Tulisan ini menarik.  Ia mencoba netral, menjadi penengah.  Tetapi menurut
saya, sayangnya, telah terjebak pada pembodohon pembaca juga.  Dan cenderung
menempatkan diri sebagai pengritik kalangan yang kontra. Penulis telah
menempatkan diri pada posisi yang bisa dianggap mendukung transgenik. 
Boleh-boleh saja.

Ada banyak yang bisa dikomentari dan diperdebatkan dari artikel itu.  KOmentar
saya, sepotong-potong saja.  

Pertanyaan saya, dibutuhkan berapa ribu penelitian lagi agar bisa diambil
kesimpulan yang umum?  Analogi yang dibuat dengan air mineral saya kira adalah
penyederhanaan yang keterlaluan karena bagaimanapun yang namanya makhluk hidup
itu mempunyai kemampuan alami untuk membatasi kapan dia makan dan kapan dia
berhenti makan.  Hanya orang bodoh yang terus menerus minum tanpa tahu
kapasitas dia minum.  Padahal kalau terus menum kan sakit juga toh.  Atau
apakah kebetulan kupu-kupu raja yang kedapatan mati itu semuanya bodoh sehingga
di begitu rakusnya melahap tepung sari bt sampai mati?  (ingat kupu-kupu selain
mengkonsumsi nektar bunga ia juga makan tepung sari dan kupu-kupu tidak bisa
membedakan antara tepung sari bt dan bukan!  Jadi tepung sari bt memang bukan
makanan utama, tapi tepung sari adalah makanan utamanya.  Ini ada pemelintiran
logika juga ya hehehe).   Saya tidak membaca hasil penelitian aslinya. 
Mestinya dalam laboratorium itu ada tepung sari tanpa bt dan dengan bt.

Dalam isu-isu lingkungan termasuk isu transgenik mestinya berlaku pembuktian
yang terbalik.  Bukan publik yang membuktikan dampaknya karena transgenik
tetapi produsen harus bisa membuktikan bahwa produknya tidak membahayakan
publik.  Apakah itu dilakukan oleh industri, apakah informasi dampak negatif
tsb. disampaikan ke publik?  Kenapa yang melakukan ekspose hasilpenelitian
justru para peneliti di kampus.  sementara hasil penelitian yang sedikit
dilakukan itu terus menerus dianggap tidak valid dan tidak bisa digeneralisir
sementara pihak industri tidak pernah mengungkap hasil penelitian dan
kemungkinan dampak negatifnya.  Kenapa industri menolak labeling pada produk
transgenik?  Mengapa mereka menolak untuk membicarakan liability? siapa yang
bertanggungjawab atas kemungkinan dampak negatif tsb?  Jadi ada sesuatu  yang
kalangan industri sendiri menyembunyikannya.

Jadi siapa sebetulnya yang melakukan pembodohan ini: kalangan yang pro, yang
kontra, atau, ...

salam,


Rahmad.-

===============


At 10:19 AM 9/12/00 +0700, you wrote: 
>
> From: "JKPP" To: Subject: Memperdebatkan Tanaman Transgenik Date: Tue, 12 Sep
> 2000 10:19:47 +0700 MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/alternative;
> boundary="----=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0" X-Priority: 3
> X-MSMail-Priority: Normal X-Mailer: Microsoft Outlook Express 5.00.2314.1300
> X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V5.00.2314.1300 This is a multi-part
> message in MIME format. ------=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0
> Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1" Content-Transfer-Encoding:
> quoted-printable Memperdebatkan Tanaman Transgenik Media Indonesia - Opini
> (9/12/00) Oleh Djuhendi Tadjudin=20 Direktur LSM Handal=20 PERDEBATAN tentang
> tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang = melibatkan publik, ada pada
> tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya = terlibat dua kubu yang
> berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili = kubu pro dan kontra. Karena
> miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab = pada soal pemihakan dengan
> meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya = lebih penting untuk
> didiskusikan. Kedua belah pihak cenderung memperkaya = argumentasinya sekadar
> untuk mendukung pemihakannya. Untuk tujuan itu, = mitos pun kerap dibaurkan
> dengan fakta. Hasil riset dikutip = sepotong-potong agar menguntungkan posisi
> pemihakannya.=20 Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan
> pangan dan = keamanan lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom
> pemberitaan, = mengalahkan informasi tentang potensi manfaat nyata yang
> ditawarkan = tanaman transgenik. Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik
> menjadi = lebih mirip resensi film Jurasic Park atau Frankenstein ketimbang
> suatu = intellectual exercise. Sayangnya, lembaga resmi pemerintah tampak
> gagap, = di mana mereka harus berdiri?=20 Substansi teknologi=20 Tanaman
> transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, hal = itu bisa
> juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap = teknologi
> senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan = kelembagaan. Ranah
> teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja` = yang melekat pada
> teknologi yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang = diperkuat dengan
> sifat-sifat lain seperti tahan terhadap herbisida = tertentu, tahan terhadap
> serangan organisma pengganggu tanaman (OPT) = tertentu, atau ekspresi
> tertentu yang bersangkut-paut dengan spesifikasi = mutu porduk. Sedangkan
> ranah kelembagaan bersangkut paut dengan (1) = interelasi dengan kepentingan
> mundial, termasuk tekanan dari = negara-negara surplus produksi; (2) akses
> petani untuk memperoleh paket = teknologi; (3) akses petani pada informasi,
> modal, dan sumber daya alam; = (4) aturan main yang mengatur perilaku setiap
> stakeholder: pemerintah, = swasta, petani, konsumen, dan lembaga penyangga
> (buffer institution) = lain.=20 Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang
> logam. Setiap muka memberi = pemaknaan terhadap uang logam secara
> keseluruhan. Uang logam akan = kehilangan nilainya tatkala salah satu mukanya
> ditiadakan. Meski = demikian, posisi setiap muka itu tidak dapat saling
> dipertukarkan.=20 Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan
> dengan `tujuan = program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan
> kesejahteraan = petani. Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja
> teknikal` = (tahan terhadap herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan =
> produktivitas fisikal yang tinggi) seperti yang dijanjikan dalam = `jaminan
> teknikal teknologi`. Selanjutnya, ranah kelembagaan bertugas = untuk
> mentransformasikan `kinerja teknikal` itu menjadi upaya nyata = untuk
> `mencapai tujuan program`.=20 Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski
> kinerjanya dapat diukur = secara terpisah. Setiap ranah, secara
> sendiri-sendiri, merupakan `syarat = perlu tapi belum memenuhi syarat cukup`
> (necessary but not sufficient) = untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun,
> jika bekerja secara simultan, = kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu
> dan syarat cukup` (necessary = and sufficient) untuk mewujudkan `tujuan
> program`.=20 Pembodohan masyarakat=20 Persoalan lebih besar yang dihadapi
> Indonesia saat ini bukan menyangkut = masalah substansial teknologi tanaman
> transgenik itu sendiri, melainkan = menyangkut proses pembodohan masyarakat
> yang dilakukan oleh pihak yang = berdebat. Di antara sekian banyak proses
> pembodohan, lima hal berikut = ini diduga yang memiliki pengaruh paling
> besar. Pertama, adanya = pemihakan yang lugas dan mendominasi sikap kritikal
> terhadap masalah = yang lebih substansial. Pemihakan secara sempit telah
> menyebabkan kian = lebarnya ruang debat tanpa dialog. Semangat berlebihan
> untuk membangun = argumentasi penopang keberpihakannya, telah menghilangkan
> penghargaan = atas rasionalitas, sehingga tumbuh argumentasi yang berbasis
> pada = bounded rationality (rasionalitas terbelenggu).=20 Contoh rasionalitas
> terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, = ``bagaimana mungkin tanaman
> yang mampu membunuh serangga itu bisa aman = bagi manusia?`` Pernyataan
> tersebut hanya tampak seolah benar jika = disandingkan dengan kenyataan,
> bahwa orang bisa tewas jika minum racun = serangga. Tapi hal itu mengingkari
> tidak kurang dari dua kenyataan = berikut. (1) Bahwa gen yang disisipkan
> dalam tanaman transgenik itu = hanya punya efek racun pada serangga (OPT
> target) tertentu saja, dan = tidak bersifat racun bagi organisma lainnya. Dan
> (2) bahwa efek = alergisitas dan toksisitas (dua indikator penting keamanan
> pangan) bukan = soal spesifik karena tanaman itu adalah transgenik, melainkan
> suatu = sifat yang bisa hadir dalam setiap pangan dan tanaman yang asli
> alamiah = sekalipun.=20 Kedua, terjadinya pelintiran logika. Yang paling
> lazim didengungkan = adalah dua sandingan data bahwa pasokan pangan dunia
> sebenarnya separo = lebih banyak dari yang dibutuhkan dan bahwa pada saat
> yang sama masih = terdapat 800 juta penduduk yang kelaparan. Dari dua data
> itu lantas = diambil kesimpulan, bahwa `masalah pangan bukan soal keberadaan
> pasokan, = tapi masalah distribusi yang tidak berkeadilan`. Lebih jauh logika
> kian = dipelintir bahwa bioteknologi dijadikan sebagai representasi teknologi
> = untuk memproduksi pangan berlimpah. Tetapi tatkala kelimpahan pangan itu =
> ternyata tidak menjawab fakta adanya jutaan penduduk yang masih juga =
> kelaparan, maka bioteknologi dihujat sebagai teknologi yang mengumbar =
> `janji palsu`.=20 Dengan logika yang sehat sebenarnya dapat dikatakan bahwa
> ranah teknikal = suatu teknologi telah berhasil menjawab kewajibannya yaitu
> memproduksi = pangan yang cukup. Namun, ranah kelembagaan yang asimetrik
> telah gagal = mendistribusikannya secara adil.=20 Kelemahan pelintiran logika
> itu akan tampak gambling dengan dua contoh = berikut. Pertama, asimetrisme
> kelembagaan itu tidak akan serta-merta = menjadi simetrik hanya gara-gara
> `bioteknologi ditolak`. Bukan cuma = bioteknologi, bahkan teknologi lainnya
> pun seperti pertanian organik dan = pertanian input eksternal rendah, juga
> akan gagal mendistribusikan = pangan secara adil jika aspek kelembagaannya
> impoten. Kedua, kelembagaan = yang berkeadilan pun akan gagal
> mendistribusikan pangan secara adil jika = tidak tersedia cukup pangan untuk
> didistribusikan. Ketiga, terjadi = ketidakimbangan informasi. Contoh yang
> paling baik adalah hasil = penelitian John Losey (1999) tentang kematian
> kupu-kupu raja yang diberi = makan daun milkweed yang ditaburi serbuk sari
> jagung Bt (jagung hasil = rekayasa genetika). Hasil penelitian ini kerap
> dikutip secara tidak utuh = hanya untuk menyerang bioteknologi. Kenyataan
> bahwa serbuk sari yang = ditaburkan dalam daun milkweed itu berkonsentrasi
> sangat tinggi (yang = tidak mungkin dijumpai di alam) dan makanan pokok
> kupu-kupu raja itu = bukan serbuk sari jagung Bt, tidak pernah diinformasikan
> secara jujur = dan patut. Bahkan pengutip hasil penelitian itu juga secara
> tidak adil = mengabaikan pengakuan Losey sendiri: ``Penelitian kami dilakukan
> di = dalam laboratorium dan menimbulkan isu penting, tetapi akan kurang tepat
> = kalau diambil suatu keputusan mengenai populasi kupu-kupu raja di =
> lapangan hanya berdasarkan hasil penelitian awal studi kami.``=20 Menggunakan
> penggalan hasil penelitian Losey, selain melanggar prinsip = keimbangan
> informasi, juga merupakan permainan logika yang serampangan. = Jika tidak
> cukup jelas, kaji perumpamaan ini: ``seseorang diberi minum = sekali tenggak
> sebanyak satu drum air mineral, lantas orang itu mati = karena perutnya
> meletus. Apakah patut diambil kesimpulan bahwa air = mineral itu berbahaya
> bagi manusia?`` Jawaban Anda akan menunjukkan: = apakah logika Anda sehat
> atau tidak! Keempat, generalisasi yang = serampangan. Dalam soal ini, dua
> hasil penelitian berikut merupakan = teladan yang paling banyak dikutip,
> yaitu (1) kedelai berkandungan = methionin tinggi sebagai rakitan genetik
> brazil nut pada tanaman kedelai = yang menimbulkan alergi; dan (2) hasil
> penelitian Dr. Arpad Pusztai yang = menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan
> dan imunitas tikus setelah = diberi makan kentang transgenik yang mengandung
> snow drop lectin (gen = ketahanan terhadap serangga). Abaikan saja bahwa
> terdapat segudang = kritik terhadap dua penelitian tersebut. Tapi dua fakta
> berikut tidak = mungkin diabaikan, yaitu (1) bahwa esensi kedua penelitian
> itu tidak = menjadi penanda-umum setiap produk transgenik dan (2) kedua
> produk dalam = penelitian di atas, kemudian tidak pernah lolos-uji yang
> menyebabkannya = tidak boleh dikonsumsi dan dipasarkan secara
> komersial.***=20 ------=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0 Content-Type:
> text/html; charset="iso-8859-1" Content-Transfer-Encoding: quoted-printable 
> Memperdebatkan Tanaman Transgenik
> Media Indonesia - Opini = (9/12/00)
>
> Oleh Djuhendi Tadjudin=20 
>
> Direktur LSM Handal=20 
>
> PERDEBATAN tentang tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang =
> melibatkan=20 publik, ada pada tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya
> terlibat dua = kubu=20 yang berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili
> kubu pro dan kontra. = Karena=20 miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab
> pada soal pemihakan dengan=20 meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya
> lebih penting untuk = didiskusikan.=20 Kedua belah pihak cenderung memperkaya
> argumentasinya sekadar untuk = mendukung=20 pemihakannya. Untuk tujuan itu,
> mitos pun kerap dibaurkan dengan fakta. = Hasil=20 riset dikutip
> sepotong-potong agar menguntungkan posisi pemihakannya.=20 
>
> Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan pangan dan =
> keamanan=20 lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom pemberitaan, =
> mengalahkan=20 informasi tentang potensi manfaat nyata yang ditawarkan
> tanaman = transgenik.=20 Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik menjadi
> lebih mirip resensi = film=20 Jurasic Park atau=20 Frankenstein ketimbang
> suatu = intellectual=20 exercise. Sayangnya, lembaga resmi = pemerintah=20
> tampak gagap, di mana mereka harus berdiri?=20 
>
> Substansi teknologi=20 
>
> Tanaman transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, = hal
> itu=20 bisa juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap
> teknologi=20 senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan
> kelembagaan. = Ranah=20 teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja`
> yang melekat pada = teknologi=20 yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang
> diperkuat dengan = sifat-sifat lain=20 seperti tahan terhadap herbisida
> tertentu, tahan terhadap serangan = organisma=20 pengganggu tanaman (OPT)
> tertentu, atau ekspresi tertentu yang = bersangkut-paut=20 dengan spesifikasi
> mutu porduk. Sedangkan ranah kelembagaan bersangkut = paut=20 dengan (1)
> interelasi dengan kepentingan mundial, termasuk tekanan dari=20 negara-negara
> surplus produksi; (2) akses petani untuk memperoleh paket=20 teknologi; (3)
> akses petani pada informasi, modal, dan sumber daya alam; = (4)=20 aturan
> main yang mengatur perilaku setiap stakeholder: pemerintah, = swasta,=20
> petani, konsumen, dan lembaga penyangga (buffer = institution) lain.=20 
>
> Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang logam. Setiap muka = memberi=20
> pemaknaan terhadap uang logam secara keseluruhan. Uang logam akan =
> kehilangan=20 nilainya tatkala salah satu mukanya ditiadakan. Meski demikian,
> posisi = setiap=20 muka itu tidak dapat saling dipertukarkan.=20 
>
> Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan dengan = `tujuan=20
> program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan kesejahteraan =
> petani.=20 Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja teknikal`
> (tahan = terhadap=20 herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan
> produktivitas fisikal yang = tinggi)=20 seperti yang dijanjikan dalam
> `jaminan teknikal teknologi`. Selanjutnya, = ranah=20 kelembagaan bertugas
> untuk mentransformasikan `kinerja teknikal` itu = menjadi=20 upaya nyata
> untuk `mencapai tujuan program`.=20 
>
> Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski kinerjanya dapat = diukur=20
> secara terpisah. Setiap ranah, secara sendiri-sendiri, merupakan `syarat =
> perlu=20 tapi belum memenuhi syarat cukup` (necessary but not = sufficient)
> untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun, jika = bekerja=20 secara simultan,
> kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu dan syarat = cukup`=20 (necessary
> and sufficient) untuk = mewujudkan=20 `tujuan program`.=20 
>
> Pembodohan masyarakat=20 
>
> Persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan = menyangkut=20
> masalah substansial teknologi tanaman transgenik itu sendiri, melainkan=20
> menyangkut proses pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh pihak yang =
> berdebat.=20 Di antara sekian banyak proses pembodohan, lima hal berikut ini
> diduga = yang=20 memiliki pengaruh paling besar. Pertama,=20 adanya pemihakan
> yang lugas dan mendominasi sikap kritikal terhadap = masalah yang=20 lebih
> substansial. Pemihakan secara sempit telah menyebabkan kian = lebarnya
> ruang=20 debat tanpa dialog. Semangat berlebihan untuk membangun argumentasi
> = penopang=20 keberpihakannya, telah menghilangkan penghargaan atas
> rasionalitas, = sehingga=20 tumbuh argumentasi yang berbasis pada bounded =
> rationality (rasionalitas terbelenggu).=20 
>
> Contoh rasionalitas terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, =
> ``bagaimana=20 mungkin tanaman yang mampu membunuh serangga itu bisa aman
> bagi = manusia?``=20 Pernyataan tersebut hanya tampak seolah benar jika
> disandingkan dengan=20 kenyataan, bahwa orang bisa tewas jika minum racun
> serangga. Tapi hal = itu=20 mengingkari tidak kurang dari dua kenyataan
> berikut. (1) Bahwa gen yang=20 disisipkan dalam tanaman transgenik itu hanya
> punya efek racun pada = serangga=20 (OPT target) tertentu saja, dan tidak
> bersifat racun bagi organisma = lainnya. Dan=20 (2) bahwa efek alergisitas
> dan toksisitas (dua indikator penting = keamanan=20 pangan) bukan soal
> spesifik karena tanaman itu adalah transgenik, = -- To unsubscribe, e-mail:
> [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail:
> [EMAIL PROTECTED] Archive:
> http://www.mail-archive.com/[email protected]/ 


Kirim email ke