Pak Wawo, Mbak Arini, Pak Hengky, dan rekans,
Selain "silence is golden" barangkali lagu lain yang juga enak didengar "sound of silence". Pesannya, mendengar memang lebih sulit. Wah, Pak Wawo, waktu baca nama mbak Arini, saya jadi terkenang pada Bu Arini Waworoentoe. Pak Wawo, kalau boleh bernostalgia. Ada "kenangan terindah," waktu kuliah Kimia Dasar, karena siang yang panas, telat, kebagian duduk dikursi terdepan. Dan, kantuk tak tertahan. Akibatnya 'kena pukul gulungan kertas' beliau. Anyway. membaca posting mbak Arini yang mengajak agar "keplanologian" lebih vokal, tergelitik saya untuk urun posting. Ajakan ini bisa dijawab: ya nulis saja. Ajakan vokal bisa diartikan "keras", tapi mungkin dalam keadaan damai "social marketing" bisa jadi alternatif. Memang sedih, punya profesi yang cakupan analisisnya luas kok tidak "terlibat atau dilibatkan" dalam wacana publik. Persoalannya kemudian pemilihan tema. Kata Shakespeare, What's in a name? Colenak walau diganti namanya, dicocol tetap enak. Mungkin itu untuk dunia hakikat, tidak untuk marketing. Contohnya kata "perencana". Kadang terpikir untuk bertanya, saya ini "perencana" atau "ahli tata ruang" atau "perencana kota" atau "ahli perkotaan". Berdasar pengalaman, brand "perencana" ya disambut oleh khalayak dengan labelling sebagai perencana. Otomatis saya memposisikan dan orang menempatkan saya kesisi perencanaan. Tidak bicara pelaksanaan. Ini beda misalnya dengan "insinyur sipil" atau "ahli keuangan" atau "ahli manajemen" yang dianggap wajar berkecimpung di bagian perencanaan, pelaksanaan, atau pengawasan. Kedua, kata "tata ruang". Harus diakui ini memang bukan kata yang langsung menyentuh kebutuhan (hak) dasar masyarakat yang mereka rasakan sehari-hari. Beda dengan kata pendidikan, kesehatan, ekonomi (harga pangan, lapangan kerja). Sedikit tidak langsung dengan kebutuhan masyarakat adalah kata "lingkungan hidup", juga "perhubungan", karena masih bisa dirasakan. Tapi "tata ruang"? Orang masih lebih familiar dengan kata "pembangunan daerah", atau "perkotaan." Karenanya, beberapa waktu yang lalu saya usulkan familiarisasi kata "perencana kota", "perencana daerah". Atau bahkan "ahli pekotaan", "ahli pembangunan daerah." Tak berlebihan kan, karena nama sekolahnya "Perencanaan Wilayah & Kota" (Urban & Regional Planning, bukan Urban Spatial Planning). Di CV tertulis urban planner, tapi kalau di-Indonesia-kan jadi "perencana tata ruang kota". (Note: saya maksudkan ini diskusi profesi keplanologian, bukan membahas nama Ditjen, atau Dit tertentu - mereka tentunya lingkupnya jelas, tapi sebuah profesi kan bukan untuk melayani satu Ditjen/Dit - yang begitu namanya diklat departemen). Mungkin akan lain kalau positioning, lalu branding-nya adalah "perencana wilayah" atau "perencana kota" atau "ahli perkotaan". Isyu perkotaan, pembangunan daerah muncul tiap hari jadi pembicaraan publik, baik dari aspek lingkungan hidup, transportasi, ekonomi, pariwisata, persampahan, prasarana. Dan, kita semua bisa bicara karena di sekolah "perencanaan wilayah dan kota" kita pelajari aspek-aspek itu. Sementara kalau Arini mencari kata "tata ruang" di media publik, memang belum tentu seminggu sekali muncul. Menurut saya kata "tata ruang" (persepsi saya) membawa asosiasi kepada hal-hal yang teknis, di studio, di kantor Bappeda, Dinas Tata Ruang. Beda dengan kata "lingkungan hidup", lebih dirasakan keterlibatan masyarakat nya. Dengan membuang sampah pada tempatnya, memisahkan plastiknya, orang sudah merasa berpartisipasi menyelamatkan "lingkungan hidup". Kalau mereka batuk sedikit, pilek itu urusan "kesehatan". Anak bayar sekolah plus pungutan, itu urusan "pendidikan". Jadi mudah sekali menghadirkan hal itu ke kehidupan sehari-hari. Begitu pula kata "hemat energi" yang sedang dirasakan lonjakan harganya oleh semua orang. Tapi kata "tata ruang" ke ibu-ibu rumah tangga? Is it ring a bell? Saya berani bicara begini karena, sekali lagi nama sekolahnya resminya masih PWK, bukan PTR. Di dunia namanya juga URP, TCP. Jadi rezim dan persepsi aktornya saja membatasi diri mem-frame mind-set anggotanya pada term "tata ruang." Mungkin positioning atau branding itu pada suatu masanya menguntungkan. Pangsa pasar luas. Masa itu wilayah nasional, provinsi, kabupaten, kota belum punya rencana tata ruang. Tapi pasar kan dinamis, berubah. Hampir semua daerah saat ini sudah punya RTR, tinggal pelaksanaan dan pengisian dengan komponen sektoralnya. Saya pikir kelompok bidang keahlian transportasi, manajemen perkotaan, pariwisata, kelautan (pesisir) dan lainnya, di kampus dan di dunia kerja telah berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Banyak planolog kerja disitu. So, ada baiknya mind-set planolog digeser, diperluas. Dari positioning/branding di "tata ruang" kepada PWK (khittah asalnya), atau yang minatnya sudah terspesialisasi dan terdiferensiasi bisa memposisikan diri menjadi ahli manajemen perkotaan, ahli (perencana) transportasi, ahli pariwisata, dst. Positioning kita sebagai perencana "tata ruang" atau perencana fisik juga ada limitasinya. Planolog bukan pemain tunggal, karena ada arsitek, urban designer, yang lebih fisik, lebih detail, (dan lebih kuat brand image-nya disitu). Jadi posisitioning sebagai "perencana fisik" tidak serta membuat planolog kokoh sebagai 'tuan di negeri sendiri' juga. Di lapangan planolog malah lebih kuat dari arsitek pada proyek-proyek pembangunan daerah, kota, perdesaan yang bertitik-berat pada 'manajemen pembangunan', yang memainkan adonan "sosial-ekonomi-fisik". Sementara dunia real-estate memang domain arsitek/urban-designer. Kalau planolog ke situ, memang ada satu-dua yang sukses (di manajemen?), tapi umumnya ya di pinggiran saja. Demikianlah, sebelum vokal, promoting, ada baiknya terlebih dulu melakukan lagi segmentasi pasar, lalu targeting pasar-pasar mana, isyu-isyu mana yang mau dibidik. Gampangnya diidentifikasi saja kemana sebaran para alumni bekerja,dan apa yang mereka kerjakan. Planning kah? Tata ruang-kah? (Tentu perlu dibatasi yang masih dalam lingkup "pembangunan", "kota" atau "wilayah" atau "perdesaan") Lalu lakukan repositioning. Dalam spektrum PWK yang lebar itu kita mau memposisikan diri dimana? Kita ingin masyarakat mengenal kita sebagai ahli apa (bisa luas, bisa sempit), yang menjadi brand kita. Sebagian orang tentu ada yang tidak setuju dengan repositioning ini. Karena bagi mereka fokus "tata ruang" sudah final. (Sekali lagi ini bukan soal nama sebuah Ditjen/Dit, tapi lingkup profesi keplanologian). Sebagian yang tak setuju dari kalangan dosen. Karena orientasi mereka dari sisi 'produksi' bukan dari sisi 'pasar'. Kepada mereka saya juga balik tanya, kenapa nama sekolahnya PWK, bukan PTR? Kembali kepada kerisauan mbak Arini, mengapa keplanologian tidak menjadi wacana publik. Menurut saya bukan 'dunia meninggalkan kita', tapi kitalah yang lari, mengurung diri dalam gua sempit "tata ruang". Kalau kita memposisikan diri sebagai "perencana kota/daerah", atau "ahli manajemen perkotaan", maka wacana publik harian itu menjadi relevan bagi kita, dan kita merasa diri relevan bicara. Saya senang mbak Arini menggunakan istilah keplanologian, lebih generik. Mind-set, positioning, branding ini penting karena berarti juga bagaimana kita memposisikan diri dalam pergaulan profesi. Banyak planolog yang bekerja di berbagai bidang, merasa diri 'keluar dari profesi', 'murtad'. Padahal mereka nyatanya masih menangani pembangunan wilayah, kota, daerah, hanya memang tidak di "tata ruang"nya, atau di sisi "perencanaannya". Sungguh disayangkan hanya gara-gara persepsi yang dipersempit sendiri. Sekali lagi bukan (wacana) dunia yang meninggalkan planologi. Tapi planolog sendiri yang escape, terlalu sempit memposisikan dirinya. Tentu saja penataan ruang tetap merupakan aspek profesi yang marketnya masih cukup potensial. Tetapi pada segmen ini planolog mesti memperluas peran, dari hanya main di sisi perencanaan, kepada aspek "manajemen pemanfaatan" atau pelaksanaan, dan pengendalian nya. Wah, maaf ngelantur dan panjang lagi. Salam, Risfan Munir

