Good writing bro... Tapi apa nggak kebalik nih pandawa dan kurawanya? Apa nggak mirip episode pandawa kalah maen dadu trus mesti 14 tahun berada di hutan... ? (atau episode ini belom... ini baru episode pandawa diberi indrapsrasta... ) ah serieus pisan...
--- In [email protected], "hendraishvara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Beberapa hari yang lalu warga kurawa (pake huruf kecil) dikumpulkan > di balairung istana oleh Bethara Guru. > Sang Pukulun (Bethara Guru) wajahnya tak secerah biasanya. > Ada kabut membayang di wajah arifnya. > Pasti ada khabar tidak baik hendak tersampaikan > > Betul saja. Kalimat-kalimat yang sulit itu akhirnya mengalir juga. > "Anak-anakku warga kurawa ." > > Berhenti sejenak, menghela nafas panjang mengatur kata-kata. > > "Beberapa saat lagi kita akan beperang dengan para raksasa yang > selalu menganggu ketenteraman dan keamanan negara kita" > > "Siap Sinuwun !!!!" > > Ratusan mata, bukan hanya ratusan, tapi ribuan mata, karena pada > saat itu ada kejadian yang sama di 18 kerajaan berbeda, berubah > menjadi bersinar-sinar. > Otot-otot lengan menegang. Jemari terkepal. Gigi merapat dan wajah- > wajah mengeras. > Dada bergemuruh, darah mengalir kencang. > > "Tetapi kalian (kurawa) tidak bisa ikut perang, karena sudah > ditunjuk Pandhawa untuk mewakili kalian. > Kalian harus mendukung tugas-tugas mereka demi integritas, > kemakmuran, harga diri bangsa dan negara ini. > Demi peningkatan kesejahteraan kalian juga". > > "Baik Sinuwun !!" > Otot-otot lengan mengendur, dan wajah-wajah melunak , sedikit kecewa. > > "Ada hal penting yang harus kalian lakukan untuk mendukung Pandhawa. > Kalian harus berkemas-kemas meninggalkan istana secepatnya, > karena istana, > senjata, > dan seluruh kereta kencana > akan dipakai warga Pandhawa. > Kalian harus relakan demi memperjuangkan kehormatan, kemakmuran, dan > harga diri bangsa" > > Dalam semenit mereka harus mendengarkan `demi' yang sama sebanyak > dua kali. > > "Glek.." Mereka menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit. > Harga diri bangsa. > Mereka tak pernah mengira kalau `harga diri bangsa' itu ternyata > rasanya pahit. > > "Baik sinuwun !" (perhatikan `!'-nya berkurang satu persatu) > > "Bahwa.." (agak masygul..) > "Selain daripada itu, kalian punggawa-punggawa di tingkat bawah > harus melepaskan jabatan kalian, karena dalam pranatan yang baru > tidak memperkenankan jabatan itu lagi". > . > Bukan hanya terasa pahit. > Serasa ada bilah belati menusuk sebagian dada mereka yang hadir. > Menyelinap mendatar, amblas diantara ruas tulang iga. > Memanggang jantung. > Selaksa nyeri. > Duh...!! > > "Ulun (sebutan diri Sang Bethara) sebenarnya tak sampai hati > menyatakan ini pada kalian, mestinya junjungan Ulun yang harus > menyatakan ini, tapi apa boleh buat beliau tidak berkenan" > > Sinuwun menundukkan wajah. Tak sanggup beradu pandang dengan sekian > banyak mata yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya. > > Tak meneruskan kalimatnya, justru Sang Bethara malah kehilangan kata- > kata lagi sehingga mengulang kalimat yang tadi sudah diucapkan: > > "Yang terpenting sekarang adalah, kalian harus segera mengosongkan > istana dalam beberapa hari, agar saudara kalian bisa melaksanakan > tugasnya secepatnya". > > "Untuk memberi mereka tempat dalam menjalankan tugas mulia itu, > kalian sementara berkumpul saja di alun-alun istana Ulun di > kahyangan. Dari sana kalian bisa melihat bagamana saudara-saudara > kalian berperang". > > "Kalian tunggu saja di sana dan bersabar ya?" > "Nasib kalian akan kita pikirkan kemudian". > > "Baik sinuwun ." > > Sik sik sik ! > > Namanya saja kurawa. Iya-nya duluan. Mikirnya kemudian. Katrok. > > Mereka saling bisik, saling melengkapi informasi yang dimiliki, > karena daya tampung batok kepala mereka memang sedikit. > > Begitu ngerasa cukup ngeh, wajah mereka berubah menjadi tidak puas. > > Suara-suara yang berbisik makin ramai. Mendengung seperti lebah. > Tiba-tiba ada suara lantang menyirapkan suara dengungan. > > "Ijinkan kami berperang, Pukulun !" > Mereka akan nglurug dan tak keberatan berperang ke mana saja. Sama- > sama meninggalkan istana dan tahta, itu terasa jauh lebih terhormat > daripada di usir dari istana karena tak dibutuhkan lagi di sana. > "Tidak mungkin. Kalian sudah uzur". > > "Saya masih muda dan kuat, Pukulun !" > Seorang pemuda tinggi besar bertubuh kekar berwajah idiot menerobos > maju. > "Iya, tapi otakmu sumpeg, mereka (Pandhawa) sudah digembleng dikawah > Candradimuka. Sakti luar dalam" > > "Saya masih muda, kuat, dan sama-sama mengalami sulitnya melewati > Candradimuka, Pukulun!" > Seorang yang lain bertutur kata halus tapi jumawa unjuk bicara. > "Kamu tidak lulus uji nyali" > > "Saya masih muda, sakti luar dalam, tujuh kawah sudah saya > taklukkan, tapi tak diikutkan uji nyali, Pukulun!" > > Seorang berwajah bersih tanpa dosa bak malaikat, bermata tajam, > terlihat cerdas menyampaikan rasa geramnya. > > Seakan tak mau kalah yang lain pun saling menunjukkan keunggulannya. > Suasana jadi tak terkendali. > Suara-suara saling bersahutan beradu keras. > > "Diaaaam !!!!" > Suara Sang Bathara menggelegar > > Para kurawa terhenyak. > Balairung seketika senyap. > Tak ada yang berani bergerak sedikitpun, karena takut akan > menimbulkan suara. > > "Kamu tak bersih lingkungan, hatimu kotor, jiwamu ternoda, nuranimu > tersesat. > Mereka bersih, nuraninya jernih, batinnya luhur, bersedia mati > membela bangsa dan negara. > Pokoknya mereka berbeda. > Kalian mengerti..?!" Suara Sang Bethara meninggi. > > "Sekali lagi kutekankan (lupa akan Ulunnya), ini bukan masalah > pribadi. Tak penting siapa kalian, yang lebih penting adalah, sudah > ada yang ditunjuk melakukannya, yaitu mereka, kesatria Pandhawa. > Mereka sudah melewati segala uji kadigdayan, dan mereka terbukti > mampu mengatasinya, sehingga mereka dianggap bisa mewakili kalian > dalam peperangan" > > "Tugas kalian jelas, mendukung mereka sepenuhnya sehingga bisa > memenangkan perang sebaik-baiknya. > Membantah dan banyak komentar tidak pernah ditugaskan pada kalian. > Paham..?!" > Diam sejenak mengatur nafas. > Tak ada yang menjawab. > > "Jangan kalian pikir ini juga hal yang mudah bagi Ulun. Kalian lihat > sendiri tadi, Ulun kehilangan kata-kata untuk memulai. Titah Ulun > hanya menyampaikan. Semuanya sudah ada yang mengatur, dan itu bukan > Ulun". Tekanan suara Sang Bethara menurun. > > Kurawa-kurawa masih terdiam. Kepala-kepala mereka pelan-pelan > tertunduk. Lidahnya kelu. > > Kesenyapan kembali menyelimuti. > Semuanya membeku dalam alam pikiran masing-masing. > Angin keras menerobs masuk melambai-lambaikan jubah putih Sang > Bathara > Dingin. > Membatu. > > Keheningan dipecahkan oleh suara serak, tercekat: > "Kalau begitu, beri saja kami pekerjaan di istana kadewatan, > Pukulun.. Agar kami merasa berharga > Agar ada sumbangsih kami bagi negara ini, agar kami tak menerima > gaji buta. Walaupun tak banyak gaji buta itu, kami berat > menerimanya". > > Suaranya lemah, nyaris pasrah, hampir berbisik diantara kerumunan > laskar tak berguna itu. > > Wooiii ! Rupanya ada yang punya akal sehat diantara mereka. > > "Nanti kita pikirkan lagi. Saudara-saudara kalian yang lebih dulu di > sini saja msh bnyk yang menganggur. Mau kukasih kerjaan apa kalian?" > > > "Begini saja, kalian akan di sebar ke kadipaten-kadipaten sekitar > sini, agar kalian tak berjubel di sini. Di sana kalian akan > mendapatkan pekerjaan.". > > "Ini tak akan pernah mudah bagi kalian, mereka, juga Ulun sendiri, > tapi kita akan bisa melaluinya asalkan kita masih tetap punya > keyakinan dan satu hati dalam mecapai tujuan." > > "Ingatlah bahwa perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan" > > "Sekarang bubarlah, jangan ada yang nggresula, tetap yakini bahwa > semuanya demi kebaikan kita semua". > "Baik Pukulun ." > > Langit jadi mendung. Matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. > Angin bertiup kencang. Sebentar lagi akan turun hujan yang disertai > badai. > Atau jangan-jangan itu hanya perasaan mereka. > > Tapi begitulah, > Klunuh-klunuh para veteran yang tak pernah berperang itu > meninggalkan balairung. > Untuk beberapa hari ke depan mereka akan tetap berada di lingkungan > kerajaan. > Tapi mereka bisa merasakan bahwa itu tak akan sama lagi. > > Sanjata, wanita, tahta, dan turangga *). > Lambang harga diri seorang kesatria. > Semuanya mesti direlakan untuk ditanggalkan. > Tak ada yang bersisa pada mereka. > Kecuali wanita. > Merekapun tak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada milik mereka > yang masih tersisa itu, bahwa mereka bukan lagi kesatria. > > > Sepanjang jalan kurawa2 meratap : > > Ooo . Sang penguasa, semoga yang mulia menyadari apa yang telah > paduka lakukan pada kami.. > Kami tak sedikit yang mulia. Sepersepuluh hamba setia paduka.. > Kemana kearifan yang mulia sehingga tidak mempertimbangkan dampak > kejiwaan yang harus kami alami seperti ini? > > Sekat antara superior dan inferior saja sudah membuat kami saling > terpisah antara warga kelas satu dan kelas dua. Itu masih tak apa. > Kadang kami cukup tahu diri. > > Tetapi bila kemudian karena superior, mereka berhak mengambil apapun > dari kami. > Salahkah kalau kami menyebutnya suatu arogansi? > > Maaf kalau kami lancang yang mulia, tapi kami manusia, bukan mesin. > Itu tadi hanya perasaan kami yang membedakan kami dengan mesin. > Kalau kami ini memang semacam mesin, kami akan belajar mencamkan itu. > > Saudaraku, Pandhawa > kami tak hendak membencimu, karena kami tahu ini semua bukan > kehendakmu.. > Meski tanpa sadar para pemimpin telah menyemaikan benih-benih itu > di dada kami, > Kami akan pupus itu. > Kami tak akan biarkan benih itu tumbuh. > Kami akan membiarkannya terpapar dan mati. > > Untuk itu saudaraku, > Kalau boleh kami berpesan. > Ikhlas ataupun tidak, kami telah berkorban untuk kalian, sementara > kalian belum melakukan apapun. > > Hargai itu. > > Jadikan itu sesuatu yang berarti. > > Menangkan perang itu untuk kami. > > Demi kehormatan, kemakmuran dan harga diri bangsa ini > > > > > > )*kuda, idiom untuk kemapanan, klangenan, hobby; merupakan simbol > terakhir yang diperjuangkan dalam kehidupan filosofi jawa, selain > fungsi harafiahnya sebagai alat mobilitas, mohon dikoreksi bila salah > > Mohon maaf, beberapa kata dalam tulisan ini tidak saya temukan > translate yang benar-benar pas dalam bahasa Indonesia. >
