Terima kasih Pak Hari yang saya hormati, Bahwasannya Kanwil Semarang memiliki seorang Bethara Guru yang bisa mengayomi dan meng-cover seluruh Pandhawa dan kurawa yang berada di sana, saya sangat menghargai itu.
Kalaupun di tempat kami para kurawa merasa tidak tertampung bukan semata karena tidak ditampung. Tet --- Hari Ribowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > wah ini tandanya temen temen sering baca > buku komik nya R.A. KOSASIH.. cerita epos > Mahabaratha dan BarathaYudha. sehingga hafal sekali > rangkaian cerita nya..sampai ada yang bilang kalah > main dadu segala rupa.. terus nanti ada yang disuruh > telanjang segala rupa dong.. > > gini.. pengalaman di semarang, pada saat > mempersiapkan launching KPPN Percontohan.. tidak ada > tuh yang nama nya Kurawa dan Pandawa. > teman teman yang masuk ke KPPN Semarang II.. di > dukung sepenuhnya oleh temen temen lama ex KPPN > Semarang II.. Mereka semuanya adalah para Pandawa.. > atau kalau masih belum tepat disebut demikian, maka > mereka semuanya adalah para kurawa.. > > semua nya sudah masuk medan perang.. cuma ada yang > di garis depan, dan ada lagi di garis belakang.. .. > sama sama penting lho.. garis belakang kan sebagai > pendukung logistik.. pendukung peralatan.. ada yang > bagian palang merah yang merawat perajurit terluka > akibat perang dan lain sebagainya.. > > tapi terimakasih telah memunculkan figur figur > mahabharata.. karena sebetulnya figure yang ada di > sana itu adalah simbol yang lengkap dari sifat sifat > manusia. yang ternyata memang tidak ada yang > sempurna. > > demikian wassalam.. > > > > > > okalaksana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Good > writing bro... Tapi apa nggak kebalik nih pandawa > dan kurawanya? > Apa nggak mirip episode pandawa kalah maen dadu trus > mesti 14 tahun > berada di hutan... ? (atau episode ini belom... ini > baru episode > pandawa diberi indrapsrasta... ) ah serieus pisan... > > > --- In [email protected], > "hendraishvara" > wrote: > > > > Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf > kecil) dikumpulkan > > di balairung istana oleh Bethara Guru. > > Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah > biasanya. > > Ada kabut membayang di wajah arifnya. > > Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan > > > > Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu > akhirnya mengalir juga. > > "Anak-anakku warga kurawa ." > > > > Berhenti sejenak, menghela nafas panjang mengatur > kata-kata. > > > > "Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan para > raksasa yang > > selalu menganggu ketenteraman dan keamanan negara > kita" > > > > "Siap Sinuwun !!!!" > > > > Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan > mata, karena pada > > saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan > berbeda, berubah > > menjadi bersinar-sinar. > > Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi > merapat dan wajah- > > wajah mengeras. > > Dada bergemuruh, darah mengalir kencang. > > > > "Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang, > karena sudah > > ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian. > > Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi > integritas, > > kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini. > > Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga". > > > > "Baik Sinuwun !!" > > Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah > melunak , sedikit kecewa. > > > > "Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk > mendukung Pandhawa. > > Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana > secepatnya, > > karena istana, > > senjata, > > dan seluruh kereta kencana > > akan dipakai warga Pandhawa. > > Kalian harus relakan demi memperjuangkan > kehormatan, kemakmuran, dan > > harga diri bangsa" > > > > Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi' > yang sama sebanyak > > dua kali. > > > > "Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba > terasa pahit. > > Harga diri bangsa. > > Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri > bangsa' itu ternyata > > rasanya pahit. > > > > "Baik sinuwun !" (perhatikan `!'-nya berkurang > satu persatu) > > > > "Bahwa.." (agak masygul..) > > "Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa di > tingkat bawah > > harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam > pranatan yang baru > > tidak memperkenankan jabatan itu lagi". > > . > > Bukan hanya terasa pahit. > > Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada > mereka yang hadir. > > Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang > iga. > > Memanggang jantung. > > Selaksa nyeri. > > Duh...!! > > > > "Ulun (sebutan diri Sang Bethara) sebenarnya tak > sampai hati > > menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan > Ulun yang harus > > menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak > berkenan" > > > > Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu > pandang dengan sekian > > banyak mata yang masih menunggu kelanjutan > kalimatnya. > > > > Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara > malah kehilangan kata- > > kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi > sudah diucapkan: > > > > "Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus > segera mengosongkan > > istana dalam beberapa hari, agar saudara kalian > bisa melaksanakan > > tugasnya secepatnya". > > > > "Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan > tugas mulia itu, > > kalian sementara berkumpul saja di alun-alun > istana Ulun di > > kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat bagamana > saudara-saudara > > kalian berperang". > > > > "Kalian tunggu saja di sana dan bersabar ya?" > > "Nasib kalian akan kita pikirkan kemudian". > > > > "Baik sinuwun ." > > > > Sik sik sik ! > > > > Namanya saja kurawa. Iya-nya duluan. Mikirnya > kemudian. Katrok. > > > > Mereka saling bisik, saling melengkapi informasi > yang dimiliki, > > karena daya tampung batok kepala mereka memang > sedikit. > > > > Begitu ngerasa cukup ngeh, wajah mereka berubah > menjadi tidak puas. > > > > Suara-suara yang berbisik makin ramai. Mendengung > seperti lebah. > > Tiba-tiba ada suara lantang menyirapkan suara > dengungan. > > > > "Ijinkan kami berperang, Pukulun !" > > Mereka akan nglurug dan tak keberatan berperang ke > mana saja. Sama- > > sama meninggalkan istana dan tahta, itu terasa > jauh lebih terhormat > > daripada di usir dari istana karena tak dibutuhkan > lagi di sana. > > "Tidak mungkin. Kalian sudah uzur". > > > > "Saya masih muda dan kuat, Pukulun !" > > Seorang pemuda tinggi besar bertubuh kekar > berwajah idiot menerobos > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today! http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
