genetik
brazil nut pada tanaman kedelai yang menimbulkan alergi; dan (2) hasil
penelitian Dr. Arpad Pusztai yang menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan
dan imunitas tikus setelah diberi makan kentang transgenik yang mengandung
snow drop lectin (gen ketahanan terhadap serangga). Abaikan saja bahwa
terdapat segudang kritik terhadap dua penelitian tersebut. Tapi dua fakta
berikut tidak mungkin diabaikan, yaitu (1) bahwa esensi kedua penelitian
itu tidak menjadi penanda-umum setiap produk transgenik dan (2) kedua
produk dalam penelitian di atas, kemudian tidak pernah lolos-uji yang
menyebabkannya tidak boleh dikonsumsi dan dipasarkan secara komersial.*** 



--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke