> > Mungkin message saya kurang jelas. Dengan sekolah bisa dapat 'sertifikat', > legitimasi untuk kerja, akhirnya yang dikejar ya 'sertifikat' (ijasah) > itu saja. Soal sekolahnya sendiri, bullsh*t dengan sekolah, yang penting > kuliah, mengisi presensi, ikut ujian, nyontek, lulus, bingo! > > Nah sekarang YLI mempermudah orang untuk mencapai ke situ > (tanpa sekolah). Atau YLI akan mensyaratkan untuk ujian sertifikasi, > orang harus ikut kursus (misalnya) kejar paket A, paket B, PAHE > (paket hemat), Pak Eko (paket ekonomis) dulu baru bisa ikut ujian > sertifikasi? > Ujian sertifikasi ini akan SANGAT TERBUKA bagi siapa pun... Akan tetapi kualifikasi ujiannya yang kita buat sesuai standar sertifikasi profesional yang ada. Jadi kalo udah PD ikut ujian, silakan saja ambil ujian tanpa harus ikut satu training.
> > > Anyway, sertifikasi untuk mendorong popularitas linux di tanah > > > air itu ibaratnya melompat terlalu jauh. Yang harus dilakukan > > > adalah membuat linux mendarahdaging dulu, baru orang akan memikirkan > > > tentang sertifikasi. Bukan sebaliknya. > > > > > Well, please do so amigo... > > Ya, tentu saja. Tetapi tidak perlu melakukannya dengan cara > yang 'salah' (tanda kutip penting). > Salah? Saya rasa kita sebaiknya tidak saling menghakimi, deh... Saya berusaha untuk tidak menggunakan kata saya benar dan anda salah, atau sebaliknya... Jadi sebaiknya kita berpikir dalam kerangka demikian, untuk mendapatkan hasil rembukan yang lebih bagus. Jika kita berpikir salah dan benar dalam diskusi, maka kita tidak akan terbuka terhadap input. Malah jadi apriori terhadap pendapat orang. Serta cenderung merasa pendapat kita adalah yang paling benar. Akan tetapi jika anda berpikir demikian, anda berhak sepenuhnya berpendapat demikian... -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

