Pak Budisan wrote:
  "Saya kira orang yang menerima uang hasil korupsi, dan ia tidak tahu bahwa 
uang itu merupakan hasil korupsi, bukanlah koruptor"
   
  Saya kira ketika pak Budisan menulis kalimat tersebut ia membayangkan Amien 
Rais dan para pengemis jalanan yang (menurut keyakinan pak Budisan memang sama 
sekali) tidak tahu bahwa uang itu berasal dari hasil korupsi. Seseorang yang 
(memang benar2) tidak tahu bahwa uang yang diterimanya adalah hasil korupsi, 
menurut saya, memang tidak selayaknya kita cap sebagai koruptor.
   
  Lain lagi halnya dengan pak Harsono yang pada waktu membaca kalimat pak 
Budisan tersebut di atas, ia membayangkan "bapak-bapak" pejabat yang menerima 
tiket pesawat (upeti) dari pegawai pelaksana (bawahan)nya. Dalam contoh 
tersebut, memang semestinya "bapak-bapak" tersebut (patut diduga) mengetahui 
bahwa uang/tiket pesawat tersebut berasal dari hasil korupsi.  Oleh karena itu, 
saya (dan mungkin pak Budisan juga) setuju bahwa "bapak-bapak" tersebut 
termasuk koruptor.   

Barangkali benar sinyalemen pak Budisan bahwa bayangan, image dan 
pengalaman-pengalaman yang ada/terekam di dalam kepala kita memang seringkali 
lebih menarik daripada (berpengaruh pada) pendapat (setuju atau tidak setuju) 
kita.
   
  "Setuju" mungkin sama dengan "Tidak Setuju".  Apakah benar begitu?


          
Goodman_neverdies <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya tidak tertarik dengan pendapat 
setuju atau tidak setuju. Reasoning dibalik pendapat bagi saya lebih menarik 
daripada setuju atau tidak setuju.
.....
Tetapi saya kira akan lucu dan terkesan mengada-ada kalau setiap pengemis dan 
anak jalanan yang menerima uang dari pengendara/penumpang mobil harus juga 
menanyakan apakah uang tsb merupakan hasil korupsi. Dan mungkin aneh sekali 
kalau pengemis dan anak jalanan yang menerima uang hasil korupsi itu kita sebut 
sebagai koruptor.

Saya juga lebih tertarik dengan reasoning dibalik pendapat.... Yang saya 
inginkan hanyalah sekedar contoh dari "bapak bapak" yang diatas untuk hidup 
bersih....nda usah jauh jauh....di lingkungan kanwil saya..... terasa aneh jika 
seorang pelaksana membelikan tiket pesawat buat pejabat yang mau mudik. 
Mestinya berpikir ini uang apa? kalo gaji/ tc kok kayaknya unreasonable geeto 
loh. Terus kalo kita mau bersedekah, yah.... jangan sampe ditanya pengemis/ 
anak jalanan: ".. pak ini uang dari mana?". Yakinkan dulu bahwa uang yang kita 
sedekahkan/ pakai sehari hari itu bukan uang korupsi. Dari contoh yg diajukan 
sepertinya berusaha mencari........sekali lagi pembenaran!. Sekalipun rumah 
kita baru kalo mentalnya masih lama percuma saja.... Saya tetap dukung KPPN 
Prima tapi jauh di lubuk hati saya lebih mendukung pembenahan hati yang prima.
Salam Perubahan
Harsono BW

Saya tidak tertarik dengan pendapat setuju atau tidak setuju. Reasoning dibalik 
pendapat bagi saya lebih menarik daripada setuju atau tidak setuju.

Pendapat saya tsb terkait dengan kasus dana DKP dan saya berpendapat bahwa 
Amien Rais yang telah mengakui menerima dana tsb (tapi ia tidak tahu kalau itu 
berasal dari dana non-bujeter) bukanlah koruptor.

Barangkali merupakan ide yang bagus untuk menyarankan kepada setiap orang yang 
menerima uang dari orang lain agar menanyakan dulu apakah uang tsb berasal dari 
uang hasil korupsi. Cuma saya sama sekali tidak yakin apakah saran tsb dapat 
diaplikasikan dengan efektif. 

Dalam konteks pemimpin atau pejabat barangkali saran utk menanyakan sumber-uang 
yang diterima tsb mungkin bermanfaat. Tetapi saya kira akan lucu dan terkesan 
mengada-ada kalau setiap pengemis dan anak jalanan yang menerima uang dari 
pengendara/penumpan g mobil harus juga menanyakan apakah uang tsb merupakan 
hasil korupsi. Dan mungkin aneh sekali kalau pengemis dan anak jalanan yang 
menerima uang hasil korupsi itu kita sebut sebagai koruptor.

salam,
budisan

  Budi Santoso <budisan_2005@ yahoo.com> wrote: Saya kira orang yang menerima 
uang hasil korupsi, dan ia tidak tahu bahwa uang itu merupakan hasil korupsi, 
bukanlah koruptor. 

Wah.... untuk yang satu ini saya kurang sependapat dengan Mr. Budisan. Kenapa, 
karena sebelum menerima sesuatu kita harus tahu dulu apa yang akan kita 
terima.... kemudian putuskan... apakah diterima (dgn segala konsekuensinya) 
atau ditolak. Jangan pura pura tidak tahu. Itu namanya mau enaknya sendiri jadi 
seolah olah terima uang halal...artinya telah terjadi pembenaran bukan 
kebenaran. Adalah sangat tidak lucu ketika di pengadilan seorang terdakwa 
ditanya darimana sumber kekayaannya. .. terus dia bilang;" wah..... saya nda 
tahu darimana pak hakim. Tiba tiba ada sendiri...." . Pasti pak hakim akan 
bilang:" Ada sendiri dari Hongkong!!" He he he...
Salam Perubahan
Harsono BW

  Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Saya kira orang yang menerima uang hasil korupsi, dan ia tidak tahu bahwa 
uang itu merupakan hasil korupsi, bukanlah koruptor. 

Kalau dana taktis kantor tersebut berasal dari korupsi (tindakan yang merugikan 
keuangan negara) seperti lembur/sppd fiktif, saya kira ia mirip dengan dana 
non-bujeter DKP. 

salam,
budisan

Marlina Rus Ananti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apakah semua penerima dana DKP (termasuk Tim Sukses PAN dan parpol2 lain) itu 
bisa kita sebut sebagai Koruptor, walaupun mereka sama sekali tidak tahu bahwa 
uang yang diberikan oleh RD tersebut berasal dari dana non-bujeter dan mereka 
sama sekali tidak menggunakan uang tersebut untuk keperluan pribadi? Saya hanya 
kasihan kalau si penerima dana non-bujeter itu adalah para pekerja sosial panti 
asuhan atau pengurus pondok pesantren, dan mereka semua dijebloskan ke dalam 
penjara dengan dakwaan melakukan tindak korupsi ): 

Apakah dana non-bujeter DKP itu mirip/sama dengan dana taktis yang dikelola di 
sebuah kantor pemerintah yang bersumber dari potongan uang lembur/perjalanan 
pegawai dan penggunaannya, misalnya, untuk kesejahteraan para pegawai honorer? 

"Kekuasaan seharusnya berada pada rakyat". Kira2 bagaimana ya mas 
implementasinya supaya negara tetap tegak berdiri dan tidak hancur? Soalnya 
dari jaman Orla sampai jaman Reformasi pemerintah selalu mengaku menjunjung 
tinggi nilai2 demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat).

"Selama ketentuan yang dijadikan dasar bernegara dan berbangsa masih buatan 
manusia pasti akan terjadi semua ketidakbenaran, ketidakadilan dan penentangan 
pada perintah2 4JJ". Pernyataan ini mengingatkan saya pada sejarah tentang 
polemik Piagam Jakarta dimana kelompok Agama dan kelompok Nasionalis saling 
bertikai. Kalau pertikaian tersebut kini terjadi lagi, jangan2 kelompok 
Komunislah nantinya yang akan menjadi pemenang. Kalau memang demikian, akhirnya 
kita juga (bangsa Indonesia) yang akan merugi. 

Semoga saja tidak akan ada yang diuntungkan ataupun yang dirugikan dari sebuah 
keputusan atau kebijakan. Walaupun saya sendiri ragu.

sukarno ano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

DAMAI ITU INDAH

Benarkah ungkapan itu bila dikaitkan dengan polemik SBY-AR? sebuah pertanyaan 
besar yang menurut saya banyak sekali pertimbangan dan jawaban dan bahkan 
muncul pertanyaan lagi yang lebih besar bukan hanya karena untung dan rugi, 
karena bila berlandaskan untung dan rugi bagaikan bisnis saja.

Ada beberapa hal yang mungkin dapat kita kemukakan yaitu :

1. Kemungkinan Kemenangan SBY-JK dianulir karena melanggar UU Pemilu
2. Kemungkinan SBY-JK dan tim suksesnya dipenjara karena ada unsur korupsi 
menggunakan dana "haram"
3. Kemungkinan semua CAPRES dan tim suksesnya diperiksa dan bila terbukti akan 
dipenjara juga.
4. Panwaslu harus juga diperiksa karena kerja gak becus menyebabkan kekisruhan.

Tapi dari hasil penerawangan saya semua itu tidak akan terjadi, ada analisis 
yang mungkin dapat digunakan yaitu mengatasnamakan kepentingan bangsa.

Ini membuktikan bahwa orang-orang yang penting yang memegang kekuasaan berpola 
fikir yang sungguh memprihatinkan, sementara berteriak korupsi dia sendiri 
korup, bagaimana mungkin menyapu lantai dengan sapu kotor, itupun masih 
dikatakan baik oleh masyarakat.gile beneeer

Ada dua hal yang mungkin bisa menjadi bahan pemikiran kita.

1. Kekuasaan seharusnya berada pada rakyat, bukan pada pemimpin semata jadi 
apabila terjadi kemungkinan2 diatas toh negara ini tidak akan hancur dan akan 
tetap berdiri Jadi tidak usah bersulit-sulit ria. jika memang harus ganti 
pemerintahan kenapa tidak.

2. Selama ketentuan yang dijadikan dasar bernegara dan berbangsa masih buatan 
manusia pasti akan terjadi semua ketidakbenaran, ketidakadilan dan penentangan 
pada perintah2 4JJ. Jadi kalau mau selamat kembalilah kejalan yang telah 
ditetapkan oleh 4JJ.

Cobalah untuk direnungkan ! 

Marlina Rus Ananti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SBY dan Amien Rais akhirnya sepakat untuk mengakhiri polemik dan menyerahkan 
masalah dana DKP kepada KPK untuk diselesaikan secara hukum (bukan secara 
politik).

Di antara kita ada yang mengkhawatirkan aksi damai SBY-Amien tersebut akan 
menutup peluang untuk menyelesaikan kasus dana DKP untuk kampanye capres 2004 
melalui jalur hukum, walaupun kedua pihak telah sepakat untuk menyelesaikan 
masalah tersebut secara hukum.

Sebagian lain merasa plong karena polemik SBY-Amien tidak berkembang ke a rah 
ranah politik yang paling rawan, yakni berupa pemakzulan (impeachment) 
presiden. Menurut Hidayat Nur Wahid, “Penyelesaian kasus aliran dana DKP… 
harus tetap mengedepankan mekanisme hukum, bukan mekanisme politik untuk saling 
menghancurkan” (Republika, 29 Mei 2007). Ia juga mengatakan bahwa 
“dalam kasus dana DKP meski hukum ditegakkan namun jangan sampai merusak 
pencapaian demokrasi di Indonesia, bahkan menghancurkan Indonesia” (Kompas, 
29 Mei 2007).

Apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid tersebut mengingatkan saya pada kasus 
skandal “Monica Lewinsky” Clinton dan juga kasus disclaimer LKPP 
(Dephan)-nya Amerika yang pada intinya bermaksud menjaga nama, wibawa dan 
kepentingan negara.

Dengan berakhirnya polemik SBY-Amien tersebut tentu ada yang diuntungkan dan 
juga yang dirugikan. Silakan saja berikan opini kita sendiri apakah SBY, Amien, 
Koran/TV/Pembaca/Pemirsa, Parpo/ DPR, dan …. termasuk yang diuntungkan atau 
yang dirugikan.

Saya sangat menikmati (termasuk yang diuntungkan) ketika membaca Polemik 
Kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Ki Hajar Dewantara dkk. (tahun 
1935-1936). Dan saya juga berharap dapat menikmati polemik-polemik yang ada 
dalam milis ini. Walaupun sejujurnya, hingga kini itu masih tetap merupakan 
harapan. 




      Recent Activity
    
      39
  New Members
  
      1
  New Files

Visit Your Group 
  SPONSORED LINKS
      
   Arizona regional mls  
   Regional truck driving jobs

      New business?
  Get new customers.
  List your web site
  in Yahoo! Search.

    Yahoo! Mail
  You're invited!
  Try the all-new
  Yahoo! Mail Beta

    Y! Messenger
  Instant smiles
  Share photos while
  you IM friends.



  .

 
         

                
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
 http://id.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke