Ass Wr Wb

ck ck ck ck ck.....
postingan bagus mas...hati saya sampe terbawa :) saya rasa memang para
petinggi mesti mempertimbangkan dampak kejiwaan yang "mungkin akan
dialami temen temen. tapi seperti di akhir postingan, kita tetep terus
mendukung perubahan yang akan dilakukan

Wass WrWb

--- In [email protected], "hendraishvara"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf kecil) dikumpulkan 
> di balairung istana oleh Bethara Guru. 
> Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah biasanya.
> Ada kabut membayang di wajah arifnya.
> Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan
> 
> Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu akhirnya mengalir juga. 
> "Anak-anakku warga kurawa…."
> 
> Berhenti sejenak, menghela nafas panjang mengatur kata-kata.
> 
> "Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan para raksasa yang 
> selalu menganggu ketenteraman dan keamanan negara kita"
> 
> "Siap Sinuwun…!!!!"
> 
> Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan mata, karena pada 
> saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan berbeda, berubah 
> menjadi bersinar-sinar.
> Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi merapat dan wajah-
> wajah mengeras.
> Dada bergemuruh, darah mengalir kencang.
> 
> "Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang, karena sudah 
> ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian.
> Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi integritas, 
> kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini.
> Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga".
> 
> "Baik Sinuwun…!!"
> Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah melunak…, sedikit kecewa.
> 
> "Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk mendukung Pandhawa. 
> Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana secepatnya, 
> karena istana, 
> senjata, 
> dan seluruh kereta kencana
> akan dipakai warga Pandhawa. 
> Kalian harus relakan demi memperjuangkan kehormatan, kemakmuran, dan 
> harga diri bangsa"
>  
> Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi' yang sama sebanyak 
> dua kali.
> 
> "Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit. 
> Harga diri bangsa. 
> Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri bangsa' itu ternyata 
> rasanya pahit.
> 
> "Baik sinuwun…!" (perhatikan `!'-nya berkurang satu persatu)
> 
> "Bahwa.." (agak masygul..)
> "Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa di tingkat bawah 
> harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam pranatan yang baru 
> tidak memperkenankan jabatan itu lagi".
> ………………….
> Bukan hanya terasa pahit.
> Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada mereka yang hadir. 
> Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang iga.
> Memanggang jantung.
> Selaksa nyeri.
> Duh...!!
> 
> "Ulun (sebutan diri Sang Bethara)  sebenarnya tak sampai hati 
> menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan Ulun yang harus 
> menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak berkenan"
> 
> Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu pandang dengan sekian 
> banyak mata yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
> 
> Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara malah kehilangan kata-
> kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi sudah diucapkan:
> 
> "Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus segera mengosongkan 
> istana dalam beberapa hari,  agar saudara kalian bisa melaksanakan 
> tugasnya secepatnya".
> 
> "Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan tugas mulia itu, 
> kalian sementara berkumpul saja di alun-alun istana Ulun di 
> kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat bagamana saudara-saudara 
> kalian berperang".
> 
> "Kalian tunggu saja di sana dan bersabar ya?"
> "Nasib kalian akan kita pikirkan kemudian".
> 
> "Baik sinuwun…."
> 
> Sik…sik…sik…!
> 
> Namanya saja kurawa. Iya-nya duluan. Mikirnya kemudian. Katrok.
> 
> Mereka saling bisik, saling melengkapi informasi yang dimiliki, 
> karena daya tampung batok kepala mereka memang sedikit. 
> 
> Begitu ngerasa cukup ngeh, wajah mereka berubah menjadi tidak puas.
> 
> Suara-suara yang berbisik makin ramai. Mendengung seperti lebah.
> Tiba-tiba ada suara lantang menyirapkan suara dengungan.
> 
> "Ijinkan kami berperang, Pukulun…!"
> Mereka akan nglurug dan tak keberatan berperang ke mana saja. Sama-
> sama meninggalkan istana dan tahta, itu terasa jauh lebih terhormat 
> daripada  di usir dari istana karena tak dibutuhkan lagi di sana.
> "Tidak mungkin. Kalian sudah uzur".
> 
> "Saya masih muda dan kuat, Pukulun…!"
> Seorang pemuda tinggi besar bertubuh kekar berwajah idiot menerobos 
> maju.
> "Iya, tapi otakmu sumpeg, mereka (Pandhawa) sudah digembleng dikawah 
> Candradimuka. Sakti luar dalam"
> 
> "Saya masih muda, kuat, dan sama-sama mengalami sulitnya melewati 
> Candradimuka, Pukulun!"
> Seorang yang lain bertutur kata halus tapi jumawa unjuk bicara.
> "Kamu tidak lulus uji nyali"
> 
> "Saya masih muda, sakti luar dalam, tujuh kawah sudah saya 
> taklukkan, tapi tak diikutkan uji nyali, Pukulun!"
> 
> Seorang berwajah bersih tanpa dosa bak malaikat, bermata tajam, 
> terlihat cerdas menyampaikan rasa geramnya.
> 
> Seakan tak mau kalah yang lain pun saling menunjukkan keunggulannya.
> Suasana jadi tak terkendali.
> Suara-suara saling bersahutan beradu keras.
> 
> "Diaaaam…!!!!"
> Suara Sang Bathara menggelegar
> 
> Para kurawa terhenyak.
> Balairung seketika senyap.
> Tak ada yang berani bergerak sedikitpun, karena takut akan 
> menimbulkan suara.
> 
> "Kamu tak bersih lingkungan, hatimu kotor, jiwamu ternoda, nuranimu 
> tersesat. 
> Mereka bersih, nuraninya jernih, batinnya luhur, bersedia mati 
> membela bangsa dan negara. 
> Pokoknya mereka berbeda. 
> Kalian mengerti..?!" Suara Sang Bethara meninggi. 
> 
> "Sekali lagi kutekankan (lupa akan Ulunnya), ini bukan masalah 
> pribadi. Tak penting siapa kalian, yang lebih penting adalah, sudah 
> ada yang ditunjuk melakukannya, yaitu mereka, kesatria Pandhawa. 
> Mereka sudah melewati segala uji kadigdayan, dan mereka terbukti 
> mampu mengatasinya, sehingga mereka dianggap bisa mewakili kalian 
> dalam peperangan"
> 
> "Tugas kalian jelas, mendukung mereka sepenuhnya sehingga bisa 
> memenangkan perang sebaik-baiknya. 
> Membantah dan banyak komentar tidak pernah ditugaskan pada kalian. 
> Paham..?!"
> Diam sejenak mengatur nafas.
> Tak ada yang menjawab.
> 
> "Jangan kalian pikir ini juga hal yang mudah bagi Ulun. Kalian lihat 
> sendiri tadi, Ulun kehilangan kata-kata untuk memulai. Titah Ulun 
> hanya menyampaikan. Semuanya sudah ada yang mengatur, dan itu bukan 
> Ulun".  Tekanan suara Sang Bethara menurun.
> 
> Kurawa-kurawa masih terdiam. Kepala-kepala mereka pelan-pelan 
> tertunduk. Lidahnya kelu.
> 
> Kesenyapan kembali menyelimuti.
> Semuanya membeku dalam alam pikiran masing-masing.
> Angin keras menerobs masuk melambai-lambaikan jubah putih Sang 
> Bathara
> Dingin.
> Membatu.
> 
> Keheningan dipecahkan oleh suara serak, tercekat:
> "Kalau begitu, beri saja kami pekerjaan di istana kadewatan, 
> Pukulun.. Agar kami merasa berharga… 
> Agar ada sumbangsih kami bagi negara ini, agar kami tak menerima 
> gaji buta. Walaupun tak banyak gaji buta itu, kami berat 
> menerimanya". 
> 
> Suaranya lemah, nyaris pasrah, hampir berbisik diantara kerumunan 
> laskar tak berguna itu.
> 
> Wooiii…! Rupanya ada yang punya akal sehat diantara mereka.
> 
> "Nanti kita pikirkan lagi. Saudara-saudara kalian yang lebih dulu di 
> sini saja msh bnyk yang menganggur. Mau kukasih kerjaan apa kalian?"
>                                                                      
>                                                                   
> "Begini saja, kalian akan di sebar ke kadipaten-kadipaten  sekitar 
> sini, agar kalian tak berjubel di sini. Di sana kalian akan 
> mendapatkan pekerjaan.".
> 
>  "Ini tak akan pernah mudah bagi kalian, mereka, juga Ulun sendiri, 
> tapi kita akan bisa melaluinya asalkan kita masih tetap punya 
> keyakinan dan satu hati dalam mecapai tujuan."
> 
> "Ingatlah bahwa perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan"
> 
> "Sekarang bubarlah, jangan ada yang nggresula, tetap yakini bahwa 
> semuanya demi kebaikan kita semua".
> "Baik Pukulun…."
> 
> Langit jadi mendung. Matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. 
> Angin bertiup kencang. Sebentar lagi akan turun hujan yang disertai 
> badai.
> Atau jangan-jangan itu hanya perasaan mereka.
> 
> Tapi begitulah,
> Klunuh-klunuh para veteran yang tak pernah berperang itu 
> meninggalkan balairung.
> Untuk beberapa hari ke depan mereka akan tetap berada di lingkungan 
> kerajaan. 
> Tapi mereka bisa merasakan bahwa itu tak akan sama lagi.
> 
> Sanjata, wanita, tahta, dan turangga *). 
> Lambang harga diri seorang kesatria. 
> Semuanya mesti direlakan untuk ditanggalkan.
> Tak ada yang bersisa pada mereka.
> Kecuali wanita.
> Merekapun tak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada milik mereka 
> yang masih tersisa itu, bahwa mereka bukan lagi kesatria.
> 
> 
> Sepanjang jalan kurawa2 meratap :
> 
> Ooo…. Sang penguasa, semoga yang mulia menyadari apa yang telah 
> paduka lakukan pada kami..
> Kami tak sedikit yang mulia. Sepersepuluh hamba setia paduka..
> Kemana kearifan yang mulia sehingga tidak mempertimbangkan dampak 
> kejiwaan yang harus kami alami seperti ini? 
> 
> Sekat antara superior dan inferior saja sudah membuat kami saling 
> terpisah antara warga kelas satu dan kelas dua. Itu masih tak apa. 
> Kadang kami cukup tahu diri.
> 
> Tetapi bila kemudian karena superior, mereka berhak mengambil apapun 
> dari kami.
> Salahkah kalau kami menyebutnya suatu arogansi?
> 
> Maaf kalau kami lancang yang mulia, tapi kami manusia, bukan mesin.
> Itu tadi hanya perasaan kami yang membedakan kami dengan mesin.
> Kalau kami ini memang semacam mesin, kami akan belajar mencamkan itu.
> 
> Saudaraku, Pandhawa…
> kami tak hendak membencimu, karena kami tahu ini semua bukan 
> kehendakmu..
> Meski tanpa sadar para pemimpin telah menyemaikan benih-benih  itu 
> di dada kami,
> Kami akan pupus itu.
> Kami tak akan biarkan benih itu tumbuh.
> Kami akan membiarkannya terpapar dan mati.
> 
> Untuk itu saudaraku,
> Kalau boleh kami berpesan.
> Ikhlas ataupun tidak, kami telah berkorban untuk kalian, sementara 
> kalian belum melakukan apapun.
> 
> Hargai itu. 
> 
> Jadikan itu sesuatu yang berarti.
> 
> Menangkan perang itu untuk kami.
> 
> Demi kehormatan, kemakmuran dan harga diri bangsa ini…
> 
> 
> 
> 
> 
> )*kuda, idiom untuk kemapanan, klangenan, hobby; merupakan simbol 
> terakhir yang diperjuangkan dalam kehidupan filosofi jawa, selain 
> fungsi harafiahnya sebagai alat mobilitas, mohon dikoreksi bila salah
> 
> Mohon maaf, beberapa kata dalam tulisan ini tidak saya temukan 
> translate yang benar-benar pas dalam bahasa Indonesia.
>


Kirim email ke