Kebusukan DJPBN, memang terlalu kasar bagi saya, toh saya juga anggota
DJPB juga. Tapi Klo melihat tulisan bung Nurman saya bisa makhlum.
Saya ingin menanggapi tulisan bang Nurman.Tentang pengusulan SK CPNS
kami jga gtu, tapi kita kerja lbh cepat tidak sampai nunngu dua bulan
tapi juga harus ngetik SK sendiri plus uang Sewa komputer.(saya lulus
04). Tentang Sekditjen itu emang bener, gak tahu kenapa yang di
Sekditjen pasti dapat "bonus". Klo masalah ditempat baru untungnya
waktu kmi masuk baru ada 1 anak prodip jdi kmi kebagian jatah
pekerjaan walaupun akhirnya pegawai yang lama g dapt kerja (^Tapi g
tahu jga  apa memeng gak mampu ato gak mau). Trus setahun dsini dpt 5
anak prodip angktan mas nurman, nasibnya sama. Berhubung kerjaan cma
sdkt tapi pwai berjibun, yach tau sendirilah gmna akhirnya.
Sebenarnya kita g harus menyalahkan sistem di DJPB, Suatu sistem tu
dapat berjalan ato tidak khan tergantung orang2 dalam sistem itu dan
kita termasuk dalam sistem tersebut. Yang harus kita benahi adalah
orang2 yang dominan ato seenak udelnya sendiri terhadap sistem itu.
Merkalah yang menciptakan lingkaran setan itu sendiri dan saya yakin
mereka juga terjerat dalam lingkaran itu juga(klo sudah masuk susah
keluar). Nah, sekarang bgmana tugas kita sebagai "korban" dari
lingkaran setan itu(Klo kita sendirian memutus rantai itu kayaknya
suatu hil yang mustahal)? Itu tergantung diri kita sendiri, ada yang
pilih keluar, ada yang mulai mls2an kerja, ada yang kerjanya cma
sumpah serapah, hasut kanan hasut kiri(mudah2an gak terjadi). Smua itu
pilihan kita sendiri,tapi........ingat, kita memilih kita juga yang
harus bertanggungjawab.
Saran saya, mulailah dari lingkungan terkecil dari bagian DJPB itu
sendiri yaitu diri kita sendiri. Memang saya akui sangat sulit tapi
inilah hidup penuh cobaan.
Saya cma bisa ngasih saran dan saya jga dalam proses mencoba, apabila
ada yang tidak berkenan saya mohon maaf.
NB: Nanya nie~apakah bener klo kita ditempatkan di KPPN yang g ada
tempat kullnya cma 2 tahun? Soalnya ditempatku g ada tempat kull nie.

--- In [email protected], "nurman_soldier"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sebenarnya terlalu kasar membuat judul seperti diatas. Bagi
> temen-temen yang merasa judul diatas terlalu kasar mohon maaf aja ya.
> Memang belum ada kata-kata yang lebih enak didengar untuk menggantikan
> istilah "pembusukan' diatas. Yang sedikit nyerempet mungkin ya
> "ketidak-adilan,kedzaliman". Akan tetapi menurut saya sama aja. Toh
> substansinya sama.
> 
> Sekali lagi saya mohon maaf. Ditjen PBN itu sangat besar, jadi
> kalaupun ada "pembusukan" tentulah tidak semuanya. Hanya bagian kecil
> saja. Tetapi perlu diingat bahwa kebusukan disatu  bagian akan
> menyebabkan penyakit bagi keseluruhan, dalam hal ini adalah Ditjen PBN.
> 
> Dalam kacamata wong edan seperti saya tidak terlalu penting
> berkoar-koar dengan asumsi yang merajalela, berwacana yang
> indah-indah, atau berRia-ria dengan harapan kosong. Tetapi adalah
> lebih penting bagi saya menikmati apa yang saya dapat di Ditjen PBN
> ini. Seberapun itu besarnya, atau sedemikian parahnya saya ( dan
> tentunya juga temen2 dan adik2 kelas saya juga)  "dibinatangkan" oleh
> oknum-oknum pembusuk di Ditjen PBN ini. Kayaknya perlu saya jelaskan
> juga pa sih pembinatangan itu. Tentunya dalam kacamata wong edan ini
> juga. Pembinatangan dalam pandangan saya adalah menganggap manusia
> (baca: insan Ditjen PBN) layaknya binatang. Tentu temen-temen semua
> mudeng apa sih perbedaaan manusia dan binatang.
> 
> kembali ke ke-edanan saya.
> 
> Saya ingin sedikit curhat tentang apa-apa yang saya anggap "busuk",
> tentunya dengan niat ikhlas supaya bisa diperbaiki di masa mendatang.
> 
> Pertama ketika saya lulus Prodip tahun 2005 saya tidak langsung
> magang. Tapi saya sempet nganggur dikit lah gitu. Tetapi Alhamdulillah
> akhirnya magang juga. Berkas-berkas Pengusulan CPNS kita-kita juga
> udah diserahkan ke Instansi. Kebetulan sebagian besar ke ditjen PBN.
> Saya salah satu yang ditakdirkan di Ditjen PBN. Kita udah "Tsiqoh" 
> sama Ditjen ini jadi berkas yang kita kumpulkan dari bulan September
> cepet2 diusulkan sehingga seperti kakak2 kelas 
> Sebelumnya, Desember kita dah mulai TMT. Tetapi apa yang terjadi
> penonton, Berkas kita hanya hanya ditumpuk. Untung temen2 yang di KPK
> selalu memantau sehingga merasa aneh dengan keganjilan yang terjadi.
> Kita dah anggap berkas dah diproses. Ternyata setelah ditelusuri oleh
> temen-temen, berkas2 kita belum diapa-apakan. Saya inget waktu itu
> bulan Februari pertengahan. Oh malang nian nasib kita. Udah terlambat
> dua bulan dari yang kita kira-kira. Akhirnya Berkas2 itu kita ambil
> dan pengusulannya kita lakukan sendiri. Saya masih inget keriuhan di
> Lantai 4 Gedung DIA. Kita rame2 input data temen2 Qta sendiri. Kita
> antar sendiri. Akhirnya berkas kita selesai juga untuk langsung
> diajukan ke Setjen Depkeu Biro Kepegawaian. Alhmadulillah kita belum
> terlambat, hampir saja karena keteledoran oknum2 "busuk" di
> kepegawaian.  Kita TMT telat 2 bulan bung. Biasanya Desember waktu itu
> Februari. Yang saya bayangkan bagaimana nasib Qta2 dulu itu tanpa
> adanya KPK. Bisa2 Qta bisa seperti anak2 yang di Depdagri. Sampai
> tahun berikutnya Setelah itu aku mulai mencium aroma busuk di Ditjen
> PBN. Terutama di Setditjen.
> 
> 
> Ketiga ketika kita penempatan. Kita sangat setuju akan paradigma
> keadilan yang coba ingin kita terapkan. Tapi nanggung pemirsa. Masih
> ada aja temen2 kita yang penempatan di Jawa. Yang saya merasa aneh,
> mereka2 itu yang masih stay di Jawa adalah sebagian  dari anak yang
> magang di Setditjen. Okelah mereka cewek. Tapi kenapa ga semua cewek
> penempatan di Jawa. Hati kecil saya bicara pasti ada sesuatu yang coba
> dilegalkan disini. 
> 
> Yang saya juga sedikit nek juga adalah tidak ada tolok ukur yang jelas
> atas penempatan kita. Maen acak aja. Pake IP keq biar kita-kita yang
> udah belajar serius mendapatkan sedikit penghargaan, bukannya
> pembinatangan. Yang dapat saya lihat temen2 kita yang di Setditjen
> bisa sedikit bernafas lega karena bisa di Sumatra. Cuma karena itu
> pemirsa. Sungguh analogi sampah dah BULSHIT. Cuma karena magang di
> Setditjen bisa penempatan di Sumatra. Bau busuk setditjen tambah
> menyengat bagi saya. 
> 
> Ketika saya menginjakkan kaki saya di bumi yang baru sungguh saya
> takjub dengan pola mutasi di Ditjen Perbendaharaan.  Tanpa kita
> ber-lima pun pekerjaan kantor ini beres. Jadilah kita-kita ini
> pengangguran baru yang digaji oleh pemerintah. Sungguh begitu jauh
> kalau hanya untuk nganggur. Hampir semua dari kita disini jadi tukang
> jaga malam. Hidup di Kantor, makan di kantor, tidur di kantor tanpa
> guna.Yang saya heran mengapa ketika unit Eselon I lainnya di Depkeu
> begitu membutuhkan tenaga-tenaga Prodip seperti kita, begitu susahnya
> Ditjen PBN melepas kita. Tetapi justru mereka sendiri yang
> menelantarkan kita seperti KAMBING.
> 
> Hati nurani sayapun menangis. Meskipun saya sendiri tidak seperti
> mereka. Saya satu-satunya anak2 pemempatan baru yang dihargai
> kinerjanya karena saya ditempatkan di salah satu seksi yang lumayan
> ada pekerjaannya.
> 
> Itu mungkin sekelumit yang bisa saya sampaikan. Saya tak akan
> menceritakan kebusukan2 yang ada yang telah menimpa adik2 kelas kita
> atau senior2 kita. Biar mereka sendiri yang cerita. Toh mereka juga
> udah punya MILIS sendiri. 
> 
> Saya kira hal yang menimpa saya ga ada apa2nya dibandingkan apa2 yang
> telah menimpa adik2 kelas kita. 
> 
> Ini saja dari saya. Semoga akan ada yang menambahkan ataupun
> menyanggah. Silahkan. Ini hanya pendapat pribadi saya aja. 
> 
> Bagi saya untuk memberangus kebusukan di Ditjen PBN adalah dengan
> memotong oknum2 yang telah menjadikan MAFIA Ditjen ini. Lingkaran
> setan itu harus dipotong habis. Pola mutasi harus bener2 adil dan
> berjalan sehat. Penghargaan atas resiko seorang pegawai Ditjen PBN
> juga harus diwujudkan oleh Ditjen PBN. Itu kalau tidak ingin Eselon I
> ini diisi oleh orang2 dengan tekanan mental yang akut sehingga
> menjadikan kinerjanya Lemot.
>


Kirim email ke