Arini, sungguh manis dan buat saya mengharukan jawaban anda dan yang paling menarik adalah singkatnya pandangan itu, dan sebetulnya bukankah pendapat itu telah disampaikan secara tertulis jadi sudah tercapai salah satu tujuan utama kita untuk berkommunikasi secara effektip. Saya memang juga agak allergis terhadap tulisan-tulisan yang panjang lebar karena akhirnya juga tidak dibaca terutama untuk mereka yang sebetulnya harus membacanya. Barangkali kita perlukan body language atau telepati berkommunikasi tanpa kata. Mungkin juga bukan kommunikasi intelektual atau ilmiah yang penting tapi ke tulusan dan penghargaan atau apresiasi hiburan lah . Dalam konteks itu sedikitnya yang saya ketahui tentang rumah tangga anda atau katakan saja es lemon tea sangat menarik, memang tidak saja manisnya indonesian idol (manis dodol) tapi juga segarnya tantangan berpikir pragmatis tentang harga pangan atau lpg atau mixed use development and progressive zoning. Sebetulnya saya juga tidak terlampau tertarik pada diam itu emas, tapi kalau emasnya sih, konon katanya para pendulang mas banyak yang menemukan emas justru pada waktu menggali lobang kakusnya. Arini mungkin heran mengapa saya terharu, yah kebetulan sudah hampir lima tahun lalu saya telah kehilangan partner saya yang juga bernama Arini, but such is the bitter and sweetness of life setelah lemon tea try some lemon grass (sereh) atau tamarind yah asam jawa yang gulanya sih harus gula aren, tuh Hengky kalau mau goda lagi, salam Pak Wawo
----- Original Message ---- From: arinynta <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, May 2, 2008 8:49:02 AM Subject: Re: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas di jeda iklan acr indonesian idol, di sela browsing cari bahan soal mixed use development, saya langsung balas email dari prof wawo. bukan bermaksud ganggu malam2 loh prof... bisa dosa saya saya mau reply semua email tentang topik ini langsung ya... seperti kata pa hengky, saya memang ibarat ibu2 yg ga pernah main di dapur, jadi ga begitu tahu harga2 emang sudah naik, tapi tetap concern... saya memang sudah jauh dari urusan keplanologian, jadi memang tidak tahu bagaimana perkembangan muktahirnya. kalau pun tahu, cuma sepotong2 dari milis ini. mungkin akhirnya jadi benar, sedikit sok tahu (tapi pede...)..walhasil kalau kasih komentar.. seperti es lemon tea, asam, manis plus segar (huu.. GR banget ya saya..). kalau toh salah2, excuse nya seperti saya tulisan di awal, kan saya sudah tidak lagi di industri yg lengket dengan ke-PL-an. tapi bener loh, soal vokal itu maksud saya memang untuk lebih sering bicara di publik. setuju saya dengan prof wawo, tidak harus dengan cuap2 sampai berbusa (emangnya sedang kampanye), tapi lewat tulisan... saya sudah jarang ya lihat tulisan/opini dari ahli2 PL ini bicara tentang PL yang dikaitkan dengan kondisi faktual. padahal menurut saya banyak sekali yg bisa dinyatakan. soal dimensi otonomi/pemekaran wilayah misalnya. soal renc di aceh or daerah bencana misalnya.. ngomong2 kasus aceh, saya sempat juga doh "disemprot" prof wawo, kalo saya dulu pernah proyeksi kalau suatu saat mungkin akan muncul konflik pertanahan di ranah rencong sana karena kondisi hukum & administrasi pertanahan saat ini. tidak terbukti 100% memang, tapi kalau sempat saya baca & dengar, gara2 soal itu, rencana yg sudah bagus dibuat jadi tidak bisa seluruhnya diimplementasi, urusan sertifikat jugalah yg menyebabkan. setuju dengan pa risfan, PL itu mestinya sangat dekat dengan kebijakan publik. karena itu kan Jurtekplan menjadi SAPPK. bgmn mau ambil kebijakan, kalau rencananya tidak tahu mau apa, begitu kan.... sekian milister... (sebelum saya ngomongnya makin kemana2...) salam, arini Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> wrote: Hengky, ini udah lewat jam 11 malam, lagi besok saya mesti hadap Gubernur jam 8 pagi, tapi anda mau goda saya terus, bolehlah, walaupun sebetulnya saya lebih seneng kalau godaan datang dari pengirim surat mula rekan Aryninta. OK lah jangan kita artikan vokal semata-mata sebagai bunyi kebisingan atau noise, dan saya sangat terkesan analisa Hengky untuk menduga adanya tekanan untuk memberi dan juga mendengar suara atau voice, seakan-akan para planner itu rada bungkam atau voiceless, nah sekarang penilaian macho-nya, dan disitu Hengky juga benar bahwa mungkin si pria itu segan untuk bersuara atau raise his voice, rupanya hanya alm Pavarocci atau raksasa wayang yang bisa menggelegar suaranya, yang lain yah rada melempem kaya Wisnu, but at least Wisnu is supposedly wise. that's why he does not need to raise his voice. Tapi barangkali message atau masalahnya sekarang bagaimana mengeluarkan suara itu, kelihatannya bukan dalam debat kusir walaupun kusirpun ada peran, rasanya sebetulnya the written word itu jauh lebih tajam, oleh karena itu pena juga merupakan senjata yang jauh lebih ampuh daripada bunyi . tapi nati kita lanjutkanlah dalam deliberasi debat , atau langsung saja dalam pertarungan lidah politik. Tapi coba baca dulu bukunya Henry Mintzberg itu kalau susah kita minta tolong Eko di Paris, barangkali ada versi dalam bahasa perancis juga, pokoknya ini bukan anti planning tapi jelas menunjuk beberapa kegagalan besar dari planning itu. Well segitu dulu deh. Pak Wawo. ----- Original Message ---- From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com Sent: Thursday, May 1, 2008 8:01:14 PM Subject: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas Milisters semuanya ysh, Pak Eka dan mas Eko.... hehe.. ini biar agak sedikit rame aja niiih..... mau menggodain pak Wawo boleh ya?....... Saya tertarik pada pertimbangan pak Wawo yang nampaknya cenderung senang pada apa-apa yang serba ”tenang-tenang” ..... termasuk juga rasanya beliau ini seperti menjadi penganut aliran peribahasa “diam adalah emas”.... ... yang kata beliau dalam diskusinya re : surusuru.... dengan mbak Arini dan Any... beliau “belum dapat menyimpulkan” ... bahwa “planolog kini harus menjadi lebih VOKAL”....... Belum lama juga pak Wawo menasehatkan bahwa sesama milister referensi kalo bisa juga debatnya nggak usah kenceng-kenceng alias yang damai-damai dan akur-akur aja .. gitu.. (wah enak di saya dong ini .... kalopun keluarin posting rada asal .... alamat akan aman-aman saja.. nggak ada yang nyerang ..hehe...).. . .... Tetapi sementara itu disisi lain saya juga tidak kalah tertarik dengan pendapat mbak Arinynta bahwa menurut beliau : “..... sekarang saatnya (kalau tidak mau lebih telat lagi), ahli2 planologi termasuk asosiasi bicara lebih vokal. jangan hanya ramai di antara sesama. publik pun perlu dan harus tahu.....”. Ini sih bukan analisis ilmiah sosiologis psikologis karena saya gak akan mampu dan pasti berantakan .... tapi ini sih sekedar analisis gula jeruk nipis .... sedikit asem-asem manis...... Saya kira beda pandang antara pak Wawo dan mbak Arini ini ada banyak faktornya ..... Saya nggak mau pake analisis dog-donkey-monkey. .. tapi setidaknya saya kira ini pertama adalah masalah beda pandang yang sedikit banyaknya ada menyangkut masalah jender juga .... antara seorang bapak yang nggak pernah main didapur dan nggak pernah tau harga sembako seperti beras atau wortel tanpa daun itu sekilonya berapa... sementara itu walau belum tentu juga mbak Arini sering main didapur dan hapal daftar harga sembako disupermarket atau di tukangsayur ..... tetapi naga-naganya mbak Arini sebagai calon ibu atau sudah ibu dan sebagai sesama ibu masih memiliki kepekaan pada penderitaan jutaan ibu-ibu lain di Indonesia ini ..... yang pada banyak gagal mengatur neraca keuangan rumahtangganya gara-gara penghasilan tak kunjung meningkat sementara harga-harga terus melambung.... ..... Kedua .... sepertinya ini agak sedikit lebih merupakan beda pandang antara planner-arsitek atau arsitek-planner dan planner-sosiolog atau planner-ekonomist. .. dimana yang pertama tadi lebih peduli pada masalah ruang dan kaitannya dengan ekologi serta budaya.... dan seperti sedikit masa bodo pada masalah ekonomi ....... sementara yang kedua ... seperti lebih peduli pada ruang dan kaitannya pada masalah ekonomi serta sosial atau juga politik didalamnya.. ... Bagi mbak Arini ... barangkali vokal itu adalah masalah “perlu dan harus” ... karena beliau sepertinya sudah kurang yakin lagi bahwa demikian banyak telinga atau kuping-kuping kini masih berfungsi dengan baik atau tidak ...... Sementara itu pada pak Wawo yang masih mengalir darah arsitek atau arsitektur yang lumayan kenceng didalamnya.. . beliau saya kira memandang vokalitas itu sebagai masalah ’noise’ atau masalah ‘akustik’ yang harus banyak diatur segala sesuatunya agar ketika ia nanti sampai ditelinga manusia.... agar datangnya nanti dapat diatur dalam range satuan-satuan ukuran yang nyaman ...... seperti dimana untuk itu harus diatur intensitasnya yang diukur dalam satuan desibel... atau frekwensinya dalam satuan Hertz atau panjang gelombangnya juga ada satuan ukurannya pula ........ Padahal sepertinya satu-satunya suara yang “paling tersusun” pada segala sesuatunya itu tidak lain ya hanyalah “musik” saja ... apalagi kalau dari jenis sweet tahun 60-an kesono .... atau mungkin pak Eka berkenan usulkan juga ke pak Wawo... kalau ’desah’ itu termasuk juga atau nggak .... atau mungkin gamelan..... atau kalo saya sih seneng dengerin macapat.... dan lebih dari itu sepertinya ya nggak ada kategorisasi lain dari pada ‘suara’ itu selain daripada “bising” .. gitu loh...hehe.. Salam, aby roup | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity * 5 New MembersVisit Your Group Y! Messenger All together now Host a free online conference on IM. Moderator Central An online resource for moderators of Yahoo! Groups. New web site? Drive traffic now. Get your business on Yahoo! search. . ________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

