Mamak ambo, luar biasa tulisan mamak, raso ikuik dan larut ambo jo kisah ko.

Ambo tunggu kelanjutan carito mamak.

Mokasih mamak, smg manjadio amal bagi mamak.

Salam

Elthaf


On 12/26/12, Muhammad Dafiq Saib <[email protected]> wrote:
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Di hari nan agak istimewa ko taragak sajo hati manayangkan ulang carito duo
> tahun nan lapeh ko.....
>
>
> MISIONARIS
>
> Wanita muda itu ber-sirobok[1] pandang lagi denganku. Ini adalah yang ke
> empat kali, kalau aku tidak salah,
> kami bertemu di dalam metro[2] ini. Kali ini dia duduk di bangku diagonal
> berseberangan denganku. Sepertinya
> dia tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Melihat wanita yang
> warna kulitnya sama denganku memang menyuruhku untuk terlihat ramah
> kepadanya.
> Ingin juga aku menyapanya sekedar berbasa basi, tapi tentu tidak mungkin
> kulakukan dari jarak sejauh ini.
>
> Ketika metro mendekati pemberhentian Lourmel, aku
> segera berdiri dari tempat dudukku dan memutar tubuhku menuju ke arah
> pintu,
> membelakangi wanita muda itu. Aku bergegas turun. Di luar gerbong metro
> udara terasa dingin sekali. Aku melilitkan syal ke leher dan menutupi
> sebahagian telinga. Aku melangkah cepat menuju keluar, menuju ke tempat
> tinggalku di rue de Lourmel[3].Orang berduyun-duyun menaiki tangga
> untuk menyembul dari stasiun bawah tanah. Semua kedinginan. Semua
> tergopoh-gopoh. Memang begitu caranya di sini. Di Paris ini.
>
> Lamat-lamat aku mendengar orang memanggil ‘Monsieur[4]!
> – Monsieur!’di belakangku. Tentu saja aku tidak
> menyangka bahwa panggilan itu ditujukan kepadaku, di tengah kerumunan
> sebegitu
> banyak orang. Sampai akhirnya si pemanggil itu menepuk pundakku. Aku
> menoleh
> dan ternyata si wanita muda di metro tadi. Dia berdua dengan seorang wanita
> lain berkulit putih.
>
> ‘Oui[5]?!’
> kataku dengan pandangan setengah tidak percaya.
>
> ‘Bolehkah kami minta waktu anda sebentar?’ tanyanya dengan
> bahasa Prancis yang fasih.
>
> Sok benar wanita ini, pikirku dalam hati. Atau mungkin dia
> menjaga hati temannya yang wanita kulit putih itu sehingga dia berbahasa
> Perancis kepadaku? Ah, sesuka hatinyalah.
>
> ‘Ada apa? Apa yang bisa saya perbuat untuk anda?’ jawabku
> berbasa basi.
>
> Tanganku seperti beku kedinginan. Aku meremas-remaskan kedua
> telapak tanganku menahan dingin. Di sebuah toko di depan sana terpampang
> pada
> sebuah running text informasi temperatur saat itu; satu derajad
> celcius.
>
> ‘Maukah anda kami ajak minum kopi di café itu? Disana
> kita berbicara sebentar? Disini dingin sekali,’ katanya. Mungkin
> memperhatikan
> keadaanku yang ‘mati’ kedinginan.
>
> ‘Kalian mau berbicara apa?’ tanyaku sambil setengah melotot
> kepada wanita muda berparas Solo itu.
>
> ‘Ayolah kita ke café itu,’ ajaknya lagi.
>
> Aku menurut sambil bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan
> wanita muda ini sedang ada masalah dengan wanita kulit putih itu lalu ingin
> meminta bantuanku. Kami masuki café itu dan mengambil tempat duduk di
> bagian dalam. Wanita muda itu memesan tiga cangkir kopi.
>
> ‘Maaf, kalau kami mengganggu anda. Kami ingin berkenalan
> dengan anda,’ katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
>
> ‘Anda orang Indonesia, kan? Kenapa dari tadi berbahasa
> Perancis terus? Ada apa sebenarnya?’ tanyaku dalam bahasa Indonesia.
>
> Dia mengangkat alis matanya dan tersenyum.
>
> ‘Anda berbicara kepada saya?’ tanyanya lagi dalam bahasa
> Perancis.
>
> ‘Ya,’ kataku. ‘Anda bukan orang Indonesia?’ tambahku lagi.
>
> ‘Ah…. Bukan. Tentu anda mengira saya orang Indonesia,’
> katanya tersenyum.
>
> ‘Anda……… orang Pilipina?’
>
> ‘Non plus[6]……
> Saya orang Madagaskar katanya.’
>
> Aku terperangah. Aku langsung ingat guru sejarah di SMA dulu
> yang bercerita bahwa, ‘nenek moyangku orang pelaut, menempuh badai tiada
> takut,’ lalu nenek moyang kita itu berhanyut-hanyut sampai ke Madagaskar
> dengan
> rakit pohon kelapa. Inilah bukti keterangan sejarah pak guruku itu. Sekarang
> di
> depan mataku. Wanita muda yang aku sangka orang Solo, ternyata adalah orang
> Madagaskar.
>
> ‘Mais….. Vous n’êtespas d’origine
> Madagascarquand même[7]?’
>
> ‘Si,
> si[8]….
> Anda mengira saya orang Indonesia ?’ tanyanya tersenyum.
>
>  ‘Kulit anda dengan kulit saya
> persis sama.’
>
>  ‘Anda orang Indonesia rupanya.
> Saya menyangka anda orang Jepang,’ katanya.
>
>  ‘Ya sudahlah….. Apa maksud anda?
> Apa yang anda perlukan dari saya?’
>
> ‘Baiklah….. Agar anda tidak penasaran….
> Kami ingin menyampaikan pesan kepada anda. Mudah-mudahan anda berkenan
> mendengarnya.’
>
> ‘Pesan? Pesan apa?’
>
> ‘Baik…. Saya mulai. Saya ingin
> bertanya. Apakah anda seorang yang beragama?’
>
> Waaaw.. Aku mulai bisa menebak.
>
> ‘Ya. Saya beragama,’ jawabku
> pendek.
>
> ‘Anda bukan seorang Kristen?’
>
> ‘Malheureusement non. Pourquoi[9]?’
>
> ‘Oui….
> Malheureusement non. Pasti anda akan tertarik kalau anda saya tunjukkan
> jalan yang menuju keselamatan.’
>
> Aku tersenyum. Ber-sobok[10]lawan aku
> rupanya, kataku dalam hati.
>
> ‘Jalan apa itu maksud anda?’ tanyaku.
>
> ‘Jalan juru selamat. Ikutilah, anda
> pasti selamat.’
>
> ‘Bagaimana kalau anda berdua saya ajak
> untuk berbicara di tempat tinggal saya saja? Mungkin di tempat ini kita
> kurang
> leluasa untuk bercerita panjang,’ ajakku.
>
> Wanita muda Madagaskar berwajah Solo
> itu tersenyum sumringah. Mungkin dalam hatinya dia berkeyakinan bahwa
> kailnya
> sudah dimakan ikan pancingannya.
>
> ‘Seandainya hal itu tidak mengganggu
> anda, kami akan sangat bersenang hati. Anda tinggal di mana?’ tanyanya.
>
> ‘Tidak akan mengganggu. Lagi pula saya
> sudah ditunggu istri saya. Ayolah kita ke tempat saya,’ ajakku.
>
> Kami tinggalkan caféitu, menuju ke
> apartemenku di rue de Lourmel.
>
> ‘Anda tinggal dekat sini?’ tanya wanita
> berkulit putih. Baru sekali itu suaranya terdengar.
>
> ‘Ya,’ jawabku. ‘Di bangunan di depan
> itu,’ aku menunjuk ke bangunan beberapa puluh meter di hadapan kami.
>
> Aku persilahkan kedua wanita itu masuk
> ke apartemen kecil kami. Istriku sedikit terheran-heran melihat mereka.
>
> ‘Sebelum kita lanjutkan pembicaraan
> tadi, saya minta izin untuk beberapa saat. Mungkin sekitar sepuluh menit.
> Mudah-mudahan
> anda tidak keberatan.’
>
> ‘Pasti tidak. Terima kasih, anda telah
> baik hati sekali mengajak mampir. Silahkan anda melakukan keperluan anda.
> Biar
> kami tunggu,’ kata wanita kulit putih, yang tiba-tiba sekarang jadi banyak
> bicara.
>
> Apartemen kami itu kecil. Hanya ada
> satu kamar tidur, lalu ruangan tamu yang sempit dan dapur merangkap ruangan
> makan. Di ruanganterakhir ini biasanya kami shalat
> berjamaah. Aku memberi isyarat kepada istriku untuk mengerjakan shalat isya.
>
>
> Kami shalat isya berjamah. Dengan bacaan
> dijahar tentu saja. Sesudah shalat dan berzikir barulah aku menghampiri
> mereka.
>
> ‘Sebelumnya, walaupun kita belum saling
> kenal, tapi saya ingin memberitahu anda bahwa ini istri saya.’
>
> Istriku menyalami kedua wanita itu.
>
> ‘Lalu….., silahkanlah lanjutkan cerita
> anda tadi.’
>
> ‘Jadi….. Anda orang Islam ?’ tanya
> wanita kulit putih.
>
> ‘Ya…. Saya beragama Islam.’
>
> ‘Bon[11]….
> Tidak apa-apa….. Kami ini dari gereja Hati Kudus. Kami ingin mengajak anda
> untuk mengikuti juru selamat. Dia yang menyelamatkan umat manusia
> semuanya….’
> Si wanita kulit putih agak terbata-bata.
>
> ‘Siapa itu juru selamat anda?’
>
> ‘Jesus. Dia yang mati di tiang salib
> untuk menyelamatkan semua manusia dari hukuman atas dosa-dosa mereka,’
> giliran
> si wanita Madagaskar berbicara.
>
> ‘Begini…… Pertama, saya sudah mempunyai
> ‘juru selamat’ saya sendiri. Dia adalah Allah, Sang Maha Pencipta alam raya
> ini. Dia yang menciptakan bumi yang kita huni sebagaimana juga Dia yang
> menciptakan matahari, bulan dan bermilyar-milyar bintang……’
>
> ‘Ya….. itulah Tuhan. Dan Tuhan itu
> mengutus anak Nya yang tunggal untuk menyelamatkan semua manusia. Kita
> tidak
> akan sampai ke rumah Tuhan kalau tidak melalui anak Nya itu,’ kata wanita
> kulit
> putih memotong pembicaraanku.
>
> ‘Saya tidak percaya. Bagaimana dia akan
> menyelamatkan manusia sementara dia tidak mampu menyelamatkan dirinya
> sendiri?’
>
> ‘Dia tidak mau menyelamatkan dirinya
> karena dia mengorbankan dirinya untuk keselamatan manusia.’
>
> ‘Siapa yang mengatakan itu? Yang
> mengatakan bahwa dia membiarkan dirinya disalibkan orang untuk
> menyelamatkan
> manusia?’
>
> ‘Dia sendiri yang mengatakan.’
>
> ‘Anda punya bukti bahwa itu
> kata-katanya sendiri? Bahwa dia mengatakan dirinya disalib untuk
> keselamatan
> manusia? Apa bukan dia malahan merintih memanggil Tuhan dan protes kenapa
> Tuhan
> meninggalkan dia ? Apa bukan dia yang mengatakan Eli..Eli Lama
> sabakhtani[12]?’
>
> ‘Anda tahu itu ?’
>
> ‘Ya saya tahu itu.’
>
> ‘Tapi dia adalah juru selamat……’
>
> ‘Tidak…. Dia adalah seorang nabi utusan
> Tuhan. Nabi Allah. Dia mengajak manusia, khususnya Bani Israel agar
> menyembah
> Allah. Allah Yang Maha Satu. Yang tidak ada Tuhan selain dari Dia. Yang
> tidak
> ada yang setara dengan Nya.’
>
> ‘Anda pernah mendengar tentang Jesus?’
>
> ‘Kami menyebutnya Nabi Isa. Dia seorang
> di antara nabi-nabi utusan Allah.’
>
> ‘Dia anak Tuhan. Dia lahir dari seorang
> perawan suci yang tidak bersuami.’
>
> ‘Dia bukan anak Tuhan. Dia adalah
> manusia biasa, makhluk ciptaan Tuhan. Ciptaan Allah.’
>
> ‘Dia bukan manusia biasa. Dia
> terlahir dari seorang wanita.  Wanita suci yang tidak pernah disentuh
> manusia.’
>
> ‘Ya…. Wanita itu Maryam, seoarng wanita
> tidak bersuami. Lalu Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta meniupkan ruh ke
> dalam rahimnya, sehingga dia mengandung kemudian melahirkan Isa. Kami juga
> menyebutnya sebagai Isa putera Maryam.’
>
> ‘Dia bukan manusia biasa. Dia anak
> Tuhan, diutus Tuhan untuk menyelamatkan anak-anak manusia yang berdosa.’
>
> ‘Terserah anda mau menyebutnya seperti
> itu. Tapi bagi kami orang Islam, Isa putera Maryam adalah seorang utusan
> Allah
> untuk Bani Israel. Kelahirannya tanpa ayah adalah hal yang mudah bagi Allah
> Yang Maha Pencipta. Sebagaimana mudahnya bagi Allah menciptakan Adam yang
> tidak
> punya ayah dan ibu.’
>
> ‘Jadi anda tidak mempercayainya sebagai
> juru selamat ?’
>
> ‘Dia seorang utusan Allah, dikhususkan
> untuk Bani Israel. Anda menyebutnya untuk menyelamatkan domba-domba yang
> hilang
> dari anak-anak Israel. Begitu kan?’
>
> ‘Dari mana anda tahu ?’
>
> ‘Saya membaca juga kitab anda
> sedikit-sedikit.’
>
> ‘Jadi anda mempunyai penyelamat
> sendiri? Anda yakin bahwa dia akan menyelamatkan anda? Tanpa bantuan sang
> juru
> selamat?’
>
> ‘Ya… Penyelamat dan penolong saya
> adalah Allah. Saya tidak memerlukan juru selamat selain Dia’
>
> ‘Maaf…. Tadi… Sebelum ini apa yang anda
> kerjakan berdua dengan istri anda?’
>
> ‘Kami mengerjakan shalat. Kami
> menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta.’
>
> ‘Dimana Tuhan anda itu berada?‘
>
> Dia berada di tempat-Nya. Yang tidak
> dapat dilihat oleh mata. Tapi Dia Maha Melihat. Dia menyaksikan dan
> mendengar
> apa yang sedang kita perbincangkan saat ini karena Dia Maha Mendengar.’
>
> ‘Pernahkah anda berjumpa dengan-Nya ?’
>
> ‘Tidak pernah. Karena Dia tidak
> terjangkau oleh panca indera kita.’
>
> ‘Baiklah…… Kalau begitu…….. Karena anda
> sudah mempunyai penyelamat anda sendiri…. Mungkin kami tidak perlu lagi
> meneruskan…..’
>
> ‘Terserah anda.’
>
> ‘Maaf, kami telah mengganggu anda.
> Biarlah kami mohon diri kalau begitu…’
>
>  Kedua wanita itu meninggalkan
> apartemen kami.
>
> ‘Siapa mereka? Kenal di mana dengan
> mereka?’ tanya istriku setelah mereka pergi.
>
> ‘Kan kamu dengar sendiri tadi siapa
> mereka. Tadi aku disamperi setelah keluar dari metro. Mula-mula diajak
> ke café. Setelah itu
> aku ajak sekalian ke sini,’ jawabku menjelaskan.
>
>
> *****
>
>
> ________________________________
>
> [1]Bertemu (pandang)
>
> [2]Kereta api bawah tanah
>
> [3]Jalan Lourmel
>
> [4]Tuan
>
> [5]Ya
>
> [6]Juga tidak
>
> [7]Tapi..... anda bukan asli
> orang Madagaskar sejatinya
>
> [8]Sebaliknya(benar kok)
>
> [9]Sayang sekali bukan. Kenapa?
>
> [10]Bertemu, mendapatkan
> [11]Baiklah
>
> [12]Tuhan- tuhan! Jangan tinggalkan aku
>
>
> Wassalamu'alaikum,
>
>
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H,
> Jatibening - Bekasi
>
>
> ________________________________
>
> --
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>
>
>

-- 
Sent from my mobile device

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke