Risfan dan Arini sayang, Saya merasa perlu memberikan komentar tambahan pada pengalaman kalian berdua, Memang benar pengalaman Aryninta tentang istilah planologi itu berakar jauh ke masa lampau. Pada tahun limapuluhan di TH sebelum ITBlah memang sudah ada matapelajaran planologi yang memang secara netral berada diantara pelbagai disiplin ilmu, walaupun Thomas Nix yang menulis thesisnya Stedebouwkundige Vormgeving in Indonesie, lebih cenderung menggunakan stedebouwkunde atau pembangunan kota untuk pekerjaan planning kota, memang di beberapa kalangan di kehutanan Bogor ada semacam dinas planologi hutan, jadi benar juga ada yang menggunakan istilah planologi disana. Setelah Perang Dunia II di masa federal, Indonesia paling sedikit mengenal semacam kopi dari instansi Belanda Rijks Planologische Dienst, atau Dinas Planologi Negara yang pada waktu itu terutama memikirkan rekonstruksi atau pembangunan kota-kota yang hancur karena perang, sebetulnya di Jawa tidak banyak yang rusak, tapi kota Manado memang dibom hancur oleh Sekutu pada akhir perang, maka oleh karena itu pemerintah malahan membentuk apa yang namanya POD, atau Plaatselijke Opbouw Dienst di Manado, memang saya secara kebetulan mulai berkenalan dengan dinas ini pada akhire tahun empatpuluhan bayangin saya masih di SMA. Tapi kelihatannya kesan waktu itu cukup mendalam karena saya baru saja melihat kota yang bisa di bom hancur, setelah itu saya juga melihat Morotai yang justru menjadi asal basis dari pesawat-pesawat sekutu yang membom kota manado. Anyway setelah mengikuti kuliah-kuliah Prof. Jaq P.Thijsse pada tahun limapuluhan saya lihat pemerintah Kota Bandung juga ada bagian Planologi Kota nya, malahan sejak sebelum Perang yang telah menghasilkan gagasan-gagasan Bandung sebagai ibukota Indonesia dengan perencanaan neo klassik bersumbu pada Gedung Sate ke Utara yang simetris kiri kanan yang Eka ingin tahu apakah ada tanda-tanda di Yzerman Park (Taman Ganeca) yang menunjuk semua puncak-puncak gunung di selatan Bandung. Incidentally seluruh gagasan Technische Hogeschool sebenarnya suatu policy (kebijakan) kota Bandung untuk menarik kekuasaan ke Bandung. Yah begitulah nasib sekarang paling-paling cuma jadi SAPPK kini. Untuk mengakhiri ceritera singkat ini, saya hanya bisa katakan bahwa pada tahun 1958 pada waktu saya masih kerja di Jawatan Perumahan Rakyat PU di Jakarta kantor yang menghadapi kantor kita adalah Jawatan Planologi (kota) PU yang pada waktu itu dipimpin oleh Ir Soefaat. Jadi pada waktu ITB membuka program barunya yang mula-mula hanya bernama 'Planners Course' (oleh UN TAB) lalu karena planologi sudah ada di Bogor, yah kita lalu mencoba menterjemahkan City and Regional Planning (seperti di USA) atau Town and Country Planning (seperti di UK) alhasil memang Prof Doebele dan saya merumuskan Tata Pembangunan Daerah dan Kota atau TPDK, yang semestinya diterjemahkan sebagai Regional and Urban Developmental Planning , barangkali Tata Ruang juga dapat diterjemahkan sebagai Spatial Planning atau dalam bahasa Belanda Ruimtelijke Ordening . Well afterall planologi while popular as a formal word only fell between the chairs. Gitulah Aryninta Risfan masih untung lu cuma digebugin ame surat kabar, ibu Arini sebetulnya menyimpan kiat-kiat yang jauh lebih ampuh, namun barangkali beliau juga merasa its a waste of energy to teach those planners chemistry I already have enough trouble taking care of a husband who pretends to be a planner. Jadi berbahagialah kalian sekarang kalau masih mau cari planolog asli. Pak Wawo.
----- Original Message ---- From: arinynta <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, May 3, 2008 7:24:26 AM Subject: Re: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas sebelum menulis yg panjang2 saya mau berbagi cerita dulu, semasa tahun2 awal kuliah. dalam perjalanan dari jakarta-bandung, di kereta parahyangan, saya sempat bercakap2 dengan seorang bapak, teman sebangku. bapak: kuliah apa di ITB? saya: planologi. bapak: oh soal tanam2 itu ya. saya: bukan, tapi tentang kota. bapak: oh saya kira dari asal kata plant... saya: ?!$&?! (bingung maksudnya) kala lain di moda yg sama... maklum travel belum ada waktu ada. pemuda: hebat bisa masuk di ITB. ambil apa? saya: planologi pemuda: kehutanan ya. saya: !!!!???? (beberapa waktu kemudian saya baru tahu, ternyata di departemen kehutanan ada bagian/unit planologi. entah urus apa, mungkin tata tanaman hutan atau tata ruang hutan ya....) jadi memang benar, jangankan tata ruang, soal planologi saja tak banyak orang paham.. salam.... ----- Original Message ---- From: risfano <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Saturday, May 3, 2008 8:36:10 Subject: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas Pak Wawo, Mbak Arini, Pak Hengky, dan rekans, Selain "silence is golden" barangkali lagu lain yang juga enak didengar "sound of silence". Pesannya, mendengar memang lebih sulit. Wah, Pak Wawo, waktu baca nama mbak Arini, saya jadi terkenang pada Bu Arini Waworoentoe. Pak Wawo, kalau boleh bernostalgia. Ada "kenangan terindah," waktu kuliah Kimia Dasar, karena siang yang panas, telat, kebagian duduk dikursi terdepan. Dan, kantuk tak tertahan. Akibatnya 'kena pukul gulungan kertas' beliau. Anyway. membaca posting mbak Arini yang mengajakagar "keplanologian" lebih vokal, tergelitik saya untuk urun posting. Ajakan ini bisa dijawab: ya nulis saja. Ajakan vokal bisa diartikan "keras", tapi mungkin dalam keadaan damai "social marketing" bisa jadi alternatif..Memang sedih, punya profesi yang cakupan analisisnya luas kok tidak "terlibat atau dilibatkan" dalam wacana publik. Persoalannya kemudian pemilihan tema. Kata Shakespeare,What's in a name? Colenak walau diganti namanya, dicocol tetap enak.Mungkin itu untuk dunia hakikat,tidak untuk marketing. Contohnya kata "perencana". Kadang terpikir untuk bertanya, saya ini "perencana" atau "ahli tata ruang" atau"perencana kota" atau "ahli perkotaan". Berdasar pengalaman, brand "perencana" ya disambut oleh khalayak dengan labelling sebagai perencana. Otomatis saya memposisikan dan orang menempatkan saya kesisi perencanaan. Tidak bicara pelaksanaan.Ini beda misalnya dengan "insinyur sipil" atau "ahli keuangan" atau "ahli manajemen" yang dianggap wajar berkecimpung di bagian perencanaan, pelaksanaan, atau pengawasan. Kedua, kata "tata ruang". Harus diakui ini memang bukan kata yang langsung menyentuh kebutuhan (hak) dasar masyarakat yang mereka rasakansehari-hari. Beda dengan kata pendidikan, kesehatan, ekonomi (harga pangan, lapangan kerja). Sedikit tidak langsung dengan kebutuhan masyarakat adalah kata "lingkungan hidup", juga "perhubungan" , karena masih bisa dirasakan. Tapi "tata ruang"? Orang masih lebih familiar dengan kata "pembangunan daerah", atau "perkotaan." Karenanya, beberapa waktu yang lalu saya usulkan familiarisasi kata "perencana kota", "perencana daerah". Atau bahkan "ahli pekotaan", "ahli pembangunan daerah." Tak berlebihan kan, karena nama sekolahnya "Perencanaan Wilayah & Kota" (Urban & Regional Planning, bukan Urban Spatial Planning). Di CV tertulis urban planner, tapi kalau di-Indonesia- kan jadi "perencana tata ruangkota".(Note: saya maksudkan ini diskusi profesi keplanologian, bukan membahas nama Ditjen, atau Dit tertentu - mereka tentunya lingkupnya jelas, tapi sebuah profesi kan bukan untuk melayani satu Ditjen/Dit - yang begitu namanya diklat departemen). Mungkin akan lain kalau positioning, lalu branding-nya adalah"perencana wilayah" atau "perencana kota" atau "ahli perkotaan". Isyu perkotaan, pembangunan daerah muncul tiap harijadi pembicaraanpublik, baik dari aspek lingkungan hidup, transportasi, ekonomi, pariwisata, persampahan, prasarana.Dan, kita semua bisa bicara karena di sekolah "perencanaan wilayah dan kota" kita pelajari aspek-aspek itu. Sementara kalau Arini mencari kata "tata ruang" di media publik, memang belum tentu seminggu sekali muncul. Menurut saya kata "tata ruang" (persepsi saya) membawa asosiasi kepada hal-hal yang teknis, di studio, di kantor Bappeda, Dinas Tata Ruang. Beda dengan kata "lingkungan hidup",lebih dirasakan keterlibatan masyarakat nya. Dengan membuang sampahpada tempatnya, memisahkan plastiknya, orang sudah merasa berpartisipasi menyelamatkan "lingkungan hidup". Kalau mereka batuk sedikit, pilek itu urusan "kesehatan". Anak bayar sekolah plus pungutan, itu urusan "pendidikan" . Jadi mudah sekali menghadirkan hal itu ke kehidupan sehari-hari. Begitu pula kata "hemat energi" yang sedang dirasakan lonjakan harganya oleh semua orang. Tapi kata "tata ruang" ke ibu-ibu rumah tangga? Is it ring a bell? Saya berani bicara begini karena, sekali lagi nama sekolahnya resminya masih PWK, bukan PTR. Di dunia namanya juga URP, TCP. Jadi rezim dan persepsi aktornya saja membatasi diri mem-frame mind-set anggotanya pada term "tata ruang." Mungkin positioning atau branding itu pada suatu masanya menguntungkan. Pangsa pasar luas. Masa itu wilayah nasional, provinsi, kabupaten, kota belum punya rencana tata ruang. Tapi pasar kan dinamis, berubah. Hampir semua daerah saat ini sudah punya RTR, tinggal pelaksanaan dan pengisian dengan komponen sektoralnya. Saya pikir kelompok bidang keahlian transportasi, manajemen perkotaan, pariwisata, kelautan (pesisir) dan lainnya, di kampus dan di dunia kerja telah berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Banyak planolog kerja disitu. So, ada baiknya mind-set planolog digeser, diperluas. Dari positioning/branding di "tata ruang" kepada PWK (khittah asalnya), atau yang minatnya sudah terspesialisasi dan terdiferensiasi bisa memposisikan diri menjadi ahli manajemen perkotaan, ahli (perencana) transportasi, ahli pariwisata, dst. Positioning kita sebagai perencana "tata ruang" atau perencana fisik juga ada limitasinya. Planolog bukan pemain tunggal, karena ada arsitek, urban designer, yang lebih fisik, lebih detail, (dan lebih kuat brand image-nya disitu). Jadi posisitioning sebagai "perencana fisik" tidak serta membuat planolog kokoh sebagai 'tuan di negeri sendiri' juga. Di lapangan planolog malah lebih kuat dari arsitek pada proyek-proyek pembangunan daerah, kota, perdesaan yang bertitik-berat pada 'manajemen pembangunan' , yang memainkan adonan "sosial-ekonomi- fisik". Sementara dunia real-estate memang domain arsitek/urban- designer. Kalau planolog ke situ, memang ada satu-dua yang sukses (di manajemen?), tapi umumnya ya di pinggiran saja. Demikianlah, sebelum vokal, promoting, ada baiknya terlebih dulu melakukan lagi segmentasi pasar, lalu targeting pasar-pasar mana, isyu-isyu mana yang mau dibidik. Gampangnya diidentifikasi saja kemana sebaran para alumni bekerja,dan apa yang mereka kerjakan. Planning kah? Tata ruang-kah? (Tentu perlu dibatasi yang masih dalam lingkup "pembangunan" , "kota" atau "wilayah" atau "perdesaan") Lalu lakukan repositioning. Dalam spektrum PWK yang lebar itu kita mau memposisikan diri dimana? Kita ingin masyarakat mengenal kita sebagai ahli apa (bisa luas, bisa sempit), yang menjadi brand kita. Sebagian orang tentu ada yang tidak setuju dengan repositioning ini. Karena bagi mereka fokus "tata ruang" sudah final. (Sekali lagi ini bukan soal nama sebuah Ditjen/Dit, tapi lingkup profesi keplanologian). Sebagian yang tak setuju dari kalangan dosen. Karena orientasi mereka dari sisi 'produksi' bukan dari sisi 'pasar'. Kepada mereka saya juga balik tanya, kenapa nama sekolahnya PWK, bukan PTR? Kembali kepada kerisauan mbak Arini, mengapa keplanologian tidak menjadi wacana publik. Menurut saya bukan 'dunia meninggalkan kita', tapi kitalah yang lari, mengurung diri dalam gua sempit "tata ruang". Kalau kita memposisikan diri sebagai "perencana kota/daerah" , atau "ahli manajemen perkotaan", maka wacana publik harian itu menjadi relevan bagi kita, dan kita merasa diri relevan bicara. Saya senang mbak Arini menggunakan istilah keplanologian, lebih generik. Mind-set, positioning, branding ini penting karena berarti juga bagaimana kita memposisikan diri dalam pergaulan profesi. Banyak planolog yang bekerja di berbagai bidang, merasa diri 'keluar dari profesi', 'murtad'. Padahal mereka nyatanya masih menangani pembangunan wilayah, kota, daerah, hanya memang tidak di "tata ruang"nya, atau di sisi "perencanaannya" . Sungguh disayangkan hanya gara-gara persepsi yang dipersempit sendiri. Sekali lagi bukan (wacana) dunia yang meninggalkan planologi. Tapi planolog sendiri yang escape, terlalu sempit memposisikan dirinya. Tentu saja penataan ruang tetap merupakan aspek profesi yang marketnya masih cukup potensial. Tetapi pada segmen ini planolog mesti memperluas peran, dari hanya main di sisi perencanaan, kepada aspek "manajemen pemanfaatan" atau pelaksanaan, dan pengendalian nya. Wah, maaf ngelantur dan panjang lagi. Salam, Risfan Munir Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

