dinda ANB sabana tabao jiwa ambo mambaco cerpen iko. tarimo kasih yo atas
sharingnyo.
On Dec 26, 2012 1:06 PM, "Akmal Nasery BASRAL" <[email protected]>
wrote:

> Assalamu'alaikum Wr. Wb sanak palanta RN nan budiman,
> hari ko cuplikan Tsunami Aceh 8 tahun silam ditayangkan di sejumlah
> saluran TV. (Saat itu ambo sampek pulo ka "ground zero" nan sangaik
> menyedihkan)
>
> Kebetulan tahun iko ambo diundang oleh sebuah komite internasional yang
> berpusat di Dortmund, Jerman, untuk berpartisipasi mewakili Indonesia dalam
> buku bertema "Project Sunshine for Japan" yang akan diisi oleh para penulis
> dari 25 negara. Kenapa disebut PSJ? Karena subyek tulisan  menyangkut
> "triple disaster" yang dialami Jepang, Maret 2011, khususnya di Fukushima
> (hoyak gampo, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir). Penulis boleh memilih
> salah satu atau sekaligus ketiga jenis bencana. Ambo mengambil tsunami, dan
> menautkan dengan bencana Tsunami Aceh.
>
> Buku PSJ  sendiri akan terbit Maret 2013, dilanjutkan dengan pameran
> internasional design poster dan visual art dari karya-karya dalam buku yang
> berlangsung sepanjang 2013 dari Dortmund sampai Osaka. Seluruh proyek
> bersifat pro-bono, sebagai solidaritas internasional sesama penulis.
>
> Cerpen asli ambo dalam bahaso Inggris tapi untuk Palanta RN ko (alah
> dilewakan pulo di milis Antologi Ranah duo pakan lalu) diterjemahkan ka
> dalam bahaso Indonesia.
>
> Semoga berkenan.
>
> Wassalam,
>
> Akmal N. Basral
> Cibubur
>
> ** **
>
> Project Sunshine for Japan****
>
> ** **
>
> ** **
>
> *JERIT ANGSA DI LANGIT FUKUSHIMA*****
>
> Akmal Nasery Basral****
>
>  ****
>
>  ****
>
> *Aizu Wakamatsu,  11 Maret 2011*****
>
> * *****
>
> *            *MEUTIA sedang berada di dalam ruang kuliahnya yang terletak
> di lantai 3 Universitas Aizu ketika dari jendela terlihat sekawanan angsa
> terbang ke arah Gunung Ono di Selatan.  Tak ada kawannya yang memperhatikan
> karena semuanya  sedang serius mendengarkan kuliah Profesor Kenzaburo Kan,
> pakar rekayasa komputer terkemuka.****
>
> Mahasiswi asal Aceh itu melirik arlojinya: 14.30 JST. Sekilas pikirannya
> berkelebat. Tidak biasanya angsa-angsa yang memenuhi pantai Danau
> Inawashiro itu terbang sebelum musim panas tiba. “Meu-tia Ah-mad *
> Su-lee-mang*?” Suara keras Profesor Kan dalam dialek yang kental
> membuyarkan lamunannya.****
>
> “Ya, *Sensei*,” jawabnya tergagap.  Namun panggilan dengan nama lengkap
> yang jarang terjadi itu justru lebih dulu membawa kenangan Meutia ke
> kampung halamannya beberapa tahun silam.****
>
> * *****
>
> *Banda Aceh,  Februari 2005*****
>
>  ****
>
>             “MEUTIA Ahmad Sulaiman?” ****
>
> Sepotong suara lelaki melengking mencoba mengalahkan kebisingan di sebuah
> barak pengungsi tsunami. “Mohon tenang bapak ibu …” ****
>
>             Suara bising mendadak lenyap. Kepala-kepala mereka berputar
> menatap pintu masuk di mana berdiri seorang lelaki Aceh petugas sebuah
> lembaga kemanusiaan internasional. Di sampingnya ada lelaki paruh baya
> berwajah Oriental dan seorang wanita muda.  “Mana Meutia Ahmad Sulaiman?”
> ****
>
>             Seorang remaja putri berdiri sambil mengacungkan tangan dengan
> wajah bingung. “Saya Meutia,” sahutnya gugup****
>
>             “Jangan takut, dik. Mari ke sini,” katanya sambil melambaikan
> tangan.  “Pak Edogawa Rampo dari Kedutaan Jepang mau bicara.”****
>
>             Meutia melangkah membelah kerumunan pengungsi yang memberinya
> jalan,  sebelum sampai di depan lelaki Jepang yang mengangguk ramah.
> “Edogawa Rampo,” katanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, dan
> memberikan isyarat kepada perempuan muda di sampingnya untuk memulai
> pembicaraan. Perempuan itu berdehem sebentar sebelum menjelaskan dalam
> bahasa Indonesia yang lancar. “Begini dik Meutia. Sebuah keluarga di Jepang
> ingin mengadopsi dik Meutia sebagai anak angkat mereka …”****
>
>             “Mengadopsi saya?” sambar Meutia terkejut. “Tapi saya sebentar
> lagi ujian kelas 3 SMP. Tidak mau!”****
>
>             Perempuan muda itu menerjemahkan perkataan Meutia kepada
> Edogawa yang memberikan jawaban dalam bahasa Jepang dan kembali
> diterjemahkan sang perempuan. “Ya, Pak Edogawa sudah tahu kisahmu yang
> banyak dimuat media massa. Justru kisahmu itu pula yang membuat keluarga
> Mishima di Aizu Wakamatsu tertarik untuk mengadopsi. Ini pembicaraan awal
> dulu, Meutia. Kamu konsentrasi saja untuk ujian akhirmu. Bagaimana?”****
>
>             “Tidak mau!” jawab Meutia dengan nada tinggi. “Keluargaku mati
> semua di sini. Semuanya. Meutia tak mau pergi ke mana pun, hanya mau di
> Aceh.”****
>
>             ****
>
>             MEUTIA adalah salah seorang *survivor* bencana tsunami yang
> menghantam Aceh dan sejumlah negara di Samudera Hindia pada 26 Desember
> 2004 setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.2 Skala Richter. Lebih
> dari 200.000 jiwa menjadi korban dari amuk ombak laut setinggi 8 meter yang
> menyerbu daratan, termasuk mengempaskan sebuah kapal laut seberat 30 ton ke
> tengah lingkungan warga tempat Meutia tinggal.****
>
>             Ayah, ibu, dan tiga adik Meutia tewas dalam bencana dahsyat
> itu. Dan nyawa Meutia pun nyaris terpisah dari raganya saat tim penyelamat
> menemukannya tersangkut pada salah satu tiang kapal laut.  Kisah
> penyelamatannya yang dramatis menjadi salah satu berita yang paling sering
> disiarkan.****
>
> Media jatuh cinta dengan kisah Meutia, apalagi setelah mereka menemukan
> fakta bahwa nilai pelajarannya selalu tak pernah di bawah 9, meski
> kehidupan orang tuanya yang sangat miskin membuatnya tak bisa memiliki buku
> cetak pelajaran.  ****
>
> Kisah tragis Meutia yang ikut dimuat koran *Mainichi Shimbun* menuai
> simpati Hiroshi Mishima dan istrinya  Harumi yang tinggal Aizu Wakamatsu,
> Prefektur Fukushima. Usia dan postur tubuh Meutia yang hampir sebaya dengan
> Reiko, anak tunggal mereka yang meninggal lima tahun silam akibat leukemia,
> membuat pasangan itu tak berpikir panjang untuk mengadopsi gadis Aceh itu.
> Sehingga saat mereka mendapatkan kabar dari Indonesia tentang penolakan
> Meutia, Harumi langsung mengajak suaminya ke Banda Aceh menemui langsung
> Meutia di barak pengungsi.  ****
>
>             Jantung Harumi nyaris berhenti ketika melihat Meutia dari
> kejauhan.  Meski kulit anak itu jauh lebih hitam dari Reiko, bentuk mata
> lebih lebar, serta mengenakan jilbab, namun bentuk bibir, rahang bawah dan
> dagunya mirip putri tunggal mereka. Hiroshi pun menyadari kemiripan itu
> sehingga dia menggenggam erat tangan istrinya. “Kuatkan perasaanmu. Mungkin
> ini memang rencana Tuhan. Kita kehilangan anak, dia kehilangan orang tua.”
> Harumi tak menjawab, selain lewat setetes air mata yang meluncur cepat.***
> *
>
> Serangkaian pembicaraan kemudian terjadi sebelum akhirnya Meutia  bersedia
> dengan usulan yang disampaikan pasangan Mishima: dia menyelesaikan bangku
> SMP di Aceh, sebelum  melanjutkan SMA di Jakarta atas bantuan biaya
> keluarga Mishima. Selama di Jakarta, Meutia juga akan mengikuti kursus
> bahasa Jepang sebagai bekal untuk mengikuti kuliah di Negeri Sakura.****
>
>  ****
>
> *Fukushima, 2009*****
>
>             MESKI  Meutia berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dengan
> baik pada 2008 dan masuk 10 lulusan terbaik tingkat Nasional, namun baru
> pada tahun ajaran berikutnya dia terdaftar di Universitas Aizu sebagai
> mahasiswi Jurusan Rekayasa dan Ilmu Komputer.  ****
>
> Kedatangannya di Jepang disambut tangis haru Harumi yang memeluknya begitu
> erat seperti melihat Reiko hidup kembali.  Komunikasi intensif dengan
> Harumi sebelum kedatangannya ke Jepang, membuat Meutia tahu penderitaan
> Reiko  menghadapi leukemia. Dia sudah tak ragu lagi memanggil Harumi dengan
> panggilan “*Haha*” (ibu) dan Hiroshi sebagai “*Chichi*” (ayah).  “Terima
> kasih sudah menjadi orang tua baru bagi saya  *Haha* dan *Chichi*,” ujar
> Meutia sambil mencium tangan Harumi dan Hiroshi, sebuah kebiasaan anak-anak
> Aceh terhadap orang tua mereka, saat mereka bertemu lagi di bandara.****
>
> Meutia diberikan kamar Reiko yang sama saat dia masih hidup. Ada foto
> besar Reiko di dinding dan sebuah Salib Perak di atasnya. Meutia sempat
> terpana melihatnya. “Salib itu akan kami copot, Meutia,” ujar Hiroshi
> sambil mengambil sebuah kursi terdekat.****
>
> “Oh, jangan. Saya tidak terganggu, *Chichi*,” jawab Meutia sambil menatap
> Harumi dan menunjuk jilbab yang dipakainya sendiri. “Tapi karena saya
> muslimah, apakah saya boleh shalat di sini?”****
>
> “Tentu saja, *anakku*,” jawab Harumi sambil kembali memeluk Meutia dengan
> haru. “Sudah lama tak terdengar doa-doa kepada Sang Pencipta dari kamar ini
> seperti dulu sering dilakukan Reiko. Kami malah senang sekali jika kau
> melakukannya. Kami juga akan menjaga makananmu agar tak tercampur makanan
> yang dilarang agama Islam.”****
>
> “Terima kasih, *Haha*,” sahut Meutia yang sangat terkesan dengan
> toleransi orang tua barunya.****
>
> Rumah keluarga Mishima berjarak  sekitar 7-8 menit bersepeda dari bibir
> danau Inawashiro, di tengah Prefektur Fukushima. Keindahan telaga terbesar
> keempat di Jepang yang dijuluki masyarakat sebagai “Danau Cermin Langit”
> itu membuat Meutia terpesona. Apalagi setelah dia menyaksikan serombongan
> angsa bermigrasi ke pantai di seputaran danau pada musim dingin dan menetap
> sampai datangnya musim panas. ****
>
> Pekik riuh angsa-angsa itu membuat gigil musim dingin yang mencapai - 30 
> Celsius
> di awal tahun dan menyiksa Meutia yang sebelumnya tak pernah melihat salju
> seumur hidupnya, akhirnya bisa melewati musim dingin pertamanya dengan baik.
> ****
>
> Kedatangan musim semi yang menyuburkan pohon-pohon akamatsu (pinus
> merah),  berkembangnya  bunga hollyhock * *(*Alcea rosa*) dan ramai
> cericit burung yang mengepung kawasan kuali raksasa berpenghuni 125.000
> warga itu, menjadi keriaans istimewa bagi mata dan telinga Meutia.****
>
>             Satu ketika Meutia diajak Harumi mengunjungi *rinkaku*, rumah
> teh yang berada di bagian bawah kastil atap merah Tsuruga-jo. Di sana
> Harumi mengajarkan Meutia upacara minum teh *matcha* yang sudah berusia
> ratusan tahun.  “Kalau di Aceh tempat asal saya, teh diminum secepat
> dibuat, *Haha*,” ujar Meutia sambil mencontohkan tingkah orang kehausan
> yang membuat Harumi tergelak. “Kamu ini lucu juga, Cantik,” katanya.****
>
> Pada hari lain, Harumi mengajaknya melihat keindahan Taman Oyakuen, yang
> juga lokasi makam pemimpin klan utama Aizu dan 19 makam *byakkotai*,
> kumpulan samurai muda bunuh diri massal pada Perang Boshin.  Meutia sempat
> bergidik melihat barisan makam itu sebelum Harumi menenangkannya. “Bukan
> mereka yang mati yang menakutkan kita, Meutia, tapi lebih sering dari
> mereka yang hidup.” ****
>
>             Saat datang mekar bunga sakura pada pertengahan April, dan
> dirayakan seluruh kota dengan festival yang berpusat di Tsuruga-jo 
> (*Tsuruga-jo
> Sakura Matsuri*), hati Meutia meleleh melihat keindahan surgawi itu.
> “Terima *Chichi, Haha, *telah mengangkatku sebagai anak di tempat seindah
> ini,” katanya dengan airmata kebahagiaan sambil merangkul Hiroshi dan Harumi
> ****
>
>             “Justru kami yang bersyukur kepada Tuhan karena telah
> mengirimkan seorang pengganti Reiko,” ujar Hiroshi dengan suara bergetar.
> “Terima kasih telah mencerahkan hari-hari kami lagi, Meutia.”****
>
>  ****
>
>  ****
>
> *Aizu Wakamatsu,  11 Maret 2011*****
>
> * *****
>
> *            *MEUTIA melirik arlojinya: 14.45. Kepalanya mendadak pusing
> dan perutnya mual. Masih ada 15 menit lagi sebelum Profesor Kan
> menyelesaikan sesinya. Semenit kemudian Meutia merasakan lantai bergetar
> keras sekali, dan benda-benda di dalam ruangan bergoyang sampai  ada
> terjatuh.****
>
>             “Gempa bumi!” teriak spontan mahasiswa.****
>
>             “Jangan panik,” ujar Profesor Kan. “Lakukan penyelamatan diri
> standar.”****
>
>              Meutia segera mengikuti tindakan mahasiswa lain. Sambil
> berlindung dia membuka laptop mencari informasi. Ternyata pusat gempa di
> Prefekture Miyagi, Tohoku, dengan kekuatan 9.0 SR. Gempa sebesar itu
> mengingatkannya pada kejadian serupa yang mendahului tsunami di Aceh,
> Desember 2004. Tsunami yang menewaskan seluruh keluarganya. Semoga
> masyarakat di Miyagi tidak …****
>
>             *Miyagi?*****
>
>             Jantung Meutia berdegup lebih cepat karena teringat orang tua
> angkatnya berangkat tadi pagi untuk liburan akhir pekan di salah satu hotel
> Oshika Peninsula, Sendai, ibukota Prefektur Miyagi. Diambilnya telepon
> seluler untuk mengontak Harumi.  *Saluran komunikasi sudah terputus!*****
>
>             Meutia berlari keluar kelas, tak mempedulikan lagi panggilan
> teman-temannya agar dia berhati-hati. Dia menuju parkir sepeda, meluncur
> menuju rumahnya.  Suasana jalan raya kacau balau. Sekilas terdengar oleh
> Meutia orang-orang menyebut soal tsunami.****
>
>             *Tsunami? Astaghfirullah al-‘Adzim, jangan lagi aku mengalami
> tragedi yang sama di sini. Tolong ya Tuhan Yang Maha Baik!*****
>
>             Meutia menemukan rumahnya kosong melompong. Hiroshi dan Harumi
> tak ditemukan di ruangan mana pun. Meutia  menyalakan televisi. Gelombang
> tsunami setinggi 10 meter sudah menjilat daratan, mengamuk, merusakkan apa
> saja yang ada di depannya. Tak terhambat.  Mimpi buruknya *kembali *terjadi.
> Wajah Meutia memucat, napasnya terengah-engah.  Lalu pingsan.****
>
>             Saat siuman, Meutia mendapati dirinya terbaring lunglai di RS
> Aizu.  Tak ada Harumi dan Hiroshi. Suasana RS kacau balau dengan banyaknya
> korban gempa bumi dan tsunami. Televisi tak henti-hentinya menyiarkan
> tragedi yang menghancurkan Fukushima. Sehari kemudian dua orang staf
> Universitas Aizu menjenguknya, memberi kabar bahwa Harumi dan Hiroshi
> Mishima ditemukan sebagai dua dari sekitar seribu korban meninggal. Meutia
> kembali pingsan dan merasakan tubuhnya terdampar di tepi danau Inawashiro.
> ****
>
>             Dalam mimpinya yang dipenuhi warna kelam, Meutia melihat
> angsa-angsa danau Inawashiro memekik-mekik ketakutan di tengah badai petir
> yang memecut-mecut dari angkasa.  Lalu langit terbelah, satu persatu angsa
> terhisap naik, melayang menuju cakrawala. ****
>
> Rangkaian petir yang menyambar dan menerangi semesta menampakkan dengan
> jelas wajah delapan angsa di mata Meutia: orang tua kandung dan tiga
> adiknya, kedua orangtua angkatnya  dan anak mereka Reiko Mishima. Reiko
> tersenyum seperti dalam fotonya yang terpampang di kamar tidur. Meutia
> ingin menjerit namun tak ada suaranya yang keluar. Samar-samar justru
> terdengar olehnya perkataan Harumi, “Jangan bersedih untuk kami, Meutia.
> Sebab, bukan mereka yang mati yang menakutkan, tapi justru mereka yang
> hidup. Jaga dirimu baik-baik, anakku. Kamu harus terus melangkah.  Jangan
> biarkan kesedihan menghentikan usahamu meraih mimpi.”****
>
>  ****
>
> *Desember 2012*****
>
> * *****
>
> *Akmal Nasery Basral *is Indonesian novelist, scriptwriter, columnist,
> and lecturer for “Fiction Writing” in ALINEA Academy, Jakarta (Managed by
> Association of Indonesian Publishers). His historical novel “*The
> Enlightener*” (“Sang Pencerah”, about the life and struggle of KH Ahmad
> Dahlan, founder of Islamic second largest organization Muhammadiyah, also a
> blockbuster movie with the same title) was crowned as The Best Fiction in
> Islamic Book Fair 2011.****
>
> ****
>
>  __._,_.___
>   Reply via web 
> post<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/post;_ylc=X3oDMTJwN25waGNlBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMyNjgEc2VjA2Z0cgRzbGsDcnBseQRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4?act=reply&messageNum=268>
>   Reply
> to sender
> <[email protected]?subject=RE%3A%20%5Bantologiranah%5D%20Fresh%20from%20the%20oven%3A%20Project%20Sunshine%20for%20Japan>
>   Reply
> to group
> <[email protected]?subject=RE%3A%20%5Bantologiranah%5D%20Fresh%20from%20the%20oven%3A%20Project%20Sunshine%20for%20Japan>
>   Start
> a New 
> Topic<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/post;_ylc=X3oDMTJmdDk4NTlwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEzNTU0NjY5OTg->
>   Messages
> in this 
> topic<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/message/267;_ylc=X3oDMTMza3UzaHA2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRtc2dJZAMyNjgEc2VjA2Z0cgRzbGsDdnRwYwRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4BHRwY0lkAzI2Nw-->(2)
> Recent Activity:
>
>    - New 
> Members<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/members;_ylc=X3oDMTJnYXM4dGxoBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMzU1NDY2OTk4?o=6>
>    10
>    - New 
> Files<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah/files;_ylc=X3oDMTJobXBiMHRnBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2ZmlsZXMEc3RpbWUDMTM1NTQ2Njk5OA-->
>    3
>
>  Visit Your 
> Group<http://groups.yahoo.com/group/antologiranah;_ylc=X3oDMTJmODVmOGNuBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzEzNTU0NjY5OTg->
>  [image: Yahoo! 
> Groups]<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlZnYwZmZiBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzg2OTAxOTMwBGdycHNwSWQDMTcwNTMyOTcyOQRzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTM1NTQ2Njk5OA-->
> Switch to: 
> Text-Only<[email protected]?subject=Change+Delivery+Format:+Traditional>,
> Daily 
> Digest<[email protected]?subject=Email+Delivery:+Digest>•
> Unsubscribe<[email protected]?subject=Unsubscribe>• 
> Terms
> of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/> • Send us Feedback
> <[email protected]?subject=Feedback+on+the+redesigned+individual+mail+v1>
>    .
>
> __,_._,___
>
>  --
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>
>
>

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke