dinda ANB sabana tabao jiwa ambo mambaco cerpen iko. tarimo kasih yo atas sharingnyo. On Dec 26, 2012 1:06 PM, "Akmal Nasery BASRAL" <[email protected]> wrote:
> Assalamu'alaikum Wr. Wb sanak palanta RN nan budiman, > hari ko cuplikan Tsunami Aceh 8 tahun silam ditayangkan di sejumlah > saluran TV. (Saat itu ambo sampek pulo ka "ground zero" nan sangaik > menyedihkan) > > Kebetulan tahun iko ambo diundang oleh sebuah komite internasional yang > berpusat di Dortmund, Jerman, untuk berpartisipasi mewakili Indonesia dalam > buku bertema "Project Sunshine for Japan" yang akan diisi oleh para penulis > dari 25 negara. Kenapa disebut PSJ? Karena subyek tulisan menyangkut > "triple disaster" yang dialami Jepang, Maret 2011, khususnya di Fukushima > (hoyak gampo, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir). Penulis boleh memilih > salah satu atau sekaligus ketiga jenis bencana. Ambo mengambil tsunami, dan > menautkan dengan bencana Tsunami Aceh. > > Buku PSJ sendiri akan terbit Maret 2013, dilanjutkan dengan pameran > internasional design poster dan visual art dari karya-karya dalam buku yang > berlangsung sepanjang 2013 dari Dortmund sampai Osaka. Seluruh proyek > bersifat pro-bono, sebagai solidaritas internasional sesama penulis. > > Cerpen asli ambo dalam bahaso Inggris tapi untuk Palanta RN ko (alah > dilewakan pulo di milis Antologi Ranah duo pakan lalu) diterjemahkan ka > dalam bahaso Indonesia. > > Semoga berkenan. > > Wassalam, > > Akmal N. Basral > Cibubur > > ** ** > > Project Sunshine for Japan**** > > ** ** > > ** ** > > *JERIT ANGSA DI LANGIT FUKUSHIMA***** > > Akmal Nasery Basral**** > > **** > > **** > > *Aizu Wakamatsu, 11 Maret 2011***** > > * ***** > > * *MEUTIA sedang berada di dalam ruang kuliahnya yang terletak > di lantai 3 Universitas Aizu ketika dari jendela terlihat sekawanan angsa > terbang ke arah Gunung Ono di Selatan. Tak ada kawannya yang memperhatikan > karena semuanya sedang serius mendengarkan kuliah Profesor Kenzaburo Kan, > pakar rekayasa komputer terkemuka.**** > > Mahasiswi asal Aceh itu melirik arlojinya: 14.30 JST. Sekilas pikirannya > berkelebat. Tidak biasanya angsa-angsa yang memenuhi pantai Danau > Inawashiro itu terbang sebelum musim panas tiba. “Meu-tia Ah-mad * > Su-lee-mang*?” Suara keras Profesor Kan dalam dialek yang kental > membuyarkan lamunannya.**** > > “Ya, *Sensei*,” jawabnya tergagap. Namun panggilan dengan nama lengkap > yang jarang terjadi itu justru lebih dulu membawa kenangan Meutia ke > kampung halamannya beberapa tahun silam.**** > > * ***** > > *Banda Aceh, Februari 2005***** > > **** > > “MEUTIA Ahmad Sulaiman?” **** > > Sepotong suara lelaki melengking mencoba mengalahkan kebisingan di sebuah > barak pengungsi tsunami. “Mohon tenang bapak ibu …” **** > > Suara bising mendadak lenyap. Kepala-kepala mereka berputar > menatap pintu masuk di mana berdiri seorang lelaki Aceh petugas sebuah > lembaga kemanusiaan internasional. Di sampingnya ada lelaki paruh baya > berwajah Oriental dan seorang wanita muda. “Mana Meutia Ahmad Sulaiman?” > **** > > Seorang remaja putri berdiri sambil mengacungkan tangan dengan > wajah bingung. “Saya Meutia,” sahutnya gugup**** > > “Jangan takut, dik. Mari ke sini,” katanya sambil melambaikan > tangan. “Pak Edogawa Rampo dari Kedutaan Jepang mau bicara.”**** > > Meutia melangkah membelah kerumunan pengungsi yang memberinya > jalan, sebelum sampai di depan lelaki Jepang yang mengangguk ramah. > “Edogawa Rampo,” katanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, dan > memberikan isyarat kepada perempuan muda di sampingnya untuk memulai > pembicaraan. Perempuan itu berdehem sebentar sebelum menjelaskan dalam > bahasa Indonesia yang lancar. “Begini dik Meutia. Sebuah keluarga di Jepang > ingin mengadopsi dik Meutia sebagai anak angkat mereka …”**** > > “Mengadopsi saya?” sambar Meutia terkejut. “Tapi saya sebentar > lagi ujian kelas 3 SMP. Tidak mau!”**** > > Perempuan muda itu menerjemahkan perkataan Meutia kepada > Edogawa yang memberikan jawaban dalam bahasa Jepang dan kembali > diterjemahkan sang perempuan. “Ya, Pak Edogawa sudah tahu kisahmu yang > banyak dimuat media massa. Justru kisahmu itu pula yang membuat keluarga > Mishima di Aizu Wakamatsu tertarik untuk mengadopsi. Ini pembicaraan awal > dulu, Meutia. Kamu konsentrasi saja untuk ujian akhirmu. Bagaimana?”**** > > “Tidak mau!” jawab Meutia dengan nada tinggi. “Keluargaku mati > semua di sini. Semuanya. Meutia tak mau pergi ke mana pun, hanya mau di > Aceh.”**** > > **** > > MEUTIA adalah salah seorang *survivor* bencana tsunami yang > menghantam Aceh dan sejumlah negara di Samudera Hindia pada 26 Desember > 2004 setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.2 Skala Richter. Lebih > dari 200.000 jiwa menjadi korban dari amuk ombak laut setinggi 8 meter yang > menyerbu daratan, termasuk mengempaskan sebuah kapal laut seberat 30 ton ke > tengah lingkungan warga tempat Meutia tinggal.**** > > Ayah, ibu, dan tiga adik Meutia tewas dalam bencana dahsyat > itu. Dan nyawa Meutia pun nyaris terpisah dari raganya saat tim penyelamat > menemukannya tersangkut pada salah satu tiang kapal laut. Kisah > penyelamatannya yang dramatis menjadi salah satu berita yang paling sering > disiarkan.**** > > Media jatuh cinta dengan kisah Meutia, apalagi setelah mereka menemukan > fakta bahwa nilai pelajarannya selalu tak pernah di bawah 9, meski > kehidupan orang tuanya yang sangat miskin membuatnya tak bisa memiliki buku > cetak pelajaran. **** > > Kisah tragis Meutia yang ikut dimuat koran *Mainichi Shimbun* menuai > simpati Hiroshi Mishima dan istrinya Harumi yang tinggal Aizu Wakamatsu, > Prefektur Fukushima. Usia dan postur tubuh Meutia yang hampir sebaya dengan > Reiko, anak tunggal mereka yang meninggal lima tahun silam akibat leukemia, > membuat pasangan itu tak berpikir panjang untuk mengadopsi gadis Aceh itu. > Sehingga saat mereka mendapatkan kabar dari Indonesia tentang penolakan > Meutia, Harumi langsung mengajak suaminya ke Banda Aceh menemui langsung > Meutia di barak pengungsi. **** > > Jantung Harumi nyaris berhenti ketika melihat Meutia dari > kejauhan. Meski kulit anak itu jauh lebih hitam dari Reiko, bentuk mata > lebih lebar, serta mengenakan jilbab, namun bentuk bibir, rahang bawah dan > dagunya mirip putri tunggal mereka. Hiroshi pun menyadari kemiripan itu > sehingga dia menggenggam erat tangan istrinya. “Kuatkan perasaanmu. Mungkin > ini memang rencana Tuhan. Kita kehilangan anak, dia kehilangan orang tua.” > Harumi tak menjawab, selain lewat setetes air mata yang meluncur cepat.*** > * > > Serangkaian pembicaraan kemudian terjadi sebelum akhirnya Meutia bersedia > dengan usulan yang disampaikan pasangan Mishima: dia menyelesaikan bangku > SMP di Aceh, sebelum melanjutkan SMA di Jakarta atas bantuan biaya > keluarga Mishima. Selama di Jakarta, Meutia juga akan mengikuti kursus > bahasa Jepang sebagai bekal untuk mengikuti kuliah di Negeri Sakura.**** > > **** > > *Fukushima, 2009***** > > MESKI Meutia berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dengan > baik pada 2008 dan masuk 10 lulusan terbaik tingkat Nasional, namun baru > pada tahun ajaran berikutnya dia terdaftar di Universitas Aizu sebagai > mahasiswi Jurusan Rekayasa dan Ilmu Komputer. **** > > Kedatangannya di Jepang disambut tangis haru Harumi yang memeluknya begitu > erat seperti melihat Reiko hidup kembali. Komunikasi intensif dengan > Harumi sebelum kedatangannya ke Jepang, membuat Meutia tahu penderitaan > Reiko menghadapi leukemia. Dia sudah tak ragu lagi memanggil Harumi dengan > panggilan “*Haha*” (ibu) dan Hiroshi sebagai “*Chichi*” (ayah). “Terima > kasih sudah menjadi orang tua baru bagi saya *Haha* dan *Chichi*,” ujar > Meutia sambil mencium tangan Harumi dan Hiroshi, sebuah kebiasaan anak-anak > Aceh terhadap orang tua mereka, saat mereka bertemu lagi di bandara.**** > > Meutia diberikan kamar Reiko yang sama saat dia masih hidup. Ada foto > besar Reiko di dinding dan sebuah Salib Perak di atasnya. Meutia sempat > terpana melihatnya. “Salib itu akan kami copot, Meutia,” ujar Hiroshi > sambil mengambil sebuah kursi terdekat.**** > > “Oh, jangan. Saya tidak terganggu, *Chichi*,” jawab Meutia sambil menatap > Harumi dan menunjuk jilbab yang dipakainya sendiri. “Tapi karena saya > muslimah, apakah saya boleh shalat di sini?”**** > > “Tentu saja, *anakku*,” jawab Harumi sambil kembali memeluk Meutia dengan > haru. “Sudah lama tak terdengar doa-doa kepada Sang Pencipta dari kamar ini > seperti dulu sering dilakukan Reiko. Kami malah senang sekali jika kau > melakukannya. Kami juga akan menjaga makananmu agar tak tercampur makanan > yang dilarang agama Islam.”**** > > “Terima kasih, *Haha*,” sahut Meutia yang sangat terkesan dengan > toleransi orang tua barunya.**** > > Rumah keluarga Mishima berjarak sekitar 7-8 menit bersepeda dari bibir > danau Inawashiro, di tengah Prefektur Fukushima. Keindahan telaga terbesar > keempat di Jepang yang dijuluki masyarakat sebagai “Danau Cermin Langit” > itu membuat Meutia terpesona. Apalagi setelah dia menyaksikan serombongan > angsa bermigrasi ke pantai di seputaran danau pada musim dingin dan menetap > sampai datangnya musim panas. **** > > Pekik riuh angsa-angsa itu membuat gigil musim dingin yang mencapai - 30 > Celsius > di awal tahun dan menyiksa Meutia yang sebelumnya tak pernah melihat salju > seumur hidupnya, akhirnya bisa melewati musim dingin pertamanya dengan baik. > **** > > Kedatangan musim semi yang menyuburkan pohon-pohon akamatsu (pinus > merah), berkembangnya bunga hollyhock * *(*Alcea rosa*) dan ramai > cericit burung yang mengepung kawasan kuali raksasa berpenghuni 125.000 > warga itu, menjadi keriaans istimewa bagi mata dan telinga Meutia.**** > > Satu ketika Meutia diajak Harumi mengunjungi *rinkaku*, rumah > teh yang berada di bagian bawah kastil atap merah Tsuruga-jo. Di sana > Harumi mengajarkan Meutia upacara minum teh *matcha* yang sudah berusia > ratusan tahun. “Kalau di Aceh tempat asal saya, teh diminum secepat > dibuat, *Haha*,” ujar Meutia sambil mencontohkan tingkah orang kehausan > yang membuat Harumi tergelak. “Kamu ini lucu juga, Cantik,” katanya.**** > > Pada hari lain, Harumi mengajaknya melihat keindahan Taman Oyakuen, yang > juga lokasi makam pemimpin klan utama Aizu dan 19 makam *byakkotai*, > kumpulan samurai muda bunuh diri massal pada Perang Boshin. Meutia sempat > bergidik melihat barisan makam itu sebelum Harumi menenangkannya. “Bukan > mereka yang mati yang menakutkan kita, Meutia, tapi lebih sering dari > mereka yang hidup.” **** > > Saat datang mekar bunga sakura pada pertengahan April, dan > dirayakan seluruh kota dengan festival yang berpusat di Tsuruga-jo > (*Tsuruga-jo > Sakura Matsuri*), hati Meutia meleleh melihat keindahan surgawi itu. > “Terima *Chichi, Haha, *telah mengangkatku sebagai anak di tempat seindah > ini,” katanya dengan airmata kebahagiaan sambil merangkul Hiroshi dan Harumi > **** > > “Justru kami yang bersyukur kepada Tuhan karena telah > mengirimkan seorang pengganti Reiko,” ujar Hiroshi dengan suara bergetar. > “Terima kasih telah mencerahkan hari-hari kami lagi, Meutia.”**** > > **** > > **** > > *Aizu Wakamatsu, 11 Maret 2011***** > > * ***** > > * *MEUTIA melirik arlojinya: 14.45. Kepalanya mendadak pusing > dan perutnya mual. Masih ada 15 menit lagi sebelum Profesor Kan > menyelesaikan sesinya. Semenit kemudian Meutia merasakan lantai bergetar > keras sekali, dan benda-benda di dalam ruangan bergoyang sampai ada > terjatuh.**** > > “Gempa bumi!” teriak spontan mahasiswa.**** > > “Jangan panik,” ujar Profesor Kan. “Lakukan penyelamatan diri > standar.”**** > > Meutia segera mengikuti tindakan mahasiswa lain. Sambil > berlindung dia membuka laptop mencari informasi. Ternyata pusat gempa di > Prefekture Miyagi, Tohoku, dengan kekuatan 9.0 SR. Gempa sebesar itu > mengingatkannya pada kejadian serupa yang mendahului tsunami di Aceh, > Desember 2004. Tsunami yang menewaskan seluruh keluarganya. Semoga > masyarakat di Miyagi tidak …**** > > *Miyagi?***** > > Jantung Meutia berdegup lebih cepat karena teringat orang tua > angkatnya berangkat tadi pagi untuk liburan akhir pekan di salah satu hotel > Oshika Peninsula, Sendai, ibukota Prefektur Miyagi. Diambilnya telepon > seluler untuk mengontak Harumi. *Saluran komunikasi sudah terputus!***** > > Meutia berlari keluar kelas, tak mempedulikan lagi panggilan > teman-temannya agar dia berhati-hati. Dia menuju parkir sepeda, meluncur > menuju rumahnya. Suasana jalan raya kacau balau. Sekilas terdengar oleh > Meutia orang-orang menyebut soal tsunami.**** > > *Tsunami? Astaghfirullah al-‘Adzim, jangan lagi aku mengalami > tragedi yang sama di sini. Tolong ya Tuhan Yang Maha Baik!***** > > Meutia menemukan rumahnya kosong melompong. Hiroshi dan Harumi > tak ditemukan di ruangan mana pun. Meutia menyalakan televisi. Gelombang > tsunami setinggi 10 meter sudah menjilat daratan, mengamuk, merusakkan apa > saja yang ada di depannya. Tak terhambat. Mimpi buruknya *kembali *terjadi. > Wajah Meutia memucat, napasnya terengah-engah. Lalu pingsan.**** > > Saat siuman, Meutia mendapati dirinya terbaring lunglai di RS > Aizu. Tak ada Harumi dan Hiroshi. Suasana RS kacau balau dengan banyaknya > korban gempa bumi dan tsunami. Televisi tak henti-hentinya menyiarkan > tragedi yang menghancurkan Fukushima. Sehari kemudian dua orang staf > Universitas Aizu menjenguknya, memberi kabar bahwa Harumi dan Hiroshi > Mishima ditemukan sebagai dua dari sekitar seribu korban meninggal. Meutia > kembali pingsan dan merasakan tubuhnya terdampar di tepi danau Inawashiro. > **** > > Dalam mimpinya yang dipenuhi warna kelam, Meutia melihat > angsa-angsa danau Inawashiro memekik-mekik ketakutan di tengah badai petir > yang memecut-mecut dari angkasa. Lalu langit terbelah, satu persatu angsa > terhisap naik, melayang menuju cakrawala. **** > > Rangkaian petir yang menyambar dan menerangi semesta menampakkan dengan > jelas wajah delapan angsa di mata Meutia: orang tua kandung dan tiga > adiknya, kedua orangtua angkatnya dan anak mereka Reiko Mishima. Reiko > tersenyum seperti dalam fotonya yang terpampang di kamar tidur. Meutia > ingin menjerit namun tak ada suaranya yang keluar. Samar-samar justru > terdengar olehnya perkataan Harumi, “Jangan bersedih untuk kami, Meutia. > Sebab, bukan mereka yang mati yang menakutkan, tapi justru mereka yang > hidup. Jaga dirimu baik-baik, anakku. Kamu harus terus melangkah. Jangan > biarkan kesedihan menghentikan usahamu meraih mimpi.”**** > > **** > > *Desember 2012***** > > * ***** > > *Akmal Nasery Basral *is Indonesian novelist, scriptwriter, columnist, > and lecturer for “Fiction Writing” in ALINEA Academy, Jakarta (Managed by > Association of Indonesian Publishers). His historical novel “*The > Enlightener*” (“Sang Pencerah”, about the life and struggle of KH Ahmad > Dahlan, founder of Islamic second largest organization Muhammadiyah, also a > blockbuster movie with the same title) was crowned as The Best Fiction in > Islamic Book Fair 2011.**** > > **** > > __._,_.___ > Reply via web > post<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/post;_ylc=X3oDMTJwN25waGNlBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMyNjgEc2VjA2Z0cgRzbGsDcnBseQRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4?act=reply&messageNum=268> > Reply > to sender > <[email protected]?subject=RE%3A%20%5Bantologiranah%5D%20Fresh%20from%20the%20oven%3A%20Project%20Sunshine%20for%20Japan> > Reply > to group > <[email protected]?subject=RE%3A%20%5Bantologiranah%5D%20Fresh%20from%20the%20oven%3A%20Project%20Sunshine%20for%20Japan> > Start > a New > Topic<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/post;_ylc=X3oDMTJmdDk4NTlwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEzNTU0NjY5OTg-> > Messages > in this > topic<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/message/267;_ylc=X3oDMTMza3UzaHA2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMyNjgEc2VjA2Z0cgRzbGsDdnRwYwRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4BHRwY0lkAzI2Nw-->(2) > Recent Activity: > > - New > Members<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/members;_ylc=X3oDMTJnYXM4dGxoBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4?o=6> > 10 > - New > Files<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/files;_ylc=X3oDMTJobXBiMHRnBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2ZmlsZXMEc3RpbWUDMTM1NTQ2Njk5OA--> > 3 > > Visit Your > Group<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah;_ylc=X3oDMTJmODVmOGNuBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzEzNTU0NjY5OTg-> > [image: Yahoo! > Groups]<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlZnYwZmZiBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTM1NTQ2Njk5OA--> > Switch to: > Text-Only<[email protected]?subject=Change+Delivery+Format:+Traditional>, > Daily > Digest<[email protected]?subject=Email+Delivery:+Digest>• > Unsubscribe<[email protected]?subject=Unsubscribe>• > Terms > of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/> • Send us Feedback > <[email protected]?subject=Feedback+on+the+redesigned+individual+mail+v1> > . > > __,_._,___ > > -- > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
