Milisters semuanya ysh,
Pak Eka dan mas Eko.... hehe.. ini biar agak sedikit rame aja niiih.... mau
menggodain pak Wawo boleh ya?.......
Saya tertarik pada pertimbangan pak Wawo yang nampaknya cenderung senang
pada apa-apa yang serba tenang-tenang..... termasuk juga rasanya beliau ini
seperti menjadi penganut aliran peribahasa diam adalah emas.... ... yang
kata beliau dalam diskusinya re : surusuru.... dengan mbak Arini dan Any...
beliau belum dapat menyimpulkan... bahwa planolog kini harus menjadi lebih
VOKAL.......
Belum lama juga pak Wawo menasehatkan bahwa sesama milister referensi kalo
bisa juga debatnya nggak usah kenceng-kenceng alias yang damai-damai dan
akur-akur aja .. gitu.. (wah enak di saya dong ini .... kalopun keluarin
posting rada asal .... alamat akan aman-aman saja.. nggak ada yang nyerang
..hehe..).......
Tetapi sementara itu disisi lain saya juga tidak kalah tertarik dengan
pendapat mbak Arinynta bahwa menurut beliau : ..... sekarang saatnya (kalau
tidak mau lebih telat lagi), ahli2 planologi termasuk asosiasi bicara lebih
vokal. jangan hanya ramai di antara sesama. publik pun perlu dan harus
tahu......
Ini sih bukan analisis ilmiah sosiologis psikologis karena saya gak akan
mampu dan pasti berantakan .... tapi ini sih sekedar analisis gula jeruk nipis
.... sedikit asem-asem manis......
Saya kira beda pandang antara pak Wawo dan mbak Arini ini ada banyak
faktornya .....
Saya nggak mau pake analisis dog-donkey-monkey... tapi setidaknya saya kira
ini pertama adalah masalah beda pandang yang sedikit banyaknya ada menyangkut
masalah jender juga .... antara seorang bapak yang nggak pernah main didapur
dan nggak pernah tau harga sembako seperti beras atau wortel tanpa daun itu
sekilonya berapa... sementara itu walau belum tentu juga mbak Arini sering
main didapur dan hapal daftar harga sembako disupermarket atau di tukangsayur
.... tetapi naga-naganya mbak Arini sebagai calon ibu atau sudah ibu dan
sebagai sesama ibu masih memiliki kepekaan pada penderitaan jutaan ibu-ibu
lain di Indonesia ini ..... yang pada banyak gagal mengatur neraca keuangan
rumahtangganya gara-gara penghasilan tak kunjung meningkat sementara
harga-harga terus melambung........
Kedua .... sepertinya ini agak sedikit lebih merupakan beda pandang antara
planner-arsitek atau arsitek-planner dan planner-sosiolog atau
planner-ekonomist... dimana yang pertama tadi lebih peduli pada masalah ruang
dan kaitannya dengan ekologi serta budaya.... dan seperti sedikit masa bodo
pada masalah ekonomi ....... sementara yang kedua ... seperti lebih peduli pada
ruang dan kaitannya pada masalah ekonomi serta sosial atau juga politik
didalamnya.....
Bagi mbak Arini ... barangkali vokal itu adalah masalah perlu dan harus
... karena beliau sepertinya sudah kurang yakin lagi bahwa demikian banyak
telinga atau kuping-kuping kini masih berfungsi dengan baik atau tidak ......
Sementara itu pada pak Wawo yang masih mengalir darah arsitek atau
arsitektur yang lumayan kenceng didalamnya... beliau saya kira memandang
vokalitas itu sebagai masalah noise atau masalah akustik yang harus
banyak diatur segala sesuatunya agar ketika ia nanti sampai ditelinga
manusia.... agar datangnya nanti dapat diatur dalam range satuan-satuan
ukuran yang nyaman ..... seperti dimana untuk itu harus diatur intensitasnya
yang diukur dalam satuan desibel... atau frekwensinya dalam satuan Hertz atau
panjang gelombangnya juga ada satuan ukurannya pula ........
Padahal sepertinya satu-satunya suara yang paling tersusun pada segala
sesuatunya itu tidak lain ya hanyalah musik saja ... apalagi kalau dari
jenis sweet tahun 60-an kesono .... atau mungkin pak Eka berkenan usulkan juga
ke pak Wawo... kalau desah itu termasuk juga atau nggak ....
atau mungkin gamelan..... atau kalo saya sih seneng dengerin macapat....
dan lebih dari itu sepertinya ya nggak ada kategorisasi lain dari pada
suara itu selain daripada bising .. gitu loh...hehe..
Salam,
aby
Hannie Waworoentoe" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
Rekan Arinynta dan any susiani,
Saya sepenuhnya setuju dan mengerti pandangan anda, namun saya juga belum
dapat menyimpulkan bahwa para planolog kini harus menjadi lebih VOKAL.
Saya baru-baru juga membaca satu buku yang sungguh menggugah saya bukunya
The Rise and Fall of Strategic Planning (reconceiving roles for Planning,
Plans, Planners) karangan Henry Mintzberg, bukunya saya kebetulan lihat di
kamarnya Petrus Natalivan di studio perencanaan kota di ITB.
Tapi rasnya semua yang Mintzberg katakan itu sangat benar, oleh karena memang
banyak juga kesalahannya terletak pada para planolog atau plan atau planning
itu sendiri. Jadi barangkali sebelumnya kita jadi vokal maka sebaiknya kita
selami dahulu kenapa semua kemelesetan atau kesalahan ini telah terjadi.
Analisa singkat yang Arinynta kemukakan terhadap para administrator birokrat,
politikus atau para ekonom , itu memang benar, tetapi tidak cukup untuk
membenarkan suatu peranan yang bersuara, apalagi kalau kita juga mengetahui
bahwa banyak rencana plan itu memang gagal karena pelbagai hal termasuk juga
semacam percaya diriu yang berkelebihan dari para planner, dan sebetulnya oleh
karena para planolog sendiri belum begitu mengerti akan proses berhasil
tidaknya suatu rencana. Ini saya rasakan sedikitnya karena sudah lebih 50 tahun
mencoba mengertinya juga.
Memang tidak semua rencana itu gagal, dan memang tidak semua planolog itu
salah, tetapi sebetulnya kita juga belum dapat membuktikan apa yang sebenarnya
menyebabkan suatu rencana itu berhasil.
Barangkali saya terlampau berat persyaratannya tapi saya rasa kita hanya
akan dapatkan manfaat atau hikmahnya kalau kita bisa mengertinya. Salam but if
you feel to speak out please do, I think there are still many that listen but
maybe not fully agree with a vocal role.
Good Luck. Pak Wawo
----- Original Message ----
From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Wednesday, April 30, 2008 10:31:06 PM
Subject: Re: [referensi] lanjutan suru-suru
membaca beberapa tulisan tntang daerah, saya jadi sedikit mendapat
"pandangan" baru...
inilah sbnarnya dimensi lagi (saya tdk mau bilang dampak) dari desentralisasi
atau otonomi atau pemekaran wilayah.
selama ini (dari yang saya dengar & baca) banyak orang hanya melihat dari
segi administrasi (pemerintahan) publik,
pembagian hasil (motif ekonomi),
pemerataan (baca: berbagi rata ke yg punya kuasa saja) dan
politik (baca: mau jadi raja kecil).
sementara dimensi keplanologian tidak pernah disentuh sama sekali, yg padahal
justru lebih mewarnai.
menurut saya, sekarang saatnya (kalau tidak mau lebih telat lagi), ahli2
planologi termasuk asosiasi bicara lebih vokal.
jangan hanya ramai di antara sesama.
publik pun perlu dan harus tahu.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.