Genderang reformasi birokrasi telah ditabuh oleh menteri keuangan.
Seminar, diskusi, lokakarya serta semua usaha yang tak kenal lelah
telah digelar untuk menarik gerbong kereta reformasi birokrasi di
lingkungan dep Keuangan. 

Sebagai anggota koprs dep keu apa yang mesti kita lakukan. Apa yang
bisa kita sumbangkan untuk menyukseskannya? Sebuah rumah besar yang
bernama Departemen Keuangan tengah berbenah, atap yang bocor harus
diganti, dinding yang retak mesti diperbaiki, cat yang kusam layak
diganti dengan yang baru yang lebih menarik dipandang baik oleh
penghuni maupun orang lain, entah itu tetangga atau orang yang sekedar
lewat. Pondasi yang tidak kuat perlu di `suntik' untuk menambah
kekuatannya. Singkatnya semua yang sudah usang layak diperbaiki kalau
perlu diganti. Jendela, pintu2, ventilasi, kamar2, dapur, ruang
tengah, teras, halaman depan maupun belakang. Semuanya... semuanya.
Kita tahu bahwa rumah besar itu dihuni oleh lebih dari enam puluh ribu
orang pegawai. Semua karakter manusia ada disitu.  Apa yang bisa kita
lakukan ketika seruan untuk berubah sudah dikumandangkan?

Menyambut seruan reformasi birokrasi di Depkeu, ada banyak yang bisa
dilakukan oleh segenap jajaran depkeu, mulai dari eselon satu sampai
eselon tujuh. Ketika seruan reformasi telah digulirkan oleh Ibu
Menteri, mestinya jajaran eselon satu menyambutnya dengan membuat
edaran kejajaran dibawahnya berisi poin-poin yang detil terinci
tentang hal-hal apa yang mesti dilakukan dan tidak dilakukan. Para
Pejabat eselon dua segera mengumpulkan semua pejabat dan staf2 nya
untuk memberi pengarahan bagaimana agar semua termotivasi untuk
bergerak dan bersinergi menyukseskan reformasi birokrasi di lingkungan
masing2. Demikian juga para pejabat eselon dibawahnya.

Trus apa yang mesti dilakukan oleh para staf, para kurcaci, para kutu
kupret? Nggak ada pilihan lain ikut berubah atau tidak. Kalau mau
berubah silakan ambil posisi di gerbong yang sudah ada. Kalau nggak
mau berubah monggo dipersilakan keluar. Nggak boleh ada penumpang
gelap, penyusup, kaum oportunis pragmatis yang bisa mengganggu
perjalanan. 

Mulailah berubah. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling
kecil, mulai saat ini juga. Hilangkan segala macam suap, budaya
amplop, budaya service yang tdk semestinya, serta segala macam
perilaku negatif. Kalau ada stake holder, satker atau siapa saja
datang minta dibantu, bantulah dengan senang hati. Kalau kemudian
mereka memberi sesuatu imbalan, katakan dengan hormat, kami tidak
memerlukan itu, itu sudah menjadi tugas kami, dan untuk itulah kami
digaji dengan renumerasi yang tinggi. Kalau ada yang mengajak untuk
kolusi, nasihatilah mereka. Kalau mereka mau menerima nasihat beri
penghargaan dan doakan. Kalau tidak mau laporkan saja ke kejaksaan,
polisi, atau KPK. Jangan lagi bermain dengan yang fiktif2, mark up,
dan sebangsanya. Pastikan langkah pertama adalah langkah yang benar,
selanjutnya akan mudah untuk langkah2 berikutnya.

Mulailah berubah. Sambut seruan reformasi birokrasi dep. Keuangan.
Sambut perubahan, songsong kemenangan.



--- In [email protected], adhitya ramaputra
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di:
[EMAIL PROTECTED]
> ----------------------------------------
> 
> Selasa, 10 Juli 2007 00:00 WIB
> 
> Editorial: Reformasi Birokrasi di Departemen Keuangan
> 
> REFORMASI birokrasi kini berhasil dibuat di Departemen Keuangan dan
mulai diterapkan 1 Juli lalu. Inilah reformasi yang dapat dijadikan
contoh dan rujukan. Jika Departemen Keuangan bisa, mengapa departemen
lain tidak?
> 
> Sebab, tantangan dan hambatan untuk melakukan reformasi birokrasi di
Departemen Keuangan tentunya lebih berat daripada di departemen lain.
Alasannya, hampir seluruh aspek perekonomian negara berhubungan
langsung dengan kebijakan yang dibuat Departemen Keuangan. Menyebut
empat contoh saja yang strategis, departemen inilah yang mengurus
perpajakan, kepabeanan dan cukai, pengelolaan utang, dan perimbangan
keuangan pusat dan daerah.
> 
> Alasan lain, Departemen Keuangan memiliki kantor vertikal terbesar
dan tersebar di seluruh Indonesia yang memberikan pelayanan langsung
kepada publik. Jumlah pegawainya cukup besar, sekitar 62 ribu orang.
> 
> Jadi, jika reformasi birokrasi berhasil dilakukan di Departemen
Keuangan, tidak ada alasan reformasi birokrasi tidak dapat dilakukan
dengan sukses di departemen lain.
> 
> Reformasi birokrasi di Departemen Keuangan itu dikerjakan selama 17
bulan. Dalam bahasa Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang dilakukan
adalah perubahan fundamental dari Departemen Keuangan yang dulu sangat
tertutup menjadi terbuka. Tujuannya, ada dua. Pertama, menciptakan
aparatur negara yang bersih, profesional, dan bertanggung jawab.
Kedua, menciptakan birokrasi yang efisien dan efektif sehingga dapat
memberikan pelayanan publik yang prima.
> 
> Singkatnya, perubahan fundamental, ke dalam membereskan dapur, ke
luar menumbuhkan kepercayaan publik. Sekarang check and balance.
> 
> Misalnya, untuk memberikan pelayanan yang prima kepada publik di
bidang perpajakan, kini telah dibentuk tiga Kantor Pelayanan Pajak
Wajib Pajak Besar, 28 Kantor Pelayanan Pajak Madya, dan 171 Kantor
Pelayanan Pajak Pratama. Sedangkan di bidang perbendaharaan, kini
sudah siap 17 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara percontohan untuk
layanan prima. Yang juga mencolok ialah reformasi yang dilakukan di
lingkungan Bea dan Cukai di Tanjung Priok.
> 
> Namun contoh paling spektakuler adalah dikeluarkannya 6.475 standard
operating procedures (SOP), yang mengatur dengan rinci mekanisme
pelayanan, lama pelayanan, serta berapa biaya pelayanan. Contohnya,
pelayanan penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) dijanjikan
paling lambat satu jam setelah dokumen diterima lengkap. Dan, tidak
ada biaya.
> 
> Contoh lain, pelayanan segera (rush handling) untuk impor,
dijanjikan selesai 120 menit setelah dokumen diterima lengkap. Biaya
pelayanan Rp100 ribu per transaksi. Contoh lain lagi, untuk
mendapatkan NPWP selesai satu hari, dan tidak dipungut biaya.
> 
> Dengan terbitnya SOP itu, publik menjadi tahu dengan jelas dan
gamblang berapa lama pelayanan diberikan, dan berapa biaya yang
diperlukan. Birokrasi yang berbelit-belit dipangkas habis, dan juga
sogok menyogok di bawah meja dibersihkan.
> 
> Tapi semua itu hanya omong kosong jika gaji pegawai Departemen
Keuangan tidak diperbaiki. Di sinilah Menteri Keuangan harus dipuji,
karena reformasi birokrasi yang dilakukannya bersifat menyeluruh dan
detail. Reformasi renumerasi juga dilakukan dengan basis kinerja,
sehingga kini terdapat 27 grade, dengan rentang terendah Rp1.330.000
(grade 27) dan tertinggi Rp46.950.000 (grade 1). Renumerasi yang cukup
kompetitif untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan.
> 
> Reformasi birokrasi telah dilakukan di Departemen Keuangan. Kapan
departemen lain menyusul? Untuk itu, kiranya tidak usah malu-malu
untuk belajar dari apa yang telah dilakukan Departemen keuangan,
sehingga semakin cepat bisa dicapai birokrasi yang efisien dan efektif
di semua departemen.
> 
> 
> 
> Adhitya Ramaputra
> 
> =================================================
> Kementerian Keuangan Republik Indonesia
> Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara
> Kantor Wilayah XXX Jayapura
> KPPN Timika
> =================================================
>        
> ---------------------------------
> Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see
what's on, when. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke