Assalamualaikum w.w. Nanda Benni dan para sanak sa palanta,

Masukan Nanda yang panjang lebar itu saya forward ke Sekretaris Tim Perumus sebagai masukan.

Yang perlu saya tanggapi adalah kalimat Nanda ini : "(konyolnya lagi Pak Saaf yang hingga saat ini mengaku tidak ahli adat malah jadi sekretaris pertama ??). Kalau hanya sekedar untuk menjadi sekretaris saja  -- yang menangani masalah organisasi dan manajemen organisasi LKAAM --  rasanya saya tak konyol-konyol amat. Saat itu, selain saya sudah menjadi perwira pertama TNI,  saya juga memegang ijazah sarjana ilmu pemerintahan dan public administration  UGM, dimana saya mempelajari hukum adat dan hukum agraria, yang banyak sedikitnya terkait dengan masyarakat hukum adat. Rasanya baru konyol kalau saya jadi ketua LKAAM. Itu saja.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+29, Jakarta)
'Taqdir di tangan Allah, Nasib di tangan Manusia'
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
''Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'.
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'


--- On Mon, 3/10/08, benni_inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: benni_inayatullah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Fw: RE: [EMAIL PROTECTED] DIM 34: TIDAK ADA MASALAH DENGAN AB SBK. Re: WARTA TIM PERUMUS KOMPILASI ... Minangkabau Disputes
To: rantaunet@googlegroups.com
Date: Monday, March 10, 2008, 12:50 PM

Uni Hanifah, meskipun saya bukan profesor saya tergelitik juga 
akhirnya ikut menanggapi topik ini. Tak ada yang salah dengan apa
yang uni paparkan, sebagai seorang yang bergerak di bidang penelitian
saya ikut mengamini pendapat Uni tentang pentingnya data dan fakta
yang bisa dipertanggungjawabkan dalam membuat suatu kebijakan publik.
Sehingga kita tidak terjebak kepada pengiringan opini atau isu yang
kebenarannya masih (sangat) dipertanyakan. Apagi kalau isu tersebut
hanya bersumber dari pendapat pribadi someone, ota di lapau, atau
bahkan penelitian sendiri yang belum teruji metodologinya.
Kalau menurut teman-teman saya sesama peneliti, tulisan yang tidak
memakai data dari sumber yang jelas dan teruji keshahihannya
dinamakan "poci-poci". Saya tidak tahu apa arti sesungguhnya poci-
poci tersebut tapi gak jauh beda dengan tulisan yang memuat data ga
jelas dengan menggiring opini orang seolah-olah isu tersebut benar
adanya.

Untuk Pak Saaf saya pikir usul uni hanifah ini sangat layak
dipertimbangkan. Survei adalah sesuatu yang jamak dilakukan oleh
lembaga manapun untuk mengetahui pendapat publik, posisi suatu isu
dalam masyarakat sebelum berlanjut kedalam proses pembuatan kebijakan
publik atau yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi tidak
hanya bersumber dari pribadi-pribadi yang vokal saja namun dapat
mengetahui persepsi masyarakat itu sendiri terhadap pemahaman ABS
SBK. Apa betul masyarakat merasa belum menjalankan ABS SBK ? Dan apa
masyarakat memang menginginkan perubahan baik itu dalam hal agama
atau adat? itu bisa didapat dari survai. Gak usah banyak2 cukup 1500
- 2500 responden dan biayanya juga tidak terlalu besar untuk ukuran
APBD.

Mengenai tim perumus ABS SBK ini sendiri saya pandang teruskan saja.
Kalau untuk menjadi sebuah kekuatan pemaksa agar masyarakat
Minangkabau menjalankan ABS SBK versi tim kompilasi ini saya pikir
cost social nya sangat tinggi dan itu hampir mustahil. Tim ini tak
lebih seperti halnya pembentukan LKAAM tempo dulu . Dibentuk
pemerintah untuk memayungi pemuka-pemuka adat di nagari2 sehingga
lebih mudah dikendalikan (konyolnya lagi Pak Saaf yang hingga saat
ini mengaku tidak ahli adat malah jadi sekretaris pertama ??). Tim
kompilasi ABS SBK ini juga saya rasa begitu dibuat oleh pemerintah
yang konon katanya representatif namun pertanyaannya representatif
dari mana ?

Namun, kalau sekedar dokumentasi saya rasa bisa saja, jangankan oleh
sebuah Tim, Pak Saaf sendiri cukup mumpuni untuk menghasilkannya.
Paling tidak bisa menjadi bahan pelajaran Adat Minangkabau di sekolah
dasar atau sekolah menengah atas di ranah.
Saya pikir untuk mengubah pemahaman keagamaan atau cultural sebuah
masyarakat tidak bisa di lakukan melalui pendekatan kekuasaan (sama
seperti Mak darwin Bahar katakan). Apalagi kalau memasuki ranah agama
yang kalau istilah sekarang sesungguhnya desentralisasi yang paling
luas yaitu individu. Urusan orang beragama atau tidak, beribadah atau
tidak adalah urusan pribadi itu dengan Tuhannya. Tidak bisa dipaksa
dengan perda apapun. Meskipun perda itu bisa membuat orang memakai
jilbab atau memenuhi mesjid setiap subuh namun urusan kualitas ibadah
dan keberagamaan orang siapa yang tahu ? disinilah sesungguhhnya
peran ulama.

Namun, saat ini saya melihat orang yang menguasai agama berijazah S4
dari arabpun belum tentu bisa mempunyai pengaruh dimasyarakat. Ulama
tidak bisa hanya petantang petenteng dengan ijazah S4 saja namun juga
harus menguasai filsafat sehingga memahami hakikat kemanusiaan dan
struktur berpikir manusia. Ulama juga sebaiknya menguasai seni
sastra, karena orang yang memiliki jiwa seni mempunyai perasaan yang
halus sehingga tahu bagaimana menakhlukkan jiwa-jiwa yang angkuh.
Ulama-ulama besar tempo dulu mempunyai hal ini lihat saja HAMKA dll.
Ulama yang hanya bermodalkan retorika dan pengetahuan al Quran dan
Hadist saja, alih-alih mempengaruhi banyak orang justru membuat front
dengan masyarakat dan akhirnya dakwah tidak efektif sama sekali.
Alias dibenci orang...

Cukup disini dulu, saya mohon maaf karena mungkin banyak yang
tersinggung. Namun, dalam milis ini sepertinya kata melereng,
mendaki, menurun tidak efektif karena kita tidak tahu respon sanak
yang lain. Kadang kalau ada yang merasa dicukia puncak kadanya
memilih mendiamkan masalah biar lambat laun terlupakan. Kalau ada
yang merasa tidak berkenan, saya membuka diri untuk menyelesaikan
diluar sambil minum kopi di starbuck atau mangunyah gulai tambusu di
nasi kapau.


Salam

Ben




--- In [EMAIL PROTECTED], hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> AWW bapak saaf. Sekali lagi ifah tekankan ke bapak. Yang ifah tidak
setuju adalah tentang pernyataan bapak bahwa ABSSBK hanya wacana di
ranahminang kecuali bpk bisa tunjukkan kajian ilmiah untuk rentang
waktu 170 tahun. Ota dilapau apa menurut bpk bisa dijadikan referensi
untuk kajian ilmiah? Sekali lagi ifah jelaskan ifah tidak keberatan
bpk mengupas ABSSBK. bukankah sebagian DIM bpk tsbt ifah yang
pikirkan ? Apa salah tuntutan ifah sbg warga ranah yg jg warga
kampus? Bpk prof suheimi dan bpk serta ibu prof yang lain. Tolong
bantu hanifah, apa hanifah keliru? Terimakasih atas perhatian bapak2
dan ibu. Wass. Hanifah
>
>



Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---







Kirim email ke