Pak Dr. Eko, saya kira juga juri Nobel memilih Ostrom
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1731>   karena sudah
sampai pada penilaian fundamental. Mengingat nenek moyang kaum ekonom
itu mulai dari Adam Smith dst adalah etnografer, seperti dapat dilihat
dari buku-bukunya. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Aby, Pak Risfan,
>
> Menurut saya Ka Bappenas selain mengerti masalah keruangan juga perlu
sangat mengerti masalah ekonomi, karena banyak implikasi dr pembangunan
wilayah yg juga terkait masalah ekonomi makro dan riil (bukan sekedar
economic geography, regional economics, etc.)...
>
> Karenanya Ekonom yang belajar masalah ruang atau Planolog yg belajar
ilmu ekonomi memang cocok sebagai Ka Bappenas... Beberapa Ekonom
Indonesia belajar dan serius menggeluti masalah "keruangan" seperti Bu
Armida (lihat kiprah beliau di IRSA) atau Pak Nuzul Achjar, Iwan Jaya
Azis, dll .... Tapi siapa ya Planolog Indonesia yg serius belajar dan
menggeluti Ilmu Ekonomi? Saya belum pernah dengar.... Pemberian hadiah
Nobel utk Ilmu Ekonomi tahun ini ke Elinor Ostrom yg Political Scientist
sebetulnya bisa menjadi pertanda bahwa Ilmu Ekonomi tidak bisa eksklusif
milik Ekonom saja (sementara mereka bebas memasuki field yg lain)...
Jadi mengapa tidak Planolog mulai mengambil Ilmu Ekonomi sebagai major
mereka di graduate studies? Siapa tahu bisa menjadi Ka Bappenas di masa
yg akan datang...
>
> Salam.
>
>
>
>
>
> --- On Fri, 10/23/09, Risfan Munir risf...@... wrote:
>
> From: Risfan Munir risf...@...
> Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
> To: [email protected]
> Date: Friday, October 23, 2009, 10:12 AM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Aby dan rekans ysh,
>
> Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.
>
> Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu
ada Deputi dari Planologi.
>
> Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku dia ttg Kajian Daya Saing Daerah
pasca Desentralisasi. Jadi pasti familiar lah dia soal relasi antar
daerah.
>
> Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan) . Yang saya alami selama
S-1, S-2 rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi
kota/daerah, analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah.
Hanya karena forum Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau
bicara ekonomi disuruh pindah ke UI. Sementara bagi alumni yang di
Bappenas, Bappeda, kajian pembangunan yang 'sos-ek-link' adalah menu
sehari-hari.
>
> Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala
Bappenas. Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang
nendang bolanya.
> Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra,
Deputi KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu
ada Dirjen, dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati. blogspot. com
>
>
>
> From: hengky abiyoso watashi...@yahoo. com>
> Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>
> Â  Milisters ysh,Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai
sudah….spt biasa muncul pro-kontra pendapat berbg
kalangan….Satu  pertanyaan iseng adlh kenapa Kepala Bappenas
hampir selalu berasal dari studi ekonomi dan belum pernah dipilih dari
latar belakang studi a.l. teknik perencanaan? ........tak cukupkah studi
ekonomi menduduki posisi Menko Perekonomian, Menkeu dan Ketua
BI?…….Selain pemilihan menteri adlh hak prerogatif
presiden….umumnya bbrp pertimbangan adlh a.l. krn
a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra
kepatuhannya (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi
(pasca reformasi)….dsb…….Namun sebaliknya.. keberhasilan
seorang menteri/ pejabat tinggi  kadang tak sekedar ditentukan oleh
latar blkng studinya yg tepat benar  dgn bidang yg
ditangani……Fadel Muhammad misalnya, dgn latar belakang teknik
industri, ilmu administrasi negara dan kewiraswastaan misalnya…
terlihat sukses memimpin
> sebuah propinsi baru dan mengangkatnya melalui maize
economy……dan boleh jadi kinerjanya jg tak akan buruk bila ia
kini hrs memimpin DKP….….Kalau saja presiden terpilih (bukan
maksa dipilih macem spt orba) memiliki kekeluasaan yg cukup utk milih
menteri terbaiknya…... kembali kepertanyaan diatas….kenapa
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional blm pernah dipilih dari
latar belakang studi teknik perencanaan ruang?...... . Salah satu dugaan
ngawur saya adalah krn rata2 presiden terpilih bukanlah dari studi
perencanaan (yg sudah adlh : dari studi arsitektur, dari tentara lokal
bentukan knil/ nippon, dari teknik/elektronika penerbangan, pesantren,
pecandu film the beauty and the beast, lalu dari akademi militer
nas/internas dan studi pertanian)…… krn itu para presiden
terpilih kita boleh jadi tak sbrp mengerti apa konsentrasi studi teknik
perencanaan itu…..…Itu alasan yg saya susun agar rada enak
didengar oleh masyarakat
> perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada juga alasan yg bisa
rada kurang enak didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. Alasan
itu saya duga ya maap….krn ‘salah’ masyarakat
perencanaan sendiri… kenapa tak berhasil meyakinkan kepada
masyarakat luas (trmsk para capres, krn juga umumnya berasal dari
kalangan luas juga, mantan jendral, tokoh pesantren, bnintang film
dsb)…….bhw studi (teknik) perencanaan  adalah studi yg
tepat utk memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya berpikir fisik terus
saja)……..Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) spt
memandang bhw perencanaan (kembali)  pembangunan bagi  negeri
miskin dan porak poranda spt Indonesia (akibat penjajahan…  jg
akibat perusakan moral korupsi dan represif oleh orba) yg cocok adalah
dimulai dgn pembangunan fundamental ekonomi yg kokoh….. Itu
benar….tetapi mereka spt lupa jg bhw fundamental keruangan dan
demografik  kita juga amatlah sangat timpang sejak dari
> dulu……dan itu jg adalah keadaan yg tak kalah gawat dibanding
dgn porakporanda ekonomi dan moral……Para Kepala Bappenas ybs.
(dari studi ekonomi dan studi ekonomi pembangunan) mengerti bhw masalah
Jawa-luar Jawa dan KBI-KTI adalah masalah klasik ketimpangan Â
keruangan kita…..namun krn mereka  umumnya bukan dari studi
‘teknik’ keruangan….. maka mereka akan selalu
menomor-duakan  atau menomor-tigakan pemberesan masalah ketimpangan
keruangan dan demografik klasik kita itu (studi teknik perencanaan lbh
mendingan krn masih belajar ttg makro-mikro ekonomi dan studio
pembangunan……tapi studi ekonomi dan studi pembangunan
samasekali tidak belajar ttg teknik perencanaan ruang)……mereka
tak mengerti apa manfaat teknik keruangan bagi peredaan ketimpangan
keruangan Jawa-luar Jawa dan KB-KTI  itu……Selain bagi
mereka ekonomi adalah selalu nomor satu…..mereka jg tak pernah
cukup mengerti skenario bgmn memulai meredakan ketimpangan itu dgn
> cara masuk akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka
lbh terbiasa pd analisa masalah  dgn logika2 non-eksak lebih
daripada logika2 eksak…….justru krn mereka bukan dari studi
eksakta teknik……. Mereka rata2 mengerti skenario umum bgmn
mengembangkan luar Jawa atau  memajukan KTI….tetapi dgn logika
non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn (apalagi kalau bukan)
“investasi2 yg besar” serta “dgn pembangunan
infrastruktur” (semua juga tau kalau  investasinya luar biasa
besar pasti hasilnya akan jelas…tapi semua juga tau itu sesuatu yg
tak mungkin…krn  APBN tak pernah akan longgar dan swasta siapa
yg mau menjadi pemula membangun dan mau berinvestasi secara besar2an di
timur sendirian?)……walhasil skenario2 demikian selalu
kandas…..justru krn  skenario yg dibayangkan adalah selalu
skenario2 Â finansial (non-keruangan) dgn investasi
besar……dan tak pernah dicari “skenario keruangan”
yg relatif mudah dan murah
> …justru krn yg kecil dan murah dipercaya tak bakalan
manjur……..Jangan lupa  bhw dalam diseminasi ekonomi …
tak hanya terdapat persemaian perekonomian saja… namun juga
terdapat persemaian  pertumbuhan kegiatan Â
keruangan…..terdapat pula persemaian pergerakan demografik
(migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek hankam
(kalau diperbatasan) dsb……..Suatu saat dulu pernah  di
Bappenas ada Kepala dan Wakil kepala Bappenas……yg belakangan
kemudian dihapus…... Kini tantangan terpulang kembali kemasyarakat
perencanaan…….kalau percaya bhw teknik perencanaan bukanlah
hanya sekedar fisik semata (lalu asal ingin belajar ekonomi disuruh ke
UI dan belajar sosial ke Gama)…namun juga ekonomi, sosial budaya
hankam dsb……maka para pemuka studi perencanaan ruang kita
seharusnya dapat menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil
kepala Bappenas….jadi dgn demikian  visi ekonomi dan visi
keruangan bisa menyatu dan saling
> menguatkan…… Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn
hanya visi monodisipliner perencanaan ruang adalah  fisik
semata……namun tambahlah jg dgn visi lintas dimensional sosial,
ekonomi, budaya, hankam, penanggulangan kemiskinan, penciptaan
kesempatan kerja, kewiraswastaan, manufaktur dsb….Jangan2 Fadel
nanti tahu2 cocok juga jadi the next KaBappenas… sama seperti
Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini Menhan….. Salam, Â
 Â
>


Kirim email ke