> > Well, emang sekarang kata Indonesia di jaman otda ini jadi sesuatu yg > > sensitif. he..he..he.. > > Kalau gitu tidak perlu melibatkan KPLI/KPL/LUG/whatever dong :-) > Intinya bukan perlu atau tidak perlu, loh... Apakah LUG di Indonesia ingin terlibat atau tidak dalam sertifikasi ini. Ini cuma undangan loh... Tim di sini mengundang LUG di seluruh Indonesia untuk ikut rembuk dalam pembuatan sertifikasi ini... Jika anda merasa tidak perlu terlibat, sebenarnya sangat disayangkan.
> > Ok, kasus beli ijasah saja kita ambil sebagai contoh. Kenapa sih > orang sampai beli ijasah? karena tidak bermoral? ya .. tetapi > itu belum semua, jawabnya karena ijasah itu penting untuk > cari kerja, untuk naik pangkat, untuk jadi wakil presiden :p > Pernah membayangkan tidak, kalau orang tidak usah pakai ijasah > untuk kerja, apa ada orang yang mau beli ijasah? :-) > > Bukan itu point saya sebenarnya, saya hanya ingin menunjukkan > bahwa ijasah untuk kerja, ada hubungannya dengan bisnis. Jadi > sekolah itu pun bisnis! > Ini BUKAN SEKOLAH atau LEMBAGA PENDIDIKAN... Itu yang harus kami tekankan. Tapi standar sertifikasi yang dibuat oleh satu lembaga pusat. Untuk pelatihan/training/tutorial diserahkan sepenuhnya pada LUG. Lembaga (alias Yayasan) TIDAK AKAN memberikan training sama sekali. Training diserahkan ke publik. Makanya dalam pembentukan yayasan ini kami mengunang keterlibatan LUG untuk sama-sama buat standar sertifikasi. Makanya bentuknya yayasan, karena non-profit. > Anyway, sertifikasi untuk mendorong popularitas linux di tanah > air itu ibaratnya melompat terlalu jauh. Yang harus dilakukan > adalah membuat linux mendarahdaging dulu, baru orang akan memikirkan > tentang sertifikasi. Bukan sebaliknya. > Well, please do so amigo... -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

