Mestinya partai2 atau para tokoh yang disebutkan menerima sumbangan dr
dkp tsb berpikir sebelum menerimanya. Kalau seorang menteri memberi
200 juta atau lebih sedang gaji menteri paling2 30 juta, wajarkah
kalau dia memberi sejumlah itu. Mestinya mereka juga berpikir kira2
dari mana uang sebanyak itu diperoleh. dari sumber halal apa nggak.
Saya sangat menyayangkan orang sekaliber AR nggak selektif dalam
menerima sumbangan.

--- In [email protected], Budi Santoso
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya kira orang yang menerima uang hasil korupsi, dan ia tidak tahu
bahwa uang itu merupakan hasil korupsi, bukanlah koruptor.  
>    
>   Kalau dana taktis kantor tersebut berasal dari korupsi (tindakan
yang merugikan keuangan negara) seperti lembur/sppd fiktif, saya kira
ia mirip dengan dana non-bujeter DKP. 
>    
>   salam,
>   budisan
> 
> Marlina Rus Ananti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Apakah semua penerima dana DKP (termasuk Tim Sukses PAN
dan parpol2 lain) itu bisa kita sebut sebagai Koruptor, walaupun
mereka sama sekali tidak tahu bahwa uang yang diberikan oleh RD
tersebut berasal dari dana non-bujeter dan mereka sama sekali tidak
menggunakan uang tersebut untuk keperluan pribadi? Saya hanya kasihan
kalau si penerima dana non-bujeter itu adalah para pekerja sosial
panti asuhan atau pengurus pondok pesantren, dan mereka semua
dijebloskan ke dalam penjara dengan dakwaan melakukan tindak korupsi ): 
> 
> Apakah dana non-bujeter DKP itu mirip/sama dengan dana taktis yang
dikelola di sebuah kantor pemerintah yang bersumber dari potongan uang
lembur/perjalanan pegawai dan penggunaannya, misalnya, untuk
kesejahteraan para pegawai honorer? 
> 
> "Kekuasaan seharusnya berada pada rakyat". Kira2 bagaimana ya mas
implementasinya supaya negara tetap tegak berdiri dan tidak hancur?
Soalnya dari jaman Orla sampai jaman Reformasi pemerintah selalu
mengaku menjunjung tinggi nilai2 demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat).
> 
> "Selama ketentuan yang dijadikan dasar bernegara dan berbangsa masih
buatan manusia pasti akan terjadi semua ketidakbenaran, ketidakadilan
dan penentangan pada perintah2 4JJ". Pernyataan ini mengingatkan saya
pada sejarah tentang polemik Piagam Jakarta dimana kelompok Agama dan
kelompok Nasionalis saling bertikai. Kalau pertikaian tersebut kini
terjadi lagi, jangan2 kelompok Komunislah nantinya yang akan menjadi
pemenang. Kalau memang demikian, akhirnya kita juga (bangsa Indonesia)
yang akan merugi. 
> 
> Semoga saja tidak akan ada yang diuntungkan ataupun yang dirugikan
dari sebuah keputusan atau kebijakan. Walaupun saya sendiri ragu.
> 
> sukarno ano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> DAMAI ITU INDAH
> 
> Benarkah ungkapan itu bila dikaitkan dengan polemik SBY-AR? sebuah
pertanyaan besar yang menurut saya banyak sekali pertimbangan dan
jawaban dan bahkan muncul pertanyaan lagi yang lebih besar bukan hanya
karena untung dan rugi, karena bila berlandaskan untung dan rugi
bagaikan bisnis saja.
> 
> Ada beberapa hal yang mungkin dapat kita kemukakan yaitu :
> 
> 1. Kemungkinan Kemenangan SBY-JK dianulir karena melanggar UU Pemilu
> 2. Kemungkinan SBY-JK dan tim suksesnya dipenjara karena ada unsur
korupsi menggunakan dana "haram"
> 3. Kemungkinan semua CAPRES dan tim suksesnya diperiksa dan bila
terbukti akan dipenjara juga.
> 4. Panwaslu harus juga diperiksa karena kerja gak becus menyebabkan
kekisruhan.
> 
> Tapi dari hasil penerawangan saya semua itu tidak akan terjadi, ada
analisis yang mungkin dapat digunakan yaitu mengatasnamakan
kepentingan bangsa.
> 
> Ini membuktikan bahwa orang-orang yang penting yang memegang
kekuasaan berpola fikir yang sungguh memprihatinkan, sementara
berteriak korupsi dia sendiri korup, bagaimana mungkin menyapu lantai
dengan sapu kotor, itupun masih dikatakan baik oleh masyarakat.gile
beneeer
> 
> Ada dua hal yang mungkin bisa menjadi bahan pemikiran kita.
> 
> 1. Kekuasaan seharusnya berada pada rakyat, bukan pada pemimpin
semata jadi apabila terjadi kemungkinan2 diatas toh negara ini tidak
akan hancur dan akan tetap berdiri Jadi tidak usah bersulit-sulit ria.
jika memang harus ganti pemerintahan kenapa tidak.
> 
> 2. Selama ketentuan yang dijadikan dasar bernegara dan berbangsa
masih buatan manusia pasti akan terjadi semua ketidakbenaran,
ketidakadilan dan penentangan pada perintah2 4JJ. Jadi kalau mau
selamat kembalilah kejalan yang telah ditetapkan oleh 4JJ.
> 
> Cobalah untuk direnungkan ! 
> 
> Marlina Rus Ananti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> SBY dan Amien Rais akhirnya sepakat untuk mengakhiri polemik dan
menyerahkan masalah dana DKP kepada KPK untuk diselesaikan secara
hukum (bukan secara politik).
> 
> Di antara kita ada yang mengkhawatirkan aksi damai SBY-Amien
tersebut akan menutup peluang untuk menyelesaikan kasus dana DKP untuk
kampanye capres 2004 melalui jalur hukum, walaupun kedua pihak telah
sepakat untuk menyelesaikan masalah tersebut secara hukum.
> 
> Sebagian lain merasa plong karena polemik SBY-Amien tidak berkembang
ke a rah ranah politik yang paling rawan, yakni berupa pemakzulan
(impeachment) presiden. Menurut Hidayat Nur Wahid, “Penyelesaian
kasus aliran dana DKP… harus tetap mengedepankan mekanisme hukum,
bukan mekanisme politik untuk saling menghancurkan” (Republika, 29
Mei 2007). Ia juga mengatakan bahwa 
> “dalam kasus dana DKP meski hukum ditegakkan namun jangan sampai
merusak pencapaian demokrasi di Indonesia, bahkan menghancurkan
Indonesia” (Kompas, 29 Mei 2007).
> 
> Apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid tersebut mengingatkan saya pada
kasus skandal “Monica Lewinsky” Clinton dan juga kasus disclaimer
LKPP (Dephan)-nya Amerika yang pada intinya bermaksud menjaga nama,
wibawa dan kepentingan negara.
> 
> Dengan berakhirnya polemik SBY-Amien tersebut tentu ada yang
diuntungkan dan juga yang dirugikan. Silakan saja berikan opini kita
sendiri apakah SBY, Amien, Koran/TV/Pembaca/Pemirsa, Parpo/ DPR, dan
…. termasuk yang diuntungkan atau yang dirugikan.
> 
> Saya sangat menikmati (termasuk yang diuntungkan) ketika membaca
Polemik Kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Ki Hajar
Dewantara dkk. (tahun 1935-1936). Dan saya juga berharap dapat
menikmati polemik-polemik yang ada dalam milis ini. Walaupun
sejujurnya, hingga kini itu masih tetap merupakan harapan. 
> 
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Building a website is a piece of cake. 
> Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke