Pada suatu pagi di awal mangsa kalima sasi kapitu dimana matahari masih tersembunyi dibalik mendung kelabu Para pandhawa berbondong - bondong ke Istana bersiap maju ke Palagan Peperangan. Kota Kedaton terlihat sepi hari itu. "Dhawuh Pukulun...Abdi dan rombongan ksatria Pandhawa datang menghadap Pikulun" Para Pandhawa datang sowan ke istana menemui Pukulun di Balairung. "Selamat datang anak-anakku Pandhawa" Pukulun menyambut mereka dengan wajah penuh dengan Harapan Kemenangan Perang. "Dimana saudara - sadara kurawa berada Pukulun?" Para pandhawa menayakan kepada pikulun "Mereka ulun suruh meninggalkan istana dan berjuang di kadipaten kadipaten sekitar kota Kedaton" Jawab Pukulun. "Kami rindu mereka Ulun... kenapa mereka diminta segera ke kadipaten Ulun..." Seorang dari Pandhawa menanyakan. "Aku suruh mereka segera berangkat agar Turangga, Kereta, Keris dan Tombak bisa segera kalian pakai maju ke Palagan Peperangan." Pukulun menjelaskan kepada pandhawa.
Entah kenapa para pandhawa merasa ada sesuatu yang kurang tanpa Saudaranya para Kurawa. "Pikulun... bisakah kami menemui para kurawa Pukulun" tanya Seorang Ksatria Pandhawa. "Ada hal apa kalian ingin bertemu mereka" Pukulun dg heran menanyakan. "Kami kangen dengan mereka Ulun... kami juga mau menimba pengalaman dan strategi peperangan dari mereka Ulun... sebab mereka kami kira Lebih banyak makan asam garam mengarungi Palagan Kerajaan ini dari pada kami yang datang dari seberang ini Ulun" imbuh Ksatria itu. "Jagad Dewa Bathara...." Pukulun terlihat bingung "Baiklah klo itu yang kalian mau... segera temui mereka... mereka sepertinya masih di sekitar kawasan Siti Hinggil." Bathara Guru mengabulkan keinginan mereka. "Sendhika dhawuh Sinuhun... Matur Sembah Nuwun... ." Sigap ksatria menghaturkan terima kasih dan segera menuju Siti Hinggil Kota Kedaton. Pertemuan Dramatis dan Hangat Para Pandhawa dan Para Kurawa terjadi di Kawasan Siti Hinggil... Mereka bertemu melepaskan rindu dan bertukar pikiran serta menularkan pengetahuan mereka. "Saudaraku Pandhawa...." Seorang Ksatria Kurawa berkata "Ada apa gerangan Saudaraku Kurawa...." Satria Pandhawa menanggapi. "Semua pengetahuan dan ilmu perang kedaton ini telah aku tularkan ke kalian... kini teruskan perjuangan kami yang belum usai." Pinta Ksatria Kurawa. "Terima kasih Saudaraku Kurawa... Kami mohon dukungan dan Doa dari kalian... Semoga Sang Hyang memberikan kekuatan kepada kami dalam maju ke Palagan..." Ucap Ksatria Pandhawa. "Saudaraku Pandhawa... Demi Harga Diri Para Ksatria... Demi Harga Diri Kerajaan... Demi Harga Diri Bangsa... Demi Sang Hyang... kami dukung kalian Saudaraku." Ksatria Kurawa dengan gagah dan sigap berikrar ini. "Saudaraku Pandhawa... Demi Harga Diriku ... Demi Harga Diri Ksatria ... Demi Kalian Saudaraku Kurawa... Demi Harga Diri Kerajaan dan Bangsa... Kita akan berjuan yang terbaik." Ksatria Pandhawa menyahut Ikrar. "Apapun yang Terjadi kita adalah saudara... bukan orang lain... kita sama... " Ksatria Pandhawa menambahi "Ya... kita adalah saudara... bukan orang lain ... kita adalah sama" Para Kurawa mengiyakan. Itulah pertemuan Kurawa dan Pandhawa di Siti Hinggil. Selepas itu Para Pandhawa turun ke Palagan dan Para Kurawa berjuang di kadipaten dengan Bangga... Senyum Lebar tersimpul di bibir Pukulun... Pikulun lega... --- In [email protected], "hendraishvara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf kecil) dikumpulkan > di balairung istana oleh Bethara Guru. > Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah biasanya. > Ada kabut membayang di wajah arifnya. > Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan > > Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu akhirnya mengalir juga. > "Anak-anakku warga kurawa ." > > Berhenti sejenak, menghela nafas panjang mengatur kata-kata. > > "Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan para raksasa yang > selalu menganggu ketenteraman dan keamanan negara kita" > > "Siap Sinuwun !!!!" > > Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan mata, karena pada > saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan berbeda, berubah > menjadi bersinar-sinar. > Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi merapat dan wajah- > wajah mengeras. > Dada bergemuruh, darah mengalir kencang. > > "Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang, karena sudah > ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian. > Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi integritas, > kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini. > Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga". > > "Baik Sinuwun !!" > Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah melunak , sedikit kecewa. > > "Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk mendukung Pandhawa. > Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana secepatnya, > karena istana, > senjata, > dan seluruh kereta kencana > akan dipakai warga Pandhawa. > Kalian harus relakan demi memperjuangkan kehormatan, kemakmuran, dan > harga diri bangsa" > > Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi' yang sama sebanyak > dua kali. > > "Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit. > Harga diri bangsa. > Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri bangsa' itu ternyata > rasanya pahit. > > "Baik sinuwun !" (perhatikan `!'-nya berkurang satu persatu) > > "Bahwa.." (agak masygul..) > "Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa di tingkat bawah > harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam pranatan yang baru > tidak memperkenankan jabatan itu lagi". > . > Bukan hanya terasa pahit. > Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada mereka yang hadir. > Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang iga. > Memanggang jantung. > Selaksa nyeri. > Duh...!! > > "Ulun (sebutan diri Sang Bethara) sebenarnya tak sampai hati > menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan Ulun yang harus > menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak berkenan" > > Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu pandang dengan sekian > banyak mata yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya. > > Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara malah kehilangan kata- > kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi sudah diucapkan: > > "Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus segera mengosongkan > istana dalam beberapa hari, agar saudara kalian bisa melaksanakan > tugasnya secepatnya". > > "Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan tugas mulia itu, > kalian sementara berkumpul saja di alun-alun istana Ulun di > kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat bagamana saudara-saudara > kalian berperang". > > "Kalian tunggu saja di sana dan bersabar ya?" > "Nasib kalian akan kita pikirkan kemudian". > > "Baik sinuwun ." > > Sik sik sik ! > > Namanya saja kurawa. Iya-nya duluan. Mikirnya kemudian. Katrok. > > Mereka saling bisik, saling melengkapi informasi yang dimiliki, > karena daya tampung batok kepala mereka memang sedikit. > > Begitu ngerasa cukup ngeh, wajah mereka berubah menjadi tidak puas. > > Suara-suara yang berbisik makin ramai. Mendengung seperti lebah. > Tiba-tiba ada suara lantang menyirapkan suara dengungan. > > "Ijinkan kami berperang, Pukulun !" > Mereka akan nglurug dan tak keberatan berperang ke mana saja. Sama- > sama meninggalkan istana dan tahta, itu terasa jauh lebih terhormat > daripada di usir dari istana karena tak dibutuhkan lagi di sana. > "Tidak mungkin. Kalian sudah uzur". > > "Saya masih muda dan kuat, Pukulun !" > Seorang pemuda tinggi besar bertubuh kekar berwajah idiot menerobos > maju. > "Iya, tapi otakmu sumpeg, mereka (Pandhawa) sudah digembleng dikawah > Candradimuka. Sakti luar dalam" > > "Saya masih muda, kuat, dan sama-sama mengalami sulitnya melewati > Candradimuka, Pukulun!" > Seorang yang lain bertutur kata halus tapi jumawa unjuk bicara. > "Kamu tidak lulus uji nyali" > > "Saya masih muda, sakti luar dalam, tujuh kawah sudah saya > taklukkan, tapi tak diikutkan uji nyali, Pukulun!" > > Seorang berwajah bersih tanpa dosa bak malaikat, bermata tajam, > terlihat cerdas menyampaikan rasa geramnya. > > Seakan tak mau kalah yang lain pun saling menunjukkan keunggulannya. > Suasana jadi tak terkendali. > Suara-suara saling bersahutan beradu keras. > > "Diaaaam !!!!" > Suara Sang Bathara menggelegar > > Para kurawa terhenyak. > Balairung seketika senyap. > Tak ada yang berani bergerak sedikitpun, karena takut akan > menimbulkan suara. > > "Kamu tak bersih lingkungan, hatimu kotor, jiwamu ternoda, nuranimu > tersesat. > Mereka bersih, nuraninya jernih, batinnya luhur, bersedia mati > membela bangsa dan negara. > Pokoknya mereka berbeda. > Kalian mengerti..?!" Suara Sang Bethara meninggi. > > "Sekali lagi kutekankan (lupa akan Ulunnya), ini bukan masalah > pribadi. Tak penting siapa kalian, yang lebih penting adalah, sudah > ada yang ditunjuk melakukannya, yaitu mereka, kesatria Pandhawa. > Mereka sudah melewati segala uji kadigdayan, dan mereka terbukti > mampu mengatasinya, sehingga mereka dianggap bisa mewakili kalian > dalam peperangan" > > "Tugas kalian jelas, mendukung mereka sepenuhnya sehingga bisa > memenangkan perang sebaik-baiknya. > Membantah dan banyak komentar tidak pernah ditugaskan pada kalian. > Paham..?!" > Diam sejenak mengatur nafas. > Tak ada yang menjawab. > > "Jangan kalian pikir ini juga hal yang mudah bagi Ulun. Kalian lihat > sendiri tadi, Ulun kehilangan kata-kata untuk memulai. Titah Ulun > hanya menyampaikan. Semuanya sudah ada yang mengatur, dan itu bukan > Ulun". Tekanan suara Sang Bethara menurun. > > Kurawa-kurawa masih terdiam. Kepala-kepala mereka pelan-pelan > tertunduk. Lidahnya kelu. > > Kesenyapan kembali menyelimuti. > Semuanya membeku dalam alam pikiran masing-masing. > Angin keras menerobs masuk melambai-lambaikan jubah putih Sang > Bathara > Dingin. > Membatu. > > Keheningan dipecahkan oleh suara serak, tercekat: > "Kalau begitu, beri saja kami pekerjaan di istana kadewatan, > Pukulun.. Agar kami merasa berharga > Agar ada sumbangsih kami bagi negara ini, agar kami tak menerima > gaji buta. Walaupun tak banyak gaji buta itu, kami berat > menerimanya". > > Suaranya lemah, nyaris pasrah, hampir berbisik diantara kerumunan > laskar tak berguna itu. > > Wooiii ! Rupanya ada yang punya akal sehat diantara mereka. > > "Nanti kita pikirkan lagi. Saudara-saudara kalian yang lebih dulu di > sini saja msh bnyk yang menganggur. Mau kukasih kerjaan apa kalian?" > > > "Begini saja, kalian akan di sebar ke kadipaten-kadipaten sekitar > sini, agar kalian tak berjubel di sini. Di sana kalian akan > mendapatkan pekerjaan.". > > "Ini tak akan pernah mudah bagi kalian, mereka, juga Ulun sendiri, > tapi kita akan bisa melaluinya asalkan kita masih tetap punya > keyakinan dan satu hati dalam mecapai tujuan." > > "Ingatlah bahwa perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan" > > "Sekarang bubarlah, jangan ada yang nggresula, tetap yakini bahwa > semuanya demi kebaikan kita semua". > "Baik Pukulun ." > > Langit jadi mendung. Matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. > Angin bertiup kencang. Sebentar lagi akan turun hujan yang disertai > badai. > Atau jangan-jangan itu hanya perasaan mereka. > > Tapi begitulah, > Klunuh-klunuh para veteran yang tak pernah berperang itu > meninggalkan balairung. > Untuk beberapa hari ke depan mereka akan tetap berada di lingkungan > kerajaan. > Tapi mereka bisa merasakan bahwa itu tak akan sama lagi. > > Sanjata, wanita, tahta, dan turangga *). > Lambang harga diri seorang kesatria. > Semuanya mesti direlakan untuk ditanggalkan. > Tak ada yang bersisa pada mereka. > Kecuali wanita. > Merekapun tak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada milik mereka > yang masih tersisa itu, bahwa mereka bukan lagi kesatria. > > > Sepanjang jalan kurawa2 meratap : > > Ooo . Sang penguasa, semoga yang mulia menyadari apa yang telah > paduka lakukan pada kami.. > Kami tak sedikit yang mulia. Sepersepuluh hamba setia paduka.. > Kemana kearifan yang mulia sehingga tidak mempertimbangkan dampak > kejiwaan yang harus kami alami seperti ini? > > Sekat antara superior dan inferior saja sudah membuat kami saling > terpisah antara warga kelas satu dan kelas dua. Itu masih tak apa. > Kadang kami cukup tahu diri. > > Tetapi bila kemudian karena superior, mereka berhak mengambil apapun > dari kami. > Salahkah kalau kami menyebutnya suatu arogansi? > > Maaf kalau kami lancang yang mulia, tapi kami manusia, bukan mesin. > Itu tadi hanya perasaan kami yang membedakan kami dengan mesin. > Kalau kami ini memang semacam mesin, kami akan belajar mencamkan itu. > > Saudaraku, Pandhawa > kami tak hendak membencimu, karena kami tahu ini semua bukan > kehendakmu.. > Meski tanpa sadar para pemimpin telah menyemaikan benih-benih itu > di dada kami, > Kami akan pupus itu. > Kami tak akan biarkan benih itu tumbuh. > Kami akan membiarkannya terpapar dan mati. > > Untuk itu saudaraku, > Kalau boleh kami berpesan. > Ikhlas ataupun tidak, kami telah berkorban untuk kalian, sementara > kalian belum melakukan apapun. > > Hargai itu. > > Jadikan itu sesuatu yang berarti. > > Menangkan perang itu untuk kami. > > Demi kehormatan, kemakmuran dan harga diri bangsa ini > > > > > > )*kuda, idiom untuk kemapanan, klangenan, hobby; merupakan simbol > terakhir yang diperjuangkan dalam kehidupan filosofi jawa, selain > fungsi harafiahnya sebagai alat mobilitas, mohon dikoreksi bila salah > > Mohon maaf, beberapa kata dalam tulisan ini tidak saya temukan > translate yang benar-benar pas dalam bahasa Indonesia. >
