Pak Aby, Pak Risfan,

Menurut saya Ka Bappenas selain mengerti masalah keruangan juga perlu sangat 
mengerti masalah ekonomi, karena banyak implikasi dr pembangunan wilayah yg 
juga terkait masalah ekonomi makro dan riil (bukan sekedar economic geography, 
regional economics, etc.)...

Karenanya Ekonom yang belajar masalah ruang atau Planolog yg belajar ilmu 
ekonomi memang cocok sebagai Ka Bappenas... Beberapa Ekonom Indonesia belajar 
dan serius menggeluti masalah "keruangan" seperti Bu Armida (lihat kiprah 
beliau di IRSA) atau Pak Nuzul Achjar, Iwan Jaya Azis, dll .... Tapi siapa ya 
Planolog Indonesia yg serius belajar dan menggeluti Ilmu Ekonomi? Saya belum 
pernah dengar.... Pemberian hadiah Nobel utk Ilmu Ekonomi tahun ini ke Elinor 
Ostrom yg Political Scientist sebetulnya bisa menjadi pertanda bahwa Ilmu 
Ekonomi tidak bisa eksklusif milik Ekonom saja (sementara mereka bebas memasuki 
field yg lain)... Jadi mengapa tidak Planolog mulai mengambil Ilmu Ekonomi 
sebagai major mereka di graduate studies? Siapa tahu bisa menjadi Ka Bappenas 
di masa yg akan datang... 

Salam.





--- On Fri, 10/23/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
To: [email protected]
Date: Friday, October 23, 2009, 10:12 AM






 




    
                  Pak Aby dan rekans ysh,

Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.

Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu ada Deputi 
dari Planologi.

Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku dia ttg Kajian Daya Saing Daerah pasca 
Desentralisasi. Jadi pasti familiar lah dia soal relasi antar daerah.

Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan) . Yang saya alami selama S-1, S-2 
rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi kota/daerah, 
analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah. Hanya karena forum 
Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau bicara ekonomi disuruh pindah 
ke UI. Sementara bagi alumni yang di Bappenas, Bappeda, kajian pembangunan yang 
'sos-ek-link' adalah menu sehari-hari.

Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala Bappenas. 
Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang nendang bolanya.
Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra, Deputi 
KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu ada Dirjen, 
dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.

Salam, 
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com



From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?

  Milisters ysh,Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai sudah….spt 
biasa muncul pro-kontra pendapat berbg kalangan….Satu  pertanyaan iseng adlh 
kenapa Kepala Bappenas hampir selalu berasal dari studi ekonomi dan belum 
pernah dipilih dari latar belakang studi a.l. teknik perencanaan? ........tak 
cukupkah studi ekonomi menduduki posisi Menko Perekonomian, Menkeu dan Ketua 
BI?…….Selain pemilihan menteri adlh hak prerogatif presiden….umumnya bbrp 
pertimbangan adlh a.l. krn a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra 
kepatuhannya (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi (pasca 
reformasi)….dsb…….Namun sebaliknya.. keberhasilan seorang menteri/ pejabat 
tinggi  kadang tak sekedar ditentukan oleh latar blkng studinya yg tepat benar  
dgn bidang yg ditangani……Fadel Muhammad misalnya, dgn latar belakang teknik 
industri, ilmu administrasi negara dan kewiraswastaan misalnya… terlihat sukses 
memimpin
 sebuah propinsi baru dan mengangkatnya melalui maize economy……dan boleh jadi 
kinerjanya jg tak akan buruk bila ia kini hrs memimpin DKP….….Kalau saja 
presiden terpilih (bukan maksa dipilih macem spt orba) memiliki kekeluasaan yg 
cukup utk milih menteri terbaiknya…... kembali kepertanyaan diatas….kenapa 
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional blm pernah dipilih dari latar 
belakang studi teknik perencanaan ruang?...... . Salah satu dugaan ngawur saya 
adalah krn rata2 presiden terpilih bukanlah dari studi perencanaan (yg sudah 
adlh : dari studi arsitektur, dari tentara lokal bentukan knil/ nippon, dari 
teknik/elektronika penerbangan, pesantren, pecandu film the beauty and the 
beast, lalu dari akademi militer nas/internas dan studi pertanian)…… krn itu 
para presiden terpilih kita boleh jadi tak sbrp mengerti apa konsentrasi studi 
teknik perencanaan itu…..…Itu alasan yg saya susun agar rada enak didengar oleh 
masyarakat
 perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada juga alasan yg bisa rada kurang enak 
didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. Alasan itu saya duga ya maap….krn 
‘salah’ masyarakat perencanaan sendiri… kenapa tak berhasil meyakinkan kepada 
masyarakat luas (trmsk para capres, krn juga umumnya berasal dari kalangan luas 
juga, mantan jendral, tokoh pesantren, bnintang film dsb)…….bhw studi (teknik) 
perencanaan  adalah studi yg tepat utk memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya 
berpikir fisik terus saja)……..Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) 
spt memandang bhw perencanaan (kembali)  pembangunan bagi  negeri miskin dan 
porak poranda spt Indonesia (akibat penjajahan…  jg akibat perusakan moral 
korupsi dan represif oleh orba) yg cocok adalah dimulai dgn pembangunan 
fundamental ekonomi yg kokoh….. Itu benar….tetapi mereka spt lupa jg bhw 
fundamental keruangan dan demografik  kita juga amatlah sangat timpang sejak 
dari
 dulu……dan itu jg adalah keadaan yg tak kalah gawat dibanding dgn porakporanda 
ekonomi dan moral……Para Kepala Bappenas ybs. (dari studi ekonomi dan studi 
ekonomi pembangunan) mengerti bhw masalah Jawa-luar Jawa dan KBI-KTI adalah 
masalah klasik ketimpangan  keruangan kita…..namun krn mereka  umumnya bukan 
dari studi ‘teknik’ keruangan….. maka mereka akan selalu menomor-duakan  atau 
menomor-tigakan pemberesan masalah ketimpangan keruangan dan demografik klasik 
kita itu (studi teknik perencanaan lbh mendingan krn masih belajar ttg 
makro-mikro ekonomi dan studio pembangunan……tapi studi ekonomi dan studi 
pembangunan samasekali tidak belajar ttg teknik perencanaan ruang)……mereka tak 
mengerti apa manfaat teknik keruangan bagi peredaan ketimpangan keruangan 
Jawa-luar Jawa dan KB-KTI  itu……Selain bagi mereka ekonomi adalah selalu nomor 
satu…..mereka jg tak pernah cukup mengerti skenario bgmn memulai meredakan 
ketimpangan itu dgn
 cara masuk akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka lbh terbiasa pd 
analisa masalah  dgn logika2 non-eksak lebih daripada logika2 eksak…….justru 
krn mereka bukan dari studi eksakta teknik……. Mereka rata2 mengerti skenario 
umum bgmn mengembangkan luar Jawa atau  memajukan KTI….tetapi dgn logika 
non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn (apalagi kalau bukan) “investasi2 
yg besar” serta “dgn pembangunan infrastruktur” (semua juga tau kalau  
investasinya luar biasa besar pasti hasilnya akan jelas…tapi semua juga tau itu 
sesuatu yg tak mungkin…krn  APBN tak pernah akan longgar dan swasta siapa yg 
mau menjadi pemula membangun dan mau berinvestasi secara besar2an di timur 
sendirian?)……walhasil skenario2 demikian selalu kandas…..justru krn  skenario 
yg dibayangkan adalah selalu skenario2  finansial (non-keruangan) dgn investasi 
besar……dan tak pernah dicari “skenario keruangan” yg relatif mudah dan murah
 …justru krn yg kecil dan murah dipercaya tak bakalan manjur……..Jangan lupa  
bhw dalam diseminasi ekonomi … tak hanya terdapat persemaian perekonomian saja… 
namun juga terdapat persemaian  pertumbuhan kegiatan  keruangan…..terdapat pula 
persemaian pergerakan demografik (migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek 
hankam (kalau diperbatasan) dsb……..Suatu saat dulu pernah  di Bappenas ada 
Kepala dan Wakil kepala Bappenas……yg belakangan kemudian dihapus…... Kini 
tantangan terpulang kembali kemasyarakat perencanaan…….kalau percaya bhw teknik 
perencanaan bukanlah hanya sekedar fisik semata (lalu asal ingin belajar 
ekonomi disuruh ke UI dan belajar sosial ke Gama)…namun juga ekonomi, sosial 
budaya hankam dsb……maka para pemuka studi perencanaan ruang kita seharusnya 
dapat menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil kepala Bappenas….jadi dgn 
demikian  visi ekonomi dan visi keruangan bisa menyatu dan saling
 menguatkan…… Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn hanya visi 
monodisipliner perencanaan ruang adalah  fisik semata……namun tambahlah jg dgn 
visi lintas dimensional sosial, ekonomi, budaya, hankam, penanggulangan 
kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, kewiraswastaan, manufaktur 
dsb….Jangan2 Fadel nanti tahu2 cocok juga jadi the next KaBappenas… sama 
seperti Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini Menhan….. Salam,    

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke