Saya terkesan banget ama postingan jm_handsm di bawah ini, terutama
pas bagian message terakhirnya. Saya rasa itulah salah satu contoh
integritas sebenarnya yang selama ini dipertanyakan pimpinan kita di
Pusat sana. That's a really, really integrity! Salah satu miliser yang
postingannya slalu saya tunggu adalah dari si "jm_hndsm" ini
disampingan postingannya Pak Hari, Pak Rinardi, Kang Dedi, Mas Kobir,
dan Pak Budi San. Abis itu baru baca postingan dari miliser lainnya.
Buat jm_hndsm, bisa Japri di di e-mail aku, mau belajar nulis yang
bagus nih sama ente.

Rahman
Selayar
 
--- In [email protected], "jm_hndsm" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Salam Pak Budi Salam Pak Setyo, salah satu kelemahan kita sebagai
> manusia selalu mengambil kesimpulan sebelum cerita berakhir, atau
> menilai Pegawai tanpa menilai kontribusinya pada Institusi, hal yg tak
> bisa diukur memang dengan jenis test apapun, karena DP 3 kita hanya
> ritual tahunan belaka.. jadi inget cerita temen saya  muhammad
> vheztaqwil (Awil) di milis pencinta Alam kira kira begini :
>  
> Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari semarang
> sedang  berpergian naik pesawat ke Jakarta .
> Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. 
> Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan  ringan.
> 
>  " Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
>  
>  "Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore 
>  nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.
>  
>  " Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam
> sejenak... pemuda itu merenung. 
>  Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu
> melanjutkan  pertanyaannya.
>  " Kalau saya tidak salah ,anak yang di  Singapore tadi , putra yang
> kedua ya bu??  Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??"
> 
>  Oh ya tentu " si Ibu bercerita :
>  "Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang , 
>  yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, 
>  yang kelima menjadi arsitek di Jakarta , 
>  yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto,
>  yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.""
> 
>  Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya 
>  dengan sangat  baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
>  
>  " terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
>  
>  Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, 
>  " anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak".
>  
>  Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar "
>  
>  Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya 
>  dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses
>  di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
>  
>  Dengan tersenyum ibu itu menjawab," Ooo ...tidak tidak begitu nak.... 
>  Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah
> yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"
> 
>  
>  Today's lesson :
>  
>  Everybody in the world is a important person. 
>  Open your eyes.... 
>  your heart.... 
>  your mind.... 
>  your point of view....
>  because we can't make summary before read "the book " completely.
>  
>  The wise person says... 
>  The more important thing is not WHO YOU ARE
>  
>  But 
>  WHAT YOU HAVE BEEN DOING
> 
> aku bangga tidak menjadi apapun, aku bangga diabaikan, aku bangga
> karena janji Alloh : " di hari ini aku mengutamakan umatku yang
> diabaikan manusia yang dipandang rendah manusia, karena sesungguhnya
> mereka itu amat dekat kepadaku "
> 
>   
> 

Kirim email ke