Sahabat Referensiers

Wah.. milis kita rame lagi nih. Mengenai jabatan menteri, setuju dengan
rekan-rekan bahwa bobot politik lebih besar ketimbang bobot substansi
profesionalitas di bidangnya (misalnya dalam konteks ini planning atawa
ekonomi), di samping juga leadership.

Karena faktor leadership ataupun senioritas, jangan heran jika menteri
bidang  ekonomi di Jepang ada juga  juga berlatar "ilmu hukum".  Dengan
leadershipnya dia mampu menghimpun nasehat para ekonom dan ahli lainnya.

Saya masih ingat cerita yang mengesankan waktu ambil kelas Development
Economics dari Prof Werner yang ahli Ekonomi Amerika Latin. Dia mengatakan
bahwa Menteri Keuangan Brazil yang paling fenomenal selama ini
adalah Cordoso, yang notabene adalah profesor Sosiologi. Menteri keuangan
sebelum Cordoso yang ekonom sekalipun gagal menghadang
"hyperinflation". Ceritanya, inflasi yang gila-gilaan ini mengakibatkan
banyak orang Brazil yang gila. Sebar dan buang uang di jalan karena sangat
frustrasi. Uang nominal tak ada arti lagi, padahal satu jam lalu dengan
nominal yang sama masih bisa makan pizza.

Cordoso dikenal kemampuannya memobilisasi para ahli ekonomi yang memberi
masukan, dan Cordoso berhasil.

Jadi kalau planner (ahli apapun juga), jika mau jadi menteri kudu ada yang
meng-endorse. Pak Paskah diendorse oleh Golkar. Konon dulu, ada dua calon
kuat waktu ada reshuffle kabinet, yaitu pak Paskah dan Prof Bambang Brodjo
(PhD Regional Science) yang justru lebih dekat dengan profesionalitas yang
dibutuhkan untuk Bappenas.

Kalau ada planner yang punya leadership, ada yang meng-endorse, wah.. para
ekonom mainstream itu kan tinggal diminta nasehatnya.. he he he.. Cita-cita
pak Aby untuk kurangi disparitas insyaAllah akan tercapai...

Salam hormat,

Nuzul Achjar

Kirim email ke