Pak Aby dan rekans ysh,

Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.

Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu ada Deputi 
dari Planologi.

Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku dia ttg Kajian Daya Saing Daerah pasca 
Desentralisasi. Jadi  pasti familiar lah dia soal relasi antar daerah.

Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan). Yang saya alami selama S-1, S-2 
rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi  kota/daerah, 
analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah. Hanya karena forum 
Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau bicara ekonomi disuruh pindah 
ke UI. Sementara bagi alumni yang di Bappenas, Bappeda, kajian pembangunan yang 
'sos-ek-link' adalah menu sehari-hari.

Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala Bappenas 
Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang nendang bolanya.
Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra, Deputi 
KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu ada Dirjen, 
dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.

Salam, 
Risfan Munir
www.samuraisejati.blogspot.com



-----Original Message-----
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?

 
Milisters ysh,
Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai sudah….spt biasa muncul 
pro-kontra pendapat berbg kalangan….
Satu  pertanyaan iseng adlh kenapa Kepala Bappenas hampir selalu berasal dari 
studi ekonomi dan belum pernah dipilih dari latar belakang studi a.l. teknik 
perencanaan?........tak cukupkah studi ekonomi menduduki posisi Menko 
Perekonomian, Menkeu dan Ketua BI?…….
Selain pemilihan menteri adlh hak prerogatif presiden….umumnya bbrp 
pertimbangan adlh a.l. krn a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra 
kepatuhannya (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi (pasca 
reformasi)….dsb…….
Namun sebaliknya.. keberhasilan seorang menteri/ pejabat tinggi  kadang tak 
sekedar ditentukan oleh latar blkng studinya yg tepat benar  dgn bidang yg 
ditangani……
Fadel Muhammad misalnya, dgn latar belakang teknik industri, ilmu administrasi 
negara dan kewiraswastaan misalnya… terlihat sukses memimpin sebuah propinsi 
baru dan mengangkatnya melalui maize economy……dan boleh jadi kinerjanya jg tak 
akan buruk bila ia kini hrs memimpin DKP….….
Kalau saja presiden terpilih (bukan maksa dipilih macem spt orba) memiliki 
kekeluasaan yg cukup utk milih menteri terbaiknya…... kembali kepertanyaan 
diatas….kenapa Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional blm pernah dipilih 
dari latar belakang studi teknik perencanaan ruang?...... 
Salah satu dugaan ngawur saya adalah krn rata2 presiden terpilih bukanlah dari 
studi perencanaan (yg sudah adlh : dari studi arsitektur, dari tentara lokal 
bentukan knil/ nippon, dari teknik/elektronika penerbangan, pesantren, pecandu 
film the beauty and the beast, lalu dari akademi militer nas/internas dan studi 
pertanian)…… krn itu para presiden terpilih kita boleh jadi tak sbrp mengerti 
apa konsentrasi studi teknik perencanaan itu…..…Itu alasan yg saya susun agar 
rada enak didengar oleh masyarakat perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada 
juga alasan yg bisa rada kurang enak didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. 
Alasan itu saya duga ya maap….krn ‘salah’ masyarakat perencanaan sendiri… 
kenapa tak berhasil meyakinkan kepada masyarakat luas (trmsk para capres, krn 
juga umumnya berasal dari kalangan luas juga, mantan jendral, tokoh pesantren, 
bnintang film dsb)…….bhw studi (teknik) perencanaan  adalah studi yg tepat utk 
memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya berpikir fisik terus saja)……..
Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) spt memandang bhw perencanaan 
(kembali)  pembangunan bagi  negeri miskin dan porak poranda spt Indonesia 
(akibat penjajahan…  jg akibat perusakan moral korupsi dan represif oleh orba) 
yg cocok adalah dimulai dgn pembangunan fundamental ekonomi yg kokoh….. 
Itu benar….tetapi mereka spt lupa jg bhw fundamental keruangan dan demografik  
kita juga amatlah sangat timpang sejak dari dulu……dan itu jg adalah keadaan yg 
tak kalah gawat dibanding dgn porakporanda ekonomi dan moral……
Para Kepala Bappenas ybs. (dari studi ekonomi dan studi ekonomi pembangunan) 
mengerti bhw masalah Jawa-luar Jawa dan KBI-KTI adalah masalah klasik 
ketimpangan  keruangan kita…..namun krn mereka  umumnya bukan dari studi 
‘teknik’ keruangan….. maka mereka akan selalu menomor-duakan  atau 
menomor-tigakan pemberesan masalah ketimpangan keruangan dan demografik klasik 
kita itu (studi teknik perencanaan lbh mendingan krn masih belajar ttg 
makro-mikro ekonomi dan studio pembangunan……tapi studi ekonomi dan studi 
pembangunan samasekali tidak belajar ttg teknik perencanaan ruang)……mereka tak 
mengerti apa manfaat teknik keruangan bagi peredaan ketimpangan keruangan 
Jawa-luar Jawa dan KB-KTI  itu……
Selain bagi mereka ekonomi adalah selalu nomor satu…..mereka jg tak pernah 
cukup mengerti skenario bgmn memulai meredakan ketimpangan itu dgn cara masuk 
akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka lbh terbiasa pd analisa masalah  
dgn logika2 non-eksak lebih daripada logika2 eksak…….justru krn mereka bukan 
dari studi eksakta teknik……. 
Mereka rata2 mengerti skenario umum bgmn mengembangkan luar Jawa atau  
memajukan KTI….tetapi dgn logika non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn 
(apalagi kalau bukan) “investasi2 yg besar” serta “dgn pembangunan 
infrastruktur” (semua juga tau kalau  investasinya luar biasa besar pasti 
hasilnya akan jelas…tapi semua juga tau itu sesuatu yg tak mungkin…krn  APBN 
tak pernah akan longgar dan swasta siapa yg mau menjadi pemula membangun dan 
mau berinvestasi secara besar2an di timur sendirian?)……walhasil skenario2 
demikian selalu kandas…..justru krn  skenario yg dibayangkan adalah selalu 
skenario2  finansial (non-keruangan) dgn investasi besar……dan tak pernah dicari 
“skenario keruangan” yg relatif mudah dan murah …justru krn yg kecil dan murah 
dipercaya tak bakalan manjur……..
Jangan lupa  bhw dalam diseminasi ekonomi … tak hanya terdapat persemaian 
perekonomian saja… namun juga terdapat persemaian  pertumbuhan kegiatan  
keruangan…..terdapat pula persemaian pergerakan demografik 
(migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek hankam (kalau diperbatasan) 
dsb……..
Suatu saat dulu pernah  di Bappenas ada Kepala dan Wakil kepala Bappenas……yg 
belakangan kemudian dihapus…... 
Kini tantangan terpulang kembali kemasyarakat perencanaan……kalau percaya bhw 
teknik perencanaan bukanlah hanya sekedar fisik semata (lalu asal ingin belajar 
ekonomi disuruh ke UI dan belajar sosial ke Gama)…namun juga ekonomi, sosial 
budaya hankam dsb……maka para pemuka studi perencanaan ruang kita seharusnya 
dapat menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil kepala Bappenas….jadi dgn 
demikian  visi ekonomi dan visi keruangan bisa menyatu dan saling menguatkan…… 
Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn hanya visi monodisipliner 
perencanaan ruang adalah  fisik semata……namun tambahlah jg dgn visi lintas 
dimensional sosial, ekonomi, budaya, hankam, penanggulangan kemiskinan, 
penciptaan kesempatan kerja, kewiraswastaan, manufaktur dsb….
Jangan2 Fadel nanti tahu2 cocok juga jadi the next KaBappenas… sama seperti 
Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini Menhan….. 
Salam, 
 
 
 

Kirim email ke