Pak Eka, menurut Amos Rapoport dikatakan bahwa ada dua arus atau kategori arsitektur yaitu high style dan folk tradition. Arsitektur elitis, seperti kraton, gereja, istana raja dan sebagainya, yang dirancang oleh arsitek profesional tampak mendominasi dunia arsitektur selama sekian abad. Dunia pendidikan arsitektur juga lebih banyak perhatiannya pada kategori arsitektur yang high style ini. Sekarang mahasiswa arsitektur di Indonesia banyak mengenal tokoh-tokoh arsitek, seperti Tadao Ando, Richard Meier, dsb dan karya-karyanya banyak diacu oleh mereka. Situasinya, jika nggak numpang beken pada para arsitek kelas dunia kayaknya nggak gaul deh.
Pada sisi lain, ada the silent majority berupa arsitektur tradisi rakyat yang juga eksis namun kurang mendapat perhatian. Sejak tahun 1964, Rudofsky memperkenalkan bukunya berjudul "Architecture without Architect" dan menjadi titik awal perhatian yang lebih serius pada arsitektur tradisi rakyat ini. Akibatnya, semabik terbentuk dua kubu yang pada akhirnya menjadi arus dalam mengkaji arsitektur. Nah kubu yang "arsitektur remeh-temeh" inilah, yang tidak ada campur tangan arsitek profesional serta sangat melibatkan aspek-unsur lokalitas disebut sebagai arsitektur vernakular. Jika diperhatikan, dalam keyakinan saya, para arsitek profesional justru banyak mengambil-mengadopsi-belajar dari arus kecil ini. Paul Rudolf ketika merancang sebuah gedung amat bagus di Jakarta itu (Wisma Dharmala) konon pergi ke taman mini Indonesia Indah untuk mencari inspirasi. Dia tertarik dengan bangunan Meru dari Bali, dan setelah melalui proses perancangan tertentu, jadilah Wisma Dharmala. Para arsitek Indonesia, yang pada waktu itu kalah dua set langsung, lantas latah karena mungkin memang kurang profesional: Mengapa Rudolf yang berhasil merancang bangunan modern dengan inspirasi bangunan tradisional ? Gedung kantor gubernur di Semarang, yang atapnya mirip Wisma Dharmala, menurut saya termasuk meniru Rudolf, ya karena sudah keduluan itu. Menurut saya, Wisma Dharmala merupakan titik penting dalam sejarah arsitektur di Indonesia, karena terbukti dengan jelas bahwa arsitektur vernakular menjadi inspirasi bagi rancangan arsitektur yang lebih modern. Sekarang perhatian terhadap arsitektur vernakular sudah semakin berkembang, sudah beberapa kali ada konferensi Internasional di Indonesia, penelitian-penelitian mahasiswa strata 3 di UGM banyak yang menuju ke arus itu, termasuk saya heheheee....Saya bahkan mengatakan tanpa ragu-ragu bahwa arsitektur vernakular merupakan ibu pertiwi bagi rancangan arsitektur yang lebih modern di Indonesia, jika kita ingin mengangkat jatidiri bangsa secara sungguh-sungguh. Sebab jika tidak diperhatikan, mereka akan memudar, atau hilang dari peredaran. Seperti cerita saya, penelitian-penelitian para dosen arsitektur Unwira di Kupang, misalnya, banyak meneliti obyek bangunan. Mereka bahkan memiliki model fisik bangunan-bangunan vernakular hampir di seluruh NTT yang dibuat berdasarkan penelitian. Orang tertarik pada yang tampak mata dengan jelas, maka bangunan menjadi perhatian serius. Arus penelitian bangunan vernakular ini benar juga, sebab jika tidak ada yang ngopeni ya akan hilanglah. Saya kurang tertarik pada bangunan, tetapi malahan pada tatanan permukiman, khususnya tatanan spasial (spatial culture, socio-spatial, dsb) yang selama ini luput dari pengamatan para peneliti. Ensiklopedia arsitektur vernakular dunia yang dieditori oleh Paul Oliver sekitar tahun 1996 juga banyak yang mengangkat fokus bangunan vernakular, bukan tatanan kawasan. Sementara begitu ya Pak, semoga bermanfaat. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 1/8/10, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] vernacular settlements To: [email protected] Date: Friday, January 8, 2010, 12:12 AM Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih sebelumnya. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik > para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the > architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di > sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, > khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. > Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti > "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat > unik. > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan > fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh > modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu > saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di sebuah rumah makan yang > laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini > beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya. Pengelolanya seorang Chinese > yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah makan itu setiap malam sangat > ramai karena orang-orang pekerja tambang, khususnya Korea-korea itu, pada > makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! Nah, bandara internasional > ternyata memang diperlukan di TTU.......?? ? > > Sementara begitu Pak. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

