Kebenaran itu bukan seperti barang yang ada pada etalase toko dimana semua orang dapat melihat, mengamati, menyentuh bahkan membelinya lantas kemudian membawanya pulang, tapi kebenaran itu merupakan suatu proses yang setiap orang harus melaluinya. Tanpanya tak akan pernah ada yang namanya kebenaran. Kebenaran buat si Fulan adalah kekebanaran yang bukan saja harus dipertanggungjawabkan di dunia tetapi juga di hari perhitungan kelak untuk dirinya sendiri, terpisah dari anak dan istrinya sekalipun. Kita masing-masing akan mempertanggungjawabkannya secara sendiri-sendiri dihadapan Tuhan. Tidak ada lagi patron-client atau kawulo-Gusti.
Figur seseorang sebaik apapun dia dimata manusia ia tetap bukan diri ini. Kebaikan dan kejahatan, orang berhati mulia dan begundal tengik selalu hadir dalam lintasan sejarah manusia, datang dan pergi, lahir dan mati tapi pernahkah kita bertanya bekal apa yang akan kita bawa meninggalkan dunia yang fana ini untuk ke kampung keabadian, selain rutinitas yang kadang membelenggu jiwa dan lupa pada kejadian penciptaan. Hidup sekedar menjalankan seremonial belaka Lantas siapakah diri kita sebenarnya. Yakinlah malaikat tak pernah lengah untuk mencatat amal baik dan keburukan seseorang tanpa alpa sedikitpun yang kelak akan ditimbang mana yang paling berat timbangannya. Kalau saja Tuhan bukan Maha Pemurah tentu kita tak akan pernah tahu peringatannya kepada manusia yang lemah dan selalu berbuat dosa ini. Tuhan Maha Pengampun atas begitu banyak kesalahan yang telah kita perbuat karena Rakhmat Tuhan mendahului murkaNya. Semua kitab suci selalu ada ajaran moral yang terkandung didalamnya namun selalu saja ada elemen keras dan humanis yang dapat kita ambil pelajaran. Sikap terbuka dan mengedepankan dialog tentu ciri yang utama dalam mensikapi perbedaan yang ada. Sehingga berbagai deraan kekerasan yang sering penerpa bangsa ini dapat dihindari. Kita bukan apap-apa sampai Tuhan mensucikan kita dan kita tak tahu apa-apa sampai Tuhan memberikan pengetahuanNya. Yesus tetap Mulia walaupun Ia dikejar dan di salib dan waktu itu pengikutnya masih sedikit. Tapi kini mayoritas penduduk muka bumi ini mengagungkan namaNya karena cinta kasihNya pada kemanusiaan. Buat yang ingin bersilaturrahim ambilah 27 derajat itu, karena ada nilai silaturaahim di dalamnya jika nilai itu hilang maka makna bershaf-shaf juga berkurang, menebar salam adalah simbolisasi menengok kekanan dan kekiri lebih untuk menebar damai buat siapa saja --rakhmatan lil'alamin--. sambil mencoba memahami realitas sosial disekitar kita maka ambilah 27 derajat itu. --- In [email protected], Luthfie akmal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebetulnya ada juga pejabat yang lebih tinggi yang bisa juga dijadikan simbol kebaikan selain Pak Tyas. Beliau adalah Bpk. Abdul Kadir, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan Setjen Depkeu. Beliau pernah menjabat sebagai Kakanwil di Banda Aceh, Makassar, dan Bandar Lampung. > > Ketika beliau menjadi Kakanwil di Sulsel, saya masih di KPKN Palopo, saya banyak mendengar cerita2 soal kebersahajaan dan kebersihan beliau. Seperti, kalau pulang kampung ke Jawa, beliau lebih memilih naik kapal laut dan menolak pemberian tiket pesawat oleh anak buahnya. Ketika di Lampung pernah juga saya dengar menolak "upeti" dari anak buahnya. Ketika beliau sudah menjadi Karo Perencanaan, beliau tidak sungkan dan segan naik KRL Jabotabek "umpel2an" dengan penumpang lain untuk pergi ke kantor dari rumah beliau di Depok. Beliau pun tidak sungkan2 untuk berbincang2 dengan anak buah. Ketika saya mengantarkan undangan pernikahan ke rumah dinas beliau yang bersahaja di Makassar, saya ditahan ngobrol sampai sekitar satu jam. Pernah juga ketika beliau lewa naik mobil di seputaran kantor pusat, seorang kawan tersenyum kepada beliau sambil menyapa, tiba2 beliau menghentikan mobil dan memundurkannya hingga teman yang menyapa tadi hanya untuk meminta maaf kalau dia lupa dan > menanyakan siapa gerangan kawan yang tersenyum dan menyapa tadi. > > Tapi mengapa, orang2 seperti ini seperti, kalau meminjam istilah nya mas Irsyad, "dibuang" dari DJA/DJPBN? Sebetulnya dari kalangan muda pun ada yang bisa dijadikan 'role model', seperti mas Suminto. Tapi, sayang, beliaupun pindah ke Pushaka. > > Saya melihat, mengapa yang dilakukan mereka2 tidak terlalu berhasil, mungkin karena dilakukan tanpa koordinasi, sehingga tidak berdampak luas. Mungkin, masih banyak orang2 yang seperti itu, tapi, karena merasa sendirian sehingga terbawa arus, atau tidak menunjukkan sikapnya dengan hanya berfikir yang penting saya tidak ikut2an tanpa merasa perlu membuat orang lain mengikutinya. Mungkin, dari milis ini bisa muncul gerakan perubahan itu? I hope so.. > > Btw, intermezzo, balik ke Pak Tyas. Tahukah mas2 dan mbak2 sekalian, ternyata beliau pun memiliki jasmani yang kuat? Beliau rutin berlari di lapangan banteng, sampai2 ada tentara yang lagi lari juga memberi applaus, karena sang tentara berhenti duluan karena sudah lelah, sementara Pak Tyas belum menunjukkan tanda2 untuk berhenti :) > > Salam perubahan, > Luthfie > ----- Original Message ---- > From: acep_hadinata <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, June 4, 2007 10:44:12 AM > Subject: Re: [Perbendaharaan List] KPPN Percontohan=KPPN Prima=.......? Pringkat itu... > > > > > > > > > > > > > > Nah gitu dong..muncul juga tulisannya, adikmu nih rinud tulisanmu loh > > kang...Kirain teh keur sibuk jeung UAS...Kang, aya buku New Public > > Management teu? Karangan saha wae deh, used condition juga gapapa > > (dih...maka banget.. ) ntar diganti deh...serius. .. > > > > Saya ingin sedikit bercerita tentang sosok yang satu ini.. > > Sekitar tahun 2004 atau 2005 yah, saya lupa. Ada undangan buka bersama > > di Kanwil Jakarta. Ketika saya sedang sibuk bekerja, ada seseorang > > yang masuk ruangan dan celingak-celinguk cari pintu belakang masjid. > > Saya yang nggak 'ngeh' siapa beliau bilang bapak dari mana? Belum > > selesai dijawab, Pak Herry Sunyoto bergegas menuju tamu dimaksud. > > Sambil tergopoh-gopoh bertanya :"Dengan siapa ke sini pak?" "Mau ke > > Masjid, mari saya antar?" Saya yang belum tahu dan nggak tahu siapa > > beliau, akhirnya kembali larut dengan pekerjaan saya. > > > > Akhirnya setelah buka puasa tiba, saat untuk makan-makan tiba juga > > dong, wuih senang banget rasanya. lalu saya berdiri di dekat loket. > > Kebetulan tamu yang tadi diterima pak Herry berada persis di samping > > saya. Hanya diselingi oleh anak laki-laki kecil yang saya kira putra > > beliau. Si anak sedang memegang aqua gelas kecil dan bersiap-siap > > minum. Sang Bapak bertanya dengan seorang petugas loket :"Dik, acara > > buka puasa ini dari mana dananya?" Dijawab:"Dari Kepala Seksi Pak, > > terutama Perbendaharaan, korpel-korpel Seksi Perbendaharaan juga > > dimintakan 'partisipasi' nya dalam acara ini." Beliau terdiam sejenak, > > dan keluarlah kata-kata beliau kepada sang putra di sampingnya dan > > kata-kata ini saya terus membekas sampai hari ini (walau mungkin > > beliau lupa telah mengucapkannya) "Nak, taruh lagi aquanya, jangan > > diminum...Kita minum di rumah saja..." Cesss....Saya menitikkan > > airmata haru mendapatkan pengalaman langsung tentang keteladanan > > pegawai Depkeu yang langka. > > > > Beliau langsung pamit kepada Kakanwil untuk segera pulang. Setelah > > beliau pergi saya bertanya kepada teman petugas loket yang tadi > > ditanya bapak itu :"Siapa sih Bapak tadi mas?" "Loh, masak kamu nggak > > tahu cep?" "Iya mas, aku belum tahu, siapa toh?" tambah penasaran "Itu > > kan pak Tyas cep, kepala KPPN Jakarta Khusus"..."Oh ya" Saya tertegun > > melihat sosok langka yang sekarang sudah pindah ke DJKN. Saya > > sungguh-sungguh terharu (hik..hik..) > > > > Adin-Somewhere at Gorontalo > > > > > > > > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
