Hira,
Saya rasa ada benarnya pendapat kawan kita ini :
1. Bioteknologi tidak harus selalu dianggap negatif. Banyak produk
bioteknologi yang positif. Sebagai sains, bioteknologi harus kita akrabi,
bukan dinajiskan.
2. Precautionary principle boleh saja asal didasarkan pada rasionalitas (dan
scientific) bukan populism.
3. Ada tuduhan yang tidak tepat bahwa kelangkaan pangan antara lain adalah
karena kegagalan revolusi hijau. Masalah kelangkaan pangan bukan hanya
masalah kelangkaan pasokan.
Saya setuju kalau di Indonesia ada yang terus mempelopori diskusi (tentunya
rasional) tentang bbioteknologi. Adakan debat publik dengan para pakar yang
pro dan kontra.
Good luck.
>From: "Hira D.G." <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [lingkungan] Memperdebatkan Tanaman Transgenik [1/2]
>Date: Tue, 12 Sep 2000 22:17:31 +0700
>
>Teman-teman,
>
>Apakah ada yang mengerti makna dari artikel ini? HAndal kelihatannya adalah
>LSM tetapi saya ingin tahu lebih lanjut LSM apa dan siapa ini? Adakah yang
>punya info. Sayang saya harus pergi ke lapangan 10 hari ini sehingga akan
>out of touch. Tapi bila ada teman-teman yang dapat memberikan saya arahan
>dan pandangan tentang artikel ini, saya amat berterima kasih.
>
>Salam
>hira
>
>----------
>From: JKPP <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [lingkungan] Memperdebatkan Tanaman Transgenik [1/2]
>Date: Tuesday, September 12, 2000 10:19 AM
>
>Memperdebatkan Tanaman Transgenik
>Media Indonesia - Opini (9/12/00)
>
>Oleh Djuhendi Tadjudin
>Direktur LSM Handal
>
>
>
>
>PERDEBATAN tentang tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang
>melibatkan publik, ada pada tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya
>terlibat dua kubu yang berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili kubu
>pro dan kontra. Karena miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab pada
>soal pemihakan dengan meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya lebih
>penting untuk didiskusikan. Kedua belah pihak cenderung memperkaya
>argumentasinya sekadar untuk mendukung pemihakannya. Untuk tujuan itu,
>mitos pun kerap dibaurkan dengan fakta. Hasil riset dikutip sepotong-potong
>agar menguntungkan posisi pemihakannya.
>
>Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan pangan dan
>keamanan lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom pemberitaan,
>mengalahkan informasi tentang potensi manfaat nyata yang ditawarkan tanaman
>transgenik. Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik menjadi lebih mirip
>resensi film Jurasic Park atau Frankenstein ketimbang suatu intellectual
>exercise. Sayangnya, lembaga resmi pemerintah tampak gagap, di mana mereka
>harus berdiri?
>
>Substansi teknologi
>
>Tanaman transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, hal itu
>bisa juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap teknologi
>senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan kelembagaan. Ranah
>teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja` yang melekat pada
>teknologi yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang diperkuat dengan
>sifat-sifat lain seperti tahan terhadap herbisida tertentu, tahan terhadap
>serangan organisma pengganggu tanaman (OPT) tertentu, atau ekspresi
>tertentu yang bersangkut-paut dengan spesifikasi mutu porduk. Sedangkan
>ranah kelembagaan bersangkut paut dengan (1) interelasi dengan kepentingan
>mundial, termasuk tekanan dari negara-negara surplus produksi; (2) akses
>petani untuk memperoleh paket teknologi; (3) akses petani pada informasi,
>modal, dan sumber daya alam; (4) aturan main yang mengatur perilaku setiap
>stakeholder: pemerintah, swasta, petani, konsumen, dan lembaga penyangga
>(buffer institution) lain.
>
>Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang logam. Setiap muka memberi
>pemaknaan terhadap uang logam secara keseluruhan. Uang logam akan
>kehilangan nilainya tatkala salah satu mukanya ditiadakan. Meski demikian,
>posisi setiap muka itu tidak dapat saling dipertukarkan.
>
>Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan dengan `tujuan
>program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan kesejahteraan
>petani. Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja teknikal`
>(tahan terhadap herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan produktivitas
>fisikal yang tinggi) seperti yang dijanjikan dalam `jaminan teknikal
>teknologi`. Selanjutnya, ranah kelembagaan bertugas untuk
>mentransformasikan `kinerja teknikal` itu menjadi upaya nyata untuk
>`mencapai tujuan program`.
>
>Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski kinerjanya dapat diukur
>secara terpisah. Setiap ranah, secara sendiri-sendiri, merupakan `syarat
>perlu tapi belum memenuhi syarat cukup` (necessary but not sufficient)
>untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun, jika bekerja secara simultan,
>kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu dan syarat cukup` (necessary
>and sufficient) untuk mewujudkan `tujuan program`.
>
>Pembodohan masyarakat
>
>Persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan menyangkut
>masalah substansial teknologi tanaman transgenik itu sendiri, melainkan
>menyangkut proses pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh pihak yang
>berdebat. Di antara sekian banyak proses pembodohan, lima hal berikut ini
>diduga yang memiliki pengaruh paling besar. Pertama, adanya pemihakan yang
>lugas dan mendominasi sikap kritikal terhadap masalah yang lebih
>substansial. Pemihakan secara sempit telah menyebabkan kian lebarnya ruang
>debat tanpa dialog. Semangat berlebihan untuk membangun argumentasi
>penopang keberpihakannya, telah menghilangkan penghargaan atas
>rasionalitas, sehingga tumbuh argumentasi yang berbasis pada bounded
>rationality (rasionalitas terbelenggu).
>
>Contoh rasionalitas terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, ``bagaimana
>mungkin tanaman yang mampu membunuh serangga itu bisa aman bagi manusia?``
>Pernyataan tersebut hanya tampak seolah benar jika disandingkan dengan
>kenyataan, bahwa orang bisa tewas jika minum racun serangga. Tapi hal itu
>mengingkari tidak kurang dari dua kenyataan berikut. (1) Bahwa gen yang
>disisipkan dalam tanaman transgenik itu hanya punya efek racun pada
>serangga (OPT target) tertentu saja, dan tidak bersifat racun bagi
>organisma lainnya. Dan (2) bahwa efek alergisitas dan toksisitas (dua
>indikator penting keamanan pangan) bukan soal spesifik karena tanaman itu
>adalah transgenik, melainkan suatu sifat yang bisa hadir dalam setiap
>pangan dan tanaman yang asli alamiah sekalipun.
>
>Kedua, terjadinya pelintiran logika. Yang paling lazim didengungkan adalah
>dua sandingan data bahwa pasokan pangan dunia sebenarnya separo lebih
>banyak dari yang dibutuhkan dan bahwa pada saat yang sama masih terdapat
>800 juta penduduk yang kelaparan. Dari dua data itu lantas diambil
>kesimpulan, bahwa `masalah pangan bukan soal keberadaan pasokan, tapi
>masalah distribusi yang tidak berkeadilan`. Lebih jauh logika kian
>dipelintir bahwa bioteknologi dijadikan sebagai representasi teknologi
>untuk memproduksi pangan berlimpah. Tetapi tatkala kelimpahan pangan itu
>ternyata tidak menjawab fakta adanya jutaan penduduk yang masih juga
>kelaparan, maka bioteknologi dihujat sebagai teknologi yang mengumbar
>`janji palsu`.
>
>Dengan logika yang sehat sebenarnya dapat dikatakan bahwa ranah teknikal
>suatu teknologi telah berhasil menjawab kewajibannya yaitu memproduksi
>pangan yang cukup. Namun, ranah kelembagaan yang asimetrik telah gagal
>mendistribusikannya secara adil.
>
>Kelemahan pelintiran logika itu akan tampak gambling dengan dua contoh
>berikut. Pertama, asimetrisme kelembagaan itu tidak akan serta-merta
>menjadi simetrik hanya gara-gara `bioteknologi ditolak`. Bukan cuma
>bioteknologi, bahkan teknologi lainnya pun seperti pertanian organik dan
>pertanian input eksternal rendah, juga akan gagal mendistribusikan pangan
>secara adil jika aspek kelembagaannya impoten. Kedua, kelembagaan yang
>berkeadilan pun akan gagal mendistribusikan pangan secara adil jika tidak
>tersedia cukup pangan untuk didistribusikan. Ketiga, terjadi
>ketidakimbangan informasi. Contoh yang paling baik adalah hasil penelitian
>John Losey (1999) tentang kematian kupu-kupu raja yang diberi makan daun
>milkweed yang ditaburi serbuk sari jagung Bt (jagung hasil rekayasa
>genetika). Hasil penelitian ini kerap dikutip secara tidak utuh hanya untuk
>menyerang bioteknologi. Kenyataan bahwa serbuk sari yang ditaburkan dalam
>daun milkweed itu berkonsentrasi sangat tinggi (yang tidak mungkin dijumpai
>di alam) dan makanan pokok kupu-kupu raja itu bukan serbuk sari jagung Bt,
>tidak pernah diinformasikan secara jujur dan patut. Bahkan pengutip hasil
>penelitian itu juga secara tidak adil mengabaikan pengakuan Losey sendiri:
>``Penelitian kami dilakukan di dalam laboratorium dan menimbulkan isu
>penting, tetapi akan kurang tepat kalau diambil suatu keputusan mengenai
>populasi kupu-kupu raja di lapangan hanya berdasarkan hasil penelitian awal
>studi kami.``
>
>Menggunakan penggalan hasil penelitian Losey, selain melanggar prinsip
>keimbangan informasi, juga merupakan permainan logika yang serampangan.
>Jika tidak cukup jelas, kaji perumpamaan ini: ``seseorang diberi minum
>sekali tenggak sebanyak satu drum air mineral, lantas orang itu mati karena
>perutnya meletus. Apakah patut diambil kesimpulan bahwa air mineral itu
>berbahaya bagi manusia?`` Jawaban Anda akan menunjukkan: apakah logika Anda
>sehat atau tidak! Keempat, generalisasi yang serampangan. Dalam soal ini,
>dua hasil penelitian berikut merupakan teladan yang paling banyak dikutip,
>yaitu (1) kedelai berkandungan methionin tinggi sebagai rakitan genetik
>brazil nut pada tanaman kedelai yang menimbulkan alergi; dan (2) hasil
>penelitian Dr. Arpad Pusztai yang menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan
>dan imunitas tikus setelah diberi makan kentang transgenik yang mengandung
>snow drop lectin (gen ketahanan terhadap serangga). Abaikan saja bahwa
>terdapat segudang kritik terhadap dua penelitian tersebut. Tapi dua fakta
>berikut tidak mungkin diabaikan, yaitu (1) bahwa esensi kedua penelitian
>itu tidak menjadi penanda-umum setiap produk transgenik dan (2) kedua
>produk dalam penelitian di atas, kemudian tidak pernah lolos-uji yang
>menyebabkannya tidak boleh dikonsumsi dan dipasarkan secara komersial.***
>
>
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
Share information about yourself, create your own public profile at
http://profiles.msn.com.
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/