Pak Djarot ysh, saya kira kajian bapak sudah melangkah sedikit, kalau
boleh saya istilahkan dengan 'waham'. Jadi wening-waham-w..., yang
terakhir ini saya peroleh dari Pak BSP tahun lalu waktu kopi darat,
yaitu 'wenang'. Namun waham dan wenang ini seyogyanya dan sejati[m]nya
perlu dijabarkan oleh para guru. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Risfan dan Sahabats,
>
> Setelah saya terbiasa menggunakan fenomenologi sebagai paradigma, ada
kebiasaan baru yaitu menghindari cara berpikir metafora. Umumnya jika
menggunakan metafora, saya sangat hati-hati dan metafora tersebut muncul
setelah melakukan eksplorasi mendalam terhadap fenomena yang saya
perhatikan. Metaforanya mungkin juga unik dan sangat bersifat lokal,
bahkan mungkin agak kurang bisa ditransfer ke kasus yang lain. Hal ini
karena pengaruh cara pandang yang konon Husserl selalu mengajak kita
untuk "kembali ke obyek itu sendiri".....zuruch zu den
Sachenselbs...kalimat Jerman-nya begitu kalau nggak salah nulis...back
to the things itself ! Jika kita menggunakan metafora kadang takut salah
karena kurang menunjukkan keunikannya yang amat kaya....meskipun istilah
lokal sangat berarti dalam cara pandang fenomenologi!
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Thu, 8/13/09, risfano risf...@... wrote:
>
> From: risfano risf...@...
> Subject: [referensi] Re: critical planning ?
> To: [email protected]
> Date: Thursday, August 13, 2009, 7:51 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Rekan Efha dan temans ysh,
>
>
>
> Metafora kota bak organism saya kira cukup umum. Soal hubungan antar
kota yang "saling menolong" dan menjaga keharmonisan, celakanya dalam
kasus negara berkembang secara alamiah kok tidak ya. Justru kota
metropolitan dan besar sering digambarkan sebagai "gurita" yang
menghisap kota-kota/daerah lainnya.Bak hukum rimba "ikan besar makan
ikan lebih kecil."
>
>
>
> Dengan geografi wilayah dan ekonomi wilayah kita mencoba menjelaskan
fenomena itu kan.
>
>
>
> Masalahnya antar kota itu potensi alamiah dan hinterland nya beda,
start nya beda. Apakah begitu?
>
>
>
> Salam,
>
> Risfan Munir
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, <efha_mardiansjah@ ...> wrote:
>
> >
>
> > Kalau Pak Risfan setuju dengan pendapat Pak ATA yang mengatakan
bahwa kota dan permukiman adalah seperti suatu organisme yang hidup,
maka menurut saya semestinya Pak Risfan dan juga Pak ATA percaya bahwa
perencanaan pembangunan suatu kota (agar cangkangnya selalu keeping up
to date dengan besaran penghuni dan aktivitasnya) , juga tidak cukup
hanya dengan memperhatikan karakteristik dari kota itu sendiri melainka
juga harus juga memperhatikan kota-kota dan wilayah-wilayah lainnya,
karena seperti halnya manusia yang menjadi penghuni dan pembentuk
organisme kota tersebut, kota juga merupakan suatu "homo socius" yang
tidak bisa hidup sendiri tanpa dukungan dari kota dan/atau wilayah
lainnya (konsep ecological footprint). Jadi untuk mampu menolong dirinya
untuk mampu mengembangkan cangkangnya supaya tidak sesak, kota juga
harus mampu menolong kota/wilayah lainnya untuk dapat menjaga
keharmonisan antara dirinya dengan "organisme-organism e" lain
sesamanya...
>
> >
>
> > Mohon pendapat Pak Risfan, Pak ATA dan rekan-rekan lainnya...
>
> > Salam
>
> >
>
> > Fadjar Undip
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > --- On Thu, 8/13/09, risfano risfano@ > wrote:
>
> >
>
> >
>
> > From: risfano risfano@ >
>
> > Subject: [referensi] Re: critical planning ?
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Thursday, August 13, 2009, 5:53 AM
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Rekans ysh,
>
> >
>
> > Setuju dengan pak ATA, dalam pandangan planner kota dan permukiman
adalah seperti mahluk hidup (organism) yang tumbuh -berkembang dalam
waktu. Direncana atau tidak, kalau potensinya ada akan berkembang terus.
>
> >
>
> > Dilemanya, seperti siput dengan cangkangnya, perencana fisik sering
terjebak merencana cangkang yang statik, padahal tubuh siput kian
tambun.
>
> >
>
> > Ilmu "geografi-ekonomi" (+ sosial, budaya) menyumbang banyak alat
analisis untuk mengantisipasi dinamika pertumbuhan. Termasuk metodenya
yang partisipatif, kualitatif. Persoalannya bagaimana menerjemahkannya
kedalam dimensi fisik yang nature nya terikat pada kondisi alam dan
bangunan (yang statik tak bisa melar). Belum lagi soal kepemilikan.
>
> >
>
> > Akibat badan membengkak semntara cangkang (baju) tetap ya sesak,
sobek, kancing copot.
>
> >
>
> > Meramal pertumbuhan tak mudah. Secara gampangan tinggal melihat rate
pertumbuhan, lalu proyeksikan, lalu kalikan standar kebutuhan ruang,
lalu alokasikan dalam land-use. Tapi kalau sudah bicara kegiatan
ekonomi, tak semudah itu. Struktur lapangan kerja perkotaan kompleks dan
dinamis, tidak bisa dilihat hanya dari struktur ala BPS. Aneka jenis
manufaktur, jasa, masing-masing punya karakteristik lokasi dan ukuran.
Dan, naik/turunnya dinamis. Lalu fenomena sektor informal, atau
wirausahawan baru di garasi, paviliun. Ini jelas dinamika land-use
perkotaan yang hidup terus dalam waktu.
>
> >
>
> > Bagaimana mrencana dan menerapkan rencana dalam sistem yang dinamik
itu?
>
> >
>
> > Sejarah town planning di Inggris justru dipelopori oleh para ahli
yerkait kesehatan lingkungan yang memprihatinkan kondisi lingkungan
perkampungan para buruh industri yang tidak sehat. Ini tentu beda dengan
tradisi arsitektur-kota atau urban-design ala Le Corbusier, Frank L.
Wright, atau Gunadarma. Beda dari segi otoritas designer, dinamika
sistem, dan partisipasi.
>
> >
>
> > Kalau kita terlampau melihat kota sebagai bangunan, landscape,
rancangan land-use kota yang indah, ideal tapi statik, jangan-jangan
kita melihat mayoritas warga penghuninya justru sebagai "lumut" yang
merusak bangunan.
>
> >
>
> > Salam,
>
> > Risfan Munir
>
> >
>
> >
>
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah
<takdir65@ .> wrote:
>
> > >
>
> > > Mas Ono ysh,
>
> > >
>
> > > beda dengan arsitektur yang dapat 'dikuasai' oleh seorang arsitek
master
>
> > > builder, keberadaan dan keberlanjutan entitas kota (perkotaan atau
>
> > > permukiman lainnya) sangat tidak layak bila ditentukan oleh
'seorang
>
> > > planer'. biarpun dia sudah semedi, memiliki pemikiran kosmologis,
berdialog
>
> > > dengan yang mbaurekso, sakti mandraguna, diktator, dll, dst.
sekalipun..
>
> > > Kota bukan karya produktif atau kreatif seseorang atau sekelompok
orang dari
>
> > > satu wakturuang kultur tertentu saja. Kota merupakan habitat yang
erupakan
>
> > > hasil berproses seluruh stake-holder yang terkait dengannya, walau
sedang
>
> > > tidak ada walikota terpilih untuk menjabat saat salah satu bagian
dari
>
> > > proses perkembangnanya berlangsung. Planer hanya salah satu pemicu
perubahan
>
> > > dalam satuan metabolisme kehidupan dan penghidupan habitat.
Perubahan hanya
>
> > > bermakna apabila mampu meningkatkan kualitas habitat tersebut,
apapun
>
> > > kondisi asalnya.
>
> > >
>
> > > Jadi ...biarkan saja plankun kelaut...
>
> > > (Siapa tahu ada habitat kota baru di laut ...he he...)
>
> > >
>
> > > Salam,
>
> > > ATA
>
> > > (celoteh kita semakin seru ya Mas Ono, semakin mengundang
warna-warni yang
>
> > > menghibur, dan sesungguhnya tidak perlu ditanggapi terlalu
serius...)
>
> > >
>
> > >
>
> > > 2009/8/9 Sugiono Ronodihardjo <sugiono_r@ ..>
>
> > >
>
> > > > [Attachment( s) <#122ffa0acdb47db3_ TopText> from Sugiono
Ronodihardjo
>
> > > > included below]
>
> > > >
>
> > > > Rekan-2 ysh,
>
> > > > Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia
ke'dokter'an ada
>
> > > > aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun'
alias
>
> > > > 'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang
dapat
>
> > > > wangsit 'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun'
>
> > > > alias 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan
'semedi'
>
> > > > mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun'
alias
>
> > > > 'planner-dukun' ? he he he...
>
> > > > Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari
teman asli
>
> > > > orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya
dengan
>
> > > > 'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat.
>
> > > > Wassalam,
>
> > > > Onnos
>
> > > >
>
> > > > ------------ --------- ---------
>
> > > > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > > > From: 4ekadj@
>
> > > > Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000
>
> > > > Subject: [referensi] Re: critical planning ?
>
> > > >
>
> > > >
>
> > > >
>
> > > > Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread
ini.
>
> > > > Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari
semula
>
> > > > membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk
hidup'.
>
> > > > 'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam
profesi, karena
>
> > > > selama ini memang ada secara laten.
>
> > > > Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri
sedikit
>
> > > > babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu
dilakukan dengan 3
>
> > > > cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat kental budaya
Jawa yaitu
>
> > > > melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu cakraningrat' ,
serta 3
>
> > > > adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek pertalian
darah<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3644> adalah
>
> > > > ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali Songo mengamanatkan
tahta
>
> > > > kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk cara 2 adalah
seperti yang
>
> > > > ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3 adalah ditunjukkan oleh
Panembahan
>
> > > > Senopati yang mengedepankan aspek fenomenologi. Mungkin itu
penafsiran awal
>
> > > > saya yang cetek ini.
>
> > > > Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi,
namun secara
>
> > > > 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan,
terlebih
>
> > > > masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa
daerah
>
> > > > perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda,
seperti Perang
>
> > > > Tjumbok <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/904>
di Aceh dan
>
> > > > Perang Paderi di Minangkabau. Untuk Jawa, saya kira Geertz
menggambarkan
>
> > > > secara skeptis proses transformasi ini ke dalam 3 kelompok, dan
sebenarnya
>
> > > > tidak ada 'konflik yang mengemuka'.
>
> > > > Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang
gayut
>
> > > > dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan
dalam
>
> > > > beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut
pandang
>
> > > > budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita
bisa sepakat
>
> > > > dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan
berpijak di
>
> > > > berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala
pemain sirkus,
>
> > > > apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan
masyarakat
>
> > > > tersebut.
>
> > > > Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan.
Salam.
>
> > > > -ekadj
>
> > > >
>
> > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risfano@> wrote:
>
> > > > >
>
> > > > > Pak Djarot,
>
> > > > > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya.
>
> > > > > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami
kejadian dan
>
> > > > apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya
diproyeksikan
>
> > > > ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat masyarakat
setempat juga
>
> > > > berkembang terus.
>
> > > > >
>
> > > > > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga
memperkenalkan
>
> > > > ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas
tersebut ada
>
> > > > eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama
feodalisme, klenik).
>
> > > > Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak
alasan kramat
>
> > > > yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus, karena
alasan keramat
>
> > > > bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk 'sesajen'
bagi pangeran,
>
> > > > dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak bisa terbuka
reason nya, ada
>
> > > > peluang untuk di-abuse juga.
>
> > > > >
>
> > > > > Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/
partisipatif, sejauh
>
> > > > mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian
tim nya, kan
>
> > > > pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya
kekeramatannya.
>
> > > > >
>
> > > > > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu
sangat spesifik
>
> > > > dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh
bisa dibawa ke
>
> > > > ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke depan".
Kita mesti
>
> > > > sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, tapi juga
neo-feodalism
>
> > > > lokal yang cenderung eksplotatif terhadap rakyat. Apakah karena
"anti
>
> > > > ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata: dari mana tokoh itu
dapat uang shg
>
> > > > bisa pesta adat besar besar-besaran untuk pernikahan putrinya
(misalnya).
>
> > > > Jangan bicara ekonomi, itu barat, beliau mulia karena mengangkat
adat budaya
>
> > > > sukunya (?).
>
> > > > > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya
selalu
>
> > > > multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada
struktur sosial,
>
> > > > ada aspek ekonomi.
>
> > > > > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau
selektif? sesuatu
>
> > > > yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam,
Rendra, dll)
>
> > > > kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan (kedepan,
bukan
>
> > > > kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke urban.
Dan, mereka
>
> > > > cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan
simbol-simbol kuasa
>
> > > > rekaan raja-raja.
>
> > > > > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo"
marah.
>
> > > > Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry
dipakai untuk
>
> > > > ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..."
>
> > > > >
>
> > > > > Salam,
>
> > > > > Risfan Munir
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > > Salam,
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > >
>
> > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@
wrote:
>
> > > > > >
>
> > > > > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya
fenomenologi.
>
> > > > Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi
bersifat
>
> > > > "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara
mendalam seorang
>
> > > > tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu
tentang "dunia
>
> > > > tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang
lebih jauh !
>
> > > > > >
>
> > > > > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang
harus
>
> > > > latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan
tidak
>
> > > > terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini
nggak murtad
>
> > > > dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya
proses
>
> > > > memahami subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari
teori-teori atau
>
> > > > opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita. Latihan
kedua adalah
>
> > > > menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan runtut dan
detil. Dua
>
> > > > jurus dulu ya Pak.
>
> > > > > >
>
> > > > > > Salam,
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > > Djarot Purbadi
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> > > > > >
>
> > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
>
> > > > > >
>
> > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> > > > > >
>
> > > > > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote:
>
> > > > > >
>
> > > > > > From: bspriyo@ bspriyo@
>
> > > > > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical
planning ?
>
> > > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > > > > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > >
>
> > > > > > Luar biasa mas Djarot ...
>
> > > > > > saya mendapatkan pencerahan.
>
> > > > > > Matur nuwun
>
> > > > > > salam
>
> > > > > > bambang sp
>
> > > > > >
>
> > > > >
>
> > > >
>
> > > >
>
> > > > ------------ --------- ---------
>
> > > > Party with Buddy! Bling out your Messenger with free winks
emoticons. Click
>
> > > > here<http://discover. windowslive. com/en-id/ messenger/
messengeris10/ #/downloads>
>
> > > >
>
> > > >
>
> > >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
>
> > Do You Yahoo!?
>
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
>
> > http://mail. yahoo.com
>
> >
>



Kirim email ke