Pak Djarot ysh,

Memang dunia swasta cukup kreatif menemukan dan menciptakan 'nilai
jual'. Hanya pada umumnya masih dihitung secara 'flat' atau diskrit,
seperti contoh yang dikemukakan Bu Nita di Referensi; sehingga
perhitungan ini sering dipertanyakan konsumen. Sekali pernah saya
berkunjung ke pameran perumahan beberapa tahun yang lalu dan bertemu
stan satu kawasan perumahan di sekitar Karawaci yang menerapkan
perhitungan neraca tanah ini. Dua kapling rumah berdampingan pada suatu
blok bisa memiliki harga yang berbeda, padahal ukuran dan bentuk
bangunan sama. Namun belakangan ini saya kira sudah banyak juga
pengembang yang mulai menerapkan ini dengan variabel yang terbatas dan
sempit, misal: lebar row, jarak ke kapling ruko dan fasos, dst. 'Model
konsep'nya saya kira belum terumuskan sebagai kaidah umum, masih
kira-kira, dan pernah saya himbau di Referensi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5283> . Hal ini
sebenarnya menarik sebagai suatu kajian, untuk diterapkan sebagai
standar. Saya juga diam-diam sedang mencoba membangun model ini, namun
sepertinya kewalahan juga dengan banyaknya variabel yang harus
dipertimbangkan.

Sebagai contoh untuk coba-coba kita ambil kasus berikut: nilai lahan
sebuah rumah di lokasi x yang terletak pada jalan lokal beraspal dengan
row 6 meter adalah Rp 100 juta. Berapa 'pasti'nya nilai lahan tersebut
berubah bila kualitas jalan menjadi hotmix, atau diperlebar menjadi row
9 meter, atau tersedia saluran sewarage terbuka atau tertutup, dst?

Sementara demikian. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Ekadj dan semua sahabat, values tersebut dalam pandangan para
pengembang memang sama dengan terminologi "selling point", seperti yang
pernah saya temukan di tahun 1996 ketika melakukan pengambilan data di
sebuah real estate besar di Jakarta. Mungkin mereka adalah "mbah-nya"
real estate di Indonesia. Mereka sangat senang menggunakan terminologi
selling point itu, sebab memang paradigma jual-beli yang mereka pakai.
Itu sama artinya dengan yang Pak Ekadj maksudkan. Kenapa begitu
terlambat menanganinya ya Pak ?
>
> Salam,
> Djarot
>
> ---------------------
> --- On Sun, 7/20/08, ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> From: ekadj08 [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [perkotaan] Re: Pemanfaatan Ruang (3): Strategi real-estate
menyiasati jarak
> To: [email protected]
> Date: Sunday, July 20, 2008, 10:54 PM
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Risfan ysh,
> Apa yang bapak sampaikan sebenarnya merupakan 'manajemen value' dalam
konteks 'land value'. Saat ini memang baru pihak swasta (: pengembang)
yang mendalami mengenai land value ini, dan sayangnya juga belum
didalami oleh lembaga-lembaga penelitian, institusi pendidikan, dan juga
institusi pemerintah.
> Value itu dapat dikuantifikasi tidak saja berdasarkan lokasi, juga
faktor-faktor lain; seperti yang diungkapkan : kehijauan, kemandirian,
keamanan, dst. Dalam praktek real-estat di Indonesia juga dikembangkan
masalah fengshui, kelengkapan fasilitas, pemandangan, akses, dll.
Seharusnya juga diperhitungkan juga faktor negatifnya, misal: dekat
dengan pembuangan sampah, sutet, genangan banjir, dll. Bila hal ini
dapat 'diukur', sebenarnya dapat dihitung secara exact land value
tersebut; dan kita pun dapat memetakan land value itu untuk kawasan yang
luas. Sayangnya justru pekerjaan ini mulai dikerjakan oleh Depkeu  tanpa
rujukan RTRW.
> Sementara demikian, salam.
> -ekadj
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "risfano" risfano@ wrote:
> >
> >
> > Menyiasati lokasi yang 'jauh'
> >
> >
> >
> > "Location, location, location."
> >
> > Begitulah semboyan dunia real-estate (properti), itu pula yang
> > mempertemukannya dengan dunia planning (PWK). Tulisan ini mencoba
> > memahami cara pengembang menyiasati lokasi.
> >
> >
> >
> > Lokasi yang yang strategis, akses yang tinggi ke berbagai "pusat"
> > pelayanan, dan terutama CBD, temat kerja - menimbulkan nilai lahan
yang
> > tinggi. Implikasinya adalah pada harga tanah di lokasi tersebut.
> >
> >
> >
> > Pengembangan real-estate di Jabodetabek sudah begitu meluas.
Akibatnya,
> > proyek baru umumnya berada di lokasi lebih dari 30 km dari Monas.
D.p.l
> > nilai lokasinya relatif rendah.
> >
> >
> >
> > Maka untuk menyiasati kendala jarak tersebut, diciptakanlah
nilai-nilai
> > lain untuk menarik konsumen. Sebagaimana dilaporkan Kompas
(17-7-2008)
> > antara nilai daya tarik yang diciptakan itu antar lain:
> >
> > * Konsep hijau, yaitu menampilkan citra hijau, pertamanan,
pepohonan,
> > untuk menonjolkan citra kepatuhan pada prinsip sustainable
development.
> > Ini penting karena, pertama, menunjukkan kenyamanan hunian. Kedua,
> > memberikan 'jaminan' kepada investor bahwa investasi jangka panjang
> > mereka di properti akan meningkat nilainya;
> > * Konsep 'kemandirian' . Karena lokasinya jauh dari CBD konvensional
> > di Jakarta, maka diterapkan konsep kota mandiri (self-contained new
> > town) agar semua kebutuhan warga tercukupi. Sehingga calon penghuni
dan
> > investor tidak kuatir, bahkan bisa melupakan faktor jarak. Hanya
dalam
> > kenyataan tempat kerja tidak mengikuti tempat tinggal, sehingga yang
> > terjadi umumnya dormitory town saja. Dengan akibat arus lalu lintas
ke
> > Jakarta kian padat, macet.
> > * Konsep keamanan. Ini menyiratkan kontradiksi. Karena kenyataannya
> > suami istri tempat kerjanya tetap jauh, maka butuh keamanan. Maka
> > lingkungan perumahan saat ini kian syarat sistem keamanan, baik yang
> > sederhana dengan 'portal' dan menambh 'satpam'. Maupun yang
menggunakan
> > teknologi mutakhir, dengan CCTV dst.
> >
> > Hanya, komentar dari ahli, belum semua menerapkan 'kemandirian'
dalam
> > pengelolaan sampah. seharusnya pengembang sudah menerapkan 3R
(reduce,
> > reuse, recycle). Kedua, seharusnya pengembang juga bisa menyerap air
> > hujan hingga 75% misalnya. Itu dengan membangun sumur resapan,
> >
> > Kolam penampung air, sehingga tidak membebani lingkungan lebih luas.
> >
> >
> >
> > Apakah konsep-konsep tersebut berhasil menarik konsumen? Tampaknya
iya.
> > Ini karena nature dari bisnis real estate tampaknya: ketersediaan
lahan
> > terbatas (tetap), sementara yang membutuhkan meningkat terus, karena
> > kohort penduduk dan urbanisasi. Sehingga soalnya tinggal konsumen
pilih
> > lingkungan yang mana, tipe apa, kelas harga berapa.
> >
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Risfan Munir
>


Kirim email ke