Aduh...Maaf, komputer saya error, atau mungkin yg
error saya sendiri, sudah kukejar ke moderator untuk
di tahan, terlanjur di upload. Thanks mas Haq.
Malu-maluin. Offline dulu sajalah nulisnya.


Saya teruskan saja, bahwasannya ditempat kami ada
perasaan tak tertampung, itu barangkali lebih karena
ada rasa Sense of "MINDER". Tak tahulah.

Tapi yang jelas kami merasakan ada gap tersebut.Tak
kurang-kurang upaya merengkuh kami dalam berbagai
kesempatan, namun sulit menghilangkan perasaan
tersebut.

Oh ya, ada yang perlu saya luruskan dalam kesempatan
ini kepada miliser yang berbahagia.

Tentunya para miliser semua masih ingat dengan Bpk.
Maryono bukan?

Nama tersebut sempat populer beberapa saat lalu di
milis ini. 

Nah, dalam beberapa hari terakhir saya bertemu beliau,
sharing dengan beliau, mengamati kerja beliau,
ternyata saya harus malu lagi mengakui bahwa opini
yang terbentuk di otak saya mengenai beliau ternyata
salah.

Saya tak perduli tentang hasil test ataupun kesalahan
dalam penulisan nama hasil test, yang saya tahu dari
sedikit mengenal beliau adalah bahwa:
Beliau layak memimpin KPPN Prima.
Sangat layak.

Beliau tidak memimpin anak buahnya dari ruangan kepala
kantornya, melainkan terjun langsung di lapangan.
Berdiri di front office, membantu kesulitan stafnya
disana, di middle, dan di back semuanya dibackup
penuh, karena pada dasarnya beliau handal di bidang
IT.

Bahkan tak segan-segan ngolor-olor kabel transmisi
data.

Tetapi bukan itu yang hendak saya sampaikan di
kesempatan ini.

Dari beberapa kali nimba kawruh dengan beliau ada ide
menarik dari beliau yang bisa saya petik untuk saya
sampaikan kepada Pak Hari.

Bahwasannya untuk mengurangi penumpukan pegawai yang
tidak efisien, dan mendukung kelancaran KPPN Prima,
bagaimana seandainya laskar tak berguna itu
difungsikan sebagai tenaga pendamping bagi satker,
baik dalam RKAKL, SPM, SAKPA, SABMN, dan
temen-temennya.

Jadi kalau didepartemen lain barangkali seperti
fungsional penyuluh. 
Bedanya kalau penyuluh mereka bersifat intern, kurawa
kita bekerja keluar, dan ini diberi tanggungjawab
penuh terhadap beberapa satker, dua atau tiga satker
binaannya agar seluruh laporan yang terkait dengan
KPPN lebih valid. 

Kinerja mereka bisa diukur dari output satker hasil
binaannya.

Barangkali ada kekhawatiran bahwa mereka akan
menyalahgunakan tanggungjawab tersebut, bisa dicarikan
pemecahan yang logis, misalnya hotline khusus dari
satker ke kantor pusat kita.
Atau punishment yang jelas dan tegas.

Satu lagi.
Kali ini saya ingin lemparkan ke miliser semuanya.
Mungkin tidak di depan front office KPPN Prima ditaruh
webcam, sehingga temen-temen seluruh tanah air atau
siapapun bisa memantau kantor kebanggaan kita semua
itu?

Nuwun















--- hendra ishvara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Terima kasih Pak Hari yang saya hormati,
> Bahwasannya Kanwil Semarang memiliki seorang Bethara
> Guru yang bisa mengayomi dan meng-cover seluruh
> Pandhawa dan kurawa yang berada di sana, saya sangat
> menghargai itu.
> 
> Kalaupun di tempat kami para kurawa merasa tidak
> tertampung bukan semata karena tidak ditampung.
> Tet
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- Hari Ribowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> >         wah ini tandanya temen temen sering baca
> > buku komik nya R.A. KOSASIH.. cerita epos
> > Mahabaratha dan BarathaYudha. sehingga hafal
> sekali
> > rangkaian cerita nya..sampai ada yang bilang kalah
> > main dadu segala rupa.. terus nanti ada yang
> disuruh
> > telanjang segala rupa dong.. 
> >    
> >   gini.. pengalaman di semarang, pada saat
> > mempersiapkan launching KPPN Percontohan.. tidak
> ada
> > tuh yang nama nya Kurawa dan Pandawa.
> >   teman teman yang masuk ke KPPN Semarang II.. di
> > dukung sepenuhnya oleh temen temen lama ex KPPN
> > Semarang II.. Mereka semuanya adalah para
> Pandawa..
> > atau kalau masih belum tepat disebut demikian,
> maka
> > mereka semuanya adalah para kurawa..
> >    
> >   semua nya sudah masuk medan perang.. cuma ada
> yang
> > di garis depan, dan ada lagi di garis belakang..
> ..
> > sama sama penting lho.. garis belakang kan sebagai
> > pendukung logistik.. pendukung peralatan.. ada
> yang
> > bagian palang merah yang merawat perajurit terluka
> > akibat perang dan lain sebagainya..
> >    
> >   tapi terimakasih telah memunculkan figur figur
> > mahabharata.. karena sebetulnya figure yang ada di
> > sana itu adalah simbol yang lengkap dari sifat
> sifat
> > manusia. yang ternyata memang tidak ada yang
> > sempurna. 
> >    
> >   demikian wassalam.. 
> >    
> >    
> >       
> >   
> > 
> > okalaksana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Good
> > writing bro... Tapi apa nggak kebalik nih pandawa
> > dan kurawanya?
> > Apa nggak mirip episode pandawa kalah maen dadu
> trus
> > mesti 14 tahun
> > berada di hutan... ? (atau episode ini belom...
> ini
> > baru episode
> > pandawa diberi indrapsrasta... ) ah serieus
> pisan...
> > 
> > 
> > --- In [email protected],
> > "hendraishvara"
> > wrote:
> > >
> > > Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf
> > kecil) dikumpulkan 
> > > di balairung istana oleh Bethara Guru. 
> > > Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah
> > biasanya.
> > > Ada kabut membayang di wajah arifnya.
> > > Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan
> > > 
> > > Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu
> > akhirnya mengalir juga. 
> > > "Anak-anakku warga kurawa…."
> > > 
> > > Berhenti sejenak, menghela nafas panjang
> mengatur
> > kata-kata.
> > > 
> > > "Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan
> para
> > raksasa yang 
> > > selalu menganggu ketenteraman dan keamanan
> negara
> > kita"
> > > 
> > > "Siap Sinuwun…!!!!"
> > > 
> > > Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan
> > mata, karena pada 
> > > saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan
> > berbeda, berubah 
> > > menjadi bersinar-sinar.
> > > Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi
> > merapat dan wajah-
> > > wajah mengeras.
> > > Dada bergemuruh, darah mengalir kencang.
> > > 
> > > "Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang,
> > karena sudah 
> > > ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian.
> > > Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi
> > integritas, 
> > > kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini.
> > > Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga".
> > > 
> > > "Baik Sinuwun…!!"
> > > Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah
> > melunak…, sedikit kecewa.
> > > 
> > > "Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk
> > mendukung Pandhawa. 
> > > Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana
> > secepatnya, 
> > > karena istana, 
> > > senjata, 
> > > dan seluruh kereta kencana
> > > akan dipakai warga Pandhawa. 
> > > Kalian harus relakan demi memperjuangkan
> > kehormatan, kemakmuran, dan 
> > > harga diri bangsa"
> > > 
> > > Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi'
> > yang sama sebanyak 
> > > dua kali.
> > > 
> > > "Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba
> > terasa pahit. 
> > > Harga diri bangsa. 
> > > Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri
> > bangsa' itu ternyata 
> > > rasanya pahit.
> > > 
> > > "Baik sinuwun…!" (perhatikan `!'-nya berkurang
> > satu persatu)
> > > 
> > > "Bahwa.." (agak masygul..)
> > > "Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa
> di
> > tingkat bawah 
> > > harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam
> > pranatan yang baru 
> > > tidak memperkenankan jabatan itu lagi".
> > > ………………….
> > > Bukan hanya terasa pahit.
> > > Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada
> > mereka yang hadir. 
> > > Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang
> > iga.
> > > Memanggang jantung.
> > > Selaksa nyeri.
> > > Duh...!!
> > > 
> > > "Ulun (sebutan diri Sang Bethara) sebenarnya tak
> > sampai hati 
> > > menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan
> > Ulun yang harus 
> > > menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak
> > berkenan"
> > > 
> > > Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu
> > pandang dengan sekian 
> > > banyak mata yang masih menunggu kelanjutan
> > kalimatnya.
> > > 
> > > Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara
> > malah kehilangan kata-
> > > kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi
> > sudah diucapkan:
> > > 
> > > "Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus
> > segera mengosongkan 
> > > istana dalam beberapa hari, agar saudara kalian
> > bisa melaksanakan 
> > > tugasnya secepatnya".
> > > 
> > > "Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan
> > tugas mulia itu, 
> > > kalian sementara berkumpul saja di alun-alun
> > istana Ulun di 
> > > kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat
> bagamana
> > saudara-saudara 
> > > kalian berperang".
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/

Kirim email ke