mestinya Pak Fadel minta tolong Pak Bambang Tata Samiadji. Kalau ada kesempatan 
bicara dengan beliau saya akan tanya bagaimana hasil kajian itu. Sembari 
menginfokan ke beliau ada alumni Planologi ITB yang bisa melakukan itu.
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Bambang 
Tata Samiadji
Sent: 02 Agustus 2007 17:24
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] re: Fadel Hebat?





Ada berita dari Tempointeraktf, 2 Agustus 2007 tentang Fadel Muhammad, Gubernur 
Gorontalo :
......
"Di Gorontalo ada sekitar 70 perda. Dari jumlah itu hampir 20-an perda telah 
dihapus menyangkut masalah retribusi," kata Fadel. Alasannya, karena penarikan 
retribusi ini tidak akan berpengaruh besar dalam meningkatkan pendapatan asli 
daerah (PAD). "Retribusi ini hanya menyumbang kurang dari 5 persen untuk PAD," 
tambahnya.

Menurutnya, pungutan-pungutan yang terlalu banyak ini karena kesalahan Mendagri 
yang mempunyai paradigma bahwa sebuah daerah akan semakin bagus jika PAD-nya 
makin besar. "Saya berpendapat itu keliru, PAD ini tidak akan banyak menolong, 
yang ada besarnya PAD hanya akan mendongkrak gaji Gubernur dan gaji anggota 
Dewan," jelas Fadel.

Sebelum melaksanakan penghapusan perda mengenai retribusi ini, Fadel 
mengungkapkan pihaknya melakukan kajian selama delapan bulan. Untuk membiayai 
proses kajian ini, dirinya meminjam dana sebesar Rp 2 miliar dari UNDP.
 
Komentar saya :
Lho, kajian seperti itu mengapa sampai harus pinjam Rp 2 milyar dari UNDP? 
Padahal kesimpulan semacam itu sudah berkali-kali saya tulis di referensi ini 3 
tahun yang lalu (yah ....siapa sih BTS itu?). Lagi pula berita itu kayaknya 
kurang akurat. Tidak mungkin Provinsi Gorontalo pinjam langsung dana luar 
negeri. Menurut UU 33/2004  harus melalui Departemen Keuangan. Selain itu, dana 
pinjaman daerah tidak boleh digunakan untuk kajian-kajian, tetapi hanya untuk 
infrastruktur yang menghasilkan penerimaan (Revenue Generating). Barangkali 
yang benar, yang pinjam itu Pemerntah Pusat. Kajiannya dilaksanakan oleh 
Depdagri, atau mungkin Depkeu, bukan oleh Provinsi Gorontalo, apalagi oleh 
Fadel secara pribadi (...dirinya meminjam...).
 
Thanks. CU. BTS.



----- Original Message ----- 
From: Farid  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Irsyad 
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[email protected]> ps.com ; [EMAIL 
PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ups.com 
Sent: Monday, July 30, 2007 1:29 PM
Subject: [referensi] re: Fadel Hebat?





Beberapa kali saya mendengar Fadel banyak dipuji-puji oleh masyarakat.

Satu contoh, disebutkan "...pada waktu Fadel baru terpilih (periode 1)..." 
..... (itu artinya pada masa sebuah propinsi baru saja dibentuk .... dan pada 
umumya sebuah propinsi baru..... baik rakyatnya maupun pemerintah daerah dan 
gubernurnya umumnya bersemangat membangun yang tinggi)..........

Fadel disebutkan sebagai ..." 'mengeluh' ... tentang kelakuan birokrasi 
(pemdanya)"..... 
Padahal namanya juga dari semula visi pemda tingkat kabupaten menjadi visi 
tingkat propinsi....oleh kurang lebih SDM yang sama...sepertinya untuk 
tahun-tahun awal bukankah itu adalah hal yang tak dapat dihindarkan.. apalagi 
mengingat bahwa banyak SDM dari pemda adalah umumnya hasil nepotisme... bukan 
hasil seleksi ketat....... 

Lalu Fadel disebutkan sebagai berkata : "....bagaimana ekonomi gorontalo maju, 
kalau membangun jalan yang dipentingkan hanya dari ibukota provinsi ke ibukota 
kabupaten terus ke ibukota kecamatan... padahal lahan yang luas dengan potensi 
luar biasa tidak  mempunyai akses... ".

Dalam pikiran saya, makanya Gorontalo  dibuat menjadi propinsi baru .... salah 
satu sebabnya adalah karena semula ia termasuk "wilayah tertinggal"...... 
dimana salah satu cirinya adalah jaringan jalan-jalannya tak sempurna,... 
seperti  dengan belum dibukanya jalan-jalan kewilayah pedalamannya..... dan 
jalan-jalan utamanyapun umumnya juga belum memadai...
Dengan dana yang umumnya terbatas maka kiranya wajar bahwa Gorontalo tentu 
harus membangun jaringan jalannya secara mencicil......
Saya hanya berpikir bahwa jalan-jalan dari  ibukota propinsi keibukota 
kabupaten dan terus kekota-kota kecamatannya (yang jumlahnya jelas dan 
terbatas)  tentu polanya adalah linier...dan jumlah panjang jalannya (tentu 
nya) terbatas.....
Sementara itu jalan-jalan ke "lahan yang luas dengan potensi luar biasa"  
...... itu pengertiannya sepertinya bukan pola jalan linier...  dan total 
mileagenya tentu jauh lebih panjang dari total jalan-jalan propinsi,  kabupaten 
dan kecamatannya...... 
Dan dari semula "tidak ada"..... kalau untuk tahap pertama "sekedar dibuka 
dulu,  dan terbuat dari jalan tanah saja dulu".... tentunya juga itu sudah 
dapat dikatakan sebagai "luar biasa"......
Jadi kalaupun dengan dana terbatas Gorontalo akan 'mengutamakan' pembangunan 
jaringan "jalan pedalamannya"... rasanya tetap saja.. pada tahun-tahun pertama 
juga kiranya tak akan banyak mileage pembangunan jalan yang dapat 
dibuatnya...... 
Jadi kiranya masalah pembangunan jalan dengan dana terbatas ... mau 
diputar-puter bagaimanapun.. tetap saja.. hasilnya ya masih itu-itu juga.... 
artinya tahun-tahun pertama tentu tetap saja belum dapat amat memuaskan 
hasilnya .... atau dengan kata lain..... tak ada masalah serius dengan 
prioritas pembangunan jalan-jalan di Gorontalo sana... kecuali ada korupsi 
besar-besaran atasnya........
.......
Selanjutnya .... tentang strategi jagung  (model pertanian 120 hari panen)......
bahwa seseorang telah diangkat sebagai gubernur.. sebuah jabatan tinggi, dengan 
kekuasaan cukup tinggi dan fasilitas yang cukup..... wajar bahwa ia dituntut 
harus dapat memberikan karya nyatanya .....
wajar bahwa seorang gubernur harus dapat mendorong produktivitas warga 
masyarakatnya.... dengan modal ruang yang ada .... baik untuk ditanami dengan 
produk pertanian ... atau mungkin dilakukan bermacam budidaya lainnya... atas 
ruang yang ada...

Menurut saya.... prestasi seperti yang dicapai Fadel seharusnya merupakan 
"kriteria standar" dari seorang pemimpin ....... bekerja keras, tidak korupsi, 
dan memajukan daerahnya......karena wong si gubernur itu sendiri juga 
keluarganya..."sudah dimajukan derajatnya" dengan ia diangkat sebagai 
gubernur........
 
Saya jadi kurang jelas..... sebenarnya kriterianya "gubernur hebat" itu seperti 
apa ya?...... apakah model yang ...."sudah diakhir masa jabatannya tidak 
diseret-seret kekejaksaan dan pengadilan,... sudah begitu masih memberikan  
'karya n yatanya pula"?....
 
Kalau begitu, lalu kriterianya gubernur yang "biasa-biasa saja" itu yang 
bagaimana ya?... lalu gubernur yang "tidak bagus" itu yang bagaimana, lalu 
kalau "gubernur yang tercela" itu yang bagaimana?.........

salam,
farid



  _____  

Be a better Heartthrob. Get  
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48255/*http://answers.yahoo.com/dir/_ylc=X3oDMTI5MGx2aThyBF9TAzIxMTU1MDAzNTIEX3MDMzk2NTQ1MTAzBHNlYwNCQUJwaWxsYXJfTklfMzYwBHNsawNQcm9kdWN0X3F1ZXN0aW9uX3BhZ2U-?link=list&sid=396545433>
 better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 





 

Kirim email ke