Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf kecil) dikumpulkan
di balairung istana oleh Bethara Guru.
Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah biasanya.
Ada kabut membayang di wajah arifnya.
Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan
Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu akhirnya mengalir juga.
"Anak-anakku warga kurawa
."
Berhenti sejenak, menghela nafas panjang mengatur kata-kata.
"Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan para raksasa yang
selalu menganggu ketenteraman dan keamanan negara kita"
"Siap Sinuwun
!!!!"
Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan mata, karena pada
saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan berbeda, berubah
menjadi bersinar-sinar.
Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi merapat dan wajah-
wajah mengeras.
Dada bergemuruh, darah mengalir kencang.
"Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang, karena sudah
ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian.
Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi integritas,
kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini.
Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga".
"Baik Sinuwun
!!"
Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah melunak
, sedikit kecewa.
"Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk mendukung Pandhawa.
Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana secepatnya,
karena istana,
senjata,
dan seluruh kereta kencana
akan dipakai warga Pandhawa.
Kalian harus relakan demi memperjuangkan kehormatan, kemakmuran, dan
harga diri bangsa"
Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi' yang sama sebanyak
dua kali.
"Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit.
Harga diri bangsa.
Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri bangsa' itu ternyata
rasanya pahit.
"Baik sinuwun
!" (perhatikan `!'-nya berkurang satu persatu)
"Bahwa.." (agak masygul..)
"Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa di tingkat bawah
harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam pranatan yang baru
tidak memperkenankan jabatan itu lagi".
.
Bukan hanya terasa pahit.
Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada mereka yang hadir.
Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang iga.
Memanggang jantung.
Selaksa nyeri.
Duh...!!
"Ulun (sebutan diri Sang Bethara) sebenarnya tak sampai hati
menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan Ulun yang harus
menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak berkenan"
Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu pandang dengan sekian
banyak mata yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara malah kehilangan kata-
kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi sudah diucapkan:
"Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus segera mengosongkan
istana dalam beberapa hari, agar saudara kalian bisa melaksanakan
tugasnya secepatnya".
"Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan tugas mulia itu,
kalian sementara berkumpul saja di alun-alun istana Ulun di
kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat bagamana saudara-saudara
kalian berperang".
"Kalian tunggu saja di sana dan bersabar ya?"
"Nasib kalian akan kita pikirkan kemudian".
"Baik sinuwun
."
Sik
sik
sik
!
Namanya saja kurawa. Iya-nya duluan. Mikirnya kemudian. Katrok.
Mereka saling bisik, saling melengkapi informasi yang dimiliki,
karena daya tampung batok kepala mereka memang sedikit.
Begitu ngerasa cukup ngeh, wajah mereka berubah menjadi tidak puas.
Suara-suara yang berbisik makin ramai. Mendengung seperti lebah.
Tiba-tiba ada suara lantang menyirapkan suara dengungan.
"Ijinkan kami berperang, Pukulun
!"
Mereka akan nglurug dan tak keberatan berperang ke mana saja. Sama-
sama meninggalkan istana dan tahta, itu terasa jauh lebih terhormat
daripada di usir dari istana karena tak dibutuhkan lagi di sana.
"Tidak mungkin. Kalian sudah uzur".
"Saya masih muda dan kuat, Pukulun
!"
Seorang pemuda tinggi besar bertubuh kekar berwajah idiot menerobos
maju.
"Iya, tapi otakmu sumpeg, mereka (Pandhawa) sudah digembleng dikawah
Candradimuka. Sakti luar dalam"
"Saya masih muda, kuat, dan sama-sama mengalami sulitnya melewati
Candradimuka, Pukulun!"
Seorang yang lain bertutur kata halus tapi jumawa unjuk bicara.
"Kamu tidak lulus uji nyali"
"Saya masih muda, sakti luar dalam, tujuh kawah sudah saya
taklukkan, tapi tak diikutkan uji nyali, Pukulun!"
Seorang berwajah bersih tanpa dosa bak malaikat, bermata tajam,
terlihat cerdas menyampaikan rasa geramnya.
Seakan tak mau kalah yang lain pun saling menunjukkan keunggulannya.
Suasana jadi tak terkendali.
Suara-suara saling bersahutan beradu keras.
"Diaaaam
!!!!"
Suara Sang Bathara menggelegar
Para kurawa terhenyak.
Balairung seketika senyap.
Tak ada yang berani bergerak sedikitpun, karena takut akan
menimbulkan suara.
"Kamu tak bersih lingkungan, hatimu kotor, jiwamu ternoda, nuranimu
tersesat.
Mereka bersih, nuraninya jernih, batinnya luhur, bersedia mati
membela bangsa dan negara.
Pokoknya mereka berbeda.
Kalian mengerti..?!" Suara Sang Bethara meninggi.
"Sekali lagi kutekankan (lupa akan Ulunnya), ini bukan masalah
pribadi. Tak penting siapa kalian, yang lebih penting adalah, sudah
ada yang ditunjuk melakukannya, yaitu mereka, kesatria Pandhawa.
Mereka sudah melewati segala uji kadigdayan, dan mereka terbukti
mampu mengatasinya, sehingga mereka dianggap bisa mewakili kalian
dalam peperangan"
"Tugas kalian jelas, mendukung mereka sepenuhnya sehingga bisa
memenangkan perang sebaik-baiknya.
Membantah dan banyak komentar tidak pernah ditugaskan pada kalian.
Paham..?!"
Diam sejenak mengatur nafas.
Tak ada yang menjawab.
"Jangan kalian pikir ini juga hal yang mudah bagi Ulun. Kalian lihat
sendiri tadi, Ulun kehilangan kata-kata untuk memulai. Titah Ulun
hanya menyampaikan. Semuanya sudah ada yang mengatur, dan itu bukan
Ulun". Tekanan suara Sang Bethara menurun.
Kurawa-kurawa masih terdiam. Kepala-kepala mereka pelan-pelan
tertunduk. Lidahnya kelu.
Kesenyapan kembali menyelimuti.
Semuanya membeku dalam alam pikiran masing-masing.
Angin keras menerobs masuk melambai-lambaikan jubah putih Sang
Bathara
Dingin.
Membatu.
Keheningan dipecahkan oleh suara serak, tercekat:
"Kalau begitu, beri saja kami pekerjaan di istana kadewatan,
Pukulun.. Agar kami merasa berharga
Agar ada sumbangsih kami bagi negara ini, agar kami tak menerima
gaji buta. Walaupun tak banyak gaji buta itu, kami berat
menerimanya".
Suaranya lemah, nyaris pasrah, hampir berbisik diantara kerumunan
laskar tak berguna itu.
Wooiii
! Rupanya ada yang punya akal sehat diantara mereka.
"Nanti kita pikirkan lagi. Saudara-saudara kalian yang lebih dulu di
sini saja msh bnyk yang menganggur. Mau kukasih kerjaan apa kalian?"
"Begini saja, kalian akan di sebar ke kadipaten-kadipaten sekitar
sini, agar kalian tak berjubel di sini. Di sana kalian akan
mendapatkan pekerjaan.".
"Ini tak akan pernah mudah bagi kalian, mereka, juga Ulun sendiri,
tapi kita akan bisa melaluinya asalkan kita masih tetap punya
keyakinan dan satu hati dalam mecapai tujuan."
"Ingatlah bahwa perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan"
"Sekarang bubarlah, jangan ada yang nggresula, tetap yakini bahwa
semuanya demi kebaikan kita semua".
"Baik Pukulun
."
Langit jadi mendung. Matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya.
Angin bertiup kencang. Sebentar lagi akan turun hujan yang disertai
badai.
Atau jangan-jangan itu hanya perasaan mereka.
Tapi begitulah,
Klunuh-klunuh para veteran yang tak pernah berperang itu
meninggalkan balairung.
Untuk beberapa hari ke depan mereka akan tetap berada di lingkungan
kerajaan.
Tapi mereka bisa merasakan bahwa itu tak akan sama lagi.
Sanjata, wanita, tahta, dan turangga *).
Lambang harga diri seorang kesatria.
Semuanya mesti direlakan untuk ditanggalkan.
Tak ada yang bersisa pada mereka.
Kecuali wanita.
Merekapun tak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada milik mereka
yang masih tersisa itu, bahwa mereka bukan lagi kesatria.
Sepanjang jalan kurawa2 meratap :
Ooo
. Sang penguasa, semoga yang mulia menyadari apa yang telah
paduka lakukan pada kami..
Kami tak sedikit yang mulia. Sepersepuluh hamba setia paduka..
Kemana kearifan yang mulia sehingga tidak mempertimbangkan dampak
kejiwaan yang harus kami alami seperti ini?
Sekat antara superior dan inferior saja sudah membuat kami saling
terpisah antara warga kelas satu dan kelas dua. Itu masih tak apa.
Kadang kami cukup tahu diri.
Tetapi bila kemudian karena superior, mereka berhak mengambil apapun
dari kami.
Salahkah kalau kami menyebutnya suatu arogansi?
Maaf kalau kami lancang yang mulia, tapi kami manusia, bukan mesin.
Itu tadi hanya perasaan kami yang membedakan kami dengan mesin.
Kalau kami ini memang semacam mesin, kami akan belajar mencamkan itu.
Saudaraku, Pandhawa
kami tak hendak membencimu, karena kami tahu ini semua bukan
kehendakmu..
Meski tanpa sadar para pemimpin telah menyemaikan benih-benih itu
di dada kami,
Kami akan pupus itu.
Kami tak akan biarkan benih itu tumbuh.
Kami akan membiarkannya terpapar dan mati.
Untuk itu saudaraku,
Kalau boleh kami berpesan.
Ikhlas ataupun tidak, kami telah berkorban untuk kalian, sementara
kalian belum melakukan apapun.
Hargai itu.
Jadikan itu sesuatu yang berarti.
Menangkan perang itu untuk kami.
Demi kehormatan, kemakmuran dan harga diri bangsa ini
)*kuda, idiom untuk kemapanan, klangenan, hobby; merupakan simbol
terakhir yang diperjuangkan dalam kehidupan filosofi jawa, selain
fungsi harafiahnya sebagai alat mobilitas, mohon dikoreksi bila salah
Mohon maaf, beberapa kata dalam tulisan ini tidak saya temukan
translate yang benar-benar pas dalam bahasa Indonesia.