Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan 
dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan 
dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan 
kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta 
tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. 
Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang 
sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar !

Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman 
Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan 
mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air 
diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling 
dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan nasional 
sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang menarik dan 
kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam tubuh mereka 
sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat sekelilingnya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 9/1/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku  
Gebze --> Policy in the making
To: [email protected]
Date: Tuesday, September 1, 2009, 9:38 PM






 




    
                  Saya setuju dengan Pak Djarot..



Selain dangkal (sedalam kain/kostum adat); simbolis, dan tak lebih

dari seremonial antar elite saja.



Saya lebih optimis kalau masalah kebangsaan di-dekati (approach)

secara non-elitis.

Nasionalisme (what ever that is) menurut saya tidak akan tercapai

dengan cara memberi gelar adat non-Jawa terhadap elite-2 Jawa.



Panigoro, Triamtomo, Susilo Bambang, elite semua, semua Jawa..



Keraton Solo juga melakukan hal yang sama.. kepada elite-2 non-Jawa,

seperti Akbar Tanjung (itu pun ditambah faktor tali perkawinan),

Manohara...



tapi pencapaian nasionalisme tetap stagnan tuh..



selama hal-2 seperti ini dilakukan secara elitis, maka skeptisisme

terhadap hal ini, sebagaimana disampaikan oleh Foker LSM Papua tetap

akan muncul..



Nasionalisme sejatinya akan kuat apabila entitas nasion ini mampu

menjawab seluruh kebutuhan anggotanya..

kalao nasion ini hanya dijadikan alat bagi elite untuk mengukuhkan

status elite nya, maka wajar saja kalao nasionalisme jadi

kopong/hampa. .



Salam,

-K-



On 8/31/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

> Pak Ekadj, tradisi penerimaan secara adat lokal tampaknya menarik untuk

> dipikirkan secara lebih jernih, minimal sebagai upaya mengungkapkan rasa

> kebersamaan yang akan mendukung rasa kebangsaan. Jika perbuatan simbolis

> semacam itu hanya dilihat sebagai simbolis semata ya memang hanya bermakna

> dangkal, tetapi jika benar-benar dihayati tentu akan bermakna mendalam bagi

> pertumbuhan nasionalisme yang sekarang sedang kita gelisahkan dan

> digelisahkan secara khusus sama Eyang Aby.

>

> Pada waktu saya mendapat kalungan selendang milik Pak Mikael Salu (bapak

> saya di Kaenbaun) saya nggak ngerti maksudnya. Tetapi berkat pencerahan dari

> teman saya orang Atambua, beliau menjelaskan bahwa kalungan/pemberian

> selendang itu berarti saya diterima sebagai keluarga Mikael Salu, lantas ada

> perubahan dalam hati dan pikiran saya. Ternyata dengan sarana sederhana

> masyarakat tradisional kita memiliki cara untuk merajut tenunan kebangsaan

> yang menuju kesatuan Nusantara. Jika seseorang mendapat gelar tentulah

> apresiasi dan penerimaan masyarakat sangat mendalam dan saya melihatnya itu

> merupakan simbol tradisional yang bisa menjadi perekat nasionalisme kita.

>

> Ke depan saya kira cara-cara tradisional semacam itu mesti mendapat

> perhatian positif, bukan sekedar seremonial-protokol er, melainkan bermakna

> mendalam berkaitan dengan merajut kebangsaan kita. Tentu sekaligus

> melestarikan benda-benda, ritual dan tradisi bangsa....supaya terhindar dari

> klaim-klaim yang tidak perlu jikalau kita terlambat mendaftarkan

> legalitasnya. Apakah begitu ?

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sun, 8/30/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

>

> From: ffekadj <4ek...@gmail. com>

> Subject: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku

> Gebze --> Policy in the making

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Sunday, August 30, 2009, 11:26 PM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>                   Pak Yando ysh, masih untung Arifin Panigoro menjadi anak

> suku Marind. Kalau menjadi anak suku Asmat di tahun 1980an ke bawah, masih

> ada adat 'netek' ke istri kepala suku, syukur-syukur ke istri muda. Katanya

> kalau mau masuk ke pedalaman Papua ya ikut adat netek itu.

> Pola adat ini patut dilestarikan, terutama bagi warga pendatang yang ingin

> 'wenang' di tempat tersebut. Dulu Mayjen Tritamtomo sewaktu menjadi Pangdam

> Bukit Barisan mendapat marga Panggabean. SBY juga mendapat gelar adat di

> Minangkabau, dst. Namun pola ini hendaknya masih mengikuti alur dan patut

> yang ada, dan jangan sampai merusak adat itu sendiri. Salam.

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "R. Yando Zakaria" <r.y.zakaria@ ...>

> wrote:

>>

>> Bung Adiwan dan rekan ysh.,

>>

>> Berikut salah satu contioh, mungkin, bagaimana serba-serbi proses sebuah

>> kebijakan dihasilkan.

>>

>>

>>

>> Salam,

>>

>> ryz

>>

>>

>>

>> From: adatl...@yahoogroup s.com [mailto:adatlist@ yahoogroups. com] On

>> Behalf Of Foker LSM Papua

>> Sent: 29 Agustus 2009 6:04

>> To: adatl...@yahoogroup s.com

>> Subject: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze

>>

>>

>>

>>

>>

>>

>> <file:///C:\Users\ JOKOAR~1\ AppData\Local\ Temp\moz- screenshot. png>

>> JUBI â€" Mantan Anggota DPR RI, CEO PT. Medco Group, Arifin Panigoro

>> dikukuhkan sebagai Anak Adat Suku Marind Marga Gebze. Lengkapnya, Arifin

>> Dipanigoro Warku Gebze. Ada apa dibalik itu?

>>

>> Panigoro dikukuhkan di lahan perkebunan milik Bupati Merauke, Johanes

>> Gluba Gebze, Kampung Wasur II, Merauke, Selasa kemarin. Menjadi istimewa

>> dari acara tersebut karena proses pengukuhan ini disaksikan langsung Duta

>> Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Mr. C. Home dan mantan Menteri

>> Pertanian era Soeharto, Sarwono Kusumaatmadja. Prosesi pengukuhan sebagai

>> anak adat dilakukan marga Gebze. Diawali dengan tari-tarian secara adat.

>> Setelah itu, Arifin dilepas bajunya. Dia didudukan di atas kulit kayu bus

>> (Eucalyptus, Sp). Dan kemudian bedak dari campuran tanah diusapi diwajah

>> dan sebagian tubuhnya. Simbol-simbol adat juga dipasang mulai dari kepala

>> hingga kaki.

>> Di kepala dililitkan songkok dari bulu kasuari sebagai tanda kebesaran dan

>> simbol perdamaian. Puncak pengukuhan itu adalah dengan membunuh seekor

>> babi jantan dengan cara ditoki (dipukul pada bagian kepala) dengan

>> menggunakan sebuah kayu. Kayu tersebut diserahkan Bupati Merauke Johanes

>> Gluba Gebze. Arifin menerimanya lalu memukul satu kali di kepala babi

>> tersebut. Selanjutnya Bupati Gebze dan diikuti oleh anak-anak adat dari

>> marga Gebze. Gebze merupakan salah satu dari 7 marga besar di Suku Marind.

>> Marga ini menguasai sebagaian besar tanah di Merauke.

>> Bupati Gebze menandaskan, pengukuhan dengan gelar Gebze tersebut sudah

>> ikhlas diberikan kepada namek (panggilan saudara laki-laki, red) Arifin

>> Panigoro Warku Gebze.

>> Arifin sendiri menyatakan, pertistiwa yang dialaminya tersebut sebagai

>> pengalaman pertama yang sulit dilukiskan. Baginya, ritual tersebut

>> memiliki unsur spritual yang sangat luar biasa. ‘’Yakin atau tidak

>> tapi saya percaya bahwa unsur ritualnya ada dimana terjadi ikatan

>> persaudaraan yang terwakili dari alam,’’ katanya.

>> Arifin juga merasa bangga atas hadirnya Duta Besar AS sebagai tamu

>> kehormatan. ‘’Ini menandakan bahwa ada kepedulian. Saat saya ajak ke

>> Merauke, mereka tanya saya untuk apa ke Merauke. Saya kira ini bagian dari

>> suatu proses pengembangan Papua ke depan khususnya Merauke,’’

>> tambahnya. PT Medco sendiri dengan anak perusahaannya PT Lestari Medco

>> Papua, telah melakukan investasi di Merauke dengan membangun pabrik

>> pembuatan bahan baku kertas dari Kawasan Hutan Industri yang berpusat di

>> Distrik Kaptel, Okaba.

>> Terkait pengukuhan itu, Alberth Gebze Moyuend, Wakil Ketua II, Marind

>> Maklew Anim, Sekretaris LMA Kabupaten Merauke menyatakan, memang sangat

>> rumit dan pelik, sama seperti suku-suku lainnya untuk mengangkat seseorang

>> menjadi anak adat. “Tidak mudah, bahkan tidak semua Orang Marind

>> dikategorikan sebagai anak adat walaupun ia lahir dalam komunitas adat,�

>> ujarnya.

>> Dalam Adat Marind, katanya, marga menunjukkan kepemilikan tanah dan tanah

>> memiliki nama. Keduanya tak terpisahkan satu sama lain. Keduanya

>> menandakan, marga melekat dengan tanahnya dan tanah melekat erat dengan

>> manusianya. “Sehingga seseorang yang akan dinobatkan menjadi anak adat

>> tidak semudah membalik telapak tangan,� katanya.

>> Menurutnya, dalam pengukuhan adat, sebenarnya dilakukan melalui proses

>> inisiasi. Ketika anak mulai beranjak dewasa dia akan mengalami proses

>> mengenal. Mulai menghiasi tubuhnya dengan berbagai perhiasan adat. Dan

>> pada umur tertentu mereka dapat diinisiasi. Kini, prosesi pengukuhan anak

>> adat telah tergeser karena faktor ekonomi. “Saat ini semua orang sudah

>> bergantung pada uang, tidak pada nurani, adat menuju proses inisiasi yang

>> dulu dilakukan dengan melihat tanda-tanda alam sudah tidak dilakukan

>> lagi�. “Ini menunjukkan adanya degradasi adat itu sendiri,�

>> tambahnya.

>> Menurutnya, menjadi anak adat harus melalui proses pendewasaan. Tidak

>> langsung jadi. Begitupula dalam kasus Arifin Panigoro. Dia hanya berstatus

>> calon anggota saja karena tidak mengikuti proses inisiasi dari awal.

>> “Dia harus mengikuti inisiasi kedua lagi, setelah itu dia harus mengenal

>> latar belakang totem-totem yang terwakili dalam tumbuhan dan fauna serta

>> bagaimana menjaga keseimbangan alam�. “Dahulu, untuk mendewasakan

>> orang Marind, dilakukan melalui proses yang cukup ketat. Bahkan prosesi

>> pengukuhannya diikuti dengan pukulan agar seseorang dapat memahami makna

>> hidup yang sesungguhnya termasuk memahami etika adat,� jelasnya.

>> Mengenai pengukuhan adat bagi orang luar, kata Alberth, harus disaksikan

>> oleh banyak orang. “Saya melihat ada sisi positifnya. Ketika Arifin

>> Panigoro diangkat ke dalam Marga Gebze, itu merupakan pesan. Namun jika

>> hanya untuk kepentingan perusahaan, maka bisa ada pertimbangan lain,�

>> ujarnya. “Jadi, sambil berinvestasi maka dia (Arifin) memiliki tanggung

>> jawab terhadap lingkungan sekitarnya termasuk Manusia Marind.�

>> Di Merauke, pengukuhan terhadap pejabat daerah maupun pusat kerap

>> dilakukan. Misalnya pada Wakil Bupati Waryoto yang kemudian diberi marga

>> Mahuze. Begitupula terhadap Arifin Panigoro dan Megawati yang diberi nama

>> Onggatiwak Gebze. Pengukuhan ini, kata Alberth, lebih bernuansa politis.

>> Namun dibalik itu ada harapan seseorang yang telah diangkat sebagai anak

>> adat dapat bertanggung jawab terhadap Tanah dan Manusia Marind. Pengukuhan

>> ini juga merupakan bentuk penghargaan dari Suku Marind. “Mudah-mudahan

>> bisa menjadi mitra pemerintah dan berdampingan dengan masyarakat,� tukas

>> Alberth. “Jadi memang ada baiknya mengukuhkan Arifin agar mengikatnya

>> untuk mengelola SDA dengan arif dan bijaksana,� tambahnya.

>> Pengukuhan Arifin memang mengandung pro kontra. Namun tidak dapat ditarik

>> karena sudah merupakan kebijakan pemerintah daerah. Kemungkinan untuk

>> dicabut status pengangkatannya bisa saja terjadi ketika seseorang tidak

>> lagi mematuhi aturan-aturan adat, namun jika dia patuh maka adat akan

>> menghormatinya.

>> Sementara itu Moses Kaibu, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Kimaam Peduli

>> HAM, Anggota DPRD Merauke terpilih dari PDIP mengatakan, untuk mengukuhkan

>> orang luar menjadi bagian dari masyarakat adat, haruslah ada sesuatu yang

>> telah dibuat bagi warga Marind. Tidak asal dikukuhkan saja. “Dalam kasus

>> Medco, dia bisa dikukuhkan menjadi bagian dari Suku Marind jika telah

>> memberikan sumbangsih yang besar. Bukan hanya sumbangsih yang bersifat

>> sementara. Kemudian, apa yang masyarakat lokal dapatkan sesudah Medco

>> keluar? sementara hutan sudah dibabat habis? Nanti Merauke akan menjadi

>> seperti Kalimantan yang hutannya telah habis,� tukasnya.

>> Dia berpendapat, pengukuhan adat terhadap orang luar Papua sering disisipi

>> dengan beragam kepentingan. “Sebenarnya, Pemuda Marind dengan masyarakat

>> adat harus duduk bersama agar tidak terjadi perbedaan pendapat,�

>> ujarnya.

>> Menurutnya, pengukuhan orang luar masuk dalam Adat Marind ibarat

>> memberikan hak kepada mereka. “Sehingga dikhawatirkan dapat

>> disalahgunakan, inilah yang perlu dijaga. Kalau orang kecil yang

>> dikukuhkan, itu tidak menjadi persoalan, namun jika orang besar yang

>> mempunyai kekuatan maka dampaknya akan besar karena ada hak yang

>> mengikutinya setelah proses pengukuhan,� jelasnya.

>> Seperti Kaibu, Frederikus Gebze, Ketua Ikatan Pemuda Marind, mengatakan,

>> pada prinsipnya, dalam sebuah masyarakat adat, mengangkat seseorang

>> menjadi bagian dari adat dengan simbol-simbol keperkasaan dimaksudkan

>> untuk bisa memberi andil atau kontribusi pada daerah. Seperti pengukuhan

>> Arifin Panigoro yang masuk dalam keluarga besar Gebze. “Diangkatnya

>> Panigoro dalam Marga Gebze karena kebetulan pimpinan daerah kita bermarga

>> Gebze dan karena dia memberikan kontribusi dan andil bagi daerah dengan

>> menginfestasikan modalnya ke Merauke,� kata Freddy.

>> Terkait keputusan Pemuda Marind yang mengamanatkan agar tidak mengangkat

>> orang luar secara sembarangan masuk dalam Adat Marind, Freddy

>> membenarkannya. “Bahwa untuk mengangkat seseorang menjadi bagian dari

>> Adat Marind memang harus melalui tahapan-tahapan tapi saya tetap memandang

>> sisi positifnya dari pengukuhan Arifin Panigoro yang telah berkontribusi

>> pada daerah,� cetusnya.

>> Dia berharap, pengukuhan itu tidak menjadi legitimasi seseorang untuk

>> semena-mena memperoleh kekuasaan yang melebihi kewenangan masyarakat.

>> “Beberapa kali pengangkatan orang luar Papua menjadi anak adat selalu

>> tidak memberikan manfaat apa-apa bagi pengembangan Suku Marind, kita

>> berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita,� tutupnya. (JUBI/Indri)

>>

>> Sekretariat Foker LSM Papua :

>>

>>

>>

>> Jl. Raya Sentani - Waena No 89, Waena, Jayapura, Papua

>>

>> Telp : 0967-573511, Fax : 0967-573511

>>

>> Email : <mailto:foker_ l...@... foker_...@.. .

>>

>> Website : <http://www.fokerlsm papua.org/> www.fokerlsmpapua. org

>

>

>

>

>

>

>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke