Setuju mas Amir . . .kayanya emang ada yang salah dalam sistem kita 
dan mendidik kita untuk tidak jujur (jangan dibaca menjadi 
pencuri . . )
Masalah "amplop" (baca : ucapan terima kasih) di seksi Perbendaharaan 
dan Vera (lucu ya . . .  tapi bener lo, ada KPPN yang seksi Verak-nya 
minta "jatah" kepada Satker yang mau rekonsiliasi) dan "komisi" 
(baca: penyediaan dana taktis) atas pengadaan barang/jasa menurut 
saya perlu ada suatu legalisasi.

1. Setiap awal tahun perlu ada surat edaran pelarangan adanya 
menerima "ucapan terima kasih", bilamana perlu surat edaran berantai 
dari dari eselon tertinggi ke bawahnya, sampe eselon terendah ke 
bawahnya. Dalam edaran dimaksud ditegaskan perihal hukuman yang 
seharusnya diterima kepada pelaku pencurian uang negara dan ato 
penyalahgunaan tugas kewenangannya.

2. Penyediaan blanko SSBP untuk penerimaan komisi di bagian pengadaan 
barang, sehingga ada penerimaan negara dengan nama penerimaan komisi 
atas pengadaan barang/jasa.

Sebaliknya Kepres kita perlu diubah, bunyi-bunyi yang berbau munafik 
bagusnya dihilangkan saja. Misal pelarangan penyediaan dana untuk 
perayaan hari-hari besar. Aneh kan kita ini. Di DIPA ga dibolehin 
menyediakan dana untuk perayaan hari besar, tapi faktanya kita 
dituntut oleh Pemda setempat untuk ambil bagian dalam perayaan 
tersebut. Ya . . . paling ga di gerbang kantor, kita pasang bendera 
merah dan putih dari kertas krep yang diapit lampu badai (biar agak 
semarak). Tapi masak iya seperti itu. Masak Depkeu cuman bisa pasang 
bendera kertas krep dan lampu badai. Faktanya, kita pasang umbul-
umbul, pasang spanduk, pasang lampu kelap-kelip. Dananya dari 
mana . . . ya . . .pinter-pinternya bendaharalah . . . Maksud pinter 
di sini apa hayo . . . Maka perlu ada standard harga untuk perayaan 
HUT 17 Agustus, ga usah besar2 tapi ada dan cukup. Mungkin ini kali 
ya . . . penyebab terkikisnya rasa nasionalisme kita,  hahaha

Dalam DIPA kita juga perlu ada biaya jamuan, dengan besaran yang 
sudah ditetapkan sesuai intensitas menerima tamu. Ga usah munafik 
kalo kita emang perlu kok. Apabila ga ada tamu, paling tidak dapat 
digunakan untuk mengundang Bupati ato Gubernur makan siang bersama 
(jangan nunggu panggilan untuk makan siang aja . . . sekali2 Pejabat 
Perbendaharaan juga BERANI mengundang pemda untuk makan bareng kan?). 
Faktanya, kita sekarang ini selalu  menjamu tamu. Dana 
darimana . . .ya . . .pinter-pinternya bendaharalah. . .

Biaya jamuan perlu disediakan dalam DIPA. Karena kita ini masih hidup 
di dunia bagian timur yang menjujung tinggi sopan santun (kayanya di 
negara bule sana sama juga ada kok ya . . .). Ga mungkin kan ada 
temen dari kantor pusat/kanwil/KPPN lain (bukan hanya pejabat aja lo 
ya)dateng sehubungan dengan tugas, trus kita bilang "ech, pak/bu, di 
sini ada rumah makan yang enak, masakannya khas . . . silakan makan 
di sana aja, sopir kantor biar yang ngantar . . . saya mohon 
maaf . . . mau makan dulu di rumah . . . ato . . . saya mau makan 
dari bungkusan yang saya bawa dari rumah" Duch, melas banget ya 
kayanya . . .

Waduh, kok kayanya aku malah ngelantur, padahal aku tadi mau KPPN 
Percontohan dengan pelayanan prima lo . . . maaf ya kalo basaku agak 
ngelantur. salam dari pedalaman pulau dewata buat mas amir dan 
anggota milis lainnya . . .






- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Kalo mau menegakkan integritas dan mendapatkan SDM yang mempunyai 
integritas di lingkungan DJPBN sebenarnya gampang aja, cuma syaratnya 
ada goodwill, action, consisten, akuntabilitas dan transparant.
>    
>   Caranya gini:
>   - Clear of Laws;
>   - Clear of Games;
>   - Rule of Laws;
>   - Equation before the laws;
>   - Reward & punishment.
>    
>   So, siapa aja yang brengsek dan breaking the rule/law harus 
dihukum dan semuanya tahu bahwa si A, B, C, dll dihukum karena sebab 
ini dan itu, sehingga gak boleh ditiru. Proses penghukumannya juga 
harus jelas dan clear.
>    
>   Semua harus tahu kalo si C,D,E,F, dll. dapat reward karena begini 
dan begitu sehingga perlu diidolakan dan ditiru.
>    
>   Selain diterapkan kesemua pegawai, pejabat/pimpinan yang nakal 
hukumannya harus lebih berat karena sudah abusing of power. Selain 
itu karena kita semua cenderung feodal, maka diharapkan efeknya bakal 
lebih maknyuss dan top markotop.
>    
>   Fakta menyatakan bahwa orang indonesia kalo ke singapura itu 
semuanya jadi tertib dan taat peraturan, antri, gak nyebrang 
sembarangan, gak ngebut, gak buang sampah sembarangan, gak merokok 
sembarangan, pokoke jadi anak mami. Tapi begitu balik ke Indonesia, 
maka tabiatnya berubah lagi jadi "LIAR". Mengapa? Karena di Indonesia 
gak ada rule of the law dan equation before the law.
>    
>   Kalo di Australia gimana mas Khobir???? Sama gak sifat orang-
orang indonesia sewaktu disana ama di Indonesia.
>   Gimana juga pengamatan temen2 lain yang di Jepang, Amerika dan 
luar negeri lainnya???
>    
>   Kalo jaman jahiliyah dulu, yang nakal dan brengsek pun bisa jadi 
pejabat, minimal tempatnya yang "basah" aman.
>    
>   Pernah dulu di suatu kantor ada kasus dan yang terlibat udah 
jelas siapa aja. Pimpinan pun seolah2 menghukum yang bersalah dengan 
memutasikannya ke seksi lain. Tapi apa faktanya??? Yang bersangkutan 
Mr.X dimutasi dari seksi A ke seksi B dengan bidang tugas yang sama 
yaitu pelayanan bendaharawan, dan yang paling bodoh lagi adalah Mr.X 
tetap menangani pekerjaannya dulu diseksi A. Singkatnya, Mr.X 
dimutasi ke seksi dengan bidang tugas yang sama sekalian tugas yang 
dulu juga ikut dimutasi ke seksi Mr.X yang baru. Pejabat atasan 
langsung si Mr. X pun tak lama kemudian mendapatkan promosi ke 
jenjang jabatan yang lebih tinggi. Aneh bin Ajaib!!!!
>    
>   Kalo hal-hal negatif gini masih dibiarkan dan dijalankan dan hal2 
yang positif seperti diatas gak diterapkan, maka mendapatkan 
pegawai/sdm yang berintegritas atau DJPBN yang berintegritas hanya 
tinggal mimpi. Dan Pejabat2 kita gak pantas bersedih:)
>    
>   Speak u'r mind!!!!
>    
>   Just 4 fun:)
> 
>        
> ---------------------------------
> Park yourself in front of a world of choices in alternative 
vehicles.
> Visit the Yahoo! Auto Green Center.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke