Uda Eka, Cak Eko, Rekan-rekan Ysh, Menurut Tony Buzan, sang penemu teknik berpikir MindMap (tm), -- entah ini ilmiah atau tidak -- kalau kita sedang membaca sesuatu lalu kita merasa tidak mengerti, itu berarti kita sedang tidak berhasil memvisualisasikan sesuatu itu di dalam pikiran kita. Sebaliknya, bila kita mengerti, artinya kita berhasil membuat suatu gambar mental mengenai sesuatu itu di benak kita.
Untungnya, -- atau mungkin lebih tepat 'buntungnya' -- saya nyaris selalu berhasil memvisualisasikan dalam pikiran saya setiap kali ada orang -- atau 'makhluk Tuhan yang lain' -- menyebut atau menulis kata 'rakyat'. Singkatnya, ketika ada orang iseng menyebut 'rakyat', maka bayangan seorang petani kuyu yang tak berbaju -- dan untungnya masih bercelana tambal-sulam -- mengenakan tutup kepala dan menyandarkan pacul di bahunya selalu muncul dalam benak saya yang fana-tapi-lama dan hitam-putih tanpa gradasi ini. Jelas sekali, gambar itu bukan visualisasi seorang 'petani berdasi' yang selalu mengaku 'bertani dengan susah payah' untuk mengharapkan 'pengampunan pajak'. Bukan pula gambaran dari beberapa 'pekebun sukses' yang masuk sepuluh besar orang terkaya di negeri (yang di-)miskin(kan) ini. Sedikit bersentimentalita, gambar itu adalah gambar yang sama dengan yang pertama kali saya lihat di buku Pendidikan Moral Pancasila sewaktu saya masih 'digembleng' sehingga 'gembelengan' di kelas 1 SD. Tidak berubah sampai sekarang. Dan saya sangat bersyukur bila gambar ini tidak berubah selama orang-orang yang 'dimiskinkan' oleh sistem maupun kebakhilan segelintir keluarga besar pesohor negeri masih menjadi the vast majority -- baik mau diakui, diignore atau ditutup-tutupi dengan statistik atau ilmu klenik mana pun. To quote Benjamin Disraeli, "There are three degrees of lies: lies, damned lies, and statistics." Rakyat -- maksud saya, 'petani bercangkul' tadi, bukan 'rakyat besar' -- tentulah merupakan 'ujung pacul' dari sebuah kedigdayaan bisnis tani dan bisnis kebun keluarga tujuh turunan. Dan bila pacul itu berubah menjadi jala, maka melalui perantaraan merekalah anak-anak balita kita mendapat EPA, AA dan DHA -- zat-zat yang berguna dalam pertumbuhan otak yang terdapat dalam minyak ikan. Ikan-ikan itu dicari oleh para 'rakyat berjala' semenjak sebelum fajar menyingsing hingga sore menjelang -- tanpa sunblock atau tabir surya SPF 60 yang sering dipakai oleh para rupawan di negeri bahari ini. Dan kurang-ajarnya, rakyat-rakyat seperti ini pula yang justru sering dijadikan 'sun block' dan tema kampanye oleh segelintir 'rakyat perampok', 'rakyat penjagal' dan 'rakyat pendusta' untuk memperoleh posisi lebih tinggi dalam rangka merampok, menjagal dan berdusta lebih banyak lagi... Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "ffekadj" <[email protected]> Date: Sun, 21 Jun 2009 10:45:41 To: <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. Iya Pak Eko, kalau bapak sudah membetulkan, ya gimana lagi, saya ikut saja. Kalau dilihat perjalanan kampanye beberapa waktu ini, sepertinya para capres ingin memaknakan 'ekonomi kerakyatan' itu melalui kunjungan ke 'pasar-pasar tradisional'. Jadi memang belum ada kunjungan ke pasar modal, mall, ITC, kawasan industri, dll. Secara sempit sepertinya itulah 'ekonomi kerakyatan'. Kalau 'pasar non-kerakyatan' ketemunya di gedung pertemuan, lapangan golf, dll. Mohon pencerahan bapak selanjutnya mengenai istilah 'rakyat' ini, berhubung berada di lumbung teori-teori rakyat. Salam. -ekadj --- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote: > > Pak Iman betul Pak Eka, kan beberapa hari lalu Prabowo sudah mengkonfirmasi di hadapan para pengusaha tionghoa bahwa para pengusaha tsb juga termasuk rakyat yg dilindungi dlm "ekonomi kerakyatannya Mega-Pro"...  Jadi semakin membingungkan, apa karakteristik khusus dr ekonomi kerakyatan ini... > Mungkin yg lebih menarik issue "pemerataan" yg sempat diusung oleh SBY, yg mungkin bisa menyentuh pembelaan thd rakyat miskin... sayangnya issue ini juga tidak dielaborasi lebih dalam, apa yg dimaksud oleh SBY dgn "pemerataan" dan bagaimana mencapainya? Pdhal Pak Aby sudah berusaha keras mengadvokasi "pemerataan" dengan ide2 pembangunan di KTI...:) > > --- On Sun, 6/21/09, isoedrad...@... isoedrad...@... wrote: > > > Pak Eka, > Ekonomi kerakyatan itu tdk hanya menggarap terinya tapi Kakapnya juga perlu digarap supaya tdk makan teri, tapi mengayomi.Powered by Telkomsel BlackBerry®From: "ffekadj" 4ek...@gmail. com> > Date: Sun, 21 Jun 2009 03:36:56 -0000 > To: refere...@yahoogrou ps.com> > Subject: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. > > Pak Iman, Pak Aby, Pak ATA, dkk ysh. > > Mohon kiranya dapat diidentifikasi kelompok-kelompok yang masuk dalam > ekonomi kerakyatan ini, supaya penanganan dan pengembangannya dapat > lebih fokus/terpisah. Mungkin ciri umumnya adalah : pelakunya miskin dan > mandiri. > > Pedagang tradisional : pedagang yang menempati lapak-lapak usaha di > pasar-pasar tradisional, dengan jenis usaha: sembako, tekstil murah, > perlengkapan rumah tangga, barang-barang bekas, dll. Pada musim kampanye > kemarin, kelompok ini paling sering dikunjungi oleh para > capres/cawapres. > > Pedagang kaki lima : pedagang yang menempati lapak-lapak temporer di > ruang-ruang publik, dan termasuk di dalamnya yang bergerak secara > mobile. Beberapa di antaranya : pedagang asongan, makanan, mainan, dll. > Pada musim-musim tertentu para pedagang ini sering dikunjungi oleh > Satpol PP. > > Pedagang illegal : pedagang yang tidak memiliki izin usaha, tidak > membayar pajak, termasuk juga menjual barang-barang haram; dapat > berusaha di ruang-ruang publik maupun privat. Beberapa di antaranya : > pedagang asongan, ibu-ibu yang nyambi jualan pada waktu arisan, pedagang > narkoba, usaha rumah tangga, nelayan merangkap pedagang di tengah laut, > lobbiest, pedagang suara, dll. > > Yang agak sulit pengelompokannya seperti sales door-to-door, pedagang > jasa (buruh garuk), dlsb. > > Mohon pencerahannya lebih lanjut, khususnya dalam rangka pengembangan > ekonomi bejo-ajo-inang- daeng kita. Salam. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote: > > > > ++++: Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung > pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil > kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam, > teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak > kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam > disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang". > > Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan > malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja! > Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan > kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba > cukup. > > Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin > Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola > hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg > katanya kaya raya. > > >>>>: Teman bpk itu seharusnya jangan2 buru2 meneteskan airmata dulu > pak…… siapa tahu cara makan 1 kali sehari disiang hari adlh > bagian dari kearifan lokal dari para leluhur kita dulu yg malah perlu > dilestarikan……. Terbukti makan kelebihan jadi obesitas, > kolesterol, stroke, jantung dsb… malah minum susupun menurut > Prof. Hiromi Shinya, penulis buku laris The Miracle of Enzyme katanya, > susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk > manusia……….... > >  > > ++++: Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia > malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak > anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan > biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai > pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai > pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya. > Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa, > mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus. > > >>>>>: Pak Iman….. dulu ada presiden kita yg memerintah bahkan > lbh dari 30 tahun dan keluarganya kayaknya tak pernah kurang > gizi…… tapi kok rekor edukasi anak2nya pada nggak tinggi juga > ya?......:-- )).. tapi emang iya siih…. Biar gitu kemampuannya utk > menghitung dan memiliki duit ternyata pd diatas level manajerial jg > siih…….:--)) > >  > > +++++: Cerita lain…….. > > >>>>>: > >  > > Salam, >

