Pak ATA dan sahabats,

Isaku iki, begitu kata orang tentang penggalian yang saya kerjakan. Barangkali 
unsur penggalian ada, mungkin hanya memunculkan dari bawah permukaan kesadaran 
ilmiah menjadi di atas dan masuk ke dalam ruang kesadaran ilmiah saja. Saya 
lebih senang mengatakan "memulung" saja, bukan penggali yang baik.

Jika kita mengikuti Papanek, katanya semua orang adalah arsitek (term dia: 
designer). Tampaknya saya hanya meneruskan dan menghayati terminologi ini, dan 
tidak membuat kebaruan yang signifikan. Kebaruan saya barangkali hanya 
memprovokasi dengan contoh di rumah saya kemudian saya bawa ke komunitas 
referensi yang kayaknya semula enggak menyadari vernakularitas dalam kehidupan. 

Teman saya seangkatan, Eko Agus Prawoto yang kondang sebagai muridnya Romo 
Mangunwijaya, dikenal karena rajin memulung kreativitas di kampung-kampung. Ia 
memulung pola anyaman dinding bambu, dikreasi sedikit jadilah arsitek 
profesional berguru dari arsitek kampungan. Teman saya ini dikenal sebagai 
pemulung yang kreatif, sampai-sampai banyak seniman yang laris kemudian menjadi 
kaya meminta jasanya untuk membikinkan rumah-studionya. Modalnya apa Pak Eko 
ini, memulung di kampung-kampung dan kemudian dikreasi dengan sedikit 
kreativitas. Jadilah karya sdpektakuler. Dia memang sangat berpengalaman, 
khususnya bergaul dengan seniman-seniman tingkat dunia.

Jika dalam pewayangan, Pak Eko Prawoto adalah Arjuna sedangkan saya adalah 
Bambang Ekalaya, murid yang sangat mencintai Durna tetapi dibencinya. Ia terus 
berlatih memanah sampai bisa mengalahkan Arjuna, kemudian diakui sebagai murid 
oleh Durna dengan cara memotong jempolnya atas rengekan Arjuna yang merasa 
terasingi. Tentu pak Eko bukan Arjuna yang merengek-rengek itu, saya hanya 
ingin mengatakan beliau murid langsung sementara saya murid yang tidak langsung 
dan pernah ditolak ketika melamar untuk menjadi muridnya.

Jika Eko Prawoto berguru pada orang-orang kampung, maka banyak arsitek yang 
berguru kepada masyarakat terpencil karena mengagumi keunikan karya arsitektur 
vernakular. Saya termasuk yang berguru pada mereka di desa-desa terpencil. Jika 
Eko Praworo adalah "arsitek kampungan" maka para arsitek yang berguru di desa 
terpencil itu adalah "arsitek ndeso banget". Tegasnya, arsitektur kampung atau 
arsitektur vernakular memang banyak diyakini menjadi "ibu pertiwi" bagi 
karya-karya arsitek profesional di era modern dan super-modern ini. 

Selain itu, ada juga arsitek yang membongkar atau merajut kembali elemen-elemen 
arsitektur vernakular menjadi "karya baru". Ini mirip Derrida yang membongkar 
teks sambil merekonstruksinya dan akhirnya muncul teks baru miliknya. Teks lama 
ditinggalkan sambil dilampaui dalam proses rekonstruksi. Sekarang 
arsitek-arsitek yang gemar bongkar-pasang comot sana-sini sedang menjadi trend. 
Ideologinya bermacam-macam, dan orang melihatnya sebagai sebentuk kreativitas 
baru.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 1/13/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: vernacular settlements
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 13, 2010, 12:26 PM







 



  


    
      
      
      Bagus Mas Djarot,
anda semakin menggali (kembali) pemahaman mengenai vernakularitas suatu entitas 
(bahasa, simbol, unsur produk, dll).
Tantangan lain:
1. Ada yang mengaitkan arsitektur vernakular dengan "arsitektur tanpa arsitek" 
(bukan sekadar "informal"). Apa tanggapan anda?

2. Ada pula yang menyajikan temuannya (dalam salah satu seminar internasional 
tentang arsitektur vernakular) mengenai pemasangan, pemilihan bentuk dan 
tatanan aristektur kerawang (lubang angin) di permukiman "slum" di kota (bukan 
"tradisi" masa lalu ?. 

3. Apa pula kaji konseptual dan contoh gayut dengan pengertian "permukiman" 
vernakular ?
 
Tentu pertanyaan-pertanya an ini bukan dan tidak harus dikaitkan dengan 
perbedaan dan perubahan waktu-ruang- kultural seperti kasus produk dan
proses produksi "arsitektur" komunitas lokal Kaenbaun seperti yang anda 
contohkan.
Biasanya kita dapat menemukan konsep filosofis  melalui upaya menyelesaikan 
banyak tantangan teoritis/konseptual yang bertentangan (anomali) dari temuan 
sebelumnya, bahkan seringkali "nyeleneh"...termasuk membongkar pengertian lama 
yang semula "telah mapan" dan menstrukturkan kembali menjadi "teori baru" ...   


Selamat mengembangkan mas...

Salam,
ATA

2010/1/13 Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
















 



  


    
      
      
      Eka, sudah pasti banyak yang sudah berkecimpung memakai  model 
vernakuler, entah secara linguistis, secara antropologi, atau secara historis, 
yah mungkin kalau analogi inverse nya untuk human settlements, saya sudah 
katakan Shumacher lectures sudah pernah membahasnya. Tapi kalau dalam inverse 
historis , saya kira bisa ada double inversion, jadi seperti kaos kaki yang 
dibalik what is in the socks, inside out or outside in, wah ini bisa menarik 
sekali untuk inside out settlements, katakan saya dengan semua real estate yang 
sekarang lebih kosong daripada isi, kalau secara inverse economics, mungkin 
bisa juga, wow bagaimana kopi daratnya? 



From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com

Sent: Sat, January 9, 2010 11:18:31 PM
Subject: [referensi] Re: vernacular settlements









 



    
      
      
      

Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan bayangan

kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius

bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik

aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang

lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman ditumbuhkan

dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis, atau

juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (:

lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga

dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat menyelami

jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Hannie Waworoentoe

<waworoentoehannie@ ...> wrote:

>

> Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah

vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai

tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher

lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama

digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali

pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah

semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi

formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang

diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram,

sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya

pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or

official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan

saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu

yang belum jadi resmi ok.  Dengan sendirinya bisa saja kita

kembangkan

> suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.

>

>

>

>

> ____________ _________ _________ __

> From: ffekadj 4ek...@...

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM

> Subject: [referensi] vernacular settlements

>

> Â

> Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga

pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular

settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya

dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih

sebelumnya. Salam.

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> >

> > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan

saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan

penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor

dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular

di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning

ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan

NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur

lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.

> >

> > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu

menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi

mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea.

Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di

sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng

Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya.

Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah

makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang,

khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap

malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di

TTU.......?? ?

> >

> > Sementara begitu Pak.

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>





    
     









      

    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke