kenapa pada panas karena fadel ???
apa karena dia gak pake jasa planner ?????
B aja kali nanggepin orang yang banyak dipuji ato yang dianggap berhasil, gak 
usah P kali ?


----- Original Message ----
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 2, 2007 3:23:46 AM
Subject: Re: [referensi] re: Fadel Hebat?

Ada berita dari Tempointeraktf, 2 Agustus 2007 tentang Fadel Muhammad, Gubernur 
Gorontalo :
......
"Di Gorontalo ada sekitar 70 perda. Dari jumlah itu hampir 20-an perda telah 
dihapus menyangkut masalah retribusi," kata Fadel. Alasannya, karena penarikan 
retribusi ini tidak akan berpengaruh besar dalam meningkatkan pendapatan asli 
daerah (PAD). "Retribusi ini hanya menyumbang kurang dari 5 persen untuk PAD," 
tambahnya.

Menurutnya, pungutan-pungutan yang terlalu banyak ini karena kesalahan Mendagri 
yang mempunyai paradigma bahwa sebuah daerah akan semakin bagus jika PAD-nya 
makin besar. "Saya berpendapat itu keliru, PAD ini tidak akan banyak menolong, 
yang ada besarnya PAD hanya akan mendongkrak gaji Gubernur dan gaji anggota 
Dewan," jelas Fadel.

Sebelum melaksanakan penghapusan perda mengenai retribusi ini, Fadel 
mengungkapkan pihaknya melakukan kajian selama delapan bulan. Untuk membiayai 
proses kajian ini, dirinya meminjam dana sebesar Rp 2 miliar dari UNDP.
 
Komentar saya :
Lho, kajian seperti itu mengapa sampai harus pinjam Rp 2 milyar dari UNDP? 
Padahal kesimpulan semacam itu sudah berkali-kali saya tulis di referensi ini 3 
tahun yang lalu (yah ....siapa sih BTS itu?). Lagi pula berita itu kayaknya 
kurang akurat. Tidak mungkin Provinsi Gorontalo pinjam langsung dana luar 
negeri. Menurut UU 33/2004  harus melalui Departemen Keuangan. Selain itu, dana 
pinjaman daerah tidak boleh digunakan untuk kajian-kajian, tetapi hanya untuk 
infrastruktur yang menghasilkan penerimaan (Revenue Generating). Barangkali 
yang benar, yang pinjam itu Pemerntah Pusat. Kajiannya dilaksanakan oleh 
Depdagri, atau mungkin Depkeu, bukan oleh Provinsi Gorontalo, apalagi oleh 
Fadel secara pribadi (...dirinya meminjam...) .
 
Thanks. CU. BTS.



----- Original Message ----- 
From: Farid Irsyad 
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com ; [EMAIL PROTECTED] ups.com 
Sent: Monday, July 30, 2007 1:29 PM
Subject: [referensi] re: Fadel Hebat?


Beberapa kali saya mendengar Fadel banyak dipuji-puji oleh masyarakat.
Satu contoh, disebutkan “…pada waktu Fadel baru terpilih (periode 1)…” ….. (itu 
artinya pada masa sebuah propinsi baru saja dibentuk …. dan pada umumya sebuah 
propinsi baru….. baik rakyatnya maupun pemerintah daerah dan gubernurnya 
umumnya bersemangat membangun yang tinggi)……….
Fadel disebutkan sebagai …" 'mengeluh’ … tentang kelakuan birokrasi 
(pemdanya)"…. . 
Padahal namanya juga dari semula visi pemda tingkat kabupaten menjadi visi 
tingkat propinsi….oleh kurang lebih SDM yang sama…sepertinya untuk tahun-tahun 
awal bukankah itu adalah hal yang tak dapat dihindarkan. . apalagi mengingat 
bahwa banyak SDM dari pemda adalah umumnya hasil nepotisme… bukan hasil seleksi 
ketat……. 
Lalu Fadel disebutkan sebagai berkata : “….bagaimana ekonomi gorontalo maju, 
kalau membangun jalan yang dipentingkan hanya dari ibukota provinsi ke ibukota 
kabupaten terus ke ibukota kecamatan... padahal lahan yang luas dengan potensi 
luar biasa tidak  mempunyai akses... “.
Dalam pikiran saya, makanya Gorontalo  dibuat menjadi propinsi baru …. salah 
satu sebabnya adalah karena semula ia termasuk “wilayah tertinggal”…… dimana 
salah satu cirinya adalah jaringan jalan-jalannya tak sempurna,… seperti  
dengan belum dibukanya jalan-jalan kewilayah pedalamannya… .. dan jalan-jalan 
utamanyapun umumnya juga belum memadai…
Dengan dana yang umumnya terbatas maka kiranya wajar bahwa Gorontalo tentu 
harus membangun jaringan jalannya secara mencicil……
Saya hanya berpikir bahwa jalan-jalan dari  ibukota propinsi keibukota 
kabupaten dan terus kekota-kota kecamatannya (yang jumlahnya jelas dan 
terbatas)  tentu polanya adalah linier…dan jumlah panjang jalannya (tentu nya) 
terbatas…..
Sementara itu jalan-jalan ke “lahan yang luas dengan potensi luar biasa”  …… 
itu pengertiannya sepertinya bukan pola jalan linier…  dan total mileagenya 
tentu jauh lebih panjang dari total jalan-jalan propinsi,  kabupaten dan 
kecamatannya…… 
Dan dari semula “tidak ada”….. kalau untuk tahap pertama “sekedar dibuka dulu,  
dan terbuat dari jalan tanah saja dulu”…. tentunya juga itu sudah dapat 
dikatakan sebagai “luar biasa”……
Jadi kalaupun dengan dana terbatas Gorontalo akan ‘mengutamakan’ pembangunan 
jaringan “jalan pedalamannya”… rasanya tetap saja.. pada tahun-tahun pertama 
juga kiranya tak akan banyak mileage pembangunan jalan yang dapat dibuatnya…… 
Jadi kiranya masalah pembangunan jalan dengan dana terbatas … mau diputar-puter 
bagaimanapun. . tetap saja.. hasilnya ya masih itu-itu juga…. artinya 
tahun-tahun pertama tentu tetap saja belum dapat amat memuaskan hasilnya …. 
atau dengan kata lain….. tak ada masalah serius dengan prioritas pembangunan 
jalan-jalan di Gorontalo sana … kecuali ada korupsi besar-besaran atasnya……..
…….
Selanjutnya …. tentang strategi jagung  (model pertanian 120 hari panen)……
bahwa seseorang telah diangkat sebagai gubernur.. sebuah jabatan tinggi, dengan 
kekuasaan cukup tinggi dan fasilitas yang cukup….. wajar bahwa ia dituntut 
harus dapat memberikan karya nyatanya …..
wajar bahwa seorang gubernur harus dapat mendorong produktivitas warga 
masyarakatnya… . dengan modal ruang yang ada …. baik untuk ditanami dengan 
produk pertanian … atau mungkin dilakukan bermacam budidaya lainnya… atas ruang 
yang ada…
Menurut saya…. prestasi seperti yang dicapai Fadel seharusnya merupakan 
“kriteria standar” dari seorang pemimpin ……. bekerja keras, tidak korupsi, dan 
memajukan daerahnya……karena wong si gubernur itu sendiri juga keluarganya. 
.."sudah dimajukan derajatnya" dengan ia diangkat sebagai gubernur.... ....
 
Saya jadi kurang jelas….. sebenarnya kriterianya “gubernur hebat” itu seperti 
apa ya?...... apakah model yang ….”sudah diakhir masa jabatannya tidak 
diseret-seret kekejaksaan dan pengadilan,… sudah begitu masih memberikan  
‘karya n yatanya pula”?….
 
Kalau begitu, lalu kriterianya gubernur yang “biasa-biasa saja” itu yang 
bagaimana ya?... lalu gubernur yang "tidak bagus" itu yang bagaimana, lalu 
kalau "gubernur yang tercela" itu yang bagaimana?.. .......
salam,
farid


Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 



       
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/

Kirim email ke