Pak Harya, apakah di kalangan konglomerat juga nihil soal nasionalisme ? Saya 
kok nggak yakin mereka hanya sekedar hewan ekonomi tanpa perasaan. Apakah ada 
eksemplar yang bisa dilihat dengan jernih ? Bagaimana dengan CSR ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 9/2/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku  
Gebze --> Policy in the making
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:38 AM






 




    
                  
Tks Pak Djarot..
Saya tentunya akan lebih optimis megenai  nasionalisme yang tumbuh dari orang 
seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap 
konglomerat, .. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2 
adat hanya menjadi overhead murah.

apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh.. 

Salam,
-K-




2009/9/2 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>













 




    
                  
Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan 
dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan 
dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan 
kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta 
tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. 
Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang 
sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar !


Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman 
Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan 
mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air 
diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling 
dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari
 perpustakaan nasional sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak 
kasus lain yang menarik dan kadang membuat hati tercekat dan merinding karena 
jiwa di dalam tubuh mereka sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan 
masyarakat sekelilingnya.


Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- 

 

  
  
  
  

    
    


     



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke